Showing posts with label Mati. Show all posts
Showing posts with label Mati. Show all posts

Sunday, March 4, 2012

Requiem...


kubiarkan cahaya bintang memilikimu
kubiarkan angin yang pucat
dan tak habis-habisnya gelisah
tiba-tiba menjelma isyarat merebutmu
entah kapankah bisa kutangkap…*

***

saya mengutip puisi liris Sapardi ini sebagai ungkapan bela sungkawa. saya menemukan puisi itu di sebuah folder musikalisasi puisi yang selalu ku koleksi. sesaat setelah di siang yang masih basah sehabis hujan pagi itu SMS-mu masuk dan saya pun menuliskan catatan singkat ini. hampir saja catatan ini urung dipublikasikan dan hampir terhapus tapi sudah kepalang tanggung (telah mencapai beberapa baris kalimat). maaf jika kau tak menyukainya.

Di Minggu kau kabarkan berita duka saat sebagian orang bersuka. saya menulis catatan ini dengan huruf air mata. saya tidak tahu kau membacanya atau tidak, tapi itu tidak penting bagiku apa kau membaca atau tidak. saat menulis ini ada kesedihan yang sempat hadir jika tak bisa disebut duka--ketika kehilangan [saya pun belum sanggup untuk berpisah dengan orang tua atau orang-orang yang dekat], kau telah kehilangan seseorang yang kau cinta setengah mati. saya harap engkau tabah.

saat ini saya tak ingin mengusik dukamu. saya berharap ada tawa yang kau hadirkan kembali seperti hari-hari sebelumnya. walau saya tak mengenalmu begitu dekat (walau ada keinginan untuk itu) tapi saya ingin kau bagi dukamu walau hanya cerita [tanpa air mata]. Jika saja ada yang bisa kau bagi dalam tangismu atau kesedihanmu maka kurelakan pundakku sebagai sandarannya.

dan saya hanya ingin menulis tentang "mati" saja. yang selalu dianggap sebuah enigma, sebuah misteri besar, namun penting ada penjelasan saya pikir. dalam paham biologis dan antropologis, sesungguhnya mati adalah bersatunya tubuh dengan alam. ketika mati maka tidak ada energi yang hilang di alam semesta yang disebut ini keseimbangan dinamika termal. satu perenungan seorang Dokter dari UGM yang menulis catatannya yang begitu dalam di majalah BASIS, siklus hidup-mati manusia itu.

ia menulis, apabila saat bernapas kita mengambil energi dari lingkungan kita melalui lauk-pauk hewan ataupun tumbuhan, ketik nafas terakhir menghampiri, energi kembali ke alam melalui spesies-spesies yang menguraikan manusia kembali menjadi tanah. dan bila pada hari pertama lalat meletakkan telurnya, pada hari ketiga telur menetas menjadi belatung, dan di hari kelima kumbang akan mencari belatung. ini kerja alam. sebuah mata rantai kehidupan dari tanah kembali ke tanah. apa yang hendak saya sampaikan ini bahwa ia yang kau cinta hidup di alam yang lain--seperti saya, kamu dan mahluk yang hidup--walau mati secara raga.

tapi jika kau pernah membaca sebuah cerita pendek milik Agus Noor "requem kunang-kunang" betapa mengharukannya ia menulis dan disitu ada keindahan yang ditampilkan "kehilangan yang indah" saya menyebutnya. ada juga beberapa mitos tentang "mati" diseberang sana, dalam beberapa kepercayaan, orang yang mati akan berinkarnasi menjadi kunang-kunang, bintang-bintang dan benda-benda yang indah.

dan jika ada pilihan ketika kita tiada dan setelahnya mau menjadi apa? maka saya memilih menjadi kunang-kunang...

Requiem aetenam, beristirahatah dia dalam kedamaian abadi...

-----------------------------
*Nokturno - Sapardi Djoko Damono
**Untuk sahabat yang kehilangan orang tercinta
***foto: koleksi pribadi

Thursday, January 12, 2012

Requiem aeternam

--saat berkabung di sosiologi Unhas


Subuh yang hening, saya mendapat telpon dari seorang dosen muda di Unhas. ia mengabarkan berita bahwa salah satu dosen senior di sosiologi--mantan Pembantu Dekan (PD) I Fisip Unhas berpulang.

Syahdan, mati adalah kesunyian masing-masing. nasib begitu sunyi dan kadang mengejutkan tapi disinilah kita menghayati hidup, Saut Situmorang dalam sajak "nama" dengan takzimnya menulis:
"...hidup cuma
gelombang ombak di pasir pantai,
panjang pendek
tapi tak pernah
meninggalkan karang
tempat camar camar membangun
sarang musim hujannya..."
Kesedihan tak bisa lagi ditahan, saya tahu almarhum walau tidak dekat. tapi di kelas maupun di luar kelas ia bisa menjadi teladan. ia guru yang sederhana. mengajarkan banyak hal dengan gaya bahasa biasa, sangat egaliter. tak salah jika ia disebut guru.

Inginku mengenangnya. Mahasiswa yang mengenalnya tentu akan merasa kehilangan sosok sederhana itu. orang enggan beranjak di kelas ketika ia berdiri di depan, ia memiliki ciri khas; dengan intonasi dan suara yang bergelombang dan kadang datar.

Di jurusan yang kini hanya menyisakan 7 pengajar itu akan sibuk dengan upacara perpisahan. dan tentu berkurang lagi satu dosen di kelas. dihimpunan ucapan duka dengan karangan bunga juga di fakultas berjejar. larut dalam duka. sementara di tempat lain, almarhum terbaring beku disisi para peziarah.

Peziarah tak hanya ia, yang hidup adalah bagian dari (pe)ziarah itu. kelak kembali jua, hidup hanya "singgah minum sebentar" kata Sindhunata. Ada saat persinggahan ada saatnya berhenti di titian.

Mati tampaknya bisa dilihat sangat jelas walau bagian kesuyian perjalanan manusia. mati juga menjadi bagian dekat dari hidup kita. ia lebih dekat dari kerongkongan. sungguh, "yang hidup akan merasakan mati" begitu firman Allah. hidup adalah jalan awal menemukan horizon yang lebih luas. Mati adalah 'lonceng peringatan' bagi yang hidup.

Untuk guruku, guru kami. berjalanlah menuju keabadian, kau telah terbebas dari segala belenggu dan sesak dunia. pergilah menujuNya, dengan takzim kami mendokan engkau menuju kedamaian. Engkau berteduh di bawah pohon yang rindang, kini "umur pun tak lagi bisa dirayakan" puisi Joko Pinurbo mulai menyayat sepi.

Requiem aeternam, beristirahatlah engkau dalam kedamaian abadi.
---------
  1. mengenang guru kami, Almarhum Drs. Andi Gani Baso, MA yang meninggal subuh tadi, 12 Januari 2012
  2. foto : koleksi pribadi #Jogja Art 2011
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.