Showing posts with label Essai Pinggiran. Show all posts
Showing posts with label Essai Pinggiran. Show all posts

Wednesday, August 10, 2011

Candi kecil

....Agama dimulai dengan senyap. Tak seorang pun hadir di dekat Budha malam itu. Setelah enyah balatentara Mara, gergasi gaib yang mencoba mengusiknya, Budha melanjutkan meditasi. Akhirnya sampailah ia pada “ empat kebenaran luhur[….] ada ungkapan (tidak) diam dari Goenawan Mohamad di catatan pinggirnya.

Borobudur jangan dilihat sebagai candi-tumpukan batu--tapi kumpulan kitab (Manuel Subangun, Sosiolog & tokoh sastra Jawa kuno)

Kesempurnaan tertinggi dalam Nirwana. mencapai kebaikan-kebaikan tertinggi


Buddha (Sansekerta) - yang mendapatkan pencerahan sejati --wikipedia.org (koleksi pribadi

Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian. (Dhammapada 277)

Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian. (Dhammapada 278)

Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 279)

dikutip (langsung) http://www.bhagavant.com/home.php?link=dhamma_sari&n_id=53


Ganesha sebagai manifestasi kecerdasan dan pengetahuan tuhan (koleksi pribadi)
-----
# foto : koleksi pribadi
# narasi : Caping--Goenawan Mohamad & www.bhagavant.com

Thursday, July 28, 2011

Melankoli Pagi


"Morning is god’s special gift. In is quitness u can hear murmurs of life coming. The first light is like resurection".
Goenawan Mohamad (GM), sejak pagi hari mulai “berkicau” di twitter. Tidak beda dengan kuliah subuh atau khotbah, atau kultum. saya anggap saja demikian. biasanya dalam khotbah ataupun kultum--beberapa kata namun penuh khidmat. Tidak beda jauh yang ada di tv atau media lainnya.

Kicauannya yang dirangkum menjadi buku itu bertema—Pagi dan Hal hal-hal yang Lain, Sebuah Epigram, Kompas 2011—membuat pagi begitu penuh paradoks. Disadari memang, dalam epigram itu—mengajak kita untuk tidak menerima hidup apa adanya (dimaknai), epigram tidak saja sebagai prosa singkat namun menjadi kata-kata dengan sindiran, kearifan yang terkadang mengandung paradoks. Inilah yang ada dalam epigram GM itu.

Yang menarik disini adalah, mengapa GM memilih kata “pagi”? bukan “siang”, “sore” atau “malam” ? mungkin disini letak hebatnya GM, pagi yang terkadang sebagian orang tidak punya makna, namun di tangan GM persitiwa pagi begitu istimewa dan terkadang romantis. Mungkinlah pagi itu istimewa bila di tangan GM. Entahlah. Saya mencoba memetik epigram yang dirajut dan terangkum dalam catatan GM itu.
Pagi terbaik datang tanpa sisa mimpi—dan hari bisa dimulai dengan harapan.
Tentu pagi yang dirasakan GM berbeda dengan saya, orang lain, dan kita—tak sama sekali sama, tak akan pernah karena hari tidak pernah mengulang kisah yang sama. Mengolah indra adalah mengolah rasa. GM telah mewanti-wanti itu “dengan itu kita mengalami, menyaksikan, mengamati, dan merenungkan kembali pengalaman” . Apa yang kita rasakan akan sama sekali berlainan dengan orang lain.

Pagi menurut esais Catatan Pinggir itu adalah “pemberian”. Tidak berlebihan jika dia berkata itu. Di tempat yang jauh—di kampung. Pagi bisa menjadi sumber ilham dan sumber inspirasi bagi kebanyakan orang. Lihat saja di kampung. Orang-orang desa itu. Sejak subuh hari selepas bermunajat, bergegas mereka di pagi buta bertebaran mencari hidup dan bekerja.

Tak terkecuali Pagi pula adalah awal kehidupan mahluk hidup setelah sekian jam terlelap. Dan disitulah roh dikembalikan ke dalam jasad. Memulai hidup di pagi hari.

Pagi untuk sebagian orang adalah hal remeh temeh. Tapi tidak dengan Goenawan Mohamad, dalam catatannya dan kicauannya yang menghiasi twitter, pagi adalah tempatnya menyemai ion-ion positif. Tapi begitulah dia, hal sepele bisa menjadi hal yang luar biasa.
Yang paling melegakan dari pagi, seperti pagi ini adalah sejuk. Meskipun tak terasa harum kemuning yang semalam tertimpa hujan.
Kadang ia dengan metafora merajut dan meramu alam sedemikian dekatnya.

Saya coba bersiul memanggil angin, daun-daun praktis diam. Burung-burung hanya lewat. Tapi pagi pagi tetap sebuah prelude ringan, sebelum hari memberat.
Tema waktu memang tak bisa dilepaskan dari “pagi”, ia awal dari waktu. Ia bisa menjadi sesuatu yang lain, tidak bersahabat tak punya rasa kasihan. Saya ingat cerita itu, ketika Bandung Bondowoso gagal menaklukkan hati Loro Jongrang. Pagi adalah penanda besar dari cerita yang romantis sekalgus penuh kesia-siaan itu. jika tak ada bunyi tumbukan lesung padi, kokokan ayam—penanda pagi—tak ada cerita kesiaan hari itu, namun “pagi” adalah epilog dari Prambanan. tentang waktu yang tidak bisa ditaklukkan. sekuat apapun Bandung Bondowoso dengan bala tentara Penggingnya.

Dikisah yang lain, pagi dihidupkan kembali oleh GM melaui daun-daun dan burung-burung.

Mimpi bukanlah sisa keringat pada pagi hari. Ia hasrat yang menunggu siang. Setelah burung pergi.
Dan ia menambahkannya

Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan
Saya selalu merasa matahari pagi dan bau cemara hutan tak pernah mengulangi yang mereka berikan.Pagi : burung-burung terus saja sibuk, tanpa memilih sikap, tanpa dilema,mungkin juga tanpa harap dan kecewa.
Pagi terkadang punya melankolinya sendiri : saat sejuk yang menandai bahwa istirahat, seperti nikmat, hanya sebuah jeda.[...]

Mungkin epigram ini adalah penghias setiap kehidupan.Goenawan Mohamad begitu dekat dengan nuansa pagi. tidak ada yang salah andai bisa merasa, menikmati, memaknai, dan mengolah rasa saat-saat pagi di hari-hari kita. Jika memang tidak bisa, mungkin kita bisa mencari jawabnya pada Goenawan Mohamad dalam epigramnya.

saya harus mengucap selamat pagi dengan mewakilkan epigram GM

Selamat pagi, penjual roti yang lewat dengan bunyi yang itu-itu juga. yang rutin,yang terus menerus, yang sabar adalah air yang membentuk batu [...]

* foto : koleksi pribadi #lukisan anak-anak korban Merapi

Yogyakarta, 280711

Sunday, July 17, 2011

Nostalgia Terhenti di Alun-alun Selatan

Seakan waktu terhenti di alun-alun selatan. Dibawah padang bulan, saat mengenang masa-masa silam. masa kecil dulu. Nostalgia kanak-kanak itu hadir kembali di lapangan yang selalu ramai itu. Yang membuat kembali mengenang masa kecil tidak lain ketapel lampu berwarna itu. tak habis waktu, berjam-jam melepaskan ketapel berbentuk seperti baling-baling bambu dengan aksesoris led biru, hijau dan merah.

Tak heran jika ketapel berlampu itu laku keras. Yang memainkannya tak lagi mengenal usia : anak kecil, dewasa hingga orang tua tak ketinggalan meluncurkan ketapel itu. saling berlomba. Berlomba-lomba meluncurkan ketapel paling tinggi. saya dan sahabat kuliah sayapun tak ketinggalan mengadu ketapel. Beradu paling tinggi. Kepala memang pegal mendongak keatas. Tapi taburan warna led yang dipancarkan ketapel dilangit itu menyudahi lelah kami. Tak berfikir lagi capek. Sampai jam demi jam terlewati. Larut dalam euforia. Romantisme kecil dulu.
Bermain dengan ketapel atau baling-baling bambu berarti mengikat lagi masa lalu yang penuh dengan kenangan. Membawa pada 25 tahun yang lalu buat saya. Bermain ditanah lapang di bawah padang bulan. Berlarian mengitari lapangan padang rumput di kampung.

Saya tidak tau padanan kata yang cocok untuk menyebut ketapel berlampu itu. untuk saya dikampung menyebutnya patte’. Yang bergagang dengan karet sebagai pelontar. Biasanya ketapel itu dipakai untuk menembak burung. Tapi di alun-alun selatan, ketapel ini kemudian dikomodifikasi menjadi sarana hiburan. Dibuat seperti baling-baling bambu dan disisipi led warna warni.

Ketapel berlampu itu memenuhi langit di alun alun selatan, bermain di bawah padang bulan menambah suasana khidmat malam itu. saya takjub, ternyata ketapel berlampu ini tidak hanya menjadi mainan orang kecil, namun orang-orang bermobil, BMW, Merci, dan mobil mewah lainnya ikut bermain. Malah ada yang rela meninggalkan pacarnya di mobilnya hanya untuk bermain ketapel lampu itu. Ketapel berlampu kisaran Rp.5000 sampai Rp. 8000 tergantung bahan.

Saya tidak tau, sampai kapan ketapel berlampu itu akan bertahan. Tapi malam itu menghabiskan waktu berlama-lama dengan hanya untuk melepaskan ketapel. Seperti meluncurkan anak panah ke angkasa. Tarikannya begitu keras. Tapi bagi kami, waktu akan terulang bermain-main seperti ketika kecil dulu. Di alun-alun selatan itu.

Yogya-Alunalun selatan, 1707011

Friday, July 15, 2011

Hasrat Kota Tua



Selalu ada cerita disetiap perjalanan. dan ini yang saya rasakan selama mengunjungi kota-tua itu, saat mata tertuju bangunan-bangunan tua bergaya eropa. Bermula dari Benteng, kantor pos, bank, dan jalan-jalan masih membekas sentuhan oriental.

Kota tua sebagai jembatan masa lalu. Memandangi lanskap bangunan yang masih nampak terawat membawa pada masa-masa silam. setidaknya mengenang.

Kota seperti yang diceritakan Walter Benjamin yang oleh Baudeleire disebut flaneuer (Kalam Edisi 2002 hal : 11). Dengan menelusuri kota, menenggelamkan dirinya kedalam kerumunan orang, menggunakan bentang kota sebagai landasan untuk menerbangkan imajinasi.

Agaknya memang demikian, kota tua menjadi sumber imajinasi dari waktu-waktu yang silam. Mencoba beromantisme, setidaknya orang yang pernah merasa perubahan kota dari waktu ke waktu. Dalam cerita flaneur menunjukkan bahwa dulu, pejalan kaki bisa menikmati jalan-jalan arkade. Pada zaman kolonial, dikatakan bahwa berjalan di sore hari hanya dengan menggunakan piyama. Tentu sekarang tidak lagi ditemukan itu. itu hanya ada dalam foto. Sebagai sumber yang tersisa yang bisa dinikmati.



Jembatan Masa Lalu


Tidak berlebihan jika kota tua adalah jembatan masa lalu. Satu hal yang selalu saya lakukan ketika ingin mengenang masa lalu, tentang masa-masa perjuangan, maka lari saya hanya satu : berkungjung ke Benteng Vredeburg, tidak jauh dari Malioboro. Diperempatan, sebelum menuju alau-alun, disisi jalan bangunan tua, dari Gereja, Kantor BI, hingga Kantor Pos peninggalan Belanda. Takjub dengan bangunan berusia ratusan tahun namun masih terjaga.

Di benteng Vrederburg disisi kiri sebelum masuk dalam ruanga diorama, nampak Sukarno dengan gambar besar menempel di dinding. Tepat di bawah, ada bel-orang tinggal memencet bel, maka suara proklamator Sukarno akan keluar melalui pengeras suara. kenangan lama yang sudah lama terkubur digali kembali. dengan sepeda onthel, topi priyayi, dan diorama serasa hidup dimasa-masa kolonial.

Namanya saja negera terjajah, bangsa ini dipenuhi dengan arsitektur bergaya eropa. Padahal di India, ada arsitek bernama Charles Correra menolak mentah-mentah bangunan bergaya eropa karena tidak sesuai dengan ciri khas orang India. Bangunan Indonesia dibuat tinggi-tinggi mengikuti model barat sampai hari ini. Padahal dulu kota-kota tua sangat jarang dibangun model-model bangunan tinggi. mungkin penjajah pelit dalam membangun bangunan-bangunan bergaya eropa dengan nilai estetika. Walaupun itu, bangunan bergaya Eropa, seperti kota tua di Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Solo masih sering ditemukan.

Bagaimanapun kota adalah sebuah ruang. Dan ruang adalah ruang menurut Marco Kusumawijaya (jurnal Kalam, 2002). Ruang bukan sekadar latar bagi obyek. Ruang menjadi kehidupan bermasyarakat di dalamnya.

Itulah ruang kota. Terlebih ruang dalam kota tua-menjadi jembatan masa lalu ke masa kini. Kota tua hidup dalam waktu yang diciptakan didalamnya. Wajah kota memang akan berubah dan berubah. Yang ada sekarang bisa saja terganti (kota tua tergusur atau tidak terawat), besok atau lusa atau nanti kota tua menjadi suatu penanda waktu yang silam.

Yogya 150711

Saturday, July 9, 2011

Kuntowjiyo dan Ilmu Kenabian


Malaikat bertanya,

Apakah aku ingin berjalan diatas mega ?

Dan aku menolaknya.

Karena kakiku masih di bumi

Sampai dhuafa lepas dari keterpurukan

Sampai mustadafin diangkat oleh tuhan.
(dibacakan oleh istri Kuntowijyo, Gedung Lengkung 2011)

Suara ibu Kunto, demikian istri untowijoyo akrab disapa-menahan sedih membacakan sajak di saat masa-masa akhir kebersamaan bersama Prof. Kuntowijoyo. ia seakan tak kuasa melanjutkan bait sajak yang ditulis oleh suaminya.ada perasaan tertahan, tapi air mata tidak habis berderai. haru nampak nyata dalam diskusi itu, serasa larut dalam sebuah elegi.

Kembali menghadiri diskusi Great Thinker-“Kuntowijyo dan Ilmu Sosial Profetik”.sekolah pasca kali ini. Menghadirkan murid-murid Kuntowijoyo. Murid langsung Kunto, Prof. Bambang Purwanto (Guru Besar FIB UGM) dan murid tidak langsung Prof. Purwosantoso (Guru Besar Ilmu Politik UGM).

ini seperti diskusi dalam konteks romantik bulanan kali ini di gedung lengkung sekolah pasca dengan tajuk-Great Thinker. pemikir besar setiap bulan di hadirkan. menghadirkan karya-karya pemikir Nusantara.

kembali ke Kuntowijoyo. sederhana untuk mengungkapkan untuk dia : Mengagumi. Menjadi pengagum dari novel dan buku-buku yang dia hasilkan, mantra penjinak ular, dilarang mencintai kupu-kupu, khotbah di atas bukit adalah beberapa dari novel yang telah dihasilkannya, belum termasuk buku-buku ilmiah yang dikarangnya semasa aktif sebagai dosen.

Mengenang dalam konteks romantisme bersama pemikiran Kunto mungkin pas di daras disini. Kuntowijoyo adalah sumber ilham. Membahas pemikirannya berarti membahas pula ilmu atau islam profetik-nya.

Menjelang usia 50 tahun, Kunto mencetuskan ilmu sosial profetik. Seakan tidak punya kata-kata lagi melukiskan sosok yang satu ini, dia bisa disebut sastrawan, ilmuan, sejarawan dan cendikiawan. Seakan menjadi sosok komplet.

Ia selalu hadir dengan ide-idenya. Begitulah inti pemikiran kuntowijoyo. Sejarah sebagai sebuah petualangan. Selalu mengandung resiko. Demikian juga pemikiran yang dicetus Kuntowijoyo, ilmu sosial profetik-Mengandung resiko karena akan berhadapan dengan hegemoni pengetahuan, terutama posititivitik.

Ilmu profetik mencoba menawarkan pendekatan baru, bahwa roh pengetahuan semustinya berlandaskan pada ketauhidan dan kemanusiaan. Inti dari profetik adalah mendaras konsepsi tentang transendensi (ketauhidan), liberasi (pembebasan) dan humanisasi (kemanusiaan). Perjuangan keilmuan sekarang kadang sebatas pada konsep liberasi namun memisahkan konsep transendesi dan humanisasi. Profetik ala Kunto menjembatani tiga aras itu.

Tapi bagemanapun, ilmu profetik sebenarnya memiliki kandungan makna sebagai sebuah alternatif, namun jadi masalah adalah jika ia dibuat semacam metodologi ataupun mahzab, walaupun tidak ada yang tidak mungkin. Namun, diantara hegemoni ilmu-ilmu dari luar, pendekatan profetik masih akan menjadi pertarungan memperebutkan ruang dalam diskursus pengetahuan. Dan ini penting sebagai alternatif baru dalam khazanah pengetahuan di Indonesia.

Sebuah paradigmabaru yang ditawarkan memang tidak akan mudah dari hegemoni mahzab dari luar.tapi setidaknya ada ruang yang direbut disitu. Murid-murid kunto sadar, bahwa ilmu sosial profetik itu rentan (fregile) terhadap hegemoni ilmu-ilmu positivistik.

Mungkin disini, Kuntowijoyo mencoba berkata bahwa ber-ilmu dan ber-agama sama pentingnya.

Jogja, 230611

Friday, July 8, 2011

Seribu Janji

konon karena orang suka berjanji dan dijanji, maka janji bertebaran di mana-mana. tidak hanya dalam urusan asmara orang suka berjanji, dalam urusan utang-piutang orang senang menjanji, tapi yang menarik sekarang adalah urusan janji-menjanji dalam politik.

syahdan, peristiwa ini kembali saya temukan di daerah Lampung saat penelitian di salah satu daerah. janji-menjanji kembali dimunculkan pada pilkada yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

toh, dengan trauma masa pencalegan-2009 masyarakat tidak kapok dengan janji para penjanji (kandidat). inilah yang mungkin bisa disebut masyarakat tanpa kesadaran kritis (kesadaran palsu) menurut Marx, entahlah. tapi dengan trauma janji ini masyarakat masih suka dijanji.

dalam masyarakat yang suka dijanji ini, masyarakat terbuai dengan nuansa utopis dengan harapan janji akan terpenuhi.

"dulu pada saat pilcaleg, kami di janji lampu jalan mas, tapi setelah kandidat itu terpilih, kami menagih janji malah kami yang di cuekin"
cerita mas Ngatimin itu hanyalah sebagian kecil dari cerita pahit dari janji-janji. karena banyaknya janji yang ditebar, tidak heran jika ada lagu milik Broery Marantika, tinggi gunung seribu janji. janji hanyalah janji. janji tinggal janji.

jancimu taroe, dalam frase bugis dilukiskan jika janji tidak ditepati. janji tinggallah janji.

"Bukan janji namanya jika ditepati."
itulah adigium yang sering dimunculkan. janji itu bernama jika tidak dibuktikan. seribu janji melukiskan sesuatu yang jamak, (saya pun tidak luput dengan suka men-janji). termasuk janji manis dari seseorang. seribu janji seperti membilang yang banyak, tak terhingga, seperti seribu bintang, seribu kata-kata. tak terhingga.

***

menjanji dan dijanji adalah sebait pemanis kata untuk menyenangkan hati. orang paling senang dengan janji. yang memiriskan ketika terbuai dengan janji akhirnya larut dengan janji-janji.

perasaan ini kemudian bisa memunculkan bahwa ternyata janji itu bisa memuat kepalsuan. menjadi semata-mata "pil penenang" dalam ketakpastian kehidupan manusia. bagemana dengan orang yang suka menjanji ? entahlah. tapi disini dalam pemahaman bodoh saya dapat melihat bahwa ada keinginan untuk menepati. tapi keterbatasan waktu, dana dan ruang meluruhkan janji itu dan akhirnya menguap.

ada perasaan bersalah bersanding dengan perasaan tidak enak hati. disini orang mengalami dilema. agama dan nilai-nilai kejujuran seakan-akan ditempatkan pada tempat yang jauh sambil mengharap mendekatkan diri dari tempat itu : karena tuhan maha pengasih dan penyayang. manusia sadar bahwa janji adalah utang, dan utang menjadi dosa jika tak terbayar. dan dosa tempatnya di NERAKA. cerita itu seakan-akan sekedar menakut-nakuti. maka percuma ceramah agama, beribadah tiap waktu dan bermuka lugu dan religius. entahlah!.

tentu permasalahan menepati janji tidak semudah dibayangkan, sejauh pemenuhan materi dan degradasi masyarakat jujur (dishonest society) masih belum terpecahkan. seakan-akan kejujuran adalah sebagai "hantu" yang kadang kala di musnahkan namun dalam waktu yang lain dibutuhkan kehadirannya.

imbasnya adalah, terpaksa diperhadapkan pada kemunafikan yang kemudian menuntun seseorang untuk bersandiwara dalam hidup.

mungkin Goffman dalam panggung belakang dan panggung depannya dalam Dramaturgi bisa dikutip disini. manusia dalam mewarnai realitas sosialnya ibarat me-lakon-kan peran dalam sebuah panggung sandiwara.

lidah memang tak bertulang

tak terbatas kata-kata

tinggi gunung seribu janji

lain di bibir lain di hati

lagu Broery Marantika ini mungkin bisa menjadi penawar dari janji-janji itu.


Lampung menuju Jogja, 080711

Sunday, June 26, 2011

Kisah perempuan pembawa coklat...

“wanita harus membayar utang kehidupan ini bukan dengan apa yang ia kerjakan, tetapi apa yang ia derita. Ia harus merayapi hidup dalam penderitaannya karena hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya” (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI : 2007).
Dengan mengutip filsuf Schopenhauer, Sindhunata mencoba melukiskan kisah perempuan di Kramat Tunggak, Jakarta. Saya mencoba menghubungkan kisah perempuan dengan dunia yang berbeda, kisah yang berbeda dan persoalan yang berbeda pula. kisah perempuan yang lain itu terjadi rumah makan di Raminten.

Tentu kita bisa saja tidak bersepakat kata-kata pesimis Schopenhauer diatas itu. Apalagi ditengah wacana emansipasi perempuan saat ini. serasah tidak menarik.

Tapi ada yang menarik sepotong kata dari kalimat Schopenhauer itu.”...hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya”. ada peristiwa yang mengharukan sekaligus menggugah di suatu malam di rumah makan Raminten Yogyakarta. Saya tidak sendiria malam itu, bersama teman-teman asrama.

***
Naluri ke-ibu-an mungkin menghendakinya demikian. Ia menyusuri malam-malam sambil menjajakan coklat yang dibuat dengan tangannya sendiri. Tak ada yang lain, perempuan itu berusaha dan tak mengenal waktu untuk kesembuhan putrinya yang terbarin sakit.

Dengan nada yang datar dan sopan, perempuan itu menyodorkan coklat buatan tangannya pada kami. “nuwun mas, saya menawarkan coklat untuk pengobatan anak saya yang sakit”. Coklat dengan kemasan cantik dengan rasa almon dan mete memang menarik hati. Tap harga yang kurang sreg membuat kami saling memandang. Bukan harga murah untuk kalangan mahasiswa. Tapi ada kata-kata pamungkas yang membuat kami empati, larut dalam dunia yang ia rasakan.

“untuk berobat anak saya, ia sekarang di rumah sakit, kena lupus mas”.
Kesedihan nampak di raut wajahnya tapi berusaha tegar. Hanya itu yang ia mampu. Ia mencurahkan hati dan tenaga untuk anaknya. Pukul 12.00 malam, Raminten tak menandakan sepi, padahal malam dinginnnya malam itu menusuk-nusuk tulang. Kidung Jawa masih mengalun dalam keramain tempat itu, remang cahaya lampu-lampu mengikuti nuansa kidung itu, mengikuti kisah perempuan itu : sepi

Perempuan itu berkeliling dan berpindah, dari meja ke meja. Ada yang hirau juga ada yang tak hirau. Ada yang menampakkan wajah kusam ketika dihampiri, seperti memberi isyarat mengganggu selera makannya. Dunia memang kadang paradoks. Ketika menyadari manusia dalam ketidakberdayaan, ada juga yang tak iba. Tak ada yang salah dari wajah-wajah itu. toh setiap manusia tidak selalu menjadi dermawan dalam setiap waktu. Termasuk kami. Yang kami lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.

Seakan perempuan itu merasakan sepi dimalamnya. Sepi mengiris hatinya. Mengingatkan anaknya terbaring sakit dan tak mampu akan biaya. Negara pun alpa ketika dibutuhkan. Ia menyadari negara tak ada ketika ia membutuhkan. Maka ia menggunakan akal sehat dan tenaganya untuk bisa memberi harapan pada putrinya : kesembuhan.

***

Sesampai di kost, tak menunggu lama untuk membuka google dan membuka seperti apa penyakit lupus itu. sederhana, dengan keyword "lupus", akhirnya muncul 894.000 entry. Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh (http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz1PkHxg0wE).

Cerita ini adalah sebuah pengalaman hidup tentang arti perjuangan ibu yang menginginkan anaknya sehat dan bermain riang dihalaman rumah. Dengan segala cara, menjajakan coklat hasil buatan tangan ditengah malam buta dan dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Pada akhirnya, coklat berisi almon dan mete itu akan melanglang ditengah malam yang menggigit meminta belas kasihan dari derita yang dihadapi. Terbaring, tak berdaya. Ironisnya, dengan itu ia membimbing dirinya di malam buta hanya sekedar untuk kesembuhan anaknya. Inilah mungkin yang disebut naluri, naluri perempuan sekaligu ibu.

Yogya, 250611



Saturday, June 18, 2011

Khotbah kebudayaan Mahfud MD

Rektor UII

Khotbah Kebudayaan oleh Prof. Dr. Moh. Mahfud MD

Penyerahan buku yang diterbitkan PSI UII


saya beruntung hari ini mendapat undangan edisi terbatas menghadiri khotbah kebudayaan Prof.Dr.Mahfud MD, Ketua mahkamah konstitusi itu. tidak hanya mendapat bingkisan begitu banyak buku. namun pidato ilmiah Mahfud sangat menggugah.

khotbah kebudayaan peringatan 1 Dasawarsa Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu mengangkat tema "mendaras Islam yang rahmatan lilalamin : memahami kemajemukan agama dan budaya dalam bingkai keindonesiaan".

saya melupakan satu kesempatan menulis pidato Mahfud dengan begitu sarat pesan religius dan humanis. point penting saja yang sempat terekam dalam benak.

...Pluralisme musti diterima dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.mengapa ? karena, pertama. manusia diturunkan berasal dari satu sumber(adam-hawa) kemudian seiring perjalanan hidup, manusia kemudian berpencar-pencar,kita harus menerima itu sebagai suatu sunnatullah. kedua, melihat pluralisme harus mencari persmaan bukan dengan melihat perbedaan. sebabnya melihat persamaan akan melahirkan kerukunan. ketiga. toleran. setiap agama memiliki sikap hidup untuk toleran dengan agama lain. prinsip beragama ini penting dalam merajut perdamaian...

saya bersyukur kembali bertemu dengan orang-orang besar. setiap waktu bertemu dan mengekstraksi pengetahuan dan pengalaman saya selama di Yogya.

tidak lupa, kudapan, tumpengan tak lupa dicicip. dan keberkahan hari itu juga bungkusan buku yang jumlahnya tidak sedikit : 6 eksemplar melengkapi khobtbah kebudayaan itu.

*selamat untuk milad Pusat Studi Islam (PSI) UII. matur nuwun mas Imam Samroni tuk undangan dadakan dan bundelan bukunya.

yogya, jumat 170611

Thursday, June 16, 2011

Untunglah, masih ada tawa


Ditengah orang-orang yang malas tertawa, bocah peminta itu mencoba tertawa. Di perempatan lampu merah itu sambil menenteng kaleng derma. Selaksa tawa pun memecah bersama teman sebayanya seraya mata menatap awas di kerumunan kendaraan yang berlalu-lalang. Ada yang hadir ditengah realitasnya yang galau. Ironis skaligus tragis. Mencoba tertawa dalam galaunya hidup dan serba susah. Ia mungkin berfikir, hidup sudah susah jika diri ikut susah maka dunia yang datarlah yang hadir. Tak memiliki warna.

Hati siapa yang tidak bergetar menyaksikan realitas bocah peminta itu ? tidak terkecuali saya. Saya pun larut dalam dunia yang ia ciptakan. Bahagia dalam dunia yang ironis nan penuh tragedi ini. Saya mengambil pelajaran waktu itu, bahwa dengan kepapaan tidak berarti tak ada lagi tawa. Karena tertawa memberi rangsangan hormon endorfin memompa tubuh untuk bahagia. Ia menyadari, yang ia miliki adalah adalah kaleng derma dan segurat tawa menemani perjalanan panasnya siang dan dinginnya malam. Sebuah paradoks.

Kisah ini membuat saya mengingat lagi Sindhunata dengan ilmu nggelthek-nya (2004). Tertawa menyimpan banyak rahasia dalam hidup. Sindhunata memberi nafas pada kisah bocah peminta itu, ketika manusia tertawa, itulah saat dimana “surga sedang menyentuh hati”.

Saya berasumsi, hari-hari yang ia lalu bisa jadi berat, penuh beban, tak seperti anak sebayanya yang kaya, membosankan dan monoton. Namun ia memiliki perasaan untuk selalu bahagia : perasaanya untuk tertawa dan menertawakan realitas. Ia hidup dalam dunia humor yang diciptakannya. Sepertinya tertawa lagi menjadi obat murajab itu, bocah kecil itu menawarkan warna baru dengan menertawai realitasnya.

Tertawa membuat manusia menjadi bijak. Tapi kisah anak itu membawa pemahaman bahwa bijak diperoleh dari kisah-kisah empirik manusia. Perjalanan sosio-religiositaslah manusia mampu menempuh tangga kebijaksanaan.

Ditengah pelitnya orang memberi tawa atau paling tidak memberi kesempatan diri tertawa dengan orang lain. Alih-alih memberi waktu tertawa saya terkadang memberi nuansa ‘kecut’ dan bermuka masam. Tertawa tak nampak sejauh yang saya bisa. Untung bocah kecil itu tak sama dengan saya selalu menampakkan wajah masam.

Tertawa memberi tempat pada surga menyentuh lubuk hati. Kedamaian terhampar, lapang dan lepas beban. Tertawa membawa pergi stres yang membelenggu dan persoalan dunia yang tak habis diurai. Dengan tertawa saripati hidup dapat dirasa sebut Sindhunata. Kita tahu, mati adalah kata final dan pasti. Tapi tawa tak mengenal kata final dan akhir. Tawa adalah hiburan ‘gratis’ pada diri sendiri.

Akhirnya kita mengutip kembali Sindhunata - ngglethek-nya :

nggelthek adalah akhir dari segalanya. tertawa, karena, eh ngglethek, apa yang kita raih, ternyata harus kita tinggalkan, karenanya kita disadarkan.bahwa mengalami kepauasan, kita justru harus rela kehilangan segala kepuasan yang kita cita-citakan. tertawa, karena, eh ngglethek, kita jutru merasa memiliki semuanya, ketika kita mengalami bahwa kita tidak mempunyai semuanya...

Kita ber-airmata, ber-nostalgia sambil tawa menghiasinya...

Yogya, 160611


Friday, June 3, 2011

Teks


Verba volen, yang terucap akan hilang. Teks adalah jembatan sejarah dulu dan kini. entitas yang mampu mengarungi samudra waktu. Teks digunakan merajut bahasa lisan dalam. olehnya itu, teks mampu menembus ruang dan waktu.

Kapan teks itu punya arti ? menurut Kris Budiman, pakar semiotika UGM. Teks akan berarti ketika dihadapkan pada pembaca. Kelahiran pembaca akan diikuti dengan kematian pengarang. Roland Bartes lah yang mengungkapkan kematian pengarang. Saya sempat bertanya di kelas itu tentang proses kematian pengarang, jawabnya singkat, tak cukup waktu karena pertanyaan itu filosfis. Kematian pengarang punya sejarah panjang.

Kris Budiman hanya menyingkatnya dengan beberapa tahap awal dari kematian pengarang itu, menurutnya kematian di dasari pada Nietszche tentang kematian tuhan, kemudian Foucault, kematian manusia dan berakhir pada Bartes kematian pengarang. Saya sebenarnya belum puas akan jawaban itu.

Saya tidak mempersoalkan kematian pengarang, yang saya persoalkan sekarang adalah teks sebagai sistem tanda memiliki struktur. Teks diartikan secara otonom dia tidak terikat oleh bentuk diluar dari dirinya, dari pengarang atau pembaca.

"Sebuah teks merupakan produk dari suatu konvensi masyarakat (interpreted community), jika tidak, maka tidak ada komunikasi. Ada sistem tanda yang sengaja dirancang, seperti sistem tanda rambu lalu lintas, fashion, dll oleh “orang” yang mempunyai kekuasaan (power)."
Kris Budiman melanjutkan lagi bahwa teks adalah...

"...Meaningfull action considered as a text
To what extent meaningfull action exhibits characteristic of text?
What is a text?

1. A text represents the fixation of meaninf in which the “said” (noema) assumes greater importance than the act of speaking.
2. The author’s intention and the meaning of the text cease to coincide; the text’s cateer escapes the finite horizon lived by the author.
3. A text surpasses the istensive references; frees the meaning of discourse from the dialogical situation.
4. A text can achieve an universal range of its addresses; a state of distanciation..."

Banyak lagi pengetahuan, saya pun tak ragu berkata bahwa realitas adalah teks...

Yogya, Kelas Semiotika (Pak Kris Budiman) 250511

Thursday, June 2, 2011

Sayap-sayap tanpa kita*


Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Ie...ie...ie bele wea seru molo mesa...a..a..a

Seru kai nonge, nebu ola kobe one, ie nonge, ola baje wole..a..a..a..


(IE - flores island folksong : Dwiki Darmawan feat Dira Sugandhi)

Sepotong lirik lagu tradisional flores (flores island folksong) itu mengalun indah lewat Dira Sugandhi. dengan suara khasnya diiringi piano Dwiki Darmawan mampu menyihir tamu di acara peluncuran buku Anggito Abimanyu. Saya menyesal tak bisa hadir dalam peluncuran buku itu, namun oleh-oleh compact disc kumpulan lagu Anggito, Dwiki Darmawan dan Dira Sugandhi menjadi penawar penyesalan itu.

Saya terbawa harmoni lagu IE itu, saya kemudian bertanya pada teman yang berasal dari Flores-Nusa Tenggara Timur. Saya hanya mendapatkan sedikit informasi tentang lagu tradisonal flores itu. tapi cukup membuat saya tahu bahwa IE adalah tradisi orang flores dalam memanggil burung-burung. Semacam panggilan sahabat untuk kawanan burung...

Lagu IE hadir sebagai penanda kerinduan akan sayap-sayap yang merapat, sebab burung-burung di flores menjadi langka. Saya pun teringat tulisan Alan Weisman dalam bukunya the world without us (dunia tanpa kita). Pada bagian ‘sayap-sayap tanpa kita’ Weisman secara alegoris pada kenyataan bahwa burung-burung menjelang kepunahan di belahan bumi akibat perubahan iklim dan aktifitas manusia.

“Dalam dunia tanpa manusia, apa yang akan tersisa untuk burung-burung ? apa yang akan tersisa dari burung-burung ? di antara lebih dari 10.000 spesias yang telah hidup bersama-sama dengan kita, dari kolibri dengan berat kurang dari uang logam paling murah hingga burung moa tak bersayap yang memiliki berat 270 kilogram, sekitar 130 telah menghilang.”

Menghilangnya beberapa spesies burung bukanlah tanpa sebab, konversi hutan menjadi tambang, gedung-gedung dan pembabatan liar membuat tidak ada tempat lagi yang nyaman buat sayap mereka untuk hinggap di dahan.

Walaupun burung-burung menghabiskan sebagian besar waktu di udara dengan sayap-sayap anggunnya tentu mereka butuh hinggap dan berteduh. Saya tidak tahu apakah masih ada tempat aman bagi mereka ?. Di sangkar mungkin masih bisa bahagia, tapi mereka lebih bahagia dengan habitat aslinya : alam bebas.

*Judul Asli dari bagian buku Alan Weisman, The World Without Us, (Gramedia, 2009)




Sunday, May 29, 2011

Romansa


Eliade kecil terkejut dengan pendar cahaya menembus gorden hijau di kamar yang jarang dipakainya. Cahaya itu menembus celah-celah kaca, semburat zamrud emas, memesona, dan menggetarkan. Dengan terperanjat dan terpesona, Eliade kecil merasa dibawa dalam dunia yang trasenden dan berbeda. Pengalaman religius itu dilukiskan Eliade sebagai “nostalgia”. Nostalgia membuatnya larut dalam dunia magis.

Tentu Mircea Eliade, orang Rumania juga mistikus dan filsuf itu telah merindukan ruang kesempurnaan dari dunia yang lain. Yang mengantarnya kemudian ber-ziarah ke timur jauh-India, belajar yoga dari seorang guru spritual Surendranath Dasgupta. Disanalah dia menemukan pengalaman spritual yang tidak pernah dirasakan sebelumnya di kamar itu.

Kisah ini dilukiskan sempurna Daniel L. Pals dalam bukunya Seven Theories of Religion (1996). Buku itu tak hanya membahas kisah Eliade, tapi kisah E.B Taylor, Geertz hingga Marx tentang agama tak luput disigi. Tapi tak ayal membahasnya disini, karena bukan ruang yang cocok dalam ruang seperti ini.

Yang menarik dari kisah itu adalah Mircea Eliade yang merasakan nostalgia berjumpa dengan dunia yang baru. Ruang yang membuatnya larut dalam ekstase. Merasakan seperti ‘surga’ di dunia. Tapi benarkah dunia baru itu tempat 'nostalgia’ ?.

Agaknya kutipan Goenawan Mohammad bisa menjadi renungan,

“Kita tahu dunia tak akan jadi surga; hanya di surga kita bisa tahu apa yang akan kita capai. Tapi sebab itu kita tak bisa berhenti”. Tulis Goenawan Mohamad suatu ketika.
Saya terbawa oleh nuansa panjang sore itu. sebuah waktu yang tenang, bersahabat dan matahari perlahan memudar menemui malam. Waktu-waktu peralihan dari sore ke malam membuat saya selalu merasa damai. Entah, tapi itulah yang saya rasakan. Saya menyebutnya ‘romansa’. Romansa sore itu yang tak bisa saya lupakan, dan saya rasakan itu selama di Yogya.

Terkadang saya terbawa dengan masa-masa kecil ; mengaji di surau dari sore hingga isya. Berlama-lama di surau/langgar membuat saya merasa damai. Tapi entah sekarang kebiasaan-kebiasaan kecil itu memudar. Waktu yang meluruhkan kebiasaan saya sholat, mengaji dan menghafal ayat-ayat pendek.

Romansa inipun selalu hadir ketika sore. Dan saya masih beruntung dapat mengingat romansa yang religius itu. mencoba dekat lagi dalam kesucian diri ketika kecil dulu. Kekanakan dan patuh pada ajaran agama tapi tak mencoba untuk bertanya mengapa mengaji. solat dan puasa pada orang tua ?. Mendekatkan diri pada surga yang jauh. Saya tahu karena Tuhan itu maha penyayang dan pengasih.

Spritual perlahan-lahan dibangkitkan. Melalui romansa yang lewat ketika sore. Peralihan. Saya mencoba dekat dengan Tuhan, walau dalam ketidak mengertian tentang wujudNya. Sekedar meyakininya : damai dan penuh ketakjuban.

Perjalanan spritual Aliade, menyusuri timur jauh-India membuat saya tahu bahwa ‘nostalgia’ didapat melalui ziarah. Dan sore itu seakan telah ber-ziarah spritual di tempat yang jauh yang disebut Eliade waktu yang sakral.

Sore yang sakral, Jogja 290511

Wednesday, March 16, 2011

Loro Jongrang dan Bandung Bondowos


Orang biasa menyebutnya Candi Sewu (sewu dalam bahasa Jawa : seribu) tapi sekarang lebih banyak disebut Prambanan. Di kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Di tempat ini bercerita Bandung Bondowoso ksatria penakluk kerajaan Baka. Cerita dimulai dengan penaklukkan kerajaan Baka namun tak berlanjut pada penaklukkan hati Loro Jongrang, putri cantik sang raja.

Orang-orang percaya candi 1000-Prambanan itu dibangun hanya satu malam. Tapi sejarah itu tidak lurus. Terkadang sejarah menjadi teks yang dikonstruksi pengarang, penutur dan pelaku sejarah.

Ketika guide Prambanan mencoba meluruskan dengan sedikit “rasional” bahwa candi Hindu itu di bangun dengan durasi 200 tahun, berbeda dengan mitos yang berkembang, di bangun hanya satu malam dengan jumlah ribuan bala tentara gaib kerajaan Pengging.

(Revitalisasi 1 candi yang rusak akibat hantaman gempa membutuhka 4-5 tahun. Candi pun tak lekas untuk digunakan).

Kata “1000” seperti membilang “yang tak terhingga” kata Goenawan Mohamad. Seperti “1000 janji”, “1000 kata-kata” dan “1000 bintang”. Melukiskan yang tak terhingga dengan bahasa khiasan.

Kita tak harus meninggalkan sejarah, untuk kisah ini, kita harus mengikuti alur, tapi kita belajar perjuangan tentang cinta, keberanian, pengorbanan sekaligus kesiasiaan. Loro Jongrang dan Bandung Bondowoso adalah cerita lahirnya Prambanan. Ia tak mengenal batas ruang, sayang waktu tak bersahabat hingga pertanda kokok ayam, bunyi lesung mengahiri perjuangan cinta Bandung Bondowoso, berakhir pula penaklukkan hati Loro Jongrang itu. Sebuah kisah romantis sekaligus dramatis. Dan di Prambanan akan tersaji lanskap cerita itu.

Menarik kata kunci dari Goenawan Mohamad, “dalam kemengangan mengandung kekalahan”. Seperti kemenangan Bandung Bondowoso atas raja Baka, namun kalah dihadapan syarat sang putri raja Baka, Loro Jongrang. Membangun “1000 Candi" dengan “1 malam”. Adakah yang sia-sia dari kisah ini ? untuk menjawabnya kita harus melihatnya di Prambanan.

Jogja, 16 Maret 2011

Saturday, February 5, 2011

Angkringan, Tempat Mengudap Rasa


Angkringan, di tempat kecil ini menjadi tempat berkumpul, mahasiswa, sopir, tukang becak dan orang kecil berkumpul mengudap rasa. Di tempat inilah mereka membuang kesal, bernostalgia dan mencipta rasa dalam dialog bernada sahaja. Disinilah kata orang, tempatnya melepaskan beban (sambil minum teh atau kopi tentunya). Sindhunata menyebutnya, tempat orang-orang kecil dan miskin makan dan minum, mengemil dan menyeruput.

“...Tapi apa yang diseruput dan ngemil bukanlah sekedar jajan dan makanan, melainkan juga hati dan rasa. Bisa lama-lama mereka mengudap di sana...masih hangat saja hati mereka, masih tak habis makanan mereka, masih tak habis juga rasa yang hendak mereka kunyah”. (Sindhunata, dalam basis 1996 : Mengudap Rasa di Warung Kemangi).

Sindhunata mencoba memahami realitas orang-orang yang berkumpul di tempat kecil ini. Orang-orang yang suka berkumpul dan mengobrol hingga suntuk. Diempat ini hanya beratapkan tenda,kadang merah biasa juga biru, dilengkapi perkakas tungku, teko dan makanan sederhana, tempe goreng, tahu goreng, nasi kucing dan sate ayam menjadi pelengkap kudapan rasa. Radio tua dengan dual frekuensi AM/FM menempel di sudut gerobak. Pas di ujung menggangantung, disini mereka mendengarkan berita sembari menyeruput teh/kopi. Dan ditempat ini diterangi lampu pelita atau bohlam 5 watt sudah cukup meluapkan rasa seluas samudra. Tak ada lain, makan gak makan asal ngumpul.

Disetiap sudut jalan di kota Jogja tempat ini bisa ditemukan, tempat ini menjadi arena bergumul merebut tempat dibangku kayu. Selalu buka dari pagi hingga menjelang malam menutup waktu. Mungkin disinilah “ruang publik imajiner” itu tercipta. Mahasiswa bisa saja kalah debat dengan tukang becak, atau supir angkot. Disilah tempatnya orang menyatu mengudap rasa. Merasa seruang dan merdeka.

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.