Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts

Monday, August 23, 2021

Pada Hujan

Hujan

Kepada hujan yang jatuh di sore ini Singgahlah sejenak berbisik pada ranting dan daun sekedar melepas rindu

Tanah tak pernah menolak datangmu              jatuh dipelukan berbaring sunyi sendiri  memanggil angin semilir datang dari kaki bukit

Sudah kusiapkan payung dan jas hujan untukmu untuk kita susur senja yang tersisa 





Friday, March 2, 2018

Mengusir Kebosanan di Era Disrupsi

Ilustrasi (pixabay.com)
Suatu saat saya--mungkin juga sebagian yang lain--akan mengalami bosan. Bukan apa-apa, rutinitas yang itu-itu saja membuat ritme hidup seperti berhenti berjalan. Orang kantoran bekerja hanya di belakang meja, orang kampus atau civitas akademika berkutat dalam ruang kelas dan urusan akademik, para pengusaha menjalankan usaha tidak lagi memikirkan ekspansi atau mencoba bisnis baru. Orang yang duduk di pemerintahan berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan. Tak ada warna baru dalam hidup.

*
Sejak beberapa tahun ini saya dan mungkin juga orang lain mengejar sesuatu yang itu-itu saja. Saya misalnya, hanya mengejar karir akademik. dari dulu sekolah dari SD (karena tidak sempat TK) hingga mencapai gelar master. Dan anehnya masih mau mengejar sampai ke level Doktor. Anehnya lagi tidak bosan-bosan.

Ketika kesempatan datang mendapat Beasiswa BUDI LN Batch 1 tahun 2016. Saya hampir sekolah ke Australia tahun 2017 namun malang tak dapat ditolak, IELTS saya tidak diterima di Kampus UWA. Dan tahun 2018 ini masih terus mencoba meraih beasiswa 2018 dan itu masih di luar negeri. Ini membosankan buat saya karena mengejar yang itu-itu saja, tidak mencoba hal baru (menjadi pengusaha misalnya)

Demikianlah, saya mencoba melawan rasa bosan.

Mencoba mencari tantangatan baru di luar aktifitas sehari-hari: mengajar.

*
Terjebak dalam "zona nyaman" bisa saja membuat Saya tidak mencoba hal baru, tantangan baru dan warna baru. Daya tarik ketika sudah asyik masyuk dalam rutinitas harian akan melupakan hal-hal di luar sana. Orang menyebutnya lingkaran setan (apa istilah itu cocok?).

Saya pernah membaca artikel Roby Muhammad, pakar sociotechno Indonesia. Roby--demikian biasa saya baca namanya di media--mengembangkan perilaku sosial manusia dalam dunia internet-mengemukakan di era sekarang dimana ranjau-ranjau tertanam dalam hidup, lubang-lubang terselubung berada namun di dalamnya ada jembatan peluang berada.

Saya memaknainya, bahwa hidup di era digital berada dalam persaingan hidup yang ketat. Untuk menang dalam kompetisi itu, Roby Muhammad mengingatkan SPESIALISASI. Seseorang yang survive adalah orang yang memiliki skill dan pada akhirnya melahirkan INOVASI. 

Roby mencontohkan dirinya yang mendalami Ilmu Matematika S1 dan 'bermain-main' dengan ilmu Sosiologi pada level PhD di Amerika. Namun dari situ spesialisasinya terbentuk. Menguasai Matematika (eksperimen) sekaligus paham tentang ilmu masyarakat. Jadinya, Roby paham dengan interaksi manusia lewat internet melalui rangkaian eksperimen yang kemudian memperkokoh teori The Six Degrees of Separation.

Untuk melawan rasa bosannya, Roby tidak hanya berkutat dalam mengajar dan sibuk di laboratorium namun aktif dalam kerja-kerja sosial, menjadi aktor, dan pengusaha digital. Dia menjadi orang KREATIF dan INOVATIF.

Di era revolusi 4.0 ini orang dituntut untuk multi talent, multi tasking, membangun jejaring luas dan membebaskan diri dari sekat-sekat arogansi. Tipe orang seperti ini yang akan survive di era digital?

Kembali ke rasa bosan, ini seperti lonceng pengingat bahwa di era digital, kita dituntut untuk awas terhadap perubahan dan cermat dalam bertindak. Membaca sambil menempuh strategi bertahan hidup dalam setiap arah perubahan penting dilakukan di era disrupsi ini. Itulah yang dicoba oleh anak-anak muda inovatif Indonesia, sebut saja Nadiem Makariem yang membangun Gojek, Ahmad Zacky mengembangkan Bukalapak, William Tanuwijaya menggawangi Tokopedia dan lain-lain.

Orang-orang kreatif inilah yang jeli melihat perubahan di era digital. "Ini amajing" kata anak zaman sekarang. 

Akhirnya, hidup di era digital memaksa kita bergerak cepat dan tanggap perubahan.

Cara tepat mengusir kebosanan adalah dengan ber-INOVASI dengan hal-hal baru. Cara itulah mengusir kebosanan. 

Dan saya sedang mencobanya...  

Wednesday, October 11, 2017

Bertandang Ke Hutan Kota UNHAS

Hari masih pagi ketika saya bersama keluarga inti (Saya, istri dan anak) menghabiskan waktu di kampus almamater, Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar Sulawesi Selatan. Sebagai alumni, kami satu suara mengajak anak melihat tempat kami menimba ilmu. Tidak saja untuk beromantika tetapi melihat perubahan dan inovasi di kampus itu. Saya alumni Sosiologi FISIP, istri saya di Fakultas Pertanian. Kami merasa tidak afdhol rasanya jika tak menyempatkan waktu berkeliling kampus. Tempat kami menempa kualitas diri.

**
Ada yang baru. Sebuah hutan (pendidikan). Dulu, dulu sekali kampus itu juga ditumbuhi pepohonan. Namun sayangnya tidak tertata. Sekarang sudah jauh berbeda. Jauh sekali. Penataan sangat nampak di kiri kanan kampus. Unhas nampaknya telah berlari kencang mengejar ketertinggalan dari kampus-kampus pulau Jawa. Tidak hanya sibuk dengan pembangunan fisik dan pengajaran namun estetika kampus juga ikut ditingkatkan. 

Saya takjub dengan salah satu elemen kampus itu: taman kota atau hutan kota yang berada di dalam kampus tertata dengan indah. Maklum, di tengah maraknya konversi lahan/hutan, pimpinan kampus ini memikirkan bagaimana menghadirkan keteduhan dan ketenangan diantara bisingnya kendaraan kota dan acuhnya warga kotanya Makassar. Saya percaya, ini adalah salah satu kampus terindah di Indonesia.   

Hutan ini, secara langsung atau tidak, telah menjadi tempat ‘terapi’ bagi warga kota Makassar yang penat dengan tumpukan tugas pekerjaan dan lingkungan kota yang serba organis dan penuh penuh polusi. 

Membaca media cetak lokal, Fajar menyoal tentang masyarakat kota yang dihantui dengan depresi. tidak tanggung-tanggung koran itu menempatkan isu tersebut sebagai headline tiga hari berturut-turut. Saya membaca opini seorang dokter muda di koran itu, bahwa tingkat depresi di Sulawesi Selatan sangat tinggi dengan mengutip hasil riset tahun 2012 bahwa sebanyak 533.721 Orang di Sulawesi Selatan mengalami depresi. 

Ini menandakan bahwa depresi membutuhkan jalan keluar. Berbelanja di mall bukanlah salah satu cara menenangkan diri (bagi yang punya uang mungkin iya, tapi bagaimana yang tidak memiliki?), 

Hematnya adalah berkunjung ke alam terbuka (hutan, danau dan gunung). Selain dapat menghirup udara segar pengunjung tak perlu membayar alias gratis. Toh, kita tetap bisa ber-swafoto.

Saya percaya, menghabiskan waktu di alam bisa menjadi obat terbaik menghilangkan stres yang ujungnya menjadi depresi. 

Dan salah satu spot terbaik menghilangkan stres itu adalah hutan kota Unhas.

Terbukti, saban hari, dari remaja hingga orang tua. Tak lelah menghabiskan waktu di hutan kota itu. Ada yang ber-swafoto, ada juga yang berkemompok melakukan senam sore. Unhas sebagai oase. Menghadirkan keteduhan dan kesejukan di antara gedung-gedung tinggi. Pimpinan Unhas menyadari itu sebagai bagian dari tri dharma. Pimpinannya juga cerdas memikirkan strategi pemasaran, Unhas membangun citra bahwa dengan berubah menjadi BLU tidak lantas fasilitas dinomor-tiga-kan, kualitas pendidikan seiring sejalan dengan peningkatan fasilitas pendukung. 

UNHAS berusaha mengatakan, BLU adalah jalan untuk berubah menjadi kampus berkualitas, berwawasan lingkungan dan terdepan dalam pelayanan pendidikan.

Segala elemen dipermak sedemikian rupa menghadirkan UNHAS BARU dan mengikis opini negatif tentang BLU yang serba mahal. Taman Kota/hutan kota sebagai ornamen kampus adalah cara meningkatkan citra positif kampus itu. dan tidak ada yang salah, kampus-kampus terkenal di pulau Jawa melakukan hal yang sama. Pendidikan adalah bisnis yang prospektif.

**
Akhirnya, berlama-lama di hutan kota Unhas membuat kami lupa menjejali tempat-tempat ‘bersejarah’ ketika kami masih aktif kuliah dulu. Saya ingat, sebagai napak tilas saya selalu berawal dari RAMSIS, FISIP, FKI BEM FISIP, HMI FISIP, Kemasos (Himpunan mahasiswa Sosiologi) EBS Unhas, Lapangan Bola, dan Pintu II (sekarang tidak seru, tidak ada kedai baca dan kedai Sarabba’). Sedangkan istri saya, memulainya di Telkomas, Pertanian, lalu…(selebihnya tidak tahu karena kami memang tidak pernah sebelumnya bertemu di kampus, konon katanya kembang Fakultas Pertanian. konon).

Kami bertemu setelah menjadi alumni. Ya, nasib adalah kesunyian masing-masing kata Chairil Anwar. Nasib pula yang membawa kami bernostalgia di kampus rindang ini. 


Anak Kami Zahra Sedang Memberi Pakan Rusa Totol di Penangkaran Unhas

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Hutan Kota Spot Bagus Untuk Pengambilan Gambar

Jalan Setapak Hutan Kota Unhas (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Swafoto di Hutan Kota Unhas (


Saturday, July 15, 2017

Pesan

Kira-kira apa yang dirasakan ketika si-pengirim berkali-kali mengirim pesan namun tak sampai pada si-penerima? Marah, gundah, penasaran hingga benci dengan segala turunannya akan terjadi?

Si-pengirim mengirim pesan namun hanya numpang lewat. Dia hanya menunggu penuh harap kiranya ada balasan. Namun tak pernah ada notifikasi read atau centang apalagi dibaca seksama.

Berkali-kali pesan yang disampaikan lewat SMS atau Surat dan e-mail dan media lainnya tapi tak berbalas. 

Rachel Platten dalam lagunya 1000 ships menggambarkan menunggu balasan pesan seperti ini:
...So keep your eyes set on the horizon
On the line where blue meets blue
And I would let that silver lining
Where I know it'd find you soon

Lagunya ceria,menandakan sang biduan mencoba meyakinkan diri dan berjiwa besar bahwa Pesannya akan sampai sekalipun ribuan pesan terkirim. Ini hanya persoalan waktu.

Tentang pesan. Orang selalu mengandalkan sebagai media bertukar informasi melalui media online atau offline ketika wajah dan wajah tidak bertemu.

Google translator mengartikan pesan sebagai a verbal, written, or recorded communication sent to or left for a recipient who cannot be contacted directly. Sebuah ujaran, tulisan, atau rekaman komunikasi dikirim atau disimpan kepada si penerima yang tidak dilakukan secara langsung. Kamus online Dictionary.com menambahkannya dengan kata signal. a communication passed or sent by speech, in writing, by signals, etc.

Singkatnya, pesan itu termediasi, ada media sebagai pengatar. Entah, surat, suara dan ujaran yang terekam (pesan suara).

Rachel mengirim pesan bertubi-tubi:
Because I have sailed a 1000 ships to you
But my messages don't seem to make it through.
Itulah mengapa pesan selalu tersimpan, terekam, tercatat dalam surat dan rekaman. 

Mungkin ada yang pernah mengalami, Pesan yang terkirim tidak pernah dibalas atau malah tidak terbaca.Seperti Saya ketika mengirim email kepada Professor Universitas di luar negeri namun tidak penah ada balasan. ingin rasanya berkata: sakitnya tuh di sini (sambil menunjuk tembok :D). Ini soal waktu saja bukan?

Sunday, August 14, 2016

Surat dari BUDI

Setelah berjuang dengan harap akhirnya berita bagus datang dari seberang. Sebuah surat yang saya tunggu-tunggu dua bulan lamanya; Saya Lulus Seleksi Beasiswa BUDI (Ristekdikti-LPDP). Alhamdulillah...Berkah Ramadhan.

Saya percaya hasil tidak akan mengingkari usaha. Usaha yang saya dapatkan ini berbuah akhirnya. Bayangkan sejak mendapat LoA dari supervisor di akhir tahun 2012 saya harus menunggu hingga empat tahun lamanya untuk mendapat surat ‘kelayakan’ untuk beasiswa.

Beasiswa yang mendanai saya adalah Beasiswa BUDI (Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia) kerjasama Kemristekdikti-LPDP. Beasiswa ini ditujukan kepada Dosen yang memiliki Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN) dan Nomor Dosen Induk Khusus (NIDK) bagi dosen non-PNS di perguruan tinggi negeri. Berukut link-nya : Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia

Bagi Dosen yang ingin mendaftar LPDP maka diberikan slot khusus dengan format BUDI-DN dan BUDI LN. Proses seleksi dilakukan secara bersama (joint selection) mulai dari seleksi administrasi, wawancara hingga lokakarya keberangkatan. Pewawancara terdiri dari tiga--juri/interviewer (biasanya Doktor dan Professor) dua orang perwakilan Ristekdikti, dan satu perwakilan LPDP. tidak ada psikolog sebagaimana kebiasaan pewawancara dikti. LPDP mungkin tahu bahwa yang diwawancarai adalah dosen yang sudah tua-tua. hehehe...

Dan selanjutnya untuk pendanaan, LPDP memiliki kewenangan besar terhadap penyantun dana karyasiswa. Jadi selamat tinggal beasiswa Dikti yang selalu dikenal selalu telat cair. Heheheh….

Untuk lolos BUDI tidak susah tapi tidak gampang-gampang juga. Melihat data statistik pendaftar bisa menjadi melihat angka. Dalam laporannya pendaftar BUDI DN dari laman sumber daya dikti sekitar 7789 dosen yang akan diterima hanya 2000. Sedang BUDI LN digelombang pertama pendaftar sekitar 1800-an dari 300 kuota yang tersedia. Hasilnya, yang lolos seleksi hanya 168 jadi masih tersisa sekitar 132. Anda nilai sendiri beasiswa ini gampangan atau tidak. Bagi saya cukup gampang, seorang dosen sudah pasti bisa mendaftar BUDI. Pendanaan full dari LPDP saya yakin akan lebih kompetitif. Tapi siapa peduli beasiswanya bergengsi atau tidak yang penting bisa sekolah keluar negeri itu keren bagi saya. Yang penting setelah selesai, ilmu, metode dan jejaring digunakan atau tidak. Bagi saya Beasiswa BUDI sangat bergengsi.

**

Keberhasilan meraih beasiswa BUDI kali ini bukan hal yang mudah perjalanan setelah tahun 2012 yang tidak pernah mengenal lelah bahkan bisa dibilang nekat (sekali-kali memang harus nekat) Beasiswa keluar negeri bisa saya dapatkan. Saya ingin mengambil jeda sedikit tentang perjalanan beasiswa saya yang semoga bisa menjadi penyemangat buat BUDI-man dan BUDI-wati. 

Pengalaman seleksi beasiswa dari tahun ke tahun
  1. Manbukagusho – Tidak lolos berkas
  2. Stuned – Tidak lolos berkas, sudah ada LoA
  3. New Zealand – Tidak lolos berkas
  4. ADS – Tidak lolos berkas
  5. Leiden-Dikti - hanya sampai wawancara, bertemu David Henley
  6. LPDP – hanya sampai diwawancara
  7. LPDP (lagi) – Tidak lolos berkas (karena dianggap memalsukan tanda tangan pemberi rekomendasi)
  8. BUDI – Berhasil (akhirnya…)
(ini belum termasuk dalam persiapan mengejar founding lain)

Bagi pencari beasiswa gagal sekali, dua kali atau berkali-kali itu biasa yang bahaya jika tidak pernah berhasil. Berarti tidak pernah mendaftar, hehehe…

Saya pernah membaca dalam sebuah majalah yang menukil tentang teori efek kupu-kupu bahwa gejala alam itu terjadi secara acak. Begitu juga nasib. Nasib orang terjadi secara acak maka saat satu kejadian mengalami kegagalan maka kejadian lain bisa menjadi berhasil. Karena bersifat random. Maka tidak heran jika seseorang gagal dipercobaan di tempat yang satu maka akan berhasil di tempat yang lain. Dalam Bahasa agama Islam, jika pintu kebahagiaan yang satu tertutup maka pintu kebagiaan yang lain akan terbuka. Jadi mengapa harus menangisi nasib jika gagal? Toh yang lain akan menunggu. Inna ma'al usri yusra, dibalik kesusahan terdapat kemudahan (Quran, 94;5).

Saya ketika ditanya interviewer dari LPDP: “jika kamu gagal di seleksi ini apa pendapatmu? Saya jawab dengan mantap: “saya akan mencoba terus sampai saya dapat. Saya orang yang positif tapi realistis. Tapi saya berharap saya dapat lulus diseleksi ini”. Saya berfikir positif walaupun sebenarnya kegundahan juga melanda. Bagaimana kalau tidak lolos (lagi)? haruskah saya berlari ke hutan atau ke laut saja? Seperti kisah dalam AADC?

Akhirnya saya berlari (maksudnya jalan-jalan keliling kota bersama istri dan anak) sengaja keluar rumah tidak memegang hp biar tidak terlalu tegang saat hari-H pengumuman. Hingga akhirnya ketika memegang hp dan muncul notifikasi sms teman-teman (terimakasih Kak Dikman Maheng, Ibu Ririn dan Teman-teman kampus UMK). 

***
Surat Budi sudah ada di tangan. Saya membacanya berulang-ulang untuk lebih meyakinkan. diakhir katanya. Si BUDI berkata: “Selamat Bagi Anda yang lolos seleksi wawacara BUDI LN”

sumber: Ristekdikti


Thursday, March 10, 2016

Seni Berkuasa


Salah satu hal yang selalu menjadi perhatian masyarakat kita akhir-akhir ini adalah politik (baca:kekuasaan). sepanjang waktu istilah ini selalu melekat; tidak di rumah, di kampus, di warung kopi hingga ke lapak-lapak pasar. jika kita lebih intens mendengarkan pembicaraan orang-orang di tempat-tempat itu akan terasa perbicangan tidak jauh dari politik/kekuasaan. memilih siapa? Si Anu tidak punya kemampuan menjadi walikota, Si B hanya bermodal retorika, Si C aji mumpung karena bapaknya berkuasa. Selanjutnya Si D dan selanjutnya Si E, seterusnya dan seterusnya.

Kekuasaan memang tabiat manusia. karena manusia punya kehendak untuk berkuasa, will to power demikian Nietzsche pernah berkata. saking inginnya terus berkuasa manusia mencari cara untuk mempertahankannya bagaimana pun itu. 

Mempertahankan kekuasaan bukanlah hal baru dari manusia. sejak manusia lahir dan perjalanannya bertahan hingga ribuan tahun perebutan kekuasaan selalu mewarnai perjalanan sejarahnya. perjalanan sejarah kemudian silih berganti merebut tahta dan kekuasaan. selalu sampai kapan

Apakah kekuasaan semata-mata hanya mepertahankan diri atau menghilangkan yang lain? Saya pikir tidak. mari kita tengok masa lalu sebagai pelajaran. saya ingin mengutip kepemipinan raja Persia pertama Koresy Yang Agung yang dikagumi sebagai pejuang pertama hak asasi manusia. saya membaca kisahnya di majalah National Geographic Indonesia edisi Agustus 2008. 

Koresy yang Agung bukanlah satu-satunya penguasa yang menerapkan prinsip kemanusiaan. Nabi Muhammad SAW sudah menerapkan pemerintahan yang berprikemanusiaan. kisah Piagam Madinah adalah salah satu contohnya. juga para nabi lainnya yang selalu menuntun kearah kebajikan. dan di abad modern ini sudah ada-sedikit-contoh pemimpin/penguasa yang menerapkan prinspi profetisme dalam memerintah.

Menjadi penguasa (baca: pemerintah) adalah seni merawat jiwa. Trias Kuncahyono dalam kolomnya di Kompas Minggu 21 Februari 2016 dengan menyitir Plato menjelaskan kepada kita bahwa politik/kekuasaan adalah seni merawat jiwa yang berkomitmen pada nilai-nilai kebajikan. 

Kenyataan bahwa arah politik/kekuasaan dewasa ini justru selalu menjauh dari nilai-nilai kebajikan. seolah-seolah dibawa kepada kehancuran nilai-nilai. bukan sebuah seni. jadinya, politik KKN, korupsi dan saling curiga merebak dalam hidup kita. 

Saya mengutip Firdausi, penyair Iran yang menulis Babad Shah-namah (kisah raja-raja) yang dikutip dalam majalah National Geographic tahun 2008 bahwa:

yang paling pantas memerintah/berkuasa adalah orang yang paling enggan memerintah/berkuasa yang lebih memilih mencurahkan waktunya untuk masalah utama manusia, yaitu khidmat kebijaksanaan, takdir jiwa manusia, dan kemisteriusan kehendak Tuhan. 
Demikianlah, kita akan berkuasa, entah dalam skala apa. Tapi kita mau jadi penguasa atau memerintah seperti apa? Itu adalah pilihan. 

Tuesday, March 1, 2016

Cahaya Terang dari Pedalaman Kalimantan


INI adalah kisah nyata yang diceritakan beberapa hari lalu oleh pengajar bahasa Inggris saya di kampus-Ibu Pamela demikian Dia disapa. Saya menceritakan ulang kisahnya tanpa memberitahunya lebih dahulu (semoga diijinkan Bu Pam). Ibu Pam menceritakan seseorang yang berasal dari keluarga tidak mampu di pedalaman Kalimantan namun lambat tapi pasti dengan ketekunan dan kecerdasannya orang itu mencapai keberhasilan yang mungkin tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. From zero to hero. Ungkapan ini saya pikir cocok untuk menggambarkan perjuangan anak itu. 

Sengaja saya menceritakan ini kembali agar menjadi penyemangat bagi diri saya dan mungkin orang lain yang membaca kisah ini untuk tidak pernah berhenti atau patah semangat untuk terus berusaha menjadi berarti. Seperti kisah Alif dan kawan-kawannya dalam novel 5 Menara karya Anwar Fuadi. manteranya adalah Man jadda wa jadda. Siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil.

***
Siapa yang mengira bahwa seorang bocah kecil dari Kalimantan dapat menjadi orang penting dalam pendidikan?. 

Di masa yang lalu seorang bocah kecil hidup di muara sungai Kalimantan. Sungai itu selalu meluap setiap hujan datang dan rumahnya selalu kebanjiran sehingga bocah kecil beserta keluarganya itu memutuskan untuk pindah ke pedalaman Kalimantan yang jauh dari hulu sungai.

Bocah yang malang itu sedih menginggalkan hulu sungai panjang itu. Namun dibalik kesedihan itu Dia juga senang karena disitulah kesempatannya untuk bersekolah. Maklum di tempat tinggalnya dahulu, di muara sungai sekolah menjadi barang langka.

Di masa-masa sekolah itu ia selalu belajar giat dan di tahun ke-4 bersekolah, Dia mendapatkan nilai excellent. Kita sudah mahfum bahwa predikat ‘excellent’ dapat dikategorikan anak cerdas. akhirnya beasiswa pun dalam genggamannya. Tapi ada ganjalan di depan mata karena di kampungnya tidak tersedia sekolah untuk kelas 4 SD ke atas.

Keinginannya untuk terus di bangku sekolah meluluhkan hati orang tuanya. Dia kemudian dikirim bersekolah ke kampung sebelah dan tinggal bersama sanak saudara orang tuanya. Tugasnya di rumah baru itu adalah membersihkan rumah sembari fokus melanjutkan sekolah. Di saat itu dia masih berumur 9 tahun. masih sangat belia. bekerja sambil bersekolah. berbeda dengan anak kebanyakan yang hanya fokus pada sekolah. bukan bekerja 

Orang dewasa merantau dan jauh dari orang tua itu sudah biasa. namun untuk ukuran bocah 9 tahun yang harus hidup di perantauan itu luar biasa. dan itulah yang dirasakan bocah itu. Ibu Pam mengisahkan kehidupan bocah itu dengan penuh keprihatinan. dan suasana kelas pun syahdu.

Setamat SD masalah kembali datang. Di kampung keluarga orang tuanya itu tidak tersedia sekolah SMP dan sederajat. sehingga bocah itu harus pindah lagi ke kampung selanjutnya. dan di saat itu Dia sudah berumur 12 tahun. 

Di masa-masa itu si bocah membagi waktu antara sekolah dan bekerja di rumah juga menjaga bayi dari keluarga orang tuanya. Di masa-masa sulit itu Dan masih mampu meraih prestasi yang sempurna tetap rangking di kelas. Dan memasuki bangku SMA, anda sudah bisa menebaknya. Lagi, bocah itu meraih kembali predikat excellent. luar biasa bagi orang yang kekurangan dan kesibukannya bekerja di rumah orang.

(kisah ini banyak kita jumpai di berbagai tempat di Indonesia. dalam kemiskinannya seseorang meraih kesuksesan dalam pendidikan).

**

Dia bukan lagi anak kecil. beranjak menuju dewasa membuatnya terus mempertahankan hidup dan bersekolah di kota. bersekolah di universitas membuatnya harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. kebanyakan mahasiswa yang membagi waktu antara bekerja dan kuliah rata-rata nilainya kurang memuaskan. namun lain dengan bocah (kini beranjak dewasa) itu. kemampuannya membagi waktu membuatnya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dan akhirnya meraih beasiswa. setamat kuliah keinginannya menjadi guru di kampungnya di Kalimantan sangatlah besar namun fasilitas kurang mendukung. akhirnya untuk meningkatkan kapasitasnya Dia dikirim ke Jakarta untuk memperdalam ilmu pedagogic. ilmu mengajar.

Kuliah di kota besar sudah pasti mahal, beasiswa kadang tidak mencukupi. jadi anak muda dari Kalimantan itu harus memutar otak untuk membiayai kuliahnya. dari pekerjaan sambilannya ia menabung kemudian membeli sepeda. pekerjaanya adalah menjajakan pakaian di saat libur, yaitu di hari Minggu. Ia menjual pakaian dengan cara kontan. namun biasanya banyak pelanggan yang minta kredit. dan tetap bisa bertahan di kota besar. 

Akhir masa pelatihan guru di Jakarta. Ia mengambil sikap untuk kembali mengabdikan diri sebagai guru di kampung halamannya di Kalimantan. lambat tapi pasti dengan ketekunan dan dedikasinya Dia kemudian menjabat sebagai kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan.

Waktu berjalan. Berkat kesabaran, ketekunan dan juga dedikasinya pada dunia pendidikan yang mengantarkannya kepada puncak karir. Dia dikirim ke Australia menjadi atase di bidang Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia kedutaan RI.

Ibu Pam. bertemu sosok pejuang yang rendah hati itu di Canberra Australia. kisah hidupnya memang sangat inspiratif. Dia adalah cahaya terang dari pedalam Kalimantan

***

Bagi yang hidup di pelosok, di kampung-kampung bahkan di pedalaman yang tak terjangkau listrik. jangan menyerah akan hidup. bersungguh-sungguh dalam bersekolah itu baik dan akan membuka jalan karir kita ke depan. Bagi saya orang miskin obatnya adalah pendidikan. mereka harus disekolahkan untuk merubah hidup. kisah yang diceritakan Ibu Pam adalah salah satu contoh nyata.

Oh iya, hampir lupa. seseorang yang dikisahkan dalam cerita itu adalah sahabat Ibu Pam sendiri. Bocah yang kini menjadi orang berhasil itu bernama Pak Aria Jalil.

Tuesday, August 25, 2015

(Ber) Foto Dalam Segala Hal


JIKA dulu--maksud saya di tahun 90-an hingga 2000-an--(ber)foto menjadi hal yang sulit dilakukan, kini di era digital maka foto beserta suasana yang menyertainya bisa kita dapatkan di setiap etalase media sosial. foto berserakan dan berlimpah ruah. Kemajuan teknologi dan kemampuan daya beli orang-dari HP low entry sampai high level semua menyediakan kamera dan editor foto memungkinkan orang berfoto dimanapun dan kondisi apapun yang akhirnya bisa di edit sebelum di posting. 

Orang berlomba-lomba untuk menampilkan dirinya dalam foto saat bersantai bahkan saat menyantap makanan sekalipun. orang mendahulukan memotret dan memosting makanan daripada berdoa. Semakin banyak komentar dan komentas 'suka' semakin menjadikan foto dan diri menjadi kepuasan si pengunggah. alih-alih foto sebagai pemanis ruang kamar kita malah lebih suka foto disebar menjadi milik publik (like dan komentar). saya pun merasakan demikian dan tidak terbantahkan bahwa komentar dan like dalam foto yang saya upload menjadi daya tarik tersendiri.

Dari keseringan inipun (baca:berfoto) kita menjadikan itu sebagai sebuah gaya hidup; makan direstoran difoto, naik pesawat kelas bisnis difoto, traveling difoto bahkan setelah ibadah pun tak lupa menambil foto (semoga tidak riya hehehe). 

Apa yang kita lakukan adalah eksistensi, foto menunjukkan kelas kita. Bourdieu menyebutnya distingsi. selera budaya menentukan kelas sosial. musik dangdut dan jazz sebagai misal tentu membedakan kelas sosial penikmatnya. Demikian halnya foto, foto yang diupload di hp tertentu akan membedakan kelas sosial mana orang itu berada.

Selera berfoto meningkat seiring dengan minat orang akan fotografi. pihak pengembang HP cukup jeli melihat ini sebagai peluang dengan mencantolkan kamera dengan fitur editor seperti yang ada dalam dunia fotografi. dengan kemudahan ini menjadikan orang mengabadikan setiap moment dengan sebuah foto. foto sangat penting sebagai bagian dari sejarah, 

sejarah fotografi sendiri dimulai di awal tahun 1800an. seperti yang dikutip dalam petapixel: Photography has been a medium of limitless possibilities since it was originally invented in the early 1800s. The use of cameras has allowed us to capture historical moments and reshape the way we see ourselves and the world around us (http://petapixel.com/2015/05/23/20-first-photos-from-the-history-of-photography/)

dunia fotografi hanya sekedar dalam kegiatan resmi; acara negara, dan militer. Seiring perkembangan zaman, foto pun menjadi gaya hidup dan kita pun merayakan itu dengan berfoto dan mengunggah sebanyak mungkin. 

Pribahasa Tiongkok, satu foto bisa menjelaskan ribuan kata-kata. dan kini puluhan bahkan ratusan foto (yang diupload) belum cukup rasanya dengan kata-kata. 

Saturday, April 4, 2015

Pilihan Hidup

Hari ini akhir pekan, jam sudah menunjuk pukul sembilan pagi, bertanggal lima april dua ribu lima belas. di sebuah ruangan tiga kali empat--saya, wakil dekan dan dekan duduk membahas hal yang penting--Saya diajak untuk bergabung menjadi salah staf fakultas di fisip unismuh kendari. Saya dipercaya menduduki jabatan kepala perpustakaan fakultas itu.

Saya amat senang karena saya akan ditempatkan pada ruangan yang amat saya sukai, tempat ratusan buku akan saya kelola dan itu sudah lama saya idamkan.

Saya tak mengiyakan. Orang akan berfikir jika diberikan amanat dan berakibat pada naiknya jumlah nominal maka pasti berfikir tak usah berlama-lama dan menyatakan "bersedia". Tapi saya tak melakukannya. Saya hanya menjawab diplomatis "berikan pada yang lebih tepat pak".

Saya melakukan ini dengan sebuah alasan tak peduli jumlah nominal yang ditawarkan (padahal saat ini saya masih selalu kekurangan). Saya memilih untuk tidak terlibat karena ada muatan politisnya. Saya diharuskan ikut dalam 'gerbong' mereka. Sesuatu yang tak akan pernah sesuai dengan idealisme saya. Saya tak anti politik, saya hanya tak suka dengan sistem yang ada di fakultas. Saya pun menarik diri.

Tak lama berselang saya pun pamit meninggalkan ruagan pimpinan.

Dalam amatan saya, kampus bagi mereka hanya dijadikan tempat mencari uang bukan untuk mencerdaskan manusia. Saya jadi takut ikut terlibat dalam permainan untuk memanfaatkan kampus sebagai 'mesin' pencetak uang. Suatu yang saya takutkan.

Fakta hari ini, Dosen atau intelektual kini semakin jauh dengan nilai akademik dan cenderung opurtunis. Banyak pengalaman mengajar di beberapa kampus dari Makassar hingga kendari semua hampir sama. Tempatnya saja yang berbeda.

Dosen hari ini di kampus saya lebih orientasi uang ketimbang karya bukan pengabdian. saya tak ingin itu terjadi.

Saya tak tahu dampak dari penolakan saya itu. Qun faya qun. Terjadilah yang akan terjadi.

Terima kasih istriku. Engkau telah menguatkan pilihanku.

Kendari menjelang gerhana bulan di Bulan April 2015.t

Friday, August 29, 2014

Merdeka tanpa Bendera

Ada hal yang kurang mengenakkan saya dalam peringatan kemerdekaan Agustus-an  kemarin. saya merayakan kemerdekaan tanpa bendera merah putih. tentu, sebagai penghormatan,setiap warga Indonesia dari sabang sampai merauke mengibarkan bendera tetapi saya dalam kesempatan kali ini tidak memasang dan mengibarkannya, tidak ada umbul-umbul yang sekedar ingatan yang dirawat berpuluh-puluh tahun.

Ada alasan kali ini tidak memasang bendera, beberapa minggu lalu baru saja pindah dan tak sempat membawa bendera lama. akhirnya mencoba cara lain mengunjungi toko atau penjahit yang menjual bendera dan umbul-umbul. sesampai di toko stok bendera habis segala daya telah di coba tapi keberuntungan tidak memihak. akhirnya hanya saya yang tidak menaikkan bendera di hari kemerdekaan.

Bagi saya nasionalisme bisa dilihat dari seberapa usaha kita berbuat, ada orang meramaikan dengan melakukan kegiatan; lomba, bersih-bersih, ikut upacara, menaikkan bendera dan lain-lain. Semua itu membuktikan bahwa nasionalisme musti dirayakan dengan kegembiraan dalam kemerdekaan.

Walaupun saya tak menaikkan bendera bukan berarti saya tidak nasionalis. Saya turut merayakannya dengan menyayikan lagu-lagu perjuangan dalam rumah membuat semua menjadi  riuh dan membuat ruangan rumah yang tanpa perabot itu menggema. Suara memantul-mantul.

***
Kemerdekaan itu saya maknai sebagai proses masa silam yang kemudian dihidupkan kembali. Mengingat para pahlawan yang memberikan darah. Kemerdekaan bukan terberi (given) tetapi musti diperjuangkan. Dan pahlawan layak dikenang atas jasanya. Dan sebagai simbolisasi itu menaikkan bendera dan kegiatan-kegiatan kemerdekaan lainnya. 

Dan yang bisa saya lakukan adalah menyayikan lagu-lagu kemerdekaan saja walau (sangat disayangkan) tidak menaikkan bendera.

Sunday, February 23, 2014

Kejujuran intelektual

Mundurnya Anggito setelah dirinya dianggap menciplak karya orang lain sebagai langkah maju seorang intelektual. Anggito yang pengajar FEB UGM itu tahu bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya soal dirinya tapi juga membebani institusi.

Dalam dunia akademik plagiarisme adalah hal yang diharamkan olehnya itu setiap karya ilmiah seperti skripsi, tesis sampai disertasi diharuskan mencantumkan pernyataan bahwa karya seseorang nersifat orisinil dan tidak mengutip karya orang lain kecuali desibutkan dalam daftar pustaka.

Walaupun diharamkan masih saja sering terlaji penciplakan karya tanpa menyebutkan sumber. Saya masih ingat ketika menempuh pascasarjana di UGM ada beberapa teman kelas saya yang ketahuan mengcopy paste karya orang lain. Dan itu seluruhnya tanpa parafrase (walaupun parafrase tetap harus mencantumkan sumber). Beruntunglah teman itu karena hanya diberi waktu untuk membuat yang baru karena dosen menganggap sebagai pembelajaran.

Contoh kecil diatas penting bahwa sejak dinyatakan menjadi mahasiswa maka sudah harus diberikan pedoman atau perturan akademik tentang dunia tulis menulis ilmiah. Mahasiswa sudah musti diperkenalkan cara menulis yang baik dan mengutip yang baik sehingga dapat mengurangi kasus serupa di waktu mendatang.

Kasus plagiat Anggito dan jika itu benar adalah kasus yang selalu berulang ulang dan aneh karena pemerintah dalam hal ini kemendikbud masih saja saya anggap kurang responsif dalam menghadapi fenomena ini.

Di kampus kampus baik negeri maupun swasta masih banyak mahasiswa dan berlevel guru besar melakukan plagiat karena pembiasaan dalam menulis ilmiah tidak menjadi tradisi.

Anggito memang telah dimaafkan oleh Hatbonar Sinaga tetapi kita tidak bisa memaafkan plagiat yang dilakukannya jika itu benar.

*

Saya mengenang pertemuan dengan Anggito disebuah musallah FEB Salman Al Farizi. Betapa kagum saya melihat sosok yang gagah dan sederhana itu. Tidak salah memang jadi dosen favorit di FEB bahkan UGM karena kepandaian dan kesederhanaanya.

Dan saya masih tidak percaya Anggito melakukan plagiat. Sampai hari ini dan tak menghilangkan rasa kagum saya padanya.

Demikianlah kiranya kasus Anggito dapat terjadi pada semua orang. Maka selayaknya hati hati dan jujur dalam menulis.

Thursday, January 30, 2014

Bandara

Saya baru saja tiba di bandara dengan beban satu tas punggung,  satu tas selempang, satu kardus. Yang terakhir ini musti dibagasikan.

Di sekeliling terlihat hilir mudik penumpang dengan bawaan masing-masing, ada yang membawa travel bag, tas kresek dunkin donat, kacamata diatas kepala dan aroma wangi dengan merek terkenal.

Ada juga penumpang lain hampir sama dengan saya dengan bawaan yang berjejal bersama tumpukan kardus dengan pakaian yang jauh dari kesan mewah.

*

Inilah realitas di bandara dengan beragam kelompok sosial ekonomi. Dulu ketika tiket pesawat harganya selangit maka hanya yang berduit saja yang bisa menikmatinya. Saya masih ingat di zaman kuliah harga tiket masih mahal pilihan paling rasional adalah menggunakan moda transportasi bis antar kota antar provinsi atau kapal pelni yang selalu sesak dan tidak terawat itu.

Tiket murah

Namun sejak maskapai penerbangan banting harga dengan tiket bak karcis nonton acara pasar malam maka orang berlombalomba untuk dapat menikmati burung besi ini.

Dengan slogan flying chip maskapai seakan memberikan jalan bahwa semua orang punya kesempatan sama untuk bisa terbang melihat awan putih dan lanskap di atas ketinggian ribuan kaki.

Seno Ajidarma melihat ini sebagai revolusi harga tiket pesawat yang telah mengubah konotasi terbang-orang naik pesawat tidak hanya dinikmati kaum berduit saja.

Dengan begitu kelas menengah ke bawah pun tergiur dan memanfaatkan kesempatan dan akhirnya meninggalkan kebiasaan lama: naik bis atau pelni. Akhirnya bus sekarang hanya untuk dijadikan pengangkut barang dan kapal pelni tinggal menyisakan hitungan jari dan menjadi besi tua.

Maka jangan heran kalo di bandara penumpang masih membawa kebiasaan lama: kardus dengan ikatan tali rafia, tumpukan barang lainnya. Ya seperti saya ini.

Dalam semua ini perubahan konotasi terbang adalah bagian dari ekonomi kebudayaan yang telah berubah dan komodifikasi atas produk barang dan jasa. Semua sama di mata ekonomi kebudayaan-yang penting bisa bayar.

---
Di Bandara Juanda Surabaya menuju Makassar 29 Januari 2014

Monday, November 25, 2013

Yusran Darmawan: sebuah pertemuan

Sosok sederhana yang saya kenal sewaktu kuliah di kampus merah Unhas. Waktu itu saya masih mahasiswa baru saat tulisan-tulisannya sudah tersebar di koran kampus.

Beberapa waktu yang lewat saya bertemu lagi dengan dia di kampus Unhalu. Saya sengaja menyempatkan waktu untuk ketemu dengan sosok yang bersahaja itu. Dia adalah guru (menulis) walau saya tak pernah diajar langsung bagaimana menulis yang baik namun tulisan tulisan di blognya sudah bisa menjadi acuan saya untuk belajar menulis.

Syahdan, lama tak mengujungi kompasiana media sharing para jurnalis warga dan saya kaget sekaligus takjub bahwa sosok yang menginpirasi banyak orang itu meraih kompasiana of the year 2013. Dia orang yang tepat. Tak ada yang meragukan konsistensi dia dalam berkarya. Dan penghargaan itu layak untuk dia. Congratulation bang Yusran Darmawan. You deserved it.



Wednesday, September 25, 2013

(ingin) sekolah lagi

Setelah setahun sarjana ada rasa rindu kembali ke kjmpus. Belajar dengan setumpuk tugas deadline dan diskusi kelas yang alot.

Untuk mewujudkan semua itu agaknya mustahil mengingat sekolah yang akan saya tempuh adalah doktor. Dan tak tanggung-tanggung sekolahnya hanya ingin di luar negeri. 

Biaya adalah kendala besar untuk mewujudkan itu.

Sekolah ke luar negeri adalah mimpi yang terus saya rawat sejak bertahun-tahun sudah. 

Sadar sepenuhnya, jalan menuju ke negeri seberang masihlah terjal dan panjang. Semoga dengan terus merawat mimpi memacu untuk belajar lebih giat lagi.

Dua tahun lagi akan sampai kemana harapan itu menemukan wujudnya.

Allah maha mendengar.

Tuesday, July 16, 2013

Banjir kali ini

Banjir yang terjadi kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa dekade terakhir dan mungkin paling besar dalam sejarah banjir di kota Kendari. Banjir yang diikuti tanah longsor ini telah melumpuhkan ekonomi dan transportasi di kota yang beberapa bulan lalu menerima piala adipura. Tidak terhitung kerugian dari aspek materi namun juga telah meninggalkan trauma mendalam masyarakat.

Di rumah saya juga terjadi 'banjir lokal', dengan genangan air di kamar. Saya dan istri harus berjibaku melawan derasnya hujan yang turun dari plafon rumah. ya, atap rumah kami bocor. kondisi inilah yang kami alami sekarang ini.

Kantor tempat istri saya bekerja lebih parah lagi, dokumen, barang-barang untuk didistribusikan ke konsumen serta alat berat ikut terendam banjir, belum diketahui berapa kerugian yang diderita. tapi hitungan angka pasti banyak. Istri saya hanya memandangi  foto-foto ruangan kantornya yang terendam itu dengan mata berkaca-kaca sambil sesekali berucap astagfirullah.

Banjir yang terjadi ini memang datang secara tiba-tiba dan banyak warga mengalami kepanikan dan trauma. warga yang tidak terbiasa menghadapi bencana alam memerlukan pembelajaran manajemen resiko bagaimana menghadapi bencana. Tidak seperti halnya warga Jakarta yang telah beradaptasi dengan banjir atau warga Yogyakarta yang sudah beradaptasi dengan gempa dan letusan gunung berapi. saat saya di Yogyakarta banyak pembelajaran yang saya ketahui tentang manajemen resiko bencana dan sudah saatnya pemerintah kota memberi pembelajaran itu pada warga.
 
Syahdan, banjir yang terjadi di Kota Kendari bagaimanapun tidak bisa hanya menyalahkan perubahan iklim tapi juga tentang tata kelola pemerintahan. Banjir terbesar dalam beberapa dekade terakhir ini merupakan gambaran akan menderitanya kehidupan masyarakat kota di tahun-tahun mendatang jika tidak ada upaya mitigasi dan perhatian oleh pemerintah kota Kendari.

---

Ruangan kantor istri
 Perumahan Palm Mas Jl. Y.Wayong Bypass lepo-lepo
 Halaman parkir kantor istri

 Bank Panin Jl. Ahmad Yani
Halaman kantor istri

Monday, May 13, 2013

Langkah ke dua: Berburu beasiswa

Hari ini 13 Mei 2013 saya memulai kembali mimpi yang telah lama saya rajut: belajar ke luar negeri.

Dan saya pun kembali menghidupkan semangat belajar yang hampir habis itu. jika semasa kuliah semangat belajar tergolong tinggi tapi entah, beberapa bulan ini malas belajar yang apalagi berbau bahasa Inggris.

Kesalahan pertama: tidak terbiasa mendengar, membaca dan bercakap bahasa Inggris.

Singkat cerita, kesalahan pertama itu saya sadari dan mencoba bangkit dari kemalasan belajar bahasa inggris. Membuka website VOA, dan buku-buku teks Inggris kembali menemani keseharian saya. Kebiasaan yang pernah saya lakukan ketika kuliah di pascasarjana UGM Yogyakarta.
 
Setelah beberapa hari membaca, saya kemudian bercakap dengan adik ipar saya yang kebetulan sudah mahir, baik bercakap, menulis, dan membaca dalam bahasa Inggris. Dengan bekal nekat, yang tentu saja harus menghilangkan rasa malu sebagai seorang kakak ataupun yang lebih tua bertanya pada yang lebih muda. Sedikit info saja, adik ipar saya dia nilai skor Toefl mencapai 580. Berbeda dengan saja yang tidak cukup 500 (bisa dibayangkan dibawah nilai skor seperti itu).
 
Kesalahan kedua: penyakit intelektual yang telah merasa hebat dan lebih tua adalah : angkuh dan merasa hebat.
 
Adik ipar saya akhirnya mau meladeni saya, dengan kesabarannya ia menyimak dan memberikan masukan. Saya akhirnya menyadari betapa ‘hancurnya’ bahasa Inggris saya. But its okey, the show must go on (memakai istilah ini biar dibilang tidak hancur banget :D). adik ipar saya mengoreksi dan memberikan tips agar lebih cepat dalam meningkatkan belajar tanpa harus kursus (mengingat kursus Bahasa Inggris di Kendari mahal). Dia lantas menyarankan sering membaca berita BBC, the Jakarta Post dan mendengar berita luar negeri yang berbahasa inggris.
 
Dengan modal tablet Samsung Galaxy milik sang istri, saya pun mengunduh podcast BBC, VOA. Beberapa dari itu saya rasa cukup untuk bisa dijadikan acuan belajar. Langkah ini saya lakukan dari pengalaman belajar adik ipar saya. Katanya setelah lulus kuliah S1 di Semarang, bahasa Inggris yang ia tahu hanya “yes” dan “no”. Kita sudah pasti tahu dia sedang bercanda untuk membesarkan hati saya. Dia membutuhkan tiga bulan membaca tiap hari minimal dua artikel dan hasilnya? Poin 580.

Saat ini saya melatih diri dengan membaca satu artikel setiap hari dari BBC atau VOA dan akan saya lihat hasilnya satu, dua, tiga atau setahun lagi atau…

Selain itu untuk menambah semangat belajar keluar negeri tak lupa menyempatkan singgah di blog Bli  Made Andi Arsana: http://madeandi.com/ dan Kanda Yusran Darmawan: http://www.timur-angin.com/ dari mereka saya merawat mimpi keluar negeri.

Friday, March 1, 2013

Salah


setelah lama tak mengunjungi blog Zen (http://pejalanjauh.net) saya akhirnya memutuskan berjalan-jalan di tengah kemalasan akut menulis. tak dinyana saya menemukan posting yang selama ini menderaa dan slalu berulang-ulang saya lakukan: Salah

saya mengutipnya utuh. simak katanya:

Saya harap di tahun yang akan datang, kau membuat kesalahan.
Karena jika kau membuat kesalahan, lalu kau akan membuat hal-hal baru, mencoba hal-hal baru, belajar, hidup dan menekan terus dirimu, mengubah dirimu, mengubah duniamu. Kau akan lakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah kau lakukan. Dan, yang jauh lebih penting, kau Berbuat Sesuatu.
Itulah yang kuinginkan darimu, dan semua dari kita, juga dari diriku sendiri. Buatlah kesalahan baru. Buatlah kemuliaan, kesalahan yang menakjubkan. Buatlah kesalahan yang tak pernah orang lain bikin sebelumnya. Jangan mau jadi beku, jangan berhenti, jangan khawatir sesuatu tidak cukup bagus atau tidak terlalu sempurna, dalam bidang apa pun: seni, cinta, pekerjaan, keluarga, kehidupan….
Apa pun yang takut kau lakukan, lakukan saja.
Bikinlah kesalahan, tahun depan, dan selamanya!
buat saya kesalahan sengaja dan tak sengaja adalah niscaya. karna Benar tak mungkin ada jika tak ada Salah. bagai oposisi biner.

tapi mengapa ketika orang berbuat salah slalu disalahkan? bukankah salah tempat kita menemukan arti bahwa kita tak sempurna? sepert kata Zen, ketika salah berarti mencari bentuk kesempurnaan. dan saya percaya itu

malam sahabat, tak pernahkah merasa salah?
 

Wednesday, February 13, 2013

Menikah

    UNTUK ISTRI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Membuka tabir rahasia,

    Suami yang menikahi kamu,
    Tidaklah semulia Muhammad,
    Tidaklah setakwa Ibrahim,
    Pun tidak setabah Ayub,
    Atau pun segagah Musa,
    apalagi setampan Yusuf

    Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
    Yang punya cita-cita,
    Membangun keturunan yang soleh .......
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama,

    Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
    suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
    Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun
    kenakalannya,
    Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur
    singasananya,
    Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
    Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
    memperingatkannya..

    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan redho,
    Karena memiliki suami yang tak segagah mana,Justru kamu akan tersentak dari alpa
    Kamu bukanlah Khadijah,
    yang begitu sempurna di dalam menjaga
    Pun bukanlah Hajar,
    yang begitu setia dalam sengsara
    Cuma wanita akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi solehah.....
    Amin.

    UNTUK SUAMI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)

    Pernikahan atau perkawinan,
    Menyingkap tabir rahasia.

    Isteri yang kamu nikahi,
    Tidaklah semulia Khadijah,
    Tidaklah setaqwa Aisyah,
    Pun tidak setabah Fatimah.

    Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama.

    Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
    Isteri lading tanaman, Kamu pemagarnya,
    Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
    Isteri adalah murid, Kamu mursyidnya,
    Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya,
    Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
    Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar
    bisanya,
    Seandainya Isteri tulang yang bengkok, berhatilah
    meluruskannya,

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
    Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
    Justeru kamu akan tersentak dari alpa,

    PunKamu bukanlah Rasulullah pun bukanlah Saidina Ali Karamaullahhuwajah,
    Cuma suami akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi soleh.....
    Amin...

Saya mengutipnya di laman facebook kumpulan humor Gusdur .  humor ala Gusdur yang selalu renyah. Saya terhenti dibagian nasehat tentang menikah.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Minggu malam tepat tanggal 10 Februari 2013 saya telah melamar seorang gadis peranakan Arab-Bugis bernama Andi Rugayyah Akhmad, saya dan beberapa orang di rumahnya lebih sering memanggil akrab dia Ti Non.

Syahdan, menjalani atau menghadapi ritus pernikahan bagi saya adalah sebuah enigma. Seperti misteri walaupun saya harus menghadapinya, que sera sera, qun faya qun, yang terjadi terjadilah.

Walaupun saya akan menghadapinya tapi saya ingin bercerita tentang sebuah pernikahan. Dari realita yang saya temui banyak kisah yang membuat saya merenung tentang pernikahan mulai dari perbedaan dan juga kasus yang menyertainya (perceraian, kekerasan dan lain-lain).

Analogi sebuah bahtera. Perkawinan pun harus siap diterpa gelombang kecil maupun besar. Beberapa teman yang telah menikah selalu berkata bahwa pernikahan selalu tidak mudah. Terlalu banyak perbedaan menyebabkan berujung pertengkaran. Bagi saya perbedaan adalah niscaya. Bukankah orang yang menikah lahir tidak sama? atau karena perbedaan membuat kita mencari persamaanya bukan? Jawaban ini memang kurang memuaskan bagi teman saya.

Saya hanya ingin mengatakan jika bertemu lagi pada teman itu bahwa menikah adalah sebuah proyek masa depan. Sebagai bahtera, pernikahan butuh nahkoda yang siap menerjang gelombang samudra. Ketika lengah, maka ia pasti karam.

Dari nasehat ala Gus Dur inilah saya ingin merenungkan kembali dalam mengambil keputusan mengarungi bahtera: Pernikahan.

Friday, February 8, 2013

Daeng Bora’

Matahari belum benar-benar terang tapi lelaki paruh baya itu sudah bersiap mengariungi muara dengan sampannya. Segala peralatan tankap sudah dipersiapkan dan perlahan ia pun mendayung,  suara kecipak air satu dua tiga suara kemudian berlalu.

Sesampai di muara pantai kendari Beach tempatnya menggantungkan hidup. ia mengumpulkan jenis kerang-kerangan dan kepiting. Dengan jalan yang tak seimbang karena kaki kirinya cacat lahir, daeng—begitu slalu disapa—menjumput kerang-kerang satu persatu dimuara yang perlahan-lahar surut. selang beberapa saat kerangpun terkumpul beberapa keranjang. Diangkatnya di sampan dan melanjutkan dengan mencari kepiting yang memang menjadi buruan paling menguntungkan. Satu kepiting dengan berang setengah kilo dihargai puluhan ribu. Bandingkan dengan sekilo kerang yang hanya dihargai lima ribuan per kilo (untung jika laku). Daeng pun saban hari memasang perangkap kepiting, sejam kemudian dilihatnya lagi karena menangkap kepiting memakai kesabaran dan ketelatenan.

Setelah tangkapan didapat. Bergegas ia ke pasar kadang pasar baru di jalan wua-wua. Kali ini mendapat rejeki dengan beberapa kilo kerang dan beberapa ekor kepiting. Hasilnya membanggakan. Ditangannya lembaran uang biru dan merah. Itu berarti daeng mendapat rejeki berlipat-lipat.

Tapi apa lacur hasil kerja seharian harus dihabiskan dalam semalam juga. Ia menghabiskan jerih payahnya dengan minum Ballo (minuman tradisional yang telah difermentasi). Sesekali pula ia menghabiskan uangnya di tempat lokalisasi.
*
Saya tak pernah tahu sepenuhnya apa yang ada dibenak orang tua itu. saya kadang bergumam orang ini sudah miskin tapi tak tahu caranya untuk menyimpan atau paling tidak menyisihkan sedikit uang. Tapi dia tidak. ia mengandalkan alam seolah-olah alam tiap hari akan memberikan apa yang dia butuhkan. Saya jadi ingat pelajaran sejarah ketika perkembangan manusia diawali dengan masa meramu (food gathering). Satu contoh manusia di abad modern ini terlihat dari kasus daeng. Ia mengandalkan alam untuk memberinya makan.

Cara pikir tradisional masih jelas terlihat. Ada benarnya Tan Malaka dalam Madilog menulis bahwa manusia Indonesia sebenarnya masih dalam perkembangan atau paling tidak terjebak dalam Logika Mistika. cara pikir ini masih terjebak dalam pikir tradisional, mistik dan selalu melihat kebelakang. Dan banyak melanda orang-orang di Indonesia.

Apa yang dilakukan Daeng dengan mengikuti logika Tan Malaka sebenarnya terjebak dalam logika mistika. ia tak pernah memikirkan masa depan, hidupnya esok seperti apa dan bagaimana dengan nasib keluarga. yang ia pikirkan hanyanya kesenangan diri yang mengikuti nafsu konsumtif dengan barang-barang yang dilarang agama. Saya percaya Daeng beragama tapi tak meyakini.

Absurd
Saya ingin mengisahkan kembali Sisifus yang ditulis dramatis oleh nobeli Perancis Albert Camus. Dengan mendorong batu berkali kali ke puncak, setiap kali mencapai puncak para Dewa selalu menggulingnya ke bawah sampai kaki bukit. Sisifus pun harus mendorongnya kembali sampai begitu, entah sampai kapan.

Albert Camus berkata para buruh masa kini yang setiap hari harus mengerjakan tugas yang sama ternyata tidak kalah absurdnya. Termasuk Daeng. Orang masa kini yang bekerja dengan tidak kalah absurdnya. dalam kisa lain kisah Daeng bisa dapat kita temui.

Hidup sehari-hari bila disadari merupakan hal yang absurd. Dengan pekerjaan yang itu-itu saja menimbulkan pertanyaan mengapa tapi kadang tidak memiliki jawaban yang meyakinkan. Maka timbul keheranan disaat itu pula bangkit kesadaran.

Daeng memang tak mengerti arti absurd.
Yang absurd merupakan konfrontasi antara dunia yang irrasional dengan keinginan dahsyat yang terus menerus bergema dalam hati manusia, keinginan akan kejelasan. Begitu kata Camus.
Daeng paham atau memang tak mau paham ia mencari jawaban dalam hidupnya tentang mengapa uang jerih payah dikumpulkan dengan bersusah diri dihabiskan dalam beberapa saat saja itupun dengan minuman tradisional yang pengolahannya jauh dari bersih. ia ingin bahagia. Bahagia dengan hasil jerih payah dengan minum minuman keras tapi besoknya setelah terbangun atau tak lagi mabuk ditemukan dirinya tidak memiliki uang alias miskin lagi. Maka ia pun kembali beraktifitas seperti sedia kala—bangun pagi, mendayung sampan, menjumput kerang, menangkap kepiting. Begitu terus. Entah sampai kapan.

Yang dilakukan Daeng bukan tanpa arti. Bagi dirinya itulah kemerdekaan. Hidupnya harus berarti betapapun harus bekerja keras untuk mencapai ektase dengan minum sampai mabuk. Ia harus memuaskan dirinya.entah sampai kapan.

Kendari lewat tengah malam Februari 2013
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.