Wednesday, April 27, 2016
Kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia
Kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia
Sunday, October 5, 2014
Semangat Haji
Thursday, February 16, 2012
Apa Kabar Pendidikan Bajo?

Saturday, September 24, 2011
Jika saja filsuf bisa main bola
Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir.Diatas bukan cerita nyata, petandingan sepak bola antar filsuf itu hanya terjadi dalam dunia fiksi. Cerita tersebut ditulis dalam bentuk komedi satir karya Monthy Phiton tahun 1970 (dikutip ruang baca Tempo/22/06/2006). Jika pertandingan ini nyata, tentunya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik dan ditunggu-tunggu.
Satu hal yang menurut penulis petik dari cerita satir itu : sepakbola sangat dekat dengan manusia. Olah raga ini adalah bagian sejarah yang melibatkan manusia. Sejak sepak bola dikenal, dan telah mengalami metamorphosis baik dari segi aturan maupun format pertandingan (tidak lupa juga aksi anarkis supporter), namun pencinta sepak bola tidak berkurang malah bertambah sampai hari ini. Tidak ada angka pasti berapa jumlah penggemar sepak bola di jagad raya ini. Namun setiap pertandingan baik antar kampung maupun even berskala professional sepak bola selalu kebanjiran penonton.
Tidak mudah melacak asal muasal sepak bola, beberapa sumber menjelaskan bahwa sepak bola setua umur manusia, olah raga terpopuler ini hadir dalam bentuk baragam yang ditemukan hampir seluruh ruang di planet ini. Adapun anggapan lain, sepak bola berasal dari China (sepak bola tradisional), dan sepak bola modern tumbuh kembang di tanah Inggris.
***
Sepak bola tidak hanya olah raga yang dimainkan 22 orang mengejar satu bola di lapangan. Tetapi lebih dari itu, sepak bola adalah roh, semangat dan ‘agama’ baru. Tidak salah jika salah seorang pengamat menganggap bahwa sepak bola memiliki makna yang luas. Sepak bola menjadi pengikis batas sosial, spirit, supremasi dan juga pembawa pesan damai.
Tak dapat dipungkiri Kaka, Messi, Robben, Ronaldo, Nesta dan Rooney adalah manusia-manusia yang bermain. Sosok mereka adalah ‘roh’ permainan dalam tim masing-masing. Mereka melengkapi pertandingan ala Jogabonito (permainan cantik ala brasil), total football, kick and rush dan gaya Cattenaccio Italia. Mereka menjadi aktor lapangan hijau dalam mencetak bola. Seperti kata filsuf Albert Camus, Gol adalah tujuan akhir.
Dalam sepak bola, semua bisa menjadi rumit sekaligus menegangkan. Semua tidak bisa ditebak di atas kertas. Probalitas selalu ada. Drama selalu tersaji di 90 menit. Permainan ini menyajikan tentang dunia yang mungkin dan tak mungkin, maka disinilah letaknya filosofi sepak bola.
Thursday, August 18, 2011
Merajut persatuan Indonesia
Thursday, August 4, 2011
Mengenang guru bangsa - Ki Hadjar Dewantara
Atas asumsi ini penting kiranya berpaling kepada pemikiran Ki Hadjar Dewantara ( 1889 – 1959) . Semangat yang dibawanya dengan menyatukan lapis-lapis budaya bangsa Indonesia di ranah pendidikan adalah sesuatu yang orisinil.
Persona
Lima puluh dua tahun sejak sang guru bangsa ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Sukarno tahun 1959 setengah abad silam, dan mengenangnya adalah kata yang tepat untuk memaknai pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dia adalah persona, dilukiskan sebagai sosok yang mampu menanamkan fondasi nilai-nilai universal pendidikan yang selaras dengan alam Indonesia yang ramah dan penuh kehangatan.
Ajarannya sangat penting untuk digali kembali (paling tidak dihayati). Buah pikirannya yang dilukiskan Sindhunata (BASIS, No. 57 Juli-Agustus : 2008) terlihat penting disini : pertama, pendidikan dan pengajaran yang terluhur adalah terkandung dalam kondrat alam. Kedua, untuk mengetahui kodrat alam itu perlulah orang mempunyai wijsheid, atau bersih budinya, yang harus terdapat dari tajamnya angan-angan, halusnya rasa, dan suci kuatnya kemauan, yaitu sempurnanya cipta-rasa-karsa. Ketiga, maksud pendidikan adalah sempurnanya hidup manusia, hingga dapat memenuhi segala keperluan hidup lahir dan batin yang kita dapat dari kodrat alam.
Ajaran Ki Hadjar mengartikulasi bahwa pendidikan semestinya menyatu dengan kultur, keluhuran budi, dan kebijaksanaan. Pendidikan Indonesia yang hangat dan ramah menjadi sesuatu yang penting. Baginya, alam (kultur) adalah sesuatu yang menyatu dengan pendidikan. Simplifikasi alam dan pendidikan ini kemudian muncul dalam filosofi : cipta, rasa, karsa-hadir kemudian pendidikan yang berbudi pekerti.
Tak hanya itu, konsep dinamis Ki Hadjar juga lahir dengan ajaran, ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) masih menjadi landasan filosofis pendidikan di Indonesia.
Segenggam harapan
Kondisi pendidikan hari ini dengan beberapa kekurangan juga menyimpan sebuah harapan. Merefleksikan semangat Ki Hadjar ke dalam pendidikan yang (hampir) kehilangan arah itu menjadi sesuatu yang niscaya. Beberapa hal yang penting di evaluasi sistem pendidikan kita. Pertama, janji wajib belajar 9 tahun yang mewajibkan 7-15 tahun. Kata “wajib” ini seperti keharusan. Tak menawar-nawar dan tak ditimbang-timbang lagi sehingga pemerintah wajib memberikan pelayanan pendidikan. Kedua, sistem penyeragaman UAN dan kurikulum. Harus diingat bahwa karakteristik wilayah dan infrastruktur tidak sama antara Jawa, Sulawesi, Kalimantan hingga Papua. Masih terjadinya kesenjangan bidang pendidikan antar wilayah di Indonesia ini menjadi salah satu alasan mengapa UAN dan kurikulum masih penting di evaluasi kembali. Ketiga, penanaman nilai-nilai yang sesuai kultur bangsa seperti yang dicitakan Ki Hadjar, yang menyatu antara cipta, rasa, karsa tak bisa dinafikan begitu saja. Karena pendidikan dan budaya tak terpisahkan guna menciptakan keadaban.
Kiranya, pemikiran Ki Hadjar Dewantara semoga bisa menggugah kita untuk bisa lebih responsif terhadap kondisi pendidikan yang melanda bangsa. Harus diakui pendidikan sampai hari ini menjadi persoalan penting karena menyangkut hak banyak orang. Dengan pendidikan diharapkan dapat membuka kesadaran, seperti bahasa Paulo Freire, conciousness (kesadaran) yang akhirnya ‘membuka’ dunia.
Pembangunan pendidikan yang komprehensif yang sesuai dengan cita-cita luhur diharapkan kedepannya dapat mewujudkan tercapainya anak-anak bangsa yang bisa bersaing dan berdaya global. Selamat hari pendidikan nasional 2 Mei 2011.
*telah di muat di koran Baubau pos
Multikultural adalah realitas sosial
Mengawali kuliah umum dari Prof. Wieviorka-murid dari Alain Touraine-demokrasi dan keragaman dalam masyarakat diperlukan suatu kesadaran universal untuk memahami keragaman. Disini kita melihat bahwa Wieviorka melihat bahwa dengan hanya universalisme universal sebagai salah satu solusi keberagaman seperti halnya Indonesia.
Realitasnya adalah dengan perbedaan-perbedaan itu, berbagai gejolak muncul ditengah masyarakat kini dan menimbulkan keresahan-keresahan sosial dalam tatanan pluralisme. Masyarakat masih menyempitkan diri dalam etnisitas dan keyakinan-keyakinan sempit. Sehingga lahir pemahaman bahwa hanya merekalah yang paling benar dan menganggap yang lain sebagai liyan (the other). Ekslusifitas menjadi warna dalam masyarakat hari ini.
Merajut Pluralisme
Upaya menggali nilai-nilai kemajemukan sangat penting hari ini mengingat banyak konflik yang melibatkan SARA yang berlangsung dan berkepanjangan. multikuluturalisme sebagai proyek besar bangsa ini seakan-akan remuk.
Namun ada upaya multikulturalisme kembali dimaknai dalam lokus Indonesia. Entitas yang tumbuh dalam masyarakat Indonesia ini sebagai realitas sosial yang tumbuh dan berkembang sejak dahulu kala saat indonesia masih menjadi wilayah kerajaan. Entitas yang lahir kemudian adalah perbedaan suku, agama, ras, etnis, dan keyakinan-keyakinan menjadikan negeri ini disebut masyarakat yang majemuk. Modalitas besar ini direkatkan kembali, sambung menyambung menjadi satu kembali seperti apa yang disebut Furnivall – Masyarakat Majemuk.
Kita harus merapatkan lagi pada pemikiran Wieviorka bahwa hanya dengan menerima (recognition) yang lain diluar kita yang dapat menyuburkan pluralisme. Sejalan dengan itu, Azyumardi Azra mengisyaratkan bahwa multikulturalisme pada dasarnya sebagai pandangan dunia – yang kemudian diterjemahkan dalam kebijakan kebudayaan – yang menekankan penerimaan terhadap realitas keragaman, pluralitas, dan realitas multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Pandangan ini yang disebut dengan politics of recognition (Azyumardi Azra, Seri Orasi Budaya : Merawat Kemajemukan, Merawat Indonesia, 2007)
Memakanai pluralisme juga memaknai budaya yang hidup dalam masyarakat, contoh kearifan lokal bagaimana pluralisme dimakna dalam masyarakat Jawa, sikap “rukun” dan “hormat” adalah nilai-nilai dasar yang tumbuh sejak lama. Budaya di Ambon “pelagandong” sulawesi selatan “sipakatau” menjadi konsep kunci dalam membina harmoni sosial dalam masyarakat.
Kerangka harmonis sosial dalam pluralisme seperti ungkapan A.Sudiarja (Basis, vol.45/1996), kontesk pluralisme bukanlah keadaan yang sudah terjadi, melainkan tujuan yang mau diperjuangkan bersama, dengan keyakinan adanya saling ketergantungan satu sama lain. Tak menolak yang lain adalah upaya membangun kerangka harmoni itu menjadi menjadi hidup. Ketergantungan antara satu dan lain tanpa meniadakan yang lain sangat penting untuk mewujudkan kaidah-kaidah universal.
Kesadaran tentang pluralisme memang dibutuhkan ditengah masyarakat. Kesadaran pluralisme tidak hanya berarti bahwa orang mengetahui adanya perbedaan-perbedaan keyakinan dalam masyarakat, melainkan mereka peduli untuk manangani perbebedaan-perbedan tersebut.
Suatu kesalahan besar jika umat manusia hanya mementingkan ke-aku-an tanpa melihat ada yang diluar dirinya. Menciptakan tatanan sosial (sosial order) dalam masyaraka plural adalah dengan menerima orang diluar kita.
Referensi :
Azyumardi Azra, 2007. Seri Orasi Budaya : Merawat Kemajemukan, Merawat Indonesia, Impulse, Yogyakarta.
Majalah BASIS, 1996. Volume 45, Mei-Juni 1996
Sunday, July 10, 2011
Menanti Peran Intelektual
Siapa Intelektual ?
Siapa kaum intelektual itu ?. terang pemikiran Antonio Gramsci nampaknya dapat dipinjam, semua orang memiliki potensi menjadi intelektual tetapi tidak semua memiliki fungsi di dalam masyarakat. Dalam bukunya Selection from The Prison Notebooks (1971), Gramsci membagi beberapa distingsi intelektual menjadi diantaranya, intelektual tradisional, intelektual organik dan kritis.
sederhana untuk bilang bahwa intelektual tidak hanya duduk di bangku kuliah atau bergelar sarjana, master hingga profesor. Namun bagemana setiap orang membangun khayalan-khayalan tentang intelektual itu dalam mewarnai realitas sosialnya. diskursus yang panjang antara intelektual dan bukan intelektual bisa dilihat dari salah satu tulisan, diantaranya Daniel Dhakidae. Tanpa membedakan istilah “intelektual”, “cendikiawan” dan “intelegensia” (istilah ini biasa saling menggantikan), seperti Dhakidae yang lebih memilih menggunakan istilah “cendikiawan”. Bukunya tentang cendikiawan dan kekuasaan (2003) mewakili distingsi antara antara cendikawan dan bukan cendikiawan, karena sifatnya yang cair, maka term itu seperti menggoreskan garis di atas air sungai yang mengalir. Siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menghidupkan khayalan tentang dirinya sebagai bagian dari kaum cerdikiawan/intelektual.
Semua orang bisa mendaku tentang khalan-kyalan intelek dan cendekia. Orang orang ditapal batas ini memang berada dalam dilema. Dsatu kaki menghamba pada kekuasaan dan disisi lain empati pada kondisi realitasnya. Orang-orang ini ibaratnya tidak hanya asal hidup namun menciptakan lingkungan yang teratur dan nyaman. Ambiguitas peran-peran uintelektual menjadi persoalan tersendiri dalam memahami dirinya. Satu sisi dekat dengan kekuasaan tapi disisi lain ingin mendekat dan merasakan realitas dalam masyarakat.
Intelektual yang jika digolongkan dalam struktur masyarakat, maka dia bisa masuk dalam kelas menengah. Yang mencengangkan adalah kondisi kelas menengah sedang letih lesuh dalam menghadapi realitas sosial. Padahal kelas menengah adalah segolongan yang diharapkan dapat melakukan perubahan sosial (transformasi). Beberapa hal bisa saja kelas menengah (Baca : Intelektual) kemudian mengambil jarak, Pertama, kelas menengah sudah merasa mapan sehingga untuk mengurusi yang lain tidak mungkin lagi.
Kedua, kelas menengah dibelenggu oleh sistem. Belenggu ini bisa bersifat ideologis, bisa bersifat stuktural. kondisi intelektual berada dalam posisi dilematis, mencerminkan adanya kesibukan diruang-ruang kuliah dan labopratorium, yang akhirnya melahirkan intelektual “menara gading”. Tak heran jika Plato yang mencita-citakan negara ideal jika di pimpin oleh yang berbakat dan berpendidikan.
kita memang mengharap peran intelektual...
Saturday, May 21, 2011
Tubuh Sosial*

"tubuh adalah penjara/makam jiwa - Plato"kehadiran wacana tubuh itu menjelma di buku Antony Sinnot, Tubuh Sosial; Simbolisme, Diri dan Masyarakat. Tentu wacana tubuh tak hanya dibahas Synnott saja, teoritis feminis tak ketinggalan mengambil bagian dalam wacana ini, juga Michel Faucault dalam wacana kekuasaan yang menyinggung kekuasaaan atas tubuh.
"tubuh manusia dapat dianggap sebuah mesin - Descartes"
"Tubuh adalah saya...saya adalah tubuh - Sartre"
Buku Synnott yang berlapis-lapis merentang 476 halaman itu memahamkan kita bahwa tubuh bukan hanya fenomena biologis, ia juga diciptakan masyarakat yang sangat rumit. Yang mengatakan tubuh menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. soal kecantikan, ketidakmenarikan, tinggi badan, berat badan menjadi simbol dalam hidup.
tubuh tak hanya sekedar seonggok daging, dia memiliki muatan-muatan simbolis dan kultural-bibir, mata, hati, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktru tubuh gtapi dibalik itu bermain dalam ide dan citra-citra.
eksplorasi atas tubuh ini bergeser di segala zaman. cara manusia memberlakukan tubuh (nya) tak mempengaruhi cara berfikir dan menjalani hidup dan kematian. saya teringat lagi Film The Black Swan yang diperankan Natalie Portman, bagemana ia memperlakukan tubuhnya seperti bukan dirinya.
tubuh merupakan mozaik yang rumit kata Foucault. tubuh tak sekedar metafora, tapi juga representasi kekuasaan. fenomena tubuh sosial bukan pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kekuasaan. kerumitan ini pun membuat tak mengerti bentuk ideal yang diinginkan tapi merasa tak cukup. serasa ada yang kurang, begitu seterusnya dan akhirnya mengarah pada eksploitasi tubuh.
Bagi pembaca buku ini, akan menemukan lapisan di tubuh yang dekat dan slalu direpresentasikan dalam ruang, baik privat maupun publik : Wajah. wajah Bagi Sinnot adalah ruang privat dan publik. seperti merias wajah. wajah disatu sisi privat tapi disisi lain menjadi publik. tak heran jika orang berlama-lama depan cermin hanya untuk merias secantik dan setampan mungkin. dengan meminjam bahasa Aristoteles dalam risalahnya Phsiognomics, wajah menjadi cerminan mental seseorang :
"wajah, jika terlihat tembem menunjukkan kemalasan, seperti anak sapi; jika kurus kering berarti menujukkan kerajinan, dan jika tulang pipinya menonjol menunjukkan kepengecutan, analogi dengan keledai dan rusa. wajah yang kecil menunjukkan jiwa yang kerdil, seperti kucing dan kera; wajah yang besar tidak bersemangat hidup, seperti keledai dan sapi. maka dari itu wajah jangan besar atau kecil: ukuran sedang yang baik." (Synnott, hal 126).
Catatan : * tubuh sosial adalah judul asli dari Buku Anthony Synnott
Tubuh Sosial*
Sunday, May 15, 2011
Cyber culture, dari face to face ke space to space

Pertanyaan kemudian, apakah interaksi face to face akan beralih menjadi space to space ? jawabnya bisa ya bisa tidak. Asumsi pertama, ruang semakin menyempit dengan adanya jejaring sosial. Kicaun twitter, updetan status setiap menit sambung menyambung. Ruang offline hidup begitu rupa diruang online. Jadilah curhat, gosip dan diskursus yang biasa dilakukan di ruang offline kini bosa dilakukan diruang online. Dunia tak lagi selebar daun kelor. Sekarang malah lebih kecil lagi. Dunia yang datar. ruang bisa disempitkan dalam layar beberapa inch.
Ada beberapa peristiwa yang saya alami, ketika diruang offline (face to face) saya kaku bercakap kepada senior, dosen, mahasiswa saya, namun cair diruang online. Jika kita memakai analisis cultural studies maka hal ini bisa dikatakan representasi dari yang bukan diri (saya) sepenuhnya. Hibriditas identitas mengada di ruang maya. Di Dunia virtual, individu merasa lapang tanpa hambatan. Semisal emosi yang terwakilkan dengan simbol-simbol (walau belum tentu seseorang benar-benar tersenyum).
Asumsi kedua, ruang face to face tak akan digantikan dengan ruang virtual itu. Interaksi diruang “sebenarnya” lebih terlihat emosi. Ruang virtual hanyalah tool (alat) untuk berinteraksi. Ada ruang-ruang yang tidak bisa digantikan ruang cyber semisal emosi, hasrat dan sentuhan fisik. Bolehlah orang menggunakan simbol namun tetap tak bisa menggantikan ruang yang tanpa mediasi.
Ruang virtual (cyber culture) adalah media baru, orang bisa saja tidak serius tapi tidak untuk diremehkan perannnya.
Cyber culture, dari face to face ke space to space
Friday, April 15, 2011
Menuju Masyarakat Konsumsi
Dalam ekonomi kapitalistik, produksi selalu selalu mencari konsumen sebagai pasar. (kompas, akal sehat dalam dunia konsumsi, Jumat/15/04/2011). Celakanya, masyarakat Indonesia yang sebagian besar keranjingan belanja (shopaholic) menjadi pasar empuk dari produk-produk global. Kondisi ini mengingatkan kita pada pemikir ekonomi klasik, fase dimana masyarakat berada dalam masyarakat konsumsi tinggi. Kondisi ini perlahan-lahan bergerak dari logika produksi ke logika konsumsi. Baudrillard( 2009) tentang masyarakat konsumsi menjelaskan bahwa pengetahuan dasar tentang kebutuhan berhubungan erat dengan pengetahuan dasar tentang kemapanan dalam mistik persamaan. Tesisnya menandakan semua sama dalam nilai tanda. Tidak yang miskin maupun orang kaya. Seperti halnya barang-barang yang di pajang di mal dengan merek terkenal, semua orang bisa membeli-tak mengenal miskin maupun kaya (sulit membedakan orang2 yang ke mal-tak mengenal lagi latar belakang sosial ekonomi).
Mengkonsumsi “kehampaan” dalam kehidupan
Tesis dari prefesor George Ritzer dengan karya akademik The Globalitation of Nothing, yang telah diterjemahkan-Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi juga menarik dicertmati. Profesor Ritzer memberikan deskripsi yang provokatif, mengkonsumsi kehampaan di era globalisasi atau globalisasi ketiadaan, bahwa gerak masyarakat pada zaman ini menuju pada pada kehampaan. Dalam Defenisi kehampaan menurut Ritzer :
“...menunjuk pada sebuah bentuk sosial; yang umumnya disusun, di kontrol secara terpusat, dan termasuk tanpa isi substantif yang berbeda. Defenisi ini membawa serta didalamnnya tidak ada keputusan tentang yang diinginkan atau tidak diinginkan dari bentuk sosial seperti itu atau tentang kelaziman yang makin meningkat...” (Ritzer, 2006 : hal. 3)
Menarik lagi defenisi yang pernah diekemukakan para filsuf pendahulu, Martin Heiddegger, Jean Paul Sartre, yang sudah lama memberikan pemahaman tentang kehampaan (mewakii tempat-bukan tempat, benda-bukan benda dan seterusnya). Tesis Ritzer memberi gambaran bagaimana kehampaan dalam produksi dan konsumsi dalam masyarakat konsumer menjadi tak memiliki makna. Konsumsi yang berlebihan yang berujung pada prlilaku konsumtif.
Menuju Masyarakat Konsumsi
Thursday, April 7, 2011
Hidup di Zaman Kekerasan

Masyarakat kita sekarang hidup di zaman kekerasan. memandang realitas, kekerasan menggejala dimana-mana, menguras energi yang mewujud pada kekerasan fisik, juga psikologis. Saban hari di media (cetak dan elektronik) kini banyak bermuatan berita kekerasan. Di keluarga terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan antar pendukung pilkada, kekerasan antar mahasiswa, kekerasan antar suporter bola, kekerasan antar keyakinan, kekerasan antar kampung sampai kekerasan yang melibatkan negara.
Gandhi mengingatkan kekerasan adalah tanda akhir dari peradaban manusia. Namun anehnya sebagian kita suka dengan kekerasan. Kekerasan sering terjadi namun sedikit nada untuk membuka ruang diskursus (jika boleh di kata tidak ada) yang hadir di warung kopi, sekolah, hingga kampus. Padahal kekerasan menjadi arena yang selalu hadir disetiap ruang.
Kekerasan walaupun hidup dengan manusia namun untuk mengartikan kekerasan meninggalkan banyak pertanyaan sehingga menjawabnya pun sulit. term ini tumbuh dan berkembang di masyarakat baik desa maupun kota, baik berskala kecil maupun besar. Tak dapat terhitung lagi berapa kerugian materi dan non-materi akibat kekerasan. Memori kolektif belum hilang ketika kekerasan terjadi di kampus, sebagai misal. Kerugian tak bisa dibilang sedikit.
Untuk hal ini kekerasan lahir ketika show of force (penunjukkan kekuatan). Kekerasan selalu menunjukkan kekuatan (massa, senjata). Adalah Hannah Arendt yang memasuki arena kekerasan sebagai subjek utama. Filsuf Amerika kelahiran Jerman ini memberi pemahaman bahwa kekerasan itu tidak pernah bisa legitim namun kadang dibenarkan, kekerasan yang dibenarkan jika, pertama, kekerasan sebagai respon ketidakadilan, kedua, kekerasan dibenarkan jika memungkinkan membuka ruang politik.
Kekerasan terjadi menurutnya karena manusia kehilangan rasionalitasnya (irrasional). Sederhanya, manusia melakukan kekerasan jika kehilangan cara berfikir jernih yang mengakibatkan manusia kehilanghan kendali dan akhirnya emosional. Beragam bentuk kekerasan dalam masyarakat, mulai teror, konflik komunal, diskriminasi, bahkan kekerasan penguasan (pemerintah) pada rakyatnya. Walau kekerasan abad ini tidak lebih besar dari zaman penjajahan di Indonesia beberapa abad silam (Belanda dan Jepang), kemudian berlanjut hingga orde baru, namun kekerasan seolah-olah menjadi jalan keluar masyarakat yang katanya ramah, santun dan berbudaya.
Krisis Solidaritas
Boleh dikata, krisis solidaritas terjadi karena globalisasi. Paradoks yang dibawanya menghilangkan sisi manusia memandang dunia yang lain. Ruang-ruang sosial menjadi sempit dan melahirkan segregasi yang berbasis etnisitas, dan identitas kelompok. Cara pandang “insider” dan “ousider” selalu hadir dalam sentimen berdasarkan identitas.
Pesona globalisasi telah diikuti dengan nilai-nilai yang memudar. Paling tidak nilai humanisme terganti menjadi dehumanisasi. Globalisasi disatu sisi memang dirayakan, namun disisi lain harus ditangisi, paling tidak pemaknaan atas relasi-relasi sosial yang merenggang. Hal ini bukan tanpa sebab karena globalisasi telah memasuki ruang-ruang yang jauh di masyarakat yang dulunya dianggap “terlarang” semisal seni, budaya, norma dan cara hidup masyarakat.
Bersangkut dengan globalisasi itu, beberapa hal mengapa kekerasan terjadi, pertama, perkembangan manusia ditandai dengan sikap dilema dalam hidup. Mengutip pemikir Edwar Said, dalam tesisnya Orientalisme (2010), menyinggung bahwa perkembangan manusia tengah dilanda oleh kegagalan dan frustasi. Dewasa ini dalam konteks ber-masyarakat terjadi ketidakpastian dalam kondisi sosial, ketimpangan ekonomi serta pereduksian pemaknaan agama, identitas yang akhirnya memicu kekerasan.
Kedua, jika negara dan perangkat-perangkatnya gagal melindungi rakyat. Lemahnya negara juga diikuti dengan menguatnya gerakan-gerakan radikal yang akhirnya menimbulkan kekerasan. Kondisi ini telah membuka kesadaran sekaligus respon atas globalisasi. Kondisi ini disebut meminjam istilah Sindhunata, dilema globalisasi.
Ada orang yang mengatakan prilaku kekerasan dekat dengan kebodohan (sebagai catatan, kebodohan tidak diidentikkan dengan rendahnya pendidikan), karena kekerasan terjadi ketika manusia kehilangan kecerdasannya. Walau istilah itu terkesan sarkastik, hal ini bisa menjadi konfimasi betulkah kita tidak cerdas sehingga mau saja melakukan kekerasan ?.
Hidup di Zaman Kekerasan
Friday, April 1, 2011
Bunuh Diri & Autisme Sosial

Kompas edisi rabu, kamis, dan jumat menyajikan berita tentang bunuh diri dengan motif beragam. Berita yang tersaji berturut-turut. Dalam tulisan itu muncul keinginan untuk mencoba memberi sedikit pengamatan dari sudut pandang sosiologis. Bunuh diri sebagai fakta sosial tak bisa bisa berdiri sendiri. Bunuh diri tidak hanya sekedar pengaruh dari faktor psikologis namun fakta lain juga bisa memperngaruhi, faktor antropologis misalnya, peristiwa Kamikase dari tentara Jepang pada saat menyerang Pearl Harbour tak bisa dibilang bunuh diri biasa. Sama halnya dengan Harakiri. Selain itu faktor ideologis juga mempengaruhi misalnya bom bunuh diri (suicede bom).
Namun karena pemahaman saya hanya terbatas pada Sosiologi maka saya hanya mencoba memberi sumbangan pemikiran dari sudut pandang Sosiologis walau saya bukan ahli tapi hanya pembelajar. Salah seorang pemikir perancis Emile Durkheim menjelaskan tentang bunuh diri sebagai fakta sosial yang diakibatkan beberapa hal. Dalam tesisnya dijelakan bahwa bunuh diri dipengaruhi antara lain : Secara sosiologis, meminjam konsep Durkheim antara relasi sosial yang berkembang-Anomi karena perkembangan teknologi informasi dan teknologi yang membuat orang (terkadang) egois. tak lagi solider dengan lingkungan sekitar. Individualistis, peran agama mulai berkurang karena pengaruh media. Media memenjara kesadaran individu. Mungkin kasuistik, kehidupan desa orang jarang melakukan bunuh diri daripada kota. Solidaritas sosial mekanik pun tumbuh. Untuk memberikan ketenangan batin dengan cara gantung diri, soldaritas itu tidak adalagi. Konteks global pun tidak bisa dilepaskan akan mempengaruhi anomi.
Autisme Sosial.
Sekarang media menjadi tirani baru. Orang tekunkungkung dalam sangkar besi, berjam-jam menatap monitor, senyum sendiri dank akhirnya menjadi autis. Autisme sosial menghinggapi sekarang. Saya dan beberapa tetangga kamar saya seakan mengalami hal itu, autisitas dalam hidup telah menggejala dan akhirnya jarang lagi menyapa face to face. Bertemu hanya di ruang maya setelah itu sibuk dengan dunia masing. Dunia realitas yang dibuat media (facebook, twitter dan media maya lainnya) menggantikan realitas yang seharusnya.