Showing posts with label bernostalgia. Show all posts
Showing posts with label bernostalgia. Show all posts

Sunday, July 17, 2011

Nostalgia Terhenti di Alun-alun Selatan

Seakan waktu terhenti di alun-alun selatan. Dibawah padang bulan, saat mengenang masa-masa silam. masa kecil dulu. Nostalgia kanak-kanak itu hadir kembali di lapangan yang selalu ramai itu. Yang membuat kembali mengenang masa kecil tidak lain ketapel lampu berwarna itu. tak habis waktu, berjam-jam melepaskan ketapel berbentuk seperti baling-baling bambu dengan aksesoris led biru, hijau dan merah.

Tak heran jika ketapel berlampu itu laku keras. Yang memainkannya tak lagi mengenal usia : anak kecil, dewasa hingga orang tua tak ketinggalan meluncurkan ketapel itu. saling berlomba. Berlomba-lomba meluncurkan ketapel paling tinggi. saya dan sahabat kuliah sayapun tak ketinggalan mengadu ketapel. Beradu paling tinggi. Kepala memang pegal mendongak keatas. Tapi taburan warna led yang dipancarkan ketapel dilangit itu menyudahi lelah kami. Tak berfikir lagi capek. Sampai jam demi jam terlewati. Larut dalam euforia. Romantisme kecil dulu.
Bermain dengan ketapel atau baling-baling bambu berarti mengikat lagi masa lalu yang penuh dengan kenangan. Membawa pada 25 tahun yang lalu buat saya. Bermain ditanah lapang di bawah padang bulan. Berlarian mengitari lapangan padang rumput di kampung.

Saya tidak tau padanan kata yang cocok untuk menyebut ketapel berlampu itu. untuk saya dikampung menyebutnya patte’. Yang bergagang dengan karet sebagai pelontar. Biasanya ketapel itu dipakai untuk menembak burung. Tapi di alun-alun selatan, ketapel ini kemudian dikomodifikasi menjadi sarana hiburan. Dibuat seperti baling-baling bambu dan disisipi led warna warni.

Ketapel berlampu itu memenuhi langit di alun alun selatan, bermain di bawah padang bulan menambah suasana khidmat malam itu. saya takjub, ternyata ketapel berlampu ini tidak hanya menjadi mainan orang kecil, namun orang-orang bermobil, BMW, Merci, dan mobil mewah lainnya ikut bermain. Malah ada yang rela meninggalkan pacarnya di mobilnya hanya untuk bermain ketapel lampu itu. Ketapel berlampu kisaran Rp.5000 sampai Rp. 8000 tergantung bahan.

Saya tidak tau, sampai kapan ketapel berlampu itu akan bertahan. Tapi malam itu menghabiskan waktu berlama-lama dengan hanya untuk melepaskan ketapel. Seperti meluncurkan anak panah ke angkasa. Tarikannya begitu keras. Tapi bagi kami, waktu akan terulang bermain-main seperti ketika kecil dulu. Di alun-alun selatan itu.

Yogya-Alunalun selatan, 1707011

Friday, July 15, 2011

Hasrat Kota Tua



Selalu ada cerita disetiap perjalanan. dan ini yang saya rasakan selama mengunjungi kota-tua itu, saat mata tertuju bangunan-bangunan tua bergaya eropa. Bermula dari Benteng, kantor pos, bank, dan jalan-jalan masih membekas sentuhan oriental.

Kota tua sebagai jembatan masa lalu. Memandangi lanskap bangunan yang masih nampak terawat membawa pada masa-masa silam. setidaknya mengenang.

Kota seperti yang diceritakan Walter Benjamin yang oleh Baudeleire disebut flaneuer (Kalam Edisi 2002 hal : 11). Dengan menelusuri kota, menenggelamkan dirinya kedalam kerumunan orang, menggunakan bentang kota sebagai landasan untuk menerbangkan imajinasi.

Agaknya memang demikian, kota tua menjadi sumber imajinasi dari waktu-waktu yang silam. Mencoba beromantisme, setidaknya orang yang pernah merasa perubahan kota dari waktu ke waktu. Dalam cerita flaneur menunjukkan bahwa dulu, pejalan kaki bisa menikmati jalan-jalan arkade. Pada zaman kolonial, dikatakan bahwa berjalan di sore hari hanya dengan menggunakan piyama. Tentu sekarang tidak lagi ditemukan itu. itu hanya ada dalam foto. Sebagai sumber yang tersisa yang bisa dinikmati.



Jembatan Masa Lalu


Tidak berlebihan jika kota tua adalah jembatan masa lalu. Satu hal yang selalu saya lakukan ketika ingin mengenang masa lalu, tentang masa-masa perjuangan, maka lari saya hanya satu : berkungjung ke Benteng Vredeburg, tidak jauh dari Malioboro. Diperempatan, sebelum menuju alau-alun, disisi jalan bangunan tua, dari Gereja, Kantor BI, hingga Kantor Pos peninggalan Belanda. Takjub dengan bangunan berusia ratusan tahun namun masih terjaga.

Di benteng Vrederburg disisi kiri sebelum masuk dalam ruanga diorama, nampak Sukarno dengan gambar besar menempel di dinding. Tepat di bawah, ada bel-orang tinggal memencet bel, maka suara proklamator Sukarno akan keluar melalui pengeras suara. kenangan lama yang sudah lama terkubur digali kembali. dengan sepeda onthel, topi priyayi, dan diorama serasa hidup dimasa-masa kolonial.

Namanya saja negera terjajah, bangsa ini dipenuhi dengan arsitektur bergaya eropa. Padahal di India, ada arsitek bernama Charles Correra menolak mentah-mentah bangunan bergaya eropa karena tidak sesuai dengan ciri khas orang India. Bangunan Indonesia dibuat tinggi-tinggi mengikuti model barat sampai hari ini. Padahal dulu kota-kota tua sangat jarang dibangun model-model bangunan tinggi. mungkin penjajah pelit dalam membangun bangunan-bangunan bergaya eropa dengan nilai estetika. Walaupun itu, bangunan bergaya Eropa, seperti kota tua di Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Solo masih sering ditemukan.

Bagaimanapun kota adalah sebuah ruang. Dan ruang adalah ruang menurut Marco Kusumawijaya (jurnal Kalam, 2002). Ruang bukan sekadar latar bagi obyek. Ruang menjadi kehidupan bermasyarakat di dalamnya.

Itulah ruang kota. Terlebih ruang dalam kota tua-menjadi jembatan masa lalu ke masa kini. Kota tua hidup dalam waktu yang diciptakan didalamnya. Wajah kota memang akan berubah dan berubah. Yang ada sekarang bisa saja terganti (kota tua tergusur atau tidak terawat), besok atau lusa atau nanti kota tua menjadi suatu penanda waktu yang silam.

Yogya 150711

Wednesday, July 13, 2011

MADILOG dari Sahabat

Hari ini saya senang bukan main. Bertemu salah seorang senior yang juga dosen Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin. Kesempatan secara kebetulan, dia mengikuti konfrensi internasional di Kampus UGM dan akhirnya terjadi pertemuan yang tiba-tiba.

Saya pun diajak untuk membeli buku di shoping tak jauh dari taman budaya Yogyakarta. Sambil beromantisme dengan yogyakarta, dia bercerita pengalamannya berkeliling negara. Saya pun ‘iri’ mendengar ceritanya yang sudah melintasi benua. tapi perasaan iti itu saya anggap sebagai motivasi saya untuk lebih maju untuk bisa menuju benua lain. Seperti yang dia rasakan.

Cerita romantisme berhenti berbunyi. Saat kami tiba di langganan toko buku. Dengan diskon sampai 40 persen, maka tak ada alasan untuk tidak membeli buku di tempat itu. senior itupun membeli beberapa eksemplar. Sedangkan saya mencari buku yang lain. Hanya melihat-lihat karena beasiswa belum cair. Setiap beasiswa cair, uang pertama saya yang keluar dari beasiswa itu harus buku. Setelah itu kebutuhan lain termasuk intertain.

Entah, mengapa ingatan saya tertuju pada MADILOG milik TAN MALAKA. Padahal beberapa bulan ini habis slalu terjual. Saya pun menanyakan kepada langganan saya itu. Dan ternyata buku yang menjadi salah satu magnum opus “pahlawan yang terlupakan” itu ada.

“tinggal satu mas, kemarin udah banyak nyari”. Sambil langganan saya menyodorkan buku yang memiliki tebal kurang lebih 500 halaman.

TAN MALAKA. Saya baru mengetahui karya-karyanya di Jogja ini, padahal sudah sering saya mendengar tokoh ini melalui koran atau senior-senior dan aktivis semasa kuliah S1 dulu. Tapi kali ini baru terasa dekat dengannya, melalui karya-karyanya.

Saya pernah bertemu dengan penulis tan malaka di kampus, Harry Poeze, penulis Belanda yang menulis kembali TAN MALAKA sampai beberapa jilid.

Saya memegang MADILOG, menimang-nimang, dan bergumam. Setelah beasiswa cair, maka buku ini jadi prioritas sebelum menjadi langka, seperti buku-buku Sukarno, Marx, Syachrir, GIE dan tokoh-tokoh lainnya. Saya pun menyuruh langganan saya untuk disimpan sampai saya punya uang. Dan mengatakan “iya, ta’ simpankan sampeyan”. Aman pikirku. Saya tidak harus mencari lagi karya besar tokoh revolusi itu. Selain langka, harganya juga mahal untuk kalangan mahasiswa.

Tapi ada kemujuran disetiap kesempatan. Kadang kejutan datang tanpa tau arahnya darimana, dan itu yang saya rasa hari itu. sore itu. Tiba-tiba senior tanpa permisi, langsung melunasi buku MADILOG. Saya malu dan sungkan, padahal saya sebagai tuan rumah harus memberi pelayanan sebaik mungkin tanpa ada niat lain. saya membantu, ikhlas dan tanpa pamrih. Tapi nyatanya dia membelikan buku yang sudah lama saya cari. Senang tak terkira. Mungkin dia mengerti, mahasiswa berapa saja kemampuang membeli bukunya. Saya anggap sebuah rejeki dan tak lupa berucap terima kasih tak terhingga atas kebaikannya walaupun belum sempat berucap hari itu.

Saya mengutip sedikit dari MADILOG yang belum menjadi daftar bacaan untuk beberapa minggu depan. Banyak tugas dan daftar bacaan menjadi sebabnya. Menurut TAN MALAKA, kemajuan manusia harus melalui tiga tahap : dari “Logika Mistika”, lewat “Filsafat” ke “ilmu Pengetahuan” (sains). Selama bangsa Indonesia masih tekungkung dengan “logika Mistika”, tak akan mungkin menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Dan MADILOG adalah jalan keluar dari “Logika Mistika” itu.

Untuk hari ini, trima kasih tuhan, terima kasih senior atas buku MADILOG-nya.

Yogya, 130711

Sunday, July 10, 2011

Menanti Peran Intelektual

Berbagai masalah yang mendera bangsa akhir-akhir ini diperlukan sosok yang mampu memberikan sumbangsih pemikiran. Sosok itu kira-kira bisa disematkan pada kaum intelektual. Sungguh banyak kaum intelektual bangsa ini, namun sangat sedikit peran dalam memecahkan masalah. Intelektual hari ini sebagian besar sibuk dibalik meja tanpa mau terlibat dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Sangat sedikit yang empati terhadap permasalahan rakyat kecil, dan miskin.

Siapa Intelektual ?

Siapa kaum intelektual itu ?. terang pemikiran Antonio Gramsci nampaknya dapat dipinjam, semua orang memiliki potensi menjadi intelektual tetapi tidak semua memiliki fungsi di dalam masyarakat. Dalam bukunya Selection from The Prison Notebooks (1971), Gramsci membagi beberapa distingsi intelektual menjadi diantaranya, intelektual tradisional, intelektual organik dan kritis.

sederhana untuk bilang bahwa intelektual tidak hanya duduk di bangku kuliah atau bergelar sarjana, master hingga profesor. Namun bagemana setiap orang membangun khayalan-khayalan tentang intelektual itu dalam mewarnai realitas sosialnya. diskursus yang panjang antara intelektual dan bukan intelektual bisa dilihat dari salah satu tulisan, diantaranya Daniel Dhakidae. Tanpa membedakan istilah “intelektual”, “cendikiawan” dan “intelegensia” (istilah ini biasa saling menggantikan), seperti Dhakidae yang lebih memilih menggunakan istilah “cendikiawan”. Bukunya tentang cendikiawan dan kekuasaan (2003) mewakili distingsi antara antara cendikawan dan bukan cendikiawan, karena sifatnya yang cair, maka term itu seperti menggoreskan garis di atas air sungai yang mengalir. Siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah dengan sendirinya menghidupkan khayalan tentang dirinya sebagai bagian dari kaum cerdikiawan/intelektual.

Semua orang bisa mendaku tentang khalan-kyalan intelek dan cendekia. Orang orang ditapal batas ini memang berada dalam dilema. Dsatu kaki menghamba pada kekuasaan dan disisi lain empati pada kondisi realitasnya. Orang-orang ini ibaratnya tidak hanya asal hidup namun menciptakan lingkungan yang teratur dan nyaman. Ambiguitas peran-peran uintelektual menjadi persoalan tersendiri dalam memahami dirinya. Satu sisi dekat dengan kekuasaan tapi disisi lain ingin mendekat dan merasakan realitas dalam masyarakat.

Intelektual yang jika digolongkan dalam struktur masyarakat, maka dia bisa masuk dalam kelas menengah. Yang mencengangkan adalah kondisi kelas menengah sedang letih lesuh dalam menghadapi realitas sosial. Padahal kelas menengah adalah segolongan yang diharapkan dapat melakukan perubahan sosial (transformasi). Beberapa hal bisa saja kelas menengah (Baca : Intelektual) kemudian mengambil jarak, Pertama, kelas menengah sudah merasa mapan sehingga untuk mengurusi yang lain tidak mungkin lagi.

Kedua, kelas menengah dibelenggu oleh sistem. Belenggu ini bisa bersifat ideologis, bisa bersifat stuktural. kondisi intelektual berada dalam posisi dilematis, mencerminkan adanya kesibukan diruang-ruang kuliah dan labopratorium, yang akhirnya melahirkan intelektual “menara gading”. Tak heran jika Plato yang mencita-citakan negara ideal jika di pimpin oleh yang berbakat dan berpendidikan.

kita memang mengharap peran intelektual...



Saturday, July 9, 2011

Kuntowjiyo dan Ilmu Kenabian


Malaikat bertanya,

Apakah aku ingin berjalan diatas mega ?

Dan aku menolaknya.

Karena kakiku masih di bumi

Sampai dhuafa lepas dari keterpurukan

Sampai mustadafin diangkat oleh tuhan.
(dibacakan oleh istri Kuntowijyo, Gedung Lengkung 2011)

Suara ibu Kunto, demikian istri untowijoyo akrab disapa-menahan sedih membacakan sajak di saat masa-masa akhir kebersamaan bersama Prof. Kuntowijoyo. ia seakan tak kuasa melanjutkan bait sajak yang ditulis oleh suaminya.ada perasaan tertahan, tapi air mata tidak habis berderai. haru nampak nyata dalam diskusi itu, serasa larut dalam sebuah elegi.

Kembali menghadiri diskusi Great Thinker-“Kuntowijyo dan Ilmu Sosial Profetik”.sekolah pasca kali ini. Menghadirkan murid-murid Kuntowijoyo. Murid langsung Kunto, Prof. Bambang Purwanto (Guru Besar FIB UGM) dan murid tidak langsung Prof. Purwosantoso (Guru Besar Ilmu Politik UGM).

ini seperti diskusi dalam konteks romantik bulanan kali ini di gedung lengkung sekolah pasca dengan tajuk-Great Thinker. pemikir besar setiap bulan di hadirkan. menghadirkan karya-karya pemikir Nusantara.

kembali ke Kuntowijoyo. sederhana untuk mengungkapkan untuk dia : Mengagumi. Menjadi pengagum dari novel dan buku-buku yang dia hasilkan, mantra penjinak ular, dilarang mencintai kupu-kupu, khotbah di atas bukit adalah beberapa dari novel yang telah dihasilkannya, belum termasuk buku-buku ilmiah yang dikarangnya semasa aktif sebagai dosen.

Mengenang dalam konteks romantisme bersama pemikiran Kunto mungkin pas di daras disini. Kuntowijoyo adalah sumber ilham. Membahas pemikirannya berarti membahas pula ilmu atau islam profetik-nya.

Menjelang usia 50 tahun, Kunto mencetuskan ilmu sosial profetik. Seakan tidak punya kata-kata lagi melukiskan sosok yang satu ini, dia bisa disebut sastrawan, ilmuan, sejarawan dan cendikiawan. Seakan menjadi sosok komplet.

Ia selalu hadir dengan ide-idenya. Begitulah inti pemikiran kuntowijoyo. Sejarah sebagai sebuah petualangan. Selalu mengandung resiko. Demikian juga pemikiran yang dicetus Kuntowijoyo, ilmu sosial profetik-Mengandung resiko karena akan berhadapan dengan hegemoni pengetahuan, terutama posititivitik.

Ilmu profetik mencoba menawarkan pendekatan baru, bahwa roh pengetahuan semustinya berlandaskan pada ketauhidan dan kemanusiaan. Inti dari profetik adalah mendaras konsepsi tentang transendensi (ketauhidan), liberasi (pembebasan) dan humanisasi (kemanusiaan). Perjuangan keilmuan sekarang kadang sebatas pada konsep liberasi namun memisahkan konsep transendesi dan humanisasi. Profetik ala Kunto menjembatani tiga aras itu.

Tapi bagemanapun, ilmu profetik sebenarnya memiliki kandungan makna sebagai sebuah alternatif, namun jadi masalah adalah jika ia dibuat semacam metodologi ataupun mahzab, walaupun tidak ada yang tidak mungkin. Namun, diantara hegemoni ilmu-ilmu dari luar, pendekatan profetik masih akan menjadi pertarungan memperebutkan ruang dalam diskursus pengetahuan. Dan ini penting sebagai alternatif baru dalam khazanah pengetahuan di Indonesia.

Sebuah paradigmabaru yang ditawarkan memang tidak akan mudah dari hegemoni mahzab dari luar.tapi setidaknya ada ruang yang direbut disitu. Murid-murid kunto sadar, bahwa ilmu sosial profetik itu rentan (fregile) terhadap hegemoni ilmu-ilmu positivistik.

Mungkin disini, Kuntowijoyo mencoba berkata bahwa ber-ilmu dan ber-agama sama pentingnya.

Jogja, 230611

Friday, July 8, 2011

Seribu Janji

konon karena orang suka berjanji dan dijanji, maka janji bertebaran di mana-mana. tidak hanya dalam urusan asmara orang suka berjanji, dalam urusan utang-piutang orang senang menjanji, tapi yang menarik sekarang adalah urusan janji-menjanji dalam politik.

syahdan, peristiwa ini kembali saya temukan di daerah Lampung saat penelitian di salah satu daerah. janji-menjanji kembali dimunculkan pada pilkada yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

toh, dengan trauma masa pencalegan-2009 masyarakat tidak kapok dengan janji para penjanji (kandidat). inilah yang mungkin bisa disebut masyarakat tanpa kesadaran kritis (kesadaran palsu) menurut Marx, entahlah. tapi dengan trauma janji ini masyarakat masih suka dijanji.

dalam masyarakat yang suka dijanji ini, masyarakat terbuai dengan nuansa utopis dengan harapan janji akan terpenuhi.

"dulu pada saat pilcaleg, kami di janji lampu jalan mas, tapi setelah kandidat itu terpilih, kami menagih janji malah kami yang di cuekin"
cerita mas Ngatimin itu hanyalah sebagian kecil dari cerita pahit dari janji-janji. karena banyaknya janji yang ditebar, tidak heran jika ada lagu milik Broery Marantika, tinggi gunung seribu janji. janji hanyalah janji. janji tinggal janji.

jancimu taroe, dalam frase bugis dilukiskan jika janji tidak ditepati. janji tinggallah janji.

"Bukan janji namanya jika ditepati."
itulah adigium yang sering dimunculkan. janji itu bernama jika tidak dibuktikan. seribu janji melukiskan sesuatu yang jamak, (saya pun tidak luput dengan suka men-janji). termasuk janji manis dari seseorang. seribu janji seperti membilang yang banyak, tak terhingga, seperti seribu bintang, seribu kata-kata. tak terhingga.

***

menjanji dan dijanji adalah sebait pemanis kata untuk menyenangkan hati. orang paling senang dengan janji. yang memiriskan ketika terbuai dengan janji akhirnya larut dengan janji-janji.

perasaan ini kemudian bisa memunculkan bahwa ternyata janji itu bisa memuat kepalsuan. menjadi semata-mata "pil penenang" dalam ketakpastian kehidupan manusia. bagemana dengan orang yang suka menjanji ? entahlah. tapi disini dalam pemahaman bodoh saya dapat melihat bahwa ada keinginan untuk menepati. tapi keterbatasan waktu, dana dan ruang meluruhkan janji itu dan akhirnya menguap.

ada perasaan bersalah bersanding dengan perasaan tidak enak hati. disini orang mengalami dilema. agama dan nilai-nilai kejujuran seakan-akan ditempatkan pada tempat yang jauh sambil mengharap mendekatkan diri dari tempat itu : karena tuhan maha pengasih dan penyayang. manusia sadar bahwa janji adalah utang, dan utang menjadi dosa jika tak terbayar. dan dosa tempatnya di NERAKA. cerita itu seakan-akan sekedar menakut-nakuti. maka percuma ceramah agama, beribadah tiap waktu dan bermuka lugu dan religius. entahlah!.

tentu permasalahan menepati janji tidak semudah dibayangkan, sejauh pemenuhan materi dan degradasi masyarakat jujur (dishonest society) masih belum terpecahkan. seakan-akan kejujuran adalah sebagai "hantu" yang kadang kala di musnahkan namun dalam waktu yang lain dibutuhkan kehadirannya.

imbasnya adalah, terpaksa diperhadapkan pada kemunafikan yang kemudian menuntun seseorang untuk bersandiwara dalam hidup.

mungkin Goffman dalam panggung belakang dan panggung depannya dalam Dramaturgi bisa dikutip disini. manusia dalam mewarnai realitas sosialnya ibarat me-lakon-kan peran dalam sebuah panggung sandiwara.

lidah memang tak bertulang

tak terbatas kata-kata

tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

lagu Broery Marantika ini mungkin bisa menjadi penawar dari janji-janji itu.


Lampung menuju Jogja, 080711

Sunday, June 26, 2011

Memulung cerita...


Nani, Amie, Wahyu : Batuan andesit (candi) ini tidak simetris, tidak hanya batuan kubus saja ?



Gusti - Denny : karena andesit memiliki pori-pori yang mampu menyerap air. Batuan itu tidak simetris biar saling mengokohkan karena dalam perbedaan bentuk itulah candi itu kokoh, mampu bertahan dari alam dan waktu...

Aku (dimana ?): memulung cerita di Candi Ijo itu menjadi sebuah kenangan, merajutnya, menyimpannya dalam sebuah foto. mereduksi perbedaan kita sore itu. iya, kita tidak selalu berbeda setiap saat, tapi ada saatnya kita bersama, seperti ini, dibawah langit biru di Candi Ijo itu [...]

Candi Ijo, Yogyakarata Mei 2011

Kisah perempuan pembawa coklat...

“wanita harus membayar utang kehidupan ini bukan dengan apa yang ia kerjakan, tetapi apa yang ia derita. Ia harus merayapi hidup dalam penderitaannya karena hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya” (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI : 2007).
Dengan mengutip filsuf Schopenhauer, Sindhunata mencoba melukiskan kisah perempuan di Kramat Tunggak, Jakarta. Saya mencoba menghubungkan kisah perempuan dengan dunia yang berbeda, kisah yang berbeda dan persoalan yang berbeda pula. kisah perempuan yang lain itu terjadi rumah makan di Raminten.

Tentu kita bisa saja tidak bersepakat kata-kata pesimis Schopenhauer diatas itu. Apalagi ditengah wacana emansipasi perempuan saat ini. serasah tidak menarik.

Tapi ada yang menarik sepotong kata dari kalimat Schopenhauer itu.”...hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya”. ada peristiwa yang mengharukan sekaligus menggugah di suatu malam di rumah makan Raminten Yogyakarta. Saya tidak sendiria malam itu, bersama teman-teman asrama.

***
Naluri ke-ibu-an mungkin menghendakinya demikian. Ia menyusuri malam-malam sambil menjajakan coklat yang dibuat dengan tangannya sendiri. Tak ada yang lain, perempuan itu berusaha dan tak mengenal waktu untuk kesembuhan putrinya yang terbarin sakit.

Dengan nada yang datar dan sopan, perempuan itu menyodorkan coklat buatan tangannya pada kami. “nuwun mas, saya menawarkan coklat untuk pengobatan anak saya yang sakit”. Coklat dengan kemasan cantik dengan rasa almon dan mete memang menarik hati. Tap harga yang kurang sreg membuat kami saling memandang. Bukan harga murah untuk kalangan mahasiswa. Tapi ada kata-kata pamungkas yang membuat kami empati, larut dalam dunia yang ia rasakan.

“untuk berobat anak saya, ia sekarang di rumah sakit, kena lupus mas”.
Kesedihan nampak di raut wajahnya tapi berusaha tegar. Hanya itu yang ia mampu. Ia mencurahkan hati dan tenaga untuk anaknya. Pukul 12.00 malam, Raminten tak menandakan sepi, padahal malam dinginnnya malam itu menusuk-nusuk tulang. Kidung Jawa masih mengalun dalam keramain tempat itu, remang cahaya lampu-lampu mengikuti nuansa kidung itu, mengikuti kisah perempuan itu : sepi

Perempuan itu berkeliling dan berpindah, dari meja ke meja. Ada yang hirau juga ada yang tak hirau. Ada yang menampakkan wajah kusam ketika dihampiri, seperti memberi isyarat mengganggu selera makannya. Dunia memang kadang paradoks. Ketika menyadari manusia dalam ketidakberdayaan, ada juga yang tak iba. Tak ada yang salah dari wajah-wajah itu. toh setiap manusia tidak selalu menjadi dermawan dalam setiap waktu. Termasuk kami. Yang kami lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.

Seakan perempuan itu merasakan sepi dimalamnya. Sepi mengiris hatinya. Mengingatkan anaknya terbaring sakit dan tak mampu akan biaya. Negara pun alpa ketika dibutuhkan. Ia menyadari negara tak ada ketika ia membutuhkan. Maka ia menggunakan akal sehat dan tenaganya untuk bisa memberi harapan pada putrinya : kesembuhan.

***

Sesampai di kost, tak menunggu lama untuk membuka google dan membuka seperti apa penyakit lupus itu. sederhana, dengan keyword "lupus", akhirnya muncul 894.000 entry. Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh (http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz1PkHxg0wE).

Cerita ini adalah sebuah pengalaman hidup tentang arti perjuangan ibu yang menginginkan anaknya sehat dan bermain riang dihalaman rumah. Dengan segala cara, menjajakan coklat hasil buatan tangan ditengah malam buta dan dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Pada akhirnya, coklat berisi almon dan mete itu akan melanglang ditengah malam yang menggigit meminta belas kasihan dari derita yang dihadapi. Terbaring, tak berdaya. Ironisnya, dengan itu ia membimbing dirinya di malam buta hanya sekedar untuk kesembuhan anaknya. Inilah mungkin yang disebut naluri, naluri perempuan sekaligu ibu.

Yogya, 250611



Tuesday, June 21, 2011

Tiga ranting



tiga ranting
perlahan,
melepas dedaunan dengan rela : tak kuasa lagi menahannya disana

Ranting dan sebait puisi hujan bulan juni

: untuk non

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. ya, Ranting itu, dengan kesabarannya mencintaimu. Walaupun kau tak menyadari. Ia mencintaimu diam-diam. Tak pernah berfikir untuk berkata

Ranting itu yang dalam suka dan tawamu menemani. tak bosan menjagamu. Walau kau tak menyadarinya. Setia apa adanya. Tak pernah berniat berpaling

Ia jua yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Dibiarkan perasannya tertahan tak terungkap. Walau kau menyadarinya. ia rela menahan waktu. Menunggu senja beringsut perlahan-lahan. Menjemputnya

Ranting itulah yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Tak ada yang lain. Memujamu tak henti-hentinya. Ia masih disitu diranting itu

Ranting (dan) kita

ini tentang kita
Saat mengenang masamasa silam di jalan itu.
Bertukar tawa, air mata, dan kesiasiaan

Masih tentang kita
Saat menuliskan sebait cerita di kertas berwarna dan menggangtungnya dirantingranting pohon itu. tak habis-habis kata untuk di eja. Tak lekang pula waktu menunggu hinggai kertas-kertas itu memudar dan lapuk. Diurai waktu

Dan ini akhir dari kita
Ketika harapan sebatas utopia, tak berwujud seperti cerita dalam kertas itu : menghilang dan tenggelam

cerita kita ada diranting itu.
Yogya, 210611


Saturday, June 18, 2011

Muhammad, Engkaulah Kedamaian

Saya baru saja membaca Sirah Nabawiyah, sejarah lengkap Nabi Muhammad Saw. Karangan Abul Hasan’Ali al-Hasani an-Nadwi, Mardiyah Press yYang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Betapa saya menjadi manusia merugi jika saya tidak mengenal Sirah Nabawiyah sang pencerah alam. (rahmatan lilalamin) saya tidak tidak tahu mengapa saya harus mengambil buku ini, padahal tujuan saya sebelumnya adalah meminjam buku-buku kuliah. Tapi aneh adalah mata saya menuntun ke buku itu, Sirah Nabawiyah itu.

Betapa saya harus merenung, membaca sosok yang diagungkan di umat Muslim. Sosok manusia komplit yang pernah dilahirkan di bumi (terlepas Muhammad Saw seorang rasul dan nabi). Sirah nabawiah adalah perjalanan lengkap nabi dari nubuat hingga akhir hayatnya. Saya hanya mengambil beberapa poin penting dari sejarah hidupnya.

Kelahiran nabi pada hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah (570)bertepatan dengan bulan april. Nabi Muhammad wafat senin 12 rabi’ul awal tahun 11 Hijriah.

Kelahiran Nabi besar ini diikuti dengan matahari terbit, saat jazirah arab bersuka cita menyambut nabi pembaharu di tanah arab. saat meniggal di ikuti dengan tenggelamnya matahari. Saya menangkap bahwa alam mengikuti seremoni kehidupan rasulullah ini. Alam saat itu berduka dengan tenggelamnya matahari. Seolah-olah matahari muncul dan tenggelam mengikuti alur hidup nabi Muhammad.

Saya mengutip wasiat terakhir yang tentu menjadi pegangan bagi umat muslim. Memelihara shalat, berzakat dan berbuat baik pada hamba sahaya. (hal : 494) Nilai-nilai humanis beliua tidak diragukan lagi. Betapa tidak, saat menjelang ajalnya masih berwasiat pada Aisyah ra, beberapa keping dirham untuk diinfakkan. “wahai Aisyah, apa yang akan kau perbuat dengan emas ?

Saya belum usai membaca Sirah Nabawiyah, tapi saya akan melanjutkan serat itu bersama muncul dan tenggelamnya matahari...


Khotbah kebudayaan Mahfud MD

Rektor UII

Khotbah Kebudayaan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD

Penyerahan buku yang diterbitkan PSI UII


saya beruntung hari ini mendapat undangan edisi terbatas menghadiri khotbah kebudayaan Prof.Dr.Mahfud MD, Ketua mahkamah konstitusi itu. tidak hanya mendapat bingkisan begitu banyak buku. namun pidato ilmiah Mahfud sangat menggugah.

khotbah kebudayaan peringatan 1 Dasawarsa Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu mengangkat tema "mendaras Islam yang rahmatan lilalamin : memahami kemajemukan agama dan budaya dalam bingkai keindonesiaan".

saya melupakan satu kesempatan menulis pidato Mahfud dengan begitu sarat pesan religius dan humanis. point penting saja yang sempat terekam dalam benak.

...Pluralisme musti diterima dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.mengapa ? karena, pertama. manusia diturunkan berasal dari satu sumber(adam-hawa) kemudian seiring perjalanan hidup, manusia kemudian berpencar-pencar,kita harus menerima itu sebagai suatu sunnatullah. kedua, melihat pluralisme harus mencari persmaan bukan dengan melihat perbedaan. sebabnya melihat persamaan akan melahirkan kerukunan. ketiga. toleran. setiap agama memiliki sikap hidup untuk toleran dengan agama lain. prinsip beragama ini penting dalam merajut perdamaian...

saya bersyukur kembali bertemu dengan orang-orang besar. setiap waktu bertemu dan mengekstraksi pengetahuan dan pengalaman saya selama di Yogya.

tidak lupa, kudapan, tumpengan tak lupa dicicip. dan keberkahan hari itu juga bungkusan buku yang jumlahnya tidak sedikit : 6 eksemplar melengkapi khobtbah kebudayaan itu.

*selamat untuk milad Pusat Studi Islam (PSI) UII. matur nuwun mas Imam Samroni tuk undangan dadakan dan bundelan bukunya.

yogya, jumat 170611

Thursday, June 16, 2011

Untunglah, masih ada tawa


Ditengah orang-orang yang malas tertawa, bocah peminta itu mencoba tertawa. Di perempatan lampu merah itu sambil menenteng kaleng derma. Selaksa tawa pun memecah bersama teman sebayanya seraya mata menatap awas di kerumunan kendaraan yang berlalu-lalang. Ada yang hadir ditengah realitasnya yang galau. Ironis skaligus tragis. Mencoba tertawa dalam galaunya hidup dan serba susah. Ia mungkin berfikir, hidup sudah susah jika diri ikut susah maka dunia yang datarlah yang hadir. Tak memiliki warna.

Hati siapa yang tidak bergetar menyaksikan realitas bocah peminta itu ? tidak terkecuali saya. Saya pun larut dalam dunia yang ia ciptakan. Bahagia dalam dunia yang ironis nan penuh tragedi ini. Saya mengambil pelajaran waktu itu, bahwa dengan kepapaan tidak berarti tak ada lagi tawa. Karena tertawa memberi rangsangan hormon endorfin memompa tubuh untuk bahagia. Ia menyadari, yang ia miliki adalah adalah kaleng derma dan segurat tawa menemani perjalanan panasnya siang dan dinginnya malam. Sebuah paradoks.

Kisah ini membuat saya mengingat lagi Sindhunata dengan ilmu nggelthek-nya (2004). Tertawa menyimpan banyak rahasia dalam hidup. Sindhunata memberi nafas pada kisah bocah peminta itu, ketika manusia tertawa, itulah saat dimana “surga sedang menyentuh hati”.

Saya berasumsi, hari-hari yang ia lalu bisa jadi berat, penuh beban, tak seperti anak sebayanya yang kaya, membosankan dan monoton. Namun ia memiliki perasaan untuk selalu bahagia : perasaanya untuk tertawa dan menertawakan realitas. Ia hidup dalam dunia humor yang diciptakannya. Sepertinya tertawa lagi menjadi obat murajab itu, bocah kecil itu menawarkan warna baru dengan menertawai realitasnya.

Tertawa membuat manusia menjadi bijak. Tapi kisah anak itu membawa pemahaman bahwa bijak diperoleh dari kisah-kisah empirik manusia. Perjalanan sosio-religiositaslah manusia mampu menempuh tangga kebijaksanaan.

Ditengah pelitnya orang memberi tawa atau paling tidak memberi kesempatan diri tertawa dengan orang lain. Alih-alih memberi waktu tertawa saya terkadang memberi nuansa ‘kecut’ dan bermuka masam. Tertawa tak nampak sejauh yang saya bisa. Untung bocah kecil itu tak sama dengan saya selalu menampakkan wajah masam.

Tertawa memberi tempat pada surga menyentuh lubuk hati. Kedamaian terhampar, lapang dan lepas beban. Tertawa membawa pergi stres yang membelenggu dan persoalan dunia yang tak habis diurai. Dengan tertawa saripati hidup dapat dirasa sebut Sindhunata. Kita tahu, mati adalah kata final dan pasti. Tapi tawa tak mengenal kata final dan akhir. Tawa adalah hiburan ‘gratis’ pada diri sendiri.

Akhirnya kita mengutip kembali Sindhunata - ngglethek-nya :

nggelthek adalah akhir dari segalanya. tertawa, karena, eh ngglethek, apa yang kita raih, ternyata harus kita tinggalkan, karenanya kita disadarkan.bahwa mengalami kepauasan, kita justru harus rela kehilangan segala kepuasan yang kita cita-citakan. tertawa, karena, eh ngglethek, kita jutru merasa memiliki semuanya, ketika kita mengalami bahwa kita tidak mempunyai semuanya...

Kita ber-airmata, ber-nostalgia sambil tawa menghiasinya...

Yogya, 160611


Friday, June 10, 2011

Allende


Jika kemajuan adalah kapitalisme, maka Kuba adalah sebuah masa lalu. Ia seakan menjadi sebuah pulau ganjil. Dalam tudung sosialisme yang kuno, terpisah secara ekonomi yang global, gigih, ganas. Catatan Pinggir Goenawan Mohamad di tahun 1999 itu mengingatkan saya buku yang lalu dan lain-berkisah dari pulau kurus di Amerika Latin-Chili. Arif Budiman, Jalan Demokratis Menuju Sosialisme (pengalaman Chili di bawah Allende) membuka dengan mengantar pidato Salvador Allende :

“Sekarang rakyat telah berhasil merebut kekuasaan atas nasib mereka sendiri untuk berderap maju menuju sosialisme melalui jalan demokratis”

Pidato yang berapi-api dihadapan rakyat Chili itu seakan membuka jalan Chili (Via Chilena) menuju sosialisme. Disini, Sosialisme baru saja diretas di negara kecil bagian amerika latin itu. Allende yang Marxis itu berusaha merubah masyarakat Chile menuju sosialisme. Tapi Sosialisme juga bukanlah kata baku, tidak langgeng dan tetap. Setelah tiga tahun. Via Chilena Allende harus berakhir dalam kudeta berdarah.

Allende yang porak poranda di tahun 1973. Kelompok militer melakukan kudeta berdarah. Skaligus merenggut sang presiden Marxis itu. mimpi sang presiden Marxis pun pupus.

Toh, sosialisme bukan jalan baru Chili, ideologi ini telah lahir lama, bermula dari mimpi-mimpi Marx untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas. Mimpi Marx inipun menyebar seperti candu. Sosialisme adalah sebuah cita-cita skaligus mimpi. Mengembara denga semangat kebersamaan.
Jalan sosialisme Chili bukan tanpa alasan, perekonomian bergantung pada negara kapitalisme Amerika. Lahan-lahan sebagian besar dikuasai kaum borjuasi. Kondisi inilah yang tidak disukai Allende. Alende pun bermimpi dan mendambakan masyarakat Chili yang demokratis.

Tak penting sosialisme atau kapitalisme, jika mau meminjam istilah Deng Shio Ping, mantan pemimpin visioner China itu, ia berkata
“tak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus”
Demokrasi kata Goenawan Mohamad adalah sebuah sistem yang siap utuk kecewa. Karena demokrasi yang kita puja adalah sistem sebuah sejarah, sedang dengan ratu adil berada di luar sejarah. Sebuah yang tak terjangkau.

China dianggap tidak demokratis, ia berjalan dengan caranya namun berkembang menjadi kekuatan yang besar di abad 21. Solialisme belumlah mati hingga hari ini, paling tidak semangat Allende hadir di beberapa kehipan benua yang ganjil itu.

Monday, June 6, 2011

Candi Ijo (Matahari tenggelam di wajahmu)

Sejarah panjang di abad-9 masih bertahan dari alam dan waktu. meninggi dan menyepi di bukit Ijo. paling tinggi diantara Candi.

Menjelang sore matahari menampar wajahmu di bukit itu. terpaku dan menyepi. Tumpukan batu Andesit yang mengokohkan membentuk undakan-undakan. Batuan andesit yang berbeda-beda (tak hanya kubus, namun asimetris) itu yang mengokohkanmu...Masih tersisa hangat matahari sore, ia merabai batuan Andesit. Dinding-dinding yang melindungi Arca dan Lingga, Dewa Siwa dan Dewi Uma. Desir angin menembus jala-jala ventilasi. dingin, beku, pekat [...]


Menuju bangunan Candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu. (http://www.yogyes.com/)

Candi Ijo. Kesunyiannya mengandung tanya. terdapat Lingga (simbol laki-laki apakah juga ada Yoni (misteri perempuan) ? tak tahu. Bebatunya terlihat keemasan diterpa matahari sore. hangat. hijau rerumputan membawa aroma flora. desau angin sore tak habis-habis dihela, pekat dan abadi [...]


Perwara. Pendukung candi utama. ada Arca dan Prasasti : Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa, ada peristiwa yang di ramalkan mencoba mengetahui dunia yang datang kemudian, peristiwa yang dirasa manusia. entah, peristiwa apa yang dirapalkan. masih misteri sampai detik ini [...]


Arah. mendaki diatas permukaan laut berjarak 410 m. Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya (http://www.yogyes.com/)


------
Teks : Dikutip yogyes.com & Patta Hindi Azis
Lokasi : Candi Ijo Yogyakarta
Foto : Patta Hindi Azis

Friday, June 3, 2011

Teks


Verba volen, yang terucap akan hilang. Teks adalah jembatan sejarah dulu dan kini. entitas yang mampu mengarungi samudra waktu. Teks digunakan merajut bahasa lisan dalam. olehnya itu, teks mampu menembus ruang dan waktu.

Kapan teks itu punya arti ? menurut Kris Budiman, pakar semiotika UGM. Teks akan berarti ketika dihadapkan pada pembaca. Kelahiran pembaca akan diikuti dengan kematian pengarang. Roland Bartes lah yang mengungkapkan kematian pengarang. Saya sempat bertanya di kelas itu tentang proses kematian pengarang, jawabnya singkat, tak cukup waktu karena pertanyaan itu filosfis. Kematian pengarang punya sejarah panjang.

Kris Budiman hanya menyingkatnya dengan beberapa tahap awal dari kematian pengarang itu, menurutnya kematian di dasari pada Nietszche tentang kematian tuhan, kemudian Foucault, kematian manusia dan berakhir pada Bartes kematian pengarang. Saya sebenarnya belum puas akan jawaban itu.

Saya tidak mempersoalkan kematian pengarang, yang saya persoalkan sekarang adalah teks sebagai sistem tanda memiliki struktur. Teks diartikan secara otonom dia tidak terikat oleh bentuk diluar dari dirinya, dari pengarang atau pembaca.

"Sebuah teks merupakan produk dari suatu konvensi masyarakat (interpreted community), jika tidak, maka tidak ada komunikasi. Ada sistem tanda yang sengaja dirancang, seperti sistem tanda rambu lalu lintas, fashion, dll oleh “orang” yang mempunyai kekuasaan (power)."
Kris Budiman melanjutkan lagi bahwa teks adalah...

"...Meaningfull action considered as a text
To what extent meaningfull action exhibits characteristic of text?
What is a text?

1. A text represents the fixation of meaninf in which the “said” (noema) assumes greater importance than the act of speaking.
2. The author’s intention and the meaning of the text cease to coincide; the text’s cateer escapes the finite horizon lived by the author.
3. A text surpasses the istensive references; frees the meaning of discourse from the dialogical situation.
4. A text can achieve an universal range of its addresses; a state of distanciation..."

Banyak lagi pengetahuan, saya pun tak ragu berkata bahwa realitas adalah teks...

Yogya, Kelas Semiotika (Pak Kris Budiman) 250511

Thursday, June 2, 2011

Sayap-sayap tanpa kita*


Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Seru kai nonge, nebu ola kobe one, ie nonge, ola baje wole..a..a..a..


(IE - flores island folksong : Dwiki Darmawan feat Dira Sugandhi)

Sepotong lirik lagu tradisional flores (flores island folksong) itu mengalun indah lewat Dira Sugandhi. dengan suara khasnya diiringi piano Dwiki Darmawan mampu menyihir tamu di acara peluncuran buku Anggito Abimanyu. Saya menyesal tak bisa hadir dalam peluncuran buku itu, namun oleh-oleh compact disc kumpulan lagu Anggito, Dwiki Darmawan dan Dira Sugandhi menjadi penawar penyesalan itu.

Saya terbawa harmoni lagu IE itu, saya kemudian bertanya pada teman yang berasal dari Flores-Nusa Tenggara Timur. Saya hanya mendapatkan sedikit informasi tentang lagu tradisonal flores itu. tapi cukup membuat saya tahu bahwa IE adalah tradisi orang flores dalam memanggil burung-burung. Semacam panggilan sahabat untuk kawanan burung...

Lagu IE hadir sebagai penanda kerinduan akan sayap-sayap yang merapat, sebab burung-burung di flores menjadi langka. Saya pun teringat tulisan Alan Weisman dalam bukunya the world without us (dunia tanpa kita). Pada bagian ‘sayap-sayap tanpa kita’ Weisman secara alegoris pada kenyataan bahwa burung-burung menjelang kepunahan di belahan bumi akibat perubahan iklim dan aktifitas manusia.

“Dalam dunia tanpa manusia, apa yang akan tersisa untuk burung-burung ? apa yang akan tersisa dari burung-burung ? di antara lebih dari 10.000 spesias yang telah hidup bersama-sama dengan kita, dari kolibri dengan berat kurang dari uang logam paling murah hingga burung moa tak bersayap yang memiliki berat 270 kilogram, sekitar 130 telah menghilang.”

Menghilangnya beberapa spesies burung bukanlah tanpa sebab, konversi hutan menjadi tambang, gedung-gedung dan pembabatan liar membuat tidak ada tempat lagi yang nyaman buat sayap mereka untuk hinggap di dahan.

Walaupun burung-burung menghabiskan sebagian besar waktu di udara dengan sayap-sayap anggunnya tentu mereka butuh hinggap dan berteduh. Saya tidak tahu apakah masih ada tempat aman bagi mereka ?. Di sangkar mungkin masih bisa bahagia, tapi mereka lebih bahagia dengan habitat aslinya : alam bebas.

*Judul Asli dari bagian buku Alan Weisman, The World Without Us, (Gramedia, 2009)




Monday, May 30, 2011

Merapi hari ini

Sukarno di Museum Gunung Api Yogyakarta

Pengunjung mengamati gambar-gambar aktifitas merapi

perkakas rumah tangga yang sempat tersimpan di Museum

Merapi tidak bisa dilepaskan dari Mitos, masyarakat Yogya, ato yang bermukim di lereng merapi, merapi tempat bersemayamnya Nyai Gedung Melati. garis imajiner yang membentang dari Merapi hingga pantai selatan ditengahnya adalah pusat kehidupan (keraton Yogyakarta)

Sunday, May 29, 2011

Romansa


Eliade kecil terkejut dengan pendar cahaya menembus gorden hijau di kamar yang jarang dipakainya. Cahaya itu menembus celah-celah kaca, semburat zamrud emas, memesona, dan menggetarkan. Dengan terperanjat dan terpesona, Eliade kecil merasa dibawa dalam dunia yang trasenden dan berbeda. Pengalaman religius itu dilukiskan Eliade sebagai “nostalgia”. Nostalgia membuatnya larut dalam dunia magis.

Tentu Mircea Eliade, orang Rumania juga mistikus dan filsuf itu telah merindukan ruang kesempurnaan dari dunia yang lain. Yang mengantarnya kemudian ber-ziarah ke timur jauh-India, belajar yoga dari seorang guru spritual Surendranath Dasgupta. Disanalah dia menemukan pengalaman spritual yang tidak pernah dirasakan sebelumnya di kamar itu.

Kisah ini dilukiskan sempurna Daniel L. Pals dalam bukunya Seven Theories of Religion (1996). Buku itu tak hanya membahas kisah Eliade, tapi kisah E.B Taylor, Geertz hingga Marx tentang agama tak luput disigi. Tapi tak ayal membahasnya disini, karena bukan ruang yang cocok dalam ruang seperti ini.

Yang menarik dari kisah itu adalah Mircea Eliade yang merasakan nostalgia berjumpa dengan dunia yang baru. Ruang yang membuatnya larut dalam ekstase. Merasakan seperti ‘surga’ di dunia. Tapi benarkah dunia baru itu tempat 'nostalgia’ ?.

Agaknya kutipan Goenawan Mohammad bisa menjadi renungan,

“Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti”. Tulis Goenawan Mohamad suatu ketika.
Saya terbawa oleh nuansa panjang sore itu. sebuah waktu yang tenang, bersahabat dan matahari perlahan memudar menemui malam. Waktu-waktu peralihan dari sore ke malam membuat saya selalu merasa damai. Entah, tapi itulah yang saya rasakan. Saya menyebutnya ‘romansa’. Romansa sore itu yang tak bisa saya lupakan, dan saya rasakan itu selama di Yogya.

Terkadang saya terbawa dengan masa-masa kecil ; mengaji di surau dari sore hingga isya. Berlama-lama di surau/langgar membuat saya merasa damai. Tapi entah sekarang kebiasaan-kebiasaan kecil itu memudar. Waktu yang meluruhkan kebiasaan saya sholat, mengaji dan menghafal ayat-ayat pendek.

Romansa inipun selalu hadir ketika sore. Dan saya masih beruntung dapat mengingat romansa yang religius itu. mencoba dekat lagi dalam kesucian diri ketika kecil dulu. Kekanakan dan patuh pada ajaran agama tapi tak mencoba untuk bertanya mengapa mengaji. solat dan puasa pada orang tua ?. Mendekatkan diri pada surga yang jauh. Saya tahu karena Tuhan itu maha penyayang dan pengasih.

Spritual perlahan-lahan dibangkitkan. Melalui romansa yang lewat ketika sore. Peralihan. Saya mencoba dekat dengan Tuhan, walau dalam ketidak mengertian tentang wujudNya. Sekedar meyakininya : damai dan penuh ketakjuban.

Perjalanan spritual Aliade, menyusuri timur jauh-India membuat saya tahu bahwa ‘nostalgia’ didapat melalui ziarah. Dan sore itu seakan telah ber-ziarah spritual di tempat yang jauh yang disebut Eliade waktu yang sakral.

Sore yang sakral, Jogja 290511

Monday, May 23, 2011

Mural Sang Penyair


Tulisan dalam mural dibawah jembatan stasiun Tugu itu masih segar dalam ingatan, bergambar sastrawan besar angkatan 45-an. Bertuliskan (kira-kira) seperti ini “mampus kau di makan zaman”. Saya menganggap mural itu bukan sebagai hujatan pada sang penyair besar itu, justru sebaliknya, tulisan itu bisa jadi menggugah pembacanya atau mengenang diri dan puisinya.

Saya kira, tidak sendiri menjadi penikmat dan pembaca puisinya. Puisinya yang sering dikutip-kutip itu harus mati muda, meninggal di usia 26 tahun, sama halnya Soe Hok Gie yang mati muda (kebahagiaan yang mati muda). Padahal kita tahu, dalam puisinya AKU, ia ingin hidup seribu tahun tahun lagi. Jasadnya boleh “mampus” bersama tanah, tapi semangat dan puisinya adalah abadi.

Pahlawan. Saya menyebutnya pahlawan, karena tidak semua pahlawan harus mengangkat bedil dan bambu runcing. Ia melawan dengan kata-kata. Melawan penjajah dengan kata-kata bukanlah hal mudah. Tapi Chairil lain, ia mewacana dalam bentuk kata-kata dan akhirnya membangun kesadaran untuk merdeka. Seperti puisinya : Kerawang-Bekasi,

...Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Mengenangnya menjadi isyarat. Sejarah tak bisa kita lupakan kata Soekarno. Mural itu mencoba mengingatkan dengan kata-kata menghujam. Semiotika sebagai kajian relasi tanda memberi isyarat kehadiran mural dibawah jembatan stasiun tugu itu, menandai dan menggantikan kehadiran sosok penyair besar itu. setiap tanda memiliki karakteristik, begitu juga tanda (mural) di bawah jembatan itu.

Zaman memberi suatu peralihan-peralihan pada puisi, semangat dan gambar sang penyair. Ketika sulit mendapatkan catatan hidup sang penyair lewat buku dan tanda-tanda lain, mural-lah yang menggantikan kehadirannya. Penyair besar itu, Chairil Anwar.
Derai Derai Cemara (Chairil Anwar - 1949)*

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
*(diktutip, http://chairil-anwar.blogspot.com/)

Jogja, 230511

Saturday, May 21, 2011

Tubuh Sosial*


"tubuh adalah penjara/makam jiwa - Plato"
"tubuh manusia dapat dianggap sebuah mesin - Descartes"
"Tubuh adalah saya...saya adalah tubuh - Sartre"
kehadiran wacana tubuh itu menjelma di buku Antony Sinnot, Tubuh Sosial; Simbolisme, Diri dan Masyarakat. Tentu wacana tubuh tak hanya dibahas Synnott saja, teoritis feminis tak ketinggalan mengambil bagian dalam wacana ini, juga Michel Faucault dalam wacana kekuasaan yang menyinggung kekuasaaan atas tubuh.

Buku Synnott yang berlapis-lapis merentang 476 halaman itu memahamkan kita bahwa tubuh bukan hanya fenomena biologis, ia juga diciptakan masyarakat yang sangat rumit. Yang mengatakan tubuh menjadi bagian dari atribut sosial dan identitas. soal kecantikan, ketidakmenarikan, tinggi badan, berat badan menjadi simbol dalam hidup.

tubuh tak hanya sekedar seonggok daging, dia memiliki muatan-muatan simbolis dan kultural-bibir, mata, hati, dan lainnya, memberi kesan tak hanya sekedar melengkapi struktru tubuh gtapi dibalik itu bermain dalam ide dan citra-citra.

eksplorasi atas tubuh ini bergeser di segala zaman. cara manusia memberlakukan tubuh (nya) tak mempengaruhi cara berfikir dan menjalani hidup dan kematian. saya teringat lagi Film The Black Swan yang diperankan Natalie Portman, bagemana ia memperlakukan tubuhnya seperti bukan dirinya.

tubuh merupakan mozaik yang rumit kata Foucault. tubuh tak sekedar metafora, tapi juga representasi kekuasaan. fenomena tubuh sosial bukan pengaruh konsensus, melainkan perwujudan kekuasaan. kerumitan ini pun membuat tak mengerti bentuk ideal yang diinginkan tapi merasa tak cukup. serasa ada yang kurang, begitu seterusnya dan akhirnya mengarah pada eksploitasi tubuh.

Bagi pembaca buku ini, akan menemukan lapisan di tubuh yang dekat dan slalu direpresentasikan dalam ruang, baik privat maupun publik : Wajah. wajah Bagi Sinnot adalah ruang privat dan publik. seperti merias wajah. wajah disatu sisi privat tapi disisi lain menjadi publik. tak heran jika orang berlama-lama depan cermin hanya untuk merias secantik dan setampan mungkin. dengan meminjam bahasa Aristoteles dalam risalahnya Phsiognomics, wajah menjadi cerminan mental seseorang :

"wajah, jika terlihat tembem menunjukkan kemalasan, seperti anak sapi; jika kurus kering berarti menujukkan kerajinan, dan jika tulang pipinya menonjol menunjukkan kepengecutan, analogi dengan keledai dan rusa. wajah yang kecil menunjukkan jiwa yang kerdil, seperti kucing dan kera; wajah yang besar tidak bersemangat hidup, seperti keledai dan sapi. maka dari itu wajah jangan besar atau kecil: ukuran sedang yang baik." (Synnott, hal 126).

Catatan : * tubuh sosial adalah judul asli dari Buku Anthony Synnott
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.