Showing posts with label catatan. Show all posts
Showing posts with label catatan. Show all posts

Monday, August 23, 2021

Pada Hujan

Hujan

Kepada hujan yang jatuh di sore ini Singgahlah sejenak berbisik pada ranting dan daun sekedar melepas rindu

Tanah tak pernah menolak datangmu              jatuh dipelukan berbaring sunyi sendiri  memanggil angin semilir datang dari kaki bukit

Sudah kusiapkan payung dan jas hujan untukmu untuk kita susur senja yang tersisa 





Friday, March 2, 2018

Mengusir Kebosanan di Era Disrupsi

Ilustrasi (pixabay.com)
Suatu saat saya--mungkin juga sebagian yang lain--akan mengalami bosan. Bukan apa-apa, rutinitas yang itu-itu saja membuat ritme hidup seperti berhenti berjalan. Orang kantoran bekerja hanya di belakang meja, orang kampus atau civitas akademika berkutat dalam ruang kelas dan urusan akademik, para pengusaha menjalankan usaha tidak lagi memikirkan ekspansi atau mencoba bisnis baru. Orang yang duduk di pemerintahan berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan. Tak ada warna baru dalam hidup.

*
Sejak beberapa tahun ini saya dan mungkin juga orang lain mengejar sesuatu yang itu-itu saja. Saya misalnya, hanya mengejar karir akademik. dari dulu sekolah dari SD (karena tidak sempat TK) hingga mencapai gelar master. Dan anehnya masih mau mengejar sampai ke level Doktor. Anehnya lagi tidak bosan-bosan.

Ketika kesempatan datang mendapat Beasiswa BUDI LN Batch 1 tahun 2016. Saya hampir sekolah ke Australia tahun 2017 namun malang tak dapat ditolak, IELTS saya tidak diterima di Kampus UWA. Dan tahun 2018 ini masih terus mencoba meraih beasiswa 2018 dan itu masih di luar negeri. Ini membosankan buat saya karena mengejar yang itu-itu saja, tidak mencoba hal baru (menjadi pengusaha misalnya)

Demikianlah, saya mencoba melawan rasa bosan.

Mencoba mencari tantangatan baru di luar aktifitas sehari-hari: mengajar.

*
Terjebak dalam "zona nyaman" bisa saja membuat Saya tidak mencoba hal baru, tantangan baru dan warna baru. Daya tarik ketika sudah asyik masyuk dalam rutinitas harian akan melupakan hal-hal di luar sana. Orang menyebutnya lingkaran setan (apa istilah itu cocok?).

Saya pernah membaca artikel Roby Muhammad, pakar sociotechno Indonesia. Roby--demikian biasa saya baca namanya di media--mengembangkan perilaku sosial manusia dalam dunia internet-mengemukakan di era sekarang dimana ranjau-ranjau tertanam dalam hidup, lubang-lubang terselubung berada namun di dalamnya ada jembatan peluang berada.

Saya memaknainya, bahwa hidup di era digital berada dalam persaingan hidup yang ketat. Untuk menang dalam kompetisi itu, Roby Muhammad mengingatkan SPESIALISASI. Seseorang yang survive adalah orang yang memiliki skill dan pada akhirnya melahirkan INOVASI. 

Roby mencontohkan dirinya yang mendalami Ilmu Matematika S1 dan 'bermain-main' dengan ilmu Sosiologi pada level PhD di Amerika. Namun dari situ spesialisasinya terbentuk. Menguasai Matematika (eksperimen) sekaligus paham tentang ilmu masyarakat. Jadinya, Roby paham dengan interaksi manusia lewat internet melalui rangkaian eksperimen yang kemudian memperkokoh teori The Six Degrees of Separation.

Untuk melawan rasa bosannya, Roby tidak hanya berkutat dalam mengajar dan sibuk di laboratorium namun aktif dalam kerja-kerja sosial, menjadi aktor, dan pengusaha digital. Dia menjadi orang KREATIF dan INOVATIF.

Di era revolusi 4.0 ini orang dituntut untuk multi talent, multi tasking, membangun jejaring luas dan membebaskan diri dari sekat-sekat arogansi. Tipe orang seperti ini yang akan survive di era digital?

Kembali ke rasa bosan, ini seperti lonceng pengingat bahwa di era digital, kita dituntut untuk awas terhadap perubahan dan cermat dalam bertindak. Membaca sambil menempuh strategi bertahan hidup dalam setiap arah perubahan penting dilakukan di era disrupsi ini. Itulah yang dicoba oleh anak-anak muda inovatif Indonesia, sebut saja Nadiem Makariem yang membangun Gojek, Ahmad Zacky mengembangkan Bukalapak, William Tanuwijaya menggawangi Tokopedia dan lain-lain.

Orang-orang kreatif inilah yang jeli melihat perubahan di era digital. "Ini amajing" kata anak zaman sekarang. 

Akhirnya, hidup di era digital memaksa kita bergerak cepat dan tanggap perubahan.

Cara tepat mengusir kebosanan adalah dengan ber-INOVASI dengan hal-hal baru. Cara itulah mengusir kebosanan. 

Dan saya sedang mencobanya...  

Monday, November 12, 2012

Passion

SETIAP membaca tentang passion saya selalu teringat dengan kata para pakar sumber daya manusia atau marketing. Katanya, passion tidak berhenti hanya pada tataran mimpi namun diwujudkan. Passion juga musti tepat sasaran. Misalnya ketika seseorang punya passion tentang dunia perbukuan maka dia mewujudkan dengan menjual atau kerja dibagian penerbitan tidak dengan cara masuk dalam dunia perbankan. Itu yang disebut passion. 

Dan saya terbius juga kata-kata para pakar SDM dan pemasaran itu. Saya kemudian mewujudkan passion saya itu (yang dipupuk sejak dulu) mengenai perbukuan dengan membuka toko buku Koran dan majalah. Disamping Koran dan majalah tempat itu akan saya jadikan sebagai rumah baca.  

Langkah itu itupun saya mulai sebagai ‘mimpi kecil’ tentang passion saya yang sudah saya rawat bertahun tahun sudah: Membuat toko buku. Tak hanya itu, toko yang nanti isinya koran dan majalah itu juga berisi buku koleksi saya selama kuliah, baik di Makassar maupun di Yogyakarta. Tidak terlalu luas 3x4 persegi yang dibuat dari kayu beratap seng. Tapi saya rasa itu cukup untuk menjelaskan pada diri saya tentang arti sebuah passion seperti kata para pakar-pakar itu. 

Syahdan, toko itu walau tak terlalu luas tapi lumayan telah menguras tabungan dan malangnya sampai harus merelakan BB butut saya (untung tidak menjual baju dan celana seperti lagu Jaja Miharja). Saya tak mampu membayangkannya seandainya saya hanya menunggu kaya (yang tak tahu kapan kaya) kemudian membangun passion saya itu. Lagkah besar musti dimulai dari langkah kecil. Saya akhirnya memberanikan diri. Berkat dukungan kebaikan Non Akhmad dan kakak saya yang meminjamkan tanah miliknya yang sudah bertahun tahun menjadi 'tanah mati' di daerah strategis Bypass Kendari maka saya memberanikan membangun sebuah toko kecil. Kebutuhan biaya yang taksiran awal saya Cuma tiga jutaan ternyata melesat jauh. Biaya papan, balok ,seng dan sebagainya hanya cukup jadi bahan-bahan. Belum bisa berbentuk menjadi bangunan. Masih dibututuhkan bahan-bahan lain: paku dan lain sebagainya untuk bisa membangun rumah pengetahuan itu. Akhirnya barang2 yang bias dijadikan uang dijual untuk menutupi kekurangan itu. Lagi-lagi saya terhipnotis dengan kata para pakar manajemen yang selalu hinggap dalam kepala saya: Passion. Sudah kepalang tanggung memang, passion saya kedepannya jika toko buku itu jadi akan menjadi ‘rumah pengetahuan’ bagi orang yang ingin membaca dan berdiskusi. 

Saya menyadarinya bahwa toko itu disatu sisi tidak bias menjadi nirlaba atau kebaikan semata tapi butuh modal untuk terus survive. Maka konsep toko buku saya itu mengandalkan logika ekonomi dan disisi lain logika sosial. Logika ekonomi saya gunakan untuk memutar majalah dan koran dengan mengambil beberapa keuntungan penjualan sedang logika sosial saya gunakan untuk kepentingan bagi orang yang ingin membaca koleksi buku-buku saya.ini karena sebuah passion untuk membuat taman baca yang tinggal menjadi monument bersejarah buat saya pribadi dan untuk anak-anak saya kelak.

saya teringat kembali kata pakar itu, passion tidak berhenti pada mimpi...

Sunday, August 5, 2012

Sisifus

--dalam kesiasiaan

ADA saatnya melakukan hal yang sia-sia namun menikmatinya. berulang dan berulang lagi. dan itu sepertinya tak pernah selesai dan (seolah-olah) berlangsung tiada akhir.

saya tak tahu persis seperti apa kesiasiaan itu. namun cerita ini mengingatkan saya tentang Sisifus. cerita itu dibuat dramatik dan lebih hebat dari yang pernah diceritakan Homerus. kisah itu ditulis ulang Albert Camus dengan menyedihkan.

Sisifus mahluk gagah namun lemah harus rela dihukum para Dewa dengan terus menerus mendorong batu besar sampai ke puncak gunung. batu yang jatuh di kaki gunung itu harus di dorong kembali sampai ke puncak. begitu seterusnya. terus seperti itu, sampai tak tahu kapan!

Sisifus yang malang itu kita akan temukan di tulisan Albert Camus dalam buku Mite Sisifus, Pergulatan dengan Absurditas. Bagi siapa yang pernah membacanya akan tahu betapa usaha manusia kadang berujung pada ke-sia-sia-an.

Camus mengisahkan Sisifus sebagai pahlawan atau mahluk yang absurd. nafsunya terhadap dunia harus dibayar dengan tenaga hanya untuk sebuah usaha yang tidak tahu kapan ada usainya.

Dan saya takutkan itu terjadi pada saya. Yang tadinya realistis akhirnya pesimis dan berujung pada duka yang tak terperi. hari demi hari, bulan demi bulan tidak menemukan apa-apa. Hampa.

saya sebenarnya seorang yang optimis. tapi apa lacur, kenyataan yang membuat pesimis. mungkin saja, saya di hukum Tuhan yang kemudian membiarkan saya berusaha namun selalu gagal. saat mencoba bangkit di saat itu pula saya jatuh, begitu dan begitu lagi. entah sampai.

Albert Camus yang menulis (ulang) Mite itu melihat Sisifus sebagai seorang yang menderita begitu hebat dengan sebuah batu besar yang tidak tahu sampai kapan berhenti didorongnya. maka saya secara (tak) sadar telah melakukan hal yang tidak kalah absurdnya dengan Sisifus.

Saat ini saya terbayang Sisifus bersama batu besar namun dalam kisah yang lain: berujung perasaan gembira. semoga

Tuesday, May 22, 2012

Punakawan*

OLEH: HENDARU TRI HANGGORO

SUARA gamelan berhenti. Bagong masuk ke panggung menemui Petruk. “Truk, Gareng kini punya penyakit aneh. Suka menggigit pantat orang,” kata Bagong. Petruk percaya. Setelah itu, Bagong bertemu dengan Gareng. “Petruk kini berekor,” ujar Bagong mencoba membohongi. Seperti Petruk, Gareng percaya. Keduanya kemudian bertemu. Petruk waspada. Dia menutupi pantatnya dengan tangan. Penasaran, Gareng berusaha melihat pantat petruk.

Keduanya berkejaran, hampir berkelahi. Beruntung, Semar datang menengahi. Mereka akhirnya tahu bahwa Bagonglah dalang keonaran ini. Semar berkata, “Membuat isu atau sas-sus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang dan kisruh.” Adegan-adegan ini terdapat dalam acara Ria Jenaka di TVRI pada 1980-an.­ Sebuah acara yang menjadi corong penguasa untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan melalui tokoh panakawan atau biasa disebut juga punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang lekat dengan lawakan dan keanehan bentuk tubuh. Tak seperti awal kemunculannya.

Kemunculan panakawan dalam tradisi seni pertunjukan di Indonesia dapat dilacak pada relief-relief candi dan naskah-naskah kuno Nusantara. Beberapa relief di Candi Prambanan dari abad ke-9, menggambarkan panakawan. Gambar-gambar dalam relief Prambanan mengisahkan tokoh-tokoh utama yang didampingi oleh seorang pengiring. “Para pengiring itu berpenampilan tampan dan cantik,” tulis Edy Sedyawati, guru besar arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dalam “Panakawan di Masa Majapahit”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara tahun 2009.

Para pengiring itu menemani tokoh utama dengan pakaian yang berbeda. Bentuk tubuh mereka normal seperti tokoh utama. Mereka menemani tokoh utama hingga ke hutan. Menurut Edy, inilah arti dasar panakawan, kawan yang diharapkan siap membantu tokoh utama, baik jahat maupun baik, dimanapun. Kawan yang mampu memberikan nasihat kepada tokoh utama. Tetapi istilah panakawan kala itu belum dikenal.

Panakawan berasal dari dua kata, pana dan kawan. “Pana berarti mumpuni, sedangkan kawan dapat berarti seseorang yang cukup dikenal,” tulis Trias Yusuf, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dalam “Panakawan Dalam Tradisi Kesenian Pesisir Jawa”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara. Menurutnya, istilah ini baru muncul pada masa Yasadipura abad ke-18 di Surakarta. Istilah yang sepadan dengan panakawan tersua dalam Kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kediri (1104-1135).

Kakawin tersebut memuat istilah Jurudyah Punta Prasanta untuk menerangkan pengiring tokoh utama, Abhimanyu. Penyebutan itu merujuk pada satu orang. Kata “Juru” menunjukkan pekerjaan sang pengiring, mengurus atau mengasuh. Kata “Dyah” dapat berarti orang muda keturunan raja-raja. Sementara kata “Punta” merupakan nama depan sang pengiring, dan “Prasanta” nama panggilannya. Tokoh-tokoh dalam kakawin tersebut bersifat historis-mitologis. Artinya, mereka ada walaupun kisah mereka berbalut dengan simbol-simbol dan mitos.

Profesor Soetjipto Wirjosoeparto, mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan bentuk tubuh pengiring dalam Gathotkacasraya digambarkan layaknya manusia. “Dalam deskripsinya tidak disebutkan bahwa tampilannya serba aneh dan kocak,” tulis Soetjipto sebagaimana dikutip Edy Sedyawati. Gambaran Ini masih sesuai dengan relief Prambanan. Tugas mereka pun masih jauh dari melawak.

Ketika kemasyhuran Kerajaan Kediri meredup, Kerajaan Majapahit perlahan bersinar. Candi-candi Majapahit segera berdiri di wilayah bekas Kerajaan Kediri. Candi-candi itu memiliki relief yang menggambarkan para pengiring yang agak berbeda dengan masa sebelumnya. Edy Sedyawati menambahkan bahwa beberapa candi yang dibangun pada abad ke-14 seperti Tegawangi, Kedaton, dan Surawarna mulai menampilkan relief adegan pengiring berbadan gemuk.

Dalam relief Candi Tegawangi misalnya, terdapat gambar dua pengiring berbadan gemuk. Pengiring itu masuk dalam relief cerita Sudamala, yaitu cerita ruwatan yang melibatkan Sadewa, salah satu tokoh Pandawa. Kedua pengiring sedang berpacaran dalam posisi yang menggelikan. Seorang pengiring keluarga Pandawa, Semar, mulai dikenal melalui cerita Sudamala dalam relief candi Sukuh tahun 1439 dan Kakawin Sudamala.

Berbadan serba bulat, berbibir maju, dan bermata besar, Semar tak melulu memberikan nasihat, melainkan juga humor untuk tuannya. Dengan demikian, Sedyawati berkesimpulan bahwa tokoh panakawan yang berbentuk tidak lazim, namun bersifat lucu mulai muncul kala Majapahit.

Memasuki masa kesultanan Islam, para wali mengenalkan para pengiring dengan bentuk dan fungsi yang berbeda itu ke dalam wayang. Menurut Ronit Ricci, peneliti pada Universitas Michigan, dalam “Conversion to Islam on Java”, Jurnal KITLV, Vol. 195 No. 1 (2009), “Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sering dianggap perekacipta pengiring tersebut dalam pertunjukan wayang.” Kedua sunan di tanah Jawa ini membalut kisah Ramayana, Mahabarata, dan Sudamala dengan ajaran Islam. Padahal, kisah Ramayana dan Mahabarata versi India sama sekali tidak menyertakan pengiring untuk tokoh utamanya. Apalagi sampai yang berbentuk aneh.

Selain Semar, pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak-cum-kritikus. Sebab, lawakan mereka hanyalah alat penyampai kritik sang pujangga atau dalang. Gambaran tokoh ini semakin banyak ditemukan dalam karya-karya sastra masa Yasadipura seperti Wedatama. Mereka kemudian dikenal dengan nama panakawan.

Memasuki abad ke-20, panakawan populer dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan seni pertunjukan lainnya. Penonton selalu menunggu kehadiran mereka. Tak heran, penguasa Orde Baru menggunakannya sebagai corong propaganda dalam acara Ria Jenaka

----
*tulisan ini saya kutip langsung dari http://historia.co.id/artikel/1/1014/Majalah-Historia/Kawan_Penasihat_dan_Pelawak.
**baca juga punawakan saya disini

Friday, April 6, 2012

Ingatan

tentang ingatan yang selalu paradoks...

Walter Benyamin pernah menulis,

“untuk sebuah peristiwa yang dialami, sifatnya terbatas, entah dengan alasan apapun, dan terbatas pada suatu bidang pengalaman saja. sedangkan untuk sebuah peristiwa yang diingat sifatnya tidak terbatas, karena alasan ingatan seperti itu hanyalah sebuah kunci untuk masuk ke segala hal yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa tersebut.”

Aforisma Benyamin itu saya kutip dari Allesandro Portelli dalam The Death of Luigi Trastulli and Other Stories. Dalam buku itu mengisahkan seorang buruh pabrik di sebuah kota industri di Italia, dia berumur 21 tahun saat meninggal dalam sebuah bentrok dengan polisi 17 Maret 1949 dalam sebuah unjuk rasa. Peristiwa itu kemudian membuat Trastulli merekonstruksi, menafsir peristiwa tersebut dalam sebuah catatan mengenai ingatan.

Peristiwa/kematian apapun itu, yang menjadi tragedi adalah penting. peristiwa-peristiwa pemboman sekutu di Hiroshima-Nagasaki, kamp ausmitch Nazi sampai tragedi pembantaian orang-orang yang dianggap PKI adalah sebuah ingatan dan imajinasi bersama yang mampu membangun sebuah kumpulan cerita dan konstruksi dari berbagai peristiwa/ingatan yang menjadi pilu juga menghidupkan kenangan.

Mengapa kita perlu ingatan? Mengapa orang membuat sesuatu untuk mengingat masa lalu? Apakah ingatan perlu diandalkan? Mengapa dan mengapa?. Sekelumit pertanyaan ini hadir dalam diskusi tentang INGATAN.

Pada dasarnya, setiap peristiwa memerlukan kronologis dan mekanisme ingatan menjadi penting. Arintya, peristiwa adalah merincikan detil setiap waktu yang berkesinambungan. Namun jika ingatan seorang penutur tak bisa merekonstruksi maka disini menjadi titik lemah dalam sebuha cerita yang berawal dari ingatan.

Memori dan sejarah telah berpisah setelah lama dan seolah-olah bersinonim dan berpadu. Kenyataanya berbeda, dalam sebuah makala dari teman yang mengambil studi sejarah UGM [tempatnya para begawan sejarah, seperti Sartono Kartidirjo, Kuntowijoyo, Umar Kayam dan lain-lain] memberi pemahaman kepada saya bahwa ingatan berbeda dengan sejarah;

Dalam makalah itu, memori/ingatan itu embodied (mewujud/menubuh) sedang sejarah itu embedded (melekat/menempel) apa artinya? Yang embodied, tidak mudah mengalami disembodied; yang embedded, relatif mudah mengalami disembedded.

Tapi sekarang sulit bagi saya untuk membedakan antara ingatan dan sejarah mengingat memori telah tersubordinasi denan sejarah. Memori adala sejarah itu sendiri. Tapi apakah iya? Untuk ini saya mengutip sebuah kisah dari lukisan anak-anak korban tragedi Poso seperti yang dilukiskan Aditjondro di sebuah pelatian beberapa waktu lalu:

"diantara pengungsi itu ada sejumlah besar anak-anak yang mengikuti Festival Anak Perdamaianyang kami...laksanakan pada tanggal 25-29 Oktober 2001 di Panggung Moriana, Kompleks Kantor Sinode GKST di Tentena, sekita dua bulan sebelum Deklarasi Malino untuk Poso. Tetapi tanpa diduga anak-anak ini, pada umumnya yang mereka gambar adalah orang yang memegang senjata, rumah tinggal dan rumah ibadah, orang yang dibunuh, dan lain sebainya. Ada anak dengan ungkapan yang polos bercerita bahwa rumahnya dibakar oleh orang yang beragama Islam dan agama Islam itu jahat”.

Memori anak-anak korban tragedi itu menjadi memori/ingatan yang juga menjadi sejarahnya yang paling kasat mata. ini seperti sebuah ungkapan memory today is already a history. Memori mereka adalah penanda ingatan masa lalu dalam tatap sejarah. Masa lalu anak-anak itu menjadi bagian yang bisa saja terpisah dari hidupnya dan bisa juga menyadi ingatan yang terus hadir dalam hidupnya. Mereka merawat ingatan sekaligus hendak untuk melupakan ingatan.

Ada hubungan yang paradoksal disini, yang pada mulanya memori dan sejara itu bersinonim yang kesemuanya mewujud dalam tradisi. Namun sulit bagi saya memisahkan dua entitas ini di zaman sekarang meliat waktu itu linear dan orang-orang telah teratomisasi yang membuat sejarah dan memori semakin memisahkan jalan. Tapi di makalah teman saya itu mengafirmasi itu tak sejarah yan menaklukkan memori/ingatan tidak sepenuhnya bisa berhasil karena memori bersifat ‘life’, ‘embodied’, yang ‘kaku’ sekaligus ‘fleksibel’. Sedangkan sejara sebagai ‘produk masa lalu’ rentan terhadap perubahan tergantung pada institusi yang menopangnya.

Disini pentingnya ingatan...

Saturday, January 7, 2012

Semesta warna

--saat warna dan musik mengalunkan harmoni

Buku tentang penyembuhan? banyak sekali, tentang astrologi? dari dulu hingga sekarang sudah banyak hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Tentang terapi apalagi? banyak di internet, sejak penjualan alat terapi beredar di tv atau MLM penjualan alat terapi pun semakin marak. Meskipun itu, tentu kita butuh membaca media penyembuhan yang lain--tentang warna atau musik misalnya.

Sebuah tulisan minimalis dengan judul "terapi musik dan Warna" yang diterjemahkan dari judul asli Healing with music and color dari penulisnya yang membenamkan diri menjadi terapis Mary Bassano memberi informasi berharga bahwa warna dan musik bisa menyembuhkan manusia dari energi-energi negatif.

Buku ini tidak berbeda jauh dengan "Rahasia Air" yang dikarang Mazaro Emoto, atau penyembuhan melalui yoga dan semacamnya. jika ada yang berbeda hanyalah cara penyajian, penulis merentangkan asal usul warna dan nada sampai cara penyembuhan sedetail mungkin. dibagian awal, asal mula nada dan warna dihadirkan, bagaimana bisa penciptaan alam semesta berhubungan dengan suara dan warna? penulisnya yang terapis itu menjelaskan bahwa alam dan kita itu sama, satu. Penciptaan jagad raya melalu dentuman bunyi (nada) kemudian mencipta warna semua saling berkelindan. berabad-abad lamanya suara dan warna akhinya menghiasi planet kita hingga sekarang. warna planet kita hijau, Mars yang kemerahan, Venus berwarna putih. atau kita mungkin masih ingat bagemana musik dicipta di film August Rush?. Ilham kadang datang dengan memanfaatkan harmoni alam. cerita composer besar Mozart, Bethoven hingga Kitaro memanfaatkan alam semesta sebagai medium.

Bagemana dengan warna? di buku ini menyaji tujuh warna sinergetik yang memberi manfaat, coba kita simak (saya hanya mengambil dua warna):

Merah
Nada: C
Cakra: Akar (pangkal tulang belakang)
karakteristik;kekuatan fisik, kepemimpinan, kemandirian,
Penanggulangan: Anemia, sirkulasi yang buruk, kekuarangan energi

saya sebutkan warna lagi yang lain;

Ungu
Nada: B
kelenjar: pineal
tubuh ragawi dan tubuh halus: Bersifat Ketuhanan
Karakteristik: dedikasi, mengabaikan diri sendiri demi membantu orang lain, peduli hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan
Penanggulanga: rasa tidak berguna, kekurangan motivasi, sejumlah penyakit mental dan rasa takut (hal.17)

Segala sesuatunya di alam ini merespon cahaya dan nada juga suara termasuk tumbuhan dan hewan.

Bagian terakhir di buku ini kita diajak mengenal astrologi warna. saya mengutipkan sesuai warna kesukaan saya: PUTIH. Bassano memberi pandangan penyuka putih cenderung menandakan sikap cermat, kritis, dan bersunggu-sungguh. dalam kebudayaan Mesir kuno putih melambangkan kemurnian, sifat feminin dan Bulan, berlawanan dengan merah yang maskulin. (hal 172).

kekurangan buku ini kita rasa seperti membaca buku-buku kesehatan atau astrologi. seperti halnya membaca resep kita selalu patuh pada aturan. namun sisi kesederhanaan buku ini nampak pada penulisnya tidak jlimet menarasikan nada dan warna dalam metode penyembuhan.

dibalik sisi kelebihan dan kekurangan buku ini, akhirnya sampai pada kesimpulan awal bahwa semesta musik dan warna bisa memberi kesembuhan bagi kehidupan kita.

Saturday, December 3, 2011

Punakawan dan cerita wayang


WAYANG selalu mengarah pada epos Mahabrata dan Ramayana. yang yadir kemudian adalah kisah heroik PANDAWA atau cerita cinta RAMA-SHINTA.

namun ada pengecualian yang hadir; PUNAKAWAN-teryata menjadi sumber ilham. tokoh dalam lakon wayang ini hampir luput dari narasi besar dan terkadang peran dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong-bahwa ia tak sekedar melengkapi cerita jagat wayang namun menjadi pelipur lara dengan tawa dan sentilan.

saya tidak tahu pasti kapan menyukai wayang, yang saya tahu sejak SD telah disuguhi tontonan seperti itu baik dalam bentuk wayang orang maupun wayang kulit, (satu hal lagi permainan wayang bermerek gunung kelud). sejak itu saya tertinggal jauh dan tak lagi mengingatnya dan semua cerita yang melekat. Bukan tak mungkin, lakon dan bahasa yang jawasentris membuat itu berjarak.

itu dulu, saya baru mengetahui epos ini ketika menyaksikan secara live wayang di alun-alun. sosok dan cerita akhirnya saya tangkap walau tak mendalam. saya memang lebih suka membaca wayang yang selalu menampilkan ksatria pandawa lima, setting perang BharataYudha. atau cerita cinta Rama-Shinta. tak pernah berfikir menyukai Punakawan.

pertujukan wayang live di Jogja menjelang dinihari di alun-alun itu akhirnya memberi saya sebuah pelajaran berharga tentang wayang, terlebih sosok Punawakan. Punakawan tidak saja melengkapi namun ia harus ada. jika saja punawakan tak ada, cerita yang tersaji hanya ada kisah heroik dari Pandawa dalam perang Barathayuda. punawakan yang tukang cerita itu sangat berasa dengan sentilan dan petuah-petuah bijaknya.

saya mendapat jawaban dimalam itu dan tak lupa menambahkannya dalam buku-buku.wayang adalah bagian kehidupan Jawa, pemahaman bodoh saya bahwa kisah wayang lebih dekat dengan kehidupan orang Jogja atau orang Solo. wayang adalah sumber ilham bagi kehidupan orang Jogja, Frans Magnis Suseno bahkan menulis "wayang dan Keseharian kita" juga "Etika Jawa" yang mengambil saripati kearifan wayang. tak ayal Ben Anderson, indonesianis menulis "Kuasa kata" juga banyak mendapat ilham dari cerita pewayangan.

ini bukan omongkosong belaka, ketika pikiran tertuju epos mahabrata dan ramayana,maka itu adalah epos besar Hindu yang dihadirkan dalam wayang yang bertahan lama dari lapuknya waktu. wayang pun mengalami keselarasan dalam kehidupan alam jawa.

dimana Punawakan?. ia ada dan menjadi penghibur lara bagi yang duka. ia Sang Penghibur dengan sentilan dan candaan yang membuat tawa selalu renyah. bahkan membuat dada sesak menahan tawa.
Ya, dalam tawa sesungguhnya tersimpan pelbagai rahasia hidup manusia. ketika manusia tertawa, itulah saat dimana "surga sedang menyentuh hatinya". kita perlu tertawa supaya kita bisa menjadi bijaksana. -Sindhunata
ia tak bisa hilang dalam lakon, parasnya lucu. saya hampir menyamakannya dengan badut, dengan tampilan wajah pucat pasih, bergincu yang merahnya melewati bibir. Dari tampilan saja sudah membuat orang tertawa.

siapa nyana jika mereka adalah sumber ilham? saya tidak tahu, namun yang mengenal epos dan punawakan bisa memberi jawaban. saya biasanya mencari jawab dalam tulisan Sindhunata. saya menyukainya sepenuh hati. tulisan Sindhu ini memang slalu dekat dengan dunia wayang, atau lakon wong cilik atau Goenawan Mohamad juga cerita-cerita lepas orang Jogja di angkringan.

punawakan mengajak orang tertawa: tertawa dalam duka, tertawa atas ketololan hidup juga tertawa dalam keterbatasan.

walau kita tahu punawakan adalah narasi kecil, ia akar rumput. bagi orang kecil tertawa adalah kehidupan sehari-hari sebagai obat panjang umur. orang kecil yang saya tau adalah tempatnya menampung tawa. ia ditertawai karena pakaian, tampang dan hidupnya. tapi disitulah hebatnya yang ditertawai.

entah mengapa ada peran itu dalam wayang, padahal yang saya tahu wayang adalah kisah-kisah heroik, Rama atau Pandawa yang begitu dikagumi. Ternyata saya salah, wayang tidak saja menawarkan sosok ksatria dalam diri Pandawa : Khrisna, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa atau percintaan Rama dan Shinta. wayang juga memberi tempat terhormat untuk sosok yang selalu memberi tawa ini: punawakan.

Dengan inipun saya tak bisa mengelak membaca wayang purwa dan babad tanah jawi, dan tak juga bisa berpaling dari epos i lagaligo.

saya akan membaca epos itu sebagai bahan cerita untuk generasiku kelak: ya, sekedar 'tamasya' pengetahuan.


Sunday, November 13, 2011

Suara sunyi pengamen tua

Petir menyambar-nyambar langit, hujan pelan-pelan turun ketika perempuan tua itu mengalunkan lagu dengan cara acapela-bermodal mulut dan tepukan tangan sebagai ‘musik pengiring’. Perempuan paruh baya, memakai jilbab lusuh dan pakaian kumal berdiri diantara tamu warung yang larut dalam santap malamnya, disisinya berdiri bocah berjilbab ungu yang penuh dengan noda. Bocah itu sekitar berumur tujuh tahun.

perempuan tua bernyanyi dengan gaya acapela, suaranya fals. Lagunya tidak istimewa seperti pengamen jogja pada umumnya—gitar, jimbe, tam, ditambah suara khas—ia hanya mengandalkan organ tubuhnya untuk menghasilkan bunyi *kita bisa bayangkan, bernanyi sambil menepuk tangan*. Lagunya pun tak bagus-bagus amat, lagu anak-anak tahun 90-an pula, saya pikir ia tak memiliki banyak referensi musik seperti Krisdayanti, Syahrini apalagi Ayu Ting Ting. Perempuan tua itu tidak memiliki bakat menyanyi saya kira. Kita tahu, selain bakat, menyanyi itu karena pejabat atau karena nekat. Saya pikir perempuan tua itu ada dibagian terakhir; nekat. Persoalan hidup/makan adalah faktor kenekatan untuk bernyayi dikeramaian. Perempuan tua itu punya semangat. Mengamen seperti ini tidak mempersoalkan lagi performance, nada, hapalan partitur bahkan malu. ia bernyanyi untuk mencipta harmoni dalam defenisinya, ia bernyanyi untuk usaha bertahan dari himpitan hidup. asal asap di dapur bisa kembali mengepul. mudah saja.

Perempuan itu terberkati berada diantara orang-orang dari indonesia timur—orang papua, sulawesi, timor, ternate—berkah dengan memanen banyak recehan. Anak kecil yang bersama dengan perempuan tua itu dengan sigap mengadahkan kaleng derma pada tamu yang sedang bersangtap malam. Seribu, duaribu telah terisi. Perempuan tua itu tidak lupa berucap “matur nuwun mas”, ucapan khas atas berkat nikmat yang sudi merogoh kocek.

saya yakin para tamu itu adalah mahasiswa kelas menengah atas. Maka tak ada uang koin keluar dari kantongnya. Biasanya makan ditempat seperti ini memang harus selalu siap banyak uang koin mengingat pengamen bergonti-ganti menawarkan jasa. (belum lagi banci yang terlihat lucu saat bernyanyi).

***
Hujan mulai reda, cahaya terpendar-pendar menampar aspal yang basah oleh hujan. Perempuan tua itu berlalu bersama rintik hujan. Ditemani bocah kecil yang masih lugu itu.

Bagi saya, ia memiliki alat produksi, halnya ungkapan Goenawan Mohamad, ia memiliki alat produksi pada tubuhnya; mulut, tangan dan kaki untuk menghibur.

Malam-malam selanjutnya ia mungkin tak lagi seberuntung malam ini. Yang bisa memanen ribuan derma dari tamu. Kenapa? Ia kalah dari pengamen lain yang memiliki harmonika, gitar dan suara yang khas. Kalo perempuan itu? tidak ada. ia terberkati dengan rezeki karena para tamu itu iba. Tamu-tamu yang baik hati itu saya kira iba melihat perempuan paruh baya bersama bocah lugu berharap derma. Ia terbantu dengan sebuah kerja keras yaitu bernyanyi dengan suara fals dengan tepukan tangannya. Tidak mengemis.

Dan bagaimana kita melihat ini? Bagaimana memandang perempuat tua itu yang rela menghabiskan waktu saban hari untuk mengais hidup?. walau disaksikan bocah lugu. ia tak ingin anak itu hidup seperti yang dialami, paling tidak mengulang kisah perempuan tua itu. menghilangkan malu dan bernyanyi dengan suara fals ditengah tamu warung. ya, perempuan tua itu pasti tidak inginkan itu.

Kisah ini adalah keseharian hidup orang kota atau kehidupan sehari-hari kita. Bercampur duka dan nestapa. Ditengah kehidupan yang memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup. survival of the fittest dalam terminologi Charles Darwin. Orang yang kuatlah yang akan bertahan hidup. perempuan tua itu harus kuat melawan derita dan kerasnya hidup. saya pun menerawang jauh, suaminya yang diharapkan untuk membantu mencari nafkah kemana? Entah.

Perempuan tua itu tentu tahu dengan takdir, gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Dalam keterbatasan ia tak lupa untuk mengingat-Nya. Filosofi jawa masih melekat sebagian besar di tempat ini juga perempuan tua itu. Ia tidak sendiri mengingatNya. Banyak yang senasib dengan dia. Tidak sendiri. Ia memang tak boleh pasrah pada hidup. apalagi kalah. Karena setiap hidup memiliki nada. sama dengan lagu yang dilantunkannya.

Kaliurang, di kilometer v 131111. Saat itu hujan rintik-rintik

Sunday, November 6, 2011

Mantra Penjinak

(foto ; koleksi pribadi #jogjaArt 2011)

Bagaimana dunia mantra sekarang, mampukah kita memahaminya seandainya kita tahu dan itu terjadi?

ini berhubungan dengan kepercayaan spiritual, percaya tak percaya. dalam rasional kita kadang hal-hal yang berbau mitos atau yang tak kasat mata membuat kita berada dalam persimpangan antara percaya dan tidak.

tapi ini yang terjadi, dalam kepercayaan apapun, semua berkaitan dengan mitos tak terkecuali dengan matra.pengalaman saya yang bertemu dengan seorang 'pintar' yang dalam bahasa kampung di sebut dukun memberi saya rapalan yang berbentuk bahasa daerah dan arab. orang pintar itu pasiennya lebih banyak mengenai asmara. "perempuan itu bisa tergila-gila kalau kau membaca mantra ini" kata orang pintar itu.

baca-baca (istilah kampungnya), semacam wirid yang diucapkan menjelang tidur, atau saat-saat pagi atau malam. di kampung biasa disebut dengan paseng-paseng anging (pesan-pesan angin), atau tempa-tempa pa'lungang (pukul-pukul bantal) dan masih banyak varian lagi. tanpa harus menggunakan tongkat (seperti Harry Potter) atau menggosok teko (dalam kisah Aladin dan Lampu ajaibnya). dengan membaca beberapa wirid kemudian meniupnya, angin lah yang kemudian membawa pesan itu kepada 'korban'.

E.B.Taylor, antropolog yang tidak pernah mengenyam pendidikan itu menganggap itu mitos yang berasal dari masyarakat primitif. bahkan asal usul agama dapat ditelusuri dari mitos ini. hal-hal yang berasal dari supranatural. mitos menghubungkan peristiwa khayali yang tumbuh dari kata-kata, cerita. Mitos juga sebagai pengubung ide-ide secara logis yang kemudian dihubungkan dengan fakta alam dan kehidupan dengan bantuan analogi dan perbandingan. cerita mitos akan ditemukan lebih lanjut dalam karya Taylor, Primitive Culture.
"orang-orang primitif percaya bahwa, meskipun dalam jarak yang jauh, mereka dapat melukai atau mengobati orang lain hanya dengan terbuat dari kuku jari, seikat rambut, sepotong pakaian, atau apapun yang memiliki hubungan dengan orang yang menjadi objeknya. (Daniel S. Pals, seven theories of religion).
tidak heran istilah vodoo bagi masyarakat Afrika, jampi-jampi/guna-guna/santet di masyarakat Indonesia sering terdengar. dalam masyarakat modern, biasa disebut hal-hal yang irasional, tapi tidak dengan masyarakat tradisional kalo tidak bisa dikatakan primitif, cara ini adalah cara rasional.

pengalaman pengetahuan ini dalam istilah Frazer dan Taylor, magi--didasarkan pada hubungan ide-ide dari sekumpulan pengetahuan manusia. bagaimanapun ide-ide menghubungkan masuk dalam realitas. mantra/jampi-jampi adalah contoh dari magi itu.

saya belum pernah mencoba walau sudah ada rapalan yang diberikan untuk menguji tuah 'ilmu' dukun itu. namun saya pernah mendapat pengalaman dari seorang senior tentang mantra yang dianggapnya berhasil, dikisahkan waktu itu di bukit bintang. senior itu termasuk tampan, gaya bicara seperti filsuf, dan sekarang berlabuh di benua pengharapan, Amerika Serikat.

sepenggal kisah dari satu pengalaman sebagai jalan terang yang kita sebut percaya (yang berbeda dengan keyakinan). matra atau sihir tidak harus disekolahkan (seperti kisah Harry Potter) namun berasal dari pengalaman dan pengetahuan, tentu mantra kita percaya sebagai sesuatu memiliki daya yang mengalir melalui benda; padat atau cair bahkan udara. karena setiap benda memiliki anima (roh), sama seperti kepercayaan umat Hindu, bahwa setiap jengkal tanah memiliki roh.

kalo boleh disamakan, antara animisme dengan dunia-dunia mantra atau sihir, maka ia adalah entitas yang sudah tua yang melekat dalam sejarah umat manusia.sezaman orang-orang yunani kuno yang percaya bahwa dewa-dewa adalah personifikasi langit, matahari, bumi dan kekuatan lain.

mitos kadang mengganggu nalar bagi kaum religius, tapi tidak dengan orang-orang primitif (walau istilah ini terlalu kasar) atau pelosok-pelosok kampung. tak heran pemahaman sinkretik ditemukan di kampung-kampung selalu bersemayam dalam diri masyarakatnya. ini terjadi mengingat masyarakat percaya bahwa setiap benda yang besar, pohon, gunung dan benda-benda dikeramatkan punya anima, punya roh. persoalan ini tentu tak habis hanya dengan penjelasan parsial.

sampai sekarang, saya masih menyimpan mantra penjinak dari orang pintar itu. antara percaya dan tidak. antara mencoba atau tidak. hanya untuk sekedar tahu, dan merefleksikannya dengan ungkapan teoritis saja. tak lebih. adakah pengetahuan tentang dunia 'lain' seperti itu masih dibutuhkan dalam lanskap masa kini?

Thursday, November 3, 2011

Dilema manusia akademik

Hari ini saya berkumpul dengan teman-teman kampus setelah lama berpisah karena kesibukan masing-masing. Entah sesibuk apa kami hingga pertemuan tak pernah intens lagi.

Semula hanya sekedar acara makan, namun entah, kemudian berubah menjadi acara ‘curhat’. Yang dibicarakan pun jauh dari soal curhat biasa (soal pacar, bola atau apasajalah) malah membahas tesis dan curhat tentang sulitnya pembimbing ditemui. saya pikir, suara teman-teman yang menyusun tesis itu adalah suara sunyi yang terdengar lirih dan hanya didengar oleh mereka sendiri (atau kami). Suara mereka tak didengar. Dan kami berkumpul di malam itu untuk saling mendengar, lebih dari sekedar acara ‘ngumpul bareng’.

Inilah dilema. Dilema akademik yang terus menghantui kampus, tidak terkecuali di kampus-kampus besar di Indonesia. Pembimbing memang telah sibuk. Dan tak lagi mendengar suara kecil dari teman-teman. Saya ingat kata-kata Gee bahwa dosen ibaratnya dewa, saya pikir pembimbing yang juga dosen itu adalah dewa.

Tak ada daya melihat semua ini, karena mereka hanyalah bagian kecil yang dibutuhkan dalam kelas sebagai pelengkap administratif/akademik. Bimbingan kadang seadanya (mungkin juga tidak dibaca), saya pun berasumsi, rendahnya kualitas karya akademik mahasiswa di Indonesia (bisa jadi) karena tidak ada perhatian yang besar dari pembimbing dalam membaca karya ilmiah anak bimbingannya.

Pendidikan hari ini memang tidak ada perubahan. Sejak saya kuliah S1 pun seperti itu. Ivan Illich yang dianggap pemikirannya radikal pernah bilang bahwa seharusnya kelembagaan pendidikan (sekolah, universitas) itu dihapus karena kurang realistis sehingga butuh perubahan radikal. Walau pemikirannya banyak mendatangkan simpati di dunia ketiga namun tak pernah ada yang mau menerima dalam bentuk penerapan ide Illich. di Indonesia pemikirannya masih sekedar simpati.

Kondisi pendidikan kita tak ubahnya mobil yang sedang ‘sakit’ dan butuh penyembuhan. Kita hanyalah penumpang yang tidak tahu arah dan tujuan si sopir. Teman-teman saya memang terlalu berharap untuk segera meraih master. Saya paham. Kuliah di kampus-kampus terbaik di Jawa memang bukan modal kecil. Semakin cepat selesai semakin baik. Tapi ketika kondisi dihadapkan seperti ini? Bimbingan jadi kacau balau. Lantas siapa yang mau di salahkan? Dimana mau curhat? Dimana mau mengadu dan dimana?. sebenarnya, teman-teman saya tidak harus larut dalam galau seperti itu (walaupun tidak ada yang salah mereka mengeluh). Toh, pendidikan memang mahal tapi pengetahuan yang didapat sedikit, malah mungkin lebih banyak pengetahuan diperoleh dengan membaca buku-buku atau diskusi di luar kelas. Seolah-olah pendidikan memang tidak demokratis.

Mengharap terlalu banyak pada pendidik (an) memang membuat teman-teman saya kecele. Saya ingat kata Manuel Kasiepo dalam majalah Prisma yang sudah lusuh, memberi terlalu banyak harapan (dan juga tuntutan) kepada pendidikan, dapat menyesatkan.

***

Tidak ada yang benar dari keluhan tentang pendidikan ini. Disini hanyalah suara-suara sunyi dari orang-orang yang mau cepat wisuda. Mereka tahu, berbicara disini hanyalah pelepas lara. Inilah curhat para akademikus yang tak berujung pangkal. Dari pertemuan inilah mereka merefleksi diri...


Wednesday, October 26, 2011

Reuni

Sebuah cerita. Teman P menjadi pekerja kantoran. Teman kedua, C pekerja Swasta. Teman ketiga A, tamatan STPDN yang bekerja di Papua. Teman keempat, E polisi hutan (konon ia slalu melakukan illegal logging) dan orang yang terakhir, Saya. Ya. itu saya yang terakhir. Sengaja menempatkan diri yang terakhir . Mengingat saya “kecil” di mata mereka. Kenapa? Mereka adalah pekerja. Sedang saya adalah pembelajar (mahasiswa) yang tidak tahu kapan menjadi pekerja.

Reuni sebagai nostalgia. Tiap yang lewat adalah lapis-lapis kenangangan yang digali kembali. Mengumpulkan perca-perca kisah yang dirasa hilang, terkubur kesibukan.

Tapi, reuni menjadi ketakutan bagi saya. Di dalamnya ada citra dan modal simbolik yang setiap pertemuan tidak lupa diselipkan. Baju, gadget, tunggangan. cukup? tidak. itu masih kurang. Kadang nyeleneh sampe urusan penghasilan dan jodoh. istri secantik apa? jabatan, udah kemana aja, gaji berapa?. Jenis pertanyaan ini yang sering muncul tanpa permisi.

(Kita tahu, reuni menjadi ajang memperlihatkan siapa kita, citra dan seberubah apa kita)

Saya mencoba larut dalam dunia para kerah putih ini, pengalaman sosial dicerita dari sabang hingga merauke juga. Serasa mengejar kebahagiaan yang begitu panjang. Sedangkan saya berdiri di titik nol. Saya sebenarnya ragu berkata bahwa saya ‘iri’ dengan kehidupan mereka saat ini. walau saya menutupinya.

Saya, yang berpura-pura merasa cair, bahagia dan larut dalam dunia mereka. Saya mencoba mengingat-ingat kembali masa silam ketika kuliah dulu bersama mereka. Saat menemukan mereka galau dalam menyelesaikan tugas akhir (terancam DO) dan saya adalah “penasehat skripsi (pembimbing di luar pembimbing utama dan teman sharing untuk skripsi mereka). Dan waktu berbalik sekarang, saya menjadi penonton melihat keberhasilan mereka. Saya senang ada sedikit andil saya secara tidak langsung terhadap keberhasilan mereka.

Saya melihat tak ada ingatan yang hadir dari sekedar basa basi “jika bukan bantuan kamu, saya tidak bisa seperti ini mas bro”. Pamrih? Lupakan soal seperti itu. itu hal remeh temeh. Tak ada yang musti dibalas. Saya hadir dengan mereka mendengar 'kenarsisan' mereka untuk bertemu dan saling mengenang. Bukan menagih imbal jasa.

***

Di pojok kanan, sekolompok muda kelas menengah tengah mengadakan pesta. Blackforest baru saja dikeluarkan dari kotak putih. Tidak ada yang berulang tahun. Nyanyian “happy birth day to you” pun tidak. balon-balon hias berwarna warni tak satupun ada. saya pikir itulah reuni. Pertemuan yang membuat mereka saling mengingat dalam suasana bahagia. di tempat ini, tempat menyatukan retak yang hilang. saya menyebutnya romansa.

Cipika-cipiki, merangkul, dan saling menepuk bahu melihatkan mereka larut dalam romansa. serasa menemukan yang hilang. Mereka memperlihatkan sesuatu yang harus ada : mengenang dan saling mengingat. Inilah reuni, menyatukan kenangan yang terserak tapi juga sebagai ajang ‘pamer’ citra.



Wednesday, October 19, 2011

Ksatria


Untuk saya, tak ada yang menulis lebih hidup tentang sosok ksatria selain Dee-Supernova dan Goenawan Mohamad. Ksatria dihidupkan Dee melalui tokoh Ferre, sedangkan yang satunya lagi Goenawan menghidupkannya melalui cerita wayang, perang Barathayudha—Pandawa dan Kurawa—Perang antara Arjuna dan Karna. Ksatria dari mitologi wayang itu seakan hidup di tangan Goenawan.

Tidak saja sebagai kasta lapis dua setelah Brahmana. Ksatria juga hadir dalam sosok berwajah gagah, berani, dan memiliki keluhuran budi.

Ksatria seperti halnya Dee yang melukiskannya dari percikan-percikan matahari. Dia adalah terang, dia juga yang dipuja-puja. Tokoh Ferre yang memberi nafas hidup pada Rana. Personifikasi matahari akhirnya terwujud dalam diri Ferre.

Dalam cerita yang lain. KSATRIA begitu hidup dan penuh kharisma dalam wujud liyan (other) : Basukarna. Karna dianggap liyan walau kita tau, ia adalah keturunan Ksatria, anak dewi Kunti. Karena hanya nasib membuatnya liyan dan tak dianggap. Ketika kebenaran dan kejujuran tak pernah dianggap ada. Maka Karna pun tak pernah dianggap ada. Dia adalah ksatria yang kesepian.

...Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna (Goenawan Mohamad, Caping-Yang Lain).

Untuk saya (Basu) Karna adalah ksatria. ia yang terbuang yang dipelihara seorang kusir yang miskin, Adhirata dan Nyi Nanda yang berkasta sudra.Kelahirannya dianggap aib dalam istana Astina. tapi tidak dengan orang tua angkatnya yang sudra.

Perang memang tidak terindahkan. Karna pun berhadapan dengan Pandawa dalam perang Baratayudha.

***
Sesuatu yang telah terjadi kadang disesali. Tapi tidak dengan Karna. Dia tidak menyesal, tidak pula menggugat ibunya yang meninggalkannya. Karna tahu untuk menilai masa lampau yang kejam, memiriskan, memalukan dan bahkan menyedikan diperlukan kearifan. Walau memang dibutuhkan sebuah alasan.

Bagi karna, alasan dibuat sebagai sebuah pembenaran atas kesalahan. Kata-kata arif dari Ksatria, Basukarna pun mengiris-mengiris rasa :
“seadainya hamba benar-benar putra dewi Kunti, apakah sang dewi tidak merasa tercemar yang mempunya putra yang tidak tahu balas budi? Hamba yang diasuh dari keluarga berkasta sudra, kemudian Kurawa mengangkat hamba menjadi Ksatria. Apakah budi baik itu layak dikhianati?. Ciri-ciri ksatria terletak pada budi luhurnya, bukan pada asal usul keturunuannya. Seorang bisa berkasta sudra bila dalam dirinya tak dapat membedakan budi baik dan budi jelek. Bila mereka menerima kebaikan, justru mereka balas dengan kejahatan. Sekali lagi maafkan...”
Ksatria bagi saya adalah sosok yang selalu kesepian. Tidak hidup dalam riuh-rendah kemewahan dunia. Kesabarannya melampaui luas hamparan bumi, kesadarannya setaat matahari.

Agaknya kata bijak Karna yang disitir dari Hoedi Soedjanto (Majalah Sarinah, 1991 : 43) dalam sebuah renunga banyak kita temui arti Ksatria—tak sekedar lapis-lapis dalam sistem sosial. Namun juga sifat dan keteguhan hidup. dari sini saya tidak akan semena-mena bahwa liyan, orang yang diluar kebaikan, namun memiliki sifat kenabian—bisa disebut Ksatria.

Agaknya Dee dan Goenawan Mohamad telah menulis dengan gaya memikat. Dan saya (akhirnya) terpikat dengan gaya Ksatria--cukup untuk terpikat--untuk mengikuti atau bahkan mencontoh Ksatria saya kira hanya day dreaming. Saya hanyalah penikmat dari setiap penggalan kisah para Ksatria.

Jogja 191011

Monday, October 3, 2011

Mencoba Bijak

Seperti manusia, semakin dekat dengan langit semakin pula ilham datang dengan mudah.
Saya lupa kapan tanggal, hari dan sumber tulisan itu. tapi saya masih ingat saya menulisnya dari salah satu sumber (lupa kutipan) beberapa tahun silam di tahun 2006. Saya agak beruntung, tulisan dalam bentuk catatan serampangan di buku harian itu masih bisa dibaca kembali. Di buku harian yang telah berjamur itu berisi banyak kutipan kata-kata bijak dari pemikir dan orang-orang hebat. Saya sengaja banyak mengutip, sekedar untuk melatih kebijaksanaan, bukan untuk gagah-gagahan.

Membaca kembali bait demi bait dari para bijak itu sebagai stimuli memasuki ruang terdalam di relung pengetahuan tentang kebijaksanaan. saya melengkapinya dengan membaca juga blog mistikus Gede Prama (mungkin mistikus yang inspiratif di tanah ini selain dia ada Jalaluddin Rahmat, Dimitri Mahayana, dan Anand Khrisna).

Tak lupa menyinggahi catatan pinggir esais Goenawan Mohamad dalam catatan pinggir (caping). saya tertuju di catatannya dengan tema “baik”. Diceritakan dalam caping itu, bercerita tentang tiga dewa yang lelah bertemu dengan wong, penjual air, di tepi kota. Para dewa itu sudah lama berada di bumi untuk menemukan seorang seorang yang baik hati tapi tak kunjung dapat, mereka sudah menurunkan firman namun yang ditemui hanyalah kekejian, tamak, culas dan mementingkan diri.

Kata “baik” sangat singkat untuk dijadikan sebuah judul. Hanya satu suku kata. Tapi itulah GM, selalu menulis hal-hal biasa namun memiliki kedalaman makna yang luar biasa.

***
Sehabis membaca beberapa blog mistikus dan esais, saya kemudian menemani teman lama mengunjungi pamannya yang juga aktif dalam dunia mistik (tasawuf) di Hertasning-Makassar. Lama bercerita, kemudian mengajarkan kearifan yang terkandung dalam dunia tasawuf, yang tumbuh subur seperti dunia tarekat itu.

Ia mengajarkan kearifan :
Hendaklah perbanyak zikir. Shalat lail (tahajud) dan mencoba dalam sehari untuk tidak berbohong dan bersifat sombong. Dengan itu akan membersihkan hati (mu).
Yang bisa saya lakukan hanyalah merenung sehabis itu. Mencoba meresapi kata demi kata dan menghela ion-ion positif. Tak muda menjadi baik. Tapi banyak cara untuk berubah. Setiap perjalanan memberi pelajaran. Dan saya mendapatkan banyak hari itu.

Tapi itulah sebagian manusia apalagi saya, hasil perenungan itu hanya mampu bertahan sekitar lima menit saja dan mencoba ‘insyaf’ hanya bertahan sebentar. Setelah itu hilang entah kemana. Kembali menjadi manusia angkuh, tega hati, sulit memaafkan orang, curiga, sombong, sok dan kata-kata yang bisa mewakilinya. Sifat tinggi hati biasa menghinggapi manusia seperti saya yang selalu merasa diatas angin. lupa berpijak ke bumi, down to earth.

Dari sini ada pelajaran yang kembali saya "minum" dari mata air kearifan. Belajar bijak untuk hari ini dicoba esok hari lagi.

Saya mengingat satu hal, bahwa kebaikan tidak bisa di daku semuanya. Katanya, kebijaksanaan itu seperti puzzle. Di dalamnya mengandung kesabaran dan pelajaran.

--mencairkan suasana dengan segelas teh ditemani Padi-Menjadi Bijak#S07-Terimakasih Bijaksana#One Republic-Good Life. Makassar, 091011


Wednesday, September 21, 2011

Cerita dari tanah tandus

Jam sudah menunjuk 17.30 WITA saat saya tiba di sebuah kampung. Tandus dan kering. Tampak rumah-rumah panggung berjejer rapi, terlihat sudah mulai menua. lenguh kerbau dan suara bendi (dokar)--hentakan kaki kuda yang memakai gerincing--menimbulkan suara ritmik, seperti penari India yang memainkan kakinya.

Tak jauh dari jalan aspal, di sawah yang kering itu, sekelompok bocah bermain bola. Walau waktu sudah beringsut menemui malam, tapi tak ada tanda-tanda mereka berhenti bermain. Suasana yang dulu pernah saya lakukan saat kecil dulu. Bermain bola sampai lupa waktu.
Di atas bukit, suara bedug magrib keluar dari Surau kecil. Adzan dikumandangkan. Saya hampir tiba ditujuan. Di rumah Bonda (tante).

Ada yang belum hilang dari ingatan saya, orang kampung masih seperti itu. tak banyak berubah. Masih hidup dalam garis-garis kemiskinan. Walaupun saya harus hati-hati mendefenisikan kata miskin itu untuk masyarakat itu (orang kampung kadang tidak mau disebut miskin).

Disini, pemuda kampung banyak tingkah. Kultur dan pendidikan mungkin berpengaruh. Saban hari mereka hanya minum ballo’ (sejenis tuak). Saya pun disuruh mencicipi, saya tak bisa. Tak biasa. Dengan halus saya pun menolak. Caranya? mengeluarkan beberapa ribu rupiah sebagai bentuk penolakan dengan halus (bisa disebut saweran atau jatah preman). Saya pun undur pamit. Bukan tidak mungkin, habis minum arak, mereka akan cari perkara.

***
Malam makin tua. Suara anak-anak muda kampung terdengar lirih tersapu angin. Lagu Broery Pesolima pun di dendangkan. Angin Malam judul lagunya. Saya tahu lagu itu, lagu kenangan yang selalu dinyanyikan di rumah bernyanyi atau tiap acara hajatan. Lucu juga, mereka pemabuk tapi menyanyikan lagu kenangan. Kontras sekali saya pikir. kelakuan boleh rocker tapi hati tetap Broery. Heheheh...

Lucu juga mereka preman kampung itu. Bersama tuak dan bebek panggang dipadu lagu kenangan. sebuah perpaduan sempurna. malam itu serasa milik mereka.

Di kampung tandus ini, orientasi lebih pada hura-hura. Anak muda tidak mau lagi bekerja di sawah, sedangkan orang tua mereka sibuk membajak sawah atau berkebun atau menjadi buruh. Anehnya, mereka tidak punya orientasi masa depan. Saya pikir mereka terbuai dengan suasana tiap hari dengan minuman keras itu.

***
Saya lelah melanjutkan note. besok-besok cerita dari tanah tandus ini terangkum lagi. memposting kisah dan foto-foto terbaru.

Saya mulai merindukan Ungu, 200911

Sunday, November 14, 2010

Catatan akhir

Catatan Akhir BPO (yang datang, yang pergi)

Assalamu alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita semua

Perkenankan kami melaporkan kondisi obyektif BPO,
Tidak ada yang abadi kecuali perubahan. mengarungi waktu kurang lebih satu tahun sejak kami dimandat menjadi BPO (Badan Perimbangan Organisasi), tidak terasa tiba saatnya untuk memberikan sedikit torehan sebagai tanggung jawab dan juga pengabdian terakahir baik kami sebagai BPO yang pernah ada di KEMASOS maupun kami sebagai senior. Perkenankan kami meretas laporan obyektif BPO dengan nama “Catatan Akhir BPO ( yang datang yang pergi).

Mungkin terlalu bombastis kami menulis laporan obyektif. Namun, itulah kami BPO yang berani ungkapkan rasa.

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.