Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Friday, January 6, 2012

Perempuan

--seolah-olah tahu dunia perempuan

Misteri dalam jagad raya bagi fisikawan besar abad ini tidak hanya lubang hitam atau misteri pengetahuan ilmiah tapi lebih dari itu; semesta perempuan.

Bagi Stephen Hawking misteri terbesar datang dari mahluk perempuan, "perempuan. mereka adalah misteri" kata Hawking saat perayaan ulang tahunnya ke-70 (media indonesia.com). Di usianya yang telah menginjak 70 tahun itu Hawking masih saja dihantui kemisterian jagad perempuan melebihi misteri lubang hitam yang telah membesarkan namanya di panggung sains.

Hawking boleh saja memecahkan misteri lubang hitam (black hole) di semesta raya ini 9yang juga menjadi misteri bagi Einstein) tapi sulit baginya memecahkan teka-teki misteri kehidupan perempuan. saya pun teringat kicauan Sujiwo Tedjo dengan mengutip Rendra, ia berkata "Wanita bagai belut, meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman".

perempuan terlalu sulit diterka, sukmanya selalu melayang-layang lepas walau ia terkurung dalam sangkar besi. ia selalu lepas dalam genggaman.

Aristoteles bilang perempuan adalah mahluk yang tak sempurna. tapi bagi saya, ini terlalu mendefenisikan perempuan, jika kita menganggap perempuan seolah-olah liyan (other). Bagi saya hanya perempuanlah yang mengerti dunia perempuan. kemisteriannya hanya bisa terjawab oleh perempuan itu sendiri.

ini tentu masih bisa diperdebatkan...

Friday, December 23, 2011

IBUNDA

Tak ada yang benar-benar mengenalinya
selai angin yang masih menyebutnya perempuan

Joko Pinurbo, Penyanyi yang pulang pada dinihari
--

PEREMPUAN, saya menyebutnya IBUNDA. Memori tentang dirinya tak pernah (dan tak akan pernah) habis-habisnya diinggit. Kesabarannya adalah matahari. Perempuan yang kemudian dipanggil BUNDA padanya muara cinta.

***
Tentang Ibu, saya teringat lagi sebuah novel di awal abad-20 berlatar masa revolusi industri di Rusia yang dikarang sastawan revolusioner Rusia Maxim Gorki, novel yang telah diterjemahkan puluhan bahasa (termasuk Indonesia). Novel yang diterjemahkan salah satu sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer tahun 1955 itu sangat memikat untuk dibaca.

Syahdan, sebuah kisah hidup seorang perempuan, sebagai istri (yang tidak lama kemudian menjanda) dan juga sebagai ibu dari seorang buruh muda bernama Pavel Vlassov, dia adalah Pelagia Vlassov. Perempuan itu bekerja sebagai buruh di sebuah industri. ia digambarkan sebagai sosok yang jauh dari gelimang harta, jauh dari itu semua, ia hanyalah orang miskin yang tinggal di daerah kumuh.

Sebagai pemeran utama, Pelagia digambarkan sebagai sosok yang tidak menampilkan keindahan fisik. Badannya bongkok dan miring, wajahnya kerut merut dan alisnya terbelah oleh bekas luka (Gorki, Ibunda, 2002:x). Penampilannya melampui usia karena kerja berat, ia tak bisa lagi menghitung berapa pukulan dan kekerasan yang dihadapinya dari suami yang pemabuk. Namun dari semua itu ia tak menyerah, sama sekali tidak, ia beruntung memiliki anak laki sepenurut dan seperhatian Pavel, dan akhirnya lingkaran kepasrahan pada takdir dapat dipatahkan oleh anaknya.

Membuka helai demi helai novel ini pembaca diajak ‘bertamasya’ diawal abad-20 ketika Rusia (dulu Uni Soviet) memasuki revolusi industri. Terkhusus pada kehidupan kaum buruh miskin di sebuah industri Rusia.

Gorki menulis novel yang konon menyalakan semangat perjuangan kaum muda di dalam dan di luar negerinya dengan protagonis seorang perempuan (saya melihatnya sebagai seruan bagi kaum buruh untuk bangkit melawan) bacalah petikan Bangkit berjuang, Buruh, bangkit...(hal. 244-246). Novel itu sebagai bentuk penolakan atas kemandegan, kepasrahan dan ketidak berdayaan (hal.xiv).

“kesabaran hanya menunda kekalahan” kata GM.

Gorki yang memang perpaham sosialis agaknya memberi banyak pemahaman tentang sebuah pejuangan perempuan dan kesabaran mengahadapi hidup dalam keterbatasan. tapi perempuan yang dihidupkan Gorki seperti mengandung makna lain, saya tak tahu mengapa Ibunda sebagai kata ganti tokoh protagonis dipakai untuk melawan penindasan. Tapi disini Gorki mau berjuang atas kesewang-wenangan totalitarianisme. disini juga bisa dikata bahwa kata-kata tak pernah bisa dibungkam (seperti halnya sastra).

Ketimbang sibuk melihat aspek politis dibalik itu saya lebih suka menikmati cerita novel ini yang sangat ibusentris. Alur cerita semua berpusat pada kegiatan Pelagia Vlassov, sang bunda.

[saya mencoba menerawang jauh di suatu tempat, Ibu saya yang selalu kupanggil amma a’ji, ia hanyalah tamatan sekolah rakyat, ia buta aksara (walau tak tepat jika saya pakai pandangan Freire mengenai makna pendidikan) tapi perannya sebagai ibu tak bisa lagi kupertanyakan, tak kusangsikan. Tapi apa daya Ibunda hanyalah pelengkap isi rumah, ia terjerat dalam peran domestik bernama “ibu rumah tangga”]

Saya ingin menutup dengan sebuah pertanyaan retoris Pavel anak sang bunda, “kesenangan apakah yang pernah Ibu kenal?” ia bertanya, masa lalu mana yang telah memberi Ibu kenang-kenangan menyenangkan?”

untuk saya, pertanyaan retoris itu hanya bisa kujawab, "saat bersamamu Ibu".

-------------------------------
Saya baru ingat, 22 Desember hari IBU, saya mengucapkan selamat hari IBU untuk perempuan-perempuan yang tak pernah lelah menyemai cintannya dengan sederhana.


Sunday, November 13, 2011

Suara sunyi pengamen tua

Petir menyambar-nyambar langit, hujan pelan-pelan turun ketika perempuan tua itu mengalunkan lagu dengan cara acapela-bermodal mulut dan tepukan tangan sebagai ‘musik pengiring’. Perempuan paruh baya, memakai jilbab lusuh dan pakaian kumal berdiri diantara tamu warung yang larut dalam santap malamnya, disisinya berdiri bocah berjilbab ungu yang penuh dengan noda. Bocah itu sekitar berumur tujuh tahun.

perempuan tua bernyanyi dengan gaya acapela, suaranya fals. Lagunya tidak istimewa seperti pengamen jogja pada umumnya—gitar, jimbe, tam, ditambah suara khas—ia hanya mengandalkan organ tubuhnya untuk menghasilkan bunyi *kita bisa bayangkan, bernanyi sambil menepuk tangan*. Lagunya pun tak bagus-bagus amat, lagu anak-anak tahun 90-an pula, saya pikir ia tak memiliki banyak referensi musik seperti Krisdayanti, Syahrini apalagi Ayu Ting Ting. Perempuan tua itu tidak memiliki bakat menyanyi saya kira. Kita tahu, selain bakat, menyanyi itu karena pejabat atau karena nekat. Saya pikir perempuan tua itu ada dibagian terakhir; nekat. Persoalan hidup/makan adalah faktor kenekatan untuk bernyayi dikeramaian. Perempuan tua itu punya semangat. Mengamen seperti ini tidak mempersoalkan lagi performance, nada, hapalan partitur bahkan malu. ia bernyanyi untuk mencipta harmoni dalam defenisinya, ia bernyanyi untuk usaha bertahan dari himpitan hidup. asal asap di dapur bisa kembali mengepul. mudah saja.

Perempuan itu terberkati berada diantara orang-orang dari indonesia timur—orang papua, sulawesi, timor, ternate—berkah dengan memanen banyak recehan. Anak kecil yang bersama dengan perempuan tua itu dengan sigap mengadahkan kaleng derma pada tamu yang sedang bersangtap malam. Seribu, duaribu telah terisi. Perempuan tua itu tidak lupa berucap “matur nuwun mas”, ucapan khas atas berkat nikmat yang sudi merogoh kocek.

saya yakin para tamu itu adalah mahasiswa kelas menengah atas. Maka tak ada uang koin keluar dari kantongnya. Biasanya makan ditempat seperti ini memang harus selalu siap banyak uang koin mengingat pengamen bergonti-ganti menawarkan jasa. (belum lagi banci yang terlihat lucu saat bernyanyi).

***
Hujan mulai reda, cahaya terpendar-pendar menampar aspal yang basah oleh hujan. Perempuan tua itu berlalu bersama rintik hujan. Ditemani bocah kecil yang masih lugu itu.

Bagi saya, ia memiliki alat produksi, halnya ungkapan Goenawan Mohamad, ia memiliki alat produksi pada tubuhnya; mulut, tangan dan kaki untuk menghibur.

Malam-malam selanjutnya ia mungkin tak lagi seberuntung malam ini. Yang bisa memanen ribuan derma dari tamu. Kenapa? Ia kalah dari pengamen lain yang memiliki harmonika, gitar dan suara yang khas. Kalo perempuan itu? tidak ada. ia terberkati dengan rezeki karena para tamu itu iba. Tamu-tamu yang baik hati itu saya kira iba melihat perempuan paruh baya bersama bocah lugu berharap derma. Ia terbantu dengan sebuah kerja keras yaitu bernyanyi dengan suara fals dengan tepukan tangannya. Tidak mengemis.

Dan bagaimana kita melihat ini? Bagaimana memandang perempuat tua itu yang rela menghabiskan waktu saban hari untuk mengais hidup?. walau disaksikan bocah lugu. ia tak ingin anak itu hidup seperti yang dialami, paling tidak mengulang kisah perempuan tua itu. menghilangkan malu dan bernyanyi dengan suara fals ditengah tamu warung. ya, perempuan tua itu pasti tidak inginkan itu.

Kisah ini adalah keseharian hidup orang kota atau kehidupan sehari-hari kita. Bercampur duka dan nestapa. Ditengah kehidupan yang memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup. survival of the fittest dalam terminologi Charles Darwin. Orang yang kuatlah yang akan bertahan hidup. perempuan tua itu harus kuat melawan derita dan kerasnya hidup. saya pun menerawang jauh, suaminya yang diharapkan untuk membantu mencari nafkah kemana? Entah.

Perempuan tua itu tentu tahu dengan takdir, gusti ora sare. Tuhan tidak tidur. Dalam keterbatasan ia tak lupa untuk mengingat-Nya. Filosofi jawa masih melekat sebagian besar di tempat ini juga perempuan tua itu. Ia tidak sendiri mengingatNya. Banyak yang senasib dengan dia. Tidak sendiri. Ia memang tak boleh pasrah pada hidup. apalagi kalah. Karena setiap hidup memiliki nada. sama dengan lagu yang dilantunkannya.

Kaliurang, di kilometer v 131111. Saat itu hujan rintik-rintik

Sunday, June 26, 2011

Kisah perempuan pembawa coklat...

“wanita harus membayar utang kehidupan ini bukan dengan apa yang ia kerjakan, tetapi apa yang ia derita. Ia harus merayapi hidup dalam penderitaannya karena hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya” (Sindhunata, Burung-burung di Bundaran HI : 2007).
Dengan mengutip filsuf Schopenhauer, Sindhunata mencoba melukiskan kisah perempuan di Kramat Tunggak, Jakarta. Saya mencoba menghubungkan kisah perempuan dengan dunia yang berbeda, kisah yang berbeda dan persoalan yang berbeda pula. kisah perempuan yang lain itu terjadi rumah makan di Raminten.

Tentu kita bisa saja tidak bersepakat kata-kata pesimis Schopenhauer diatas itu. Apalagi ditengah wacana emansipasi perempuan saat ini. serasah tidak menarik.

Tapi ada yang menarik sepotong kata dari kalimat Schopenhauer itu.”...hampir seluruh hidupnya ia harus tunduk kepada suaminya dan mencurahkan waktu untuk anak-anaknya”. ada peristiwa yang mengharukan sekaligus menggugah di suatu malam di rumah makan Raminten Yogyakarta. Saya tidak sendiria malam itu, bersama teman-teman asrama.

***
Naluri ke-ibu-an mungkin menghendakinya demikian. Ia menyusuri malam-malam sambil menjajakan coklat yang dibuat dengan tangannya sendiri. Tak ada yang lain, perempuan itu berusaha dan tak mengenal waktu untuk kesembuhan putrinya yang terbarin sakit.

Dengan nada yang datar dan sopan, perempuan itu menyodorkan coklat buatan tangannya pada kami. “nuwun mas, saya menawarkan coklat untuk pengobatan anak saya yang sakit”. Coklat dengan kemasan cantik dengan rasa almon dan mete memang menarik hati. Tap harga yang kurang sreg membuat kami saling memandang. Bukan harga murah untuk kalangan mahasiswa. Tapi ada kata-kata pamungkas yang membuat kami empati, larut dalam dunia yang ia rasakan.

“untuk berobat anak saya, ia sekarang di rumah sakit, kena lupus mas”.
Kesedihan nampak di raut wajahnya tapi berusaha tegar. Hanya itu yang ia mampu. Ia mencurahkan hati dan tenaga untuk anaknya. Pukul 12.00 malam, Raminten tak menandakan sepi, padahal malam dinginnnya malam itu menusuk-nusuk tulang. Kidung Jawa masih mengalun dalam keramain tempat itu, remang cahaya lampu-lampu mengikuti nuansa kidung itu, mengikuti kisah perempuan itu : sepi

Perempuan itu berkeliling dan berpindah, dari meja ke meja. Ada yang hirau juga ada yang tak hirau. Ada yang menampakkan wajah kusam ketika dihampiri, seperti memberi isyarat mengganggu selera makannya. Dunia memang kadang paradoks. Ketika menyadari manusia dalam ketidakberdayaan, ada juga yang tak iba. Tak ada yang salah dari wajah-wajah itu. toh setiap manusia tidak selalu menjadi dermawan dalam setiap waktu. Termasuk kami. Yang kami lakukan hanya sekedar rasa kemanusiaan. Tidak lebih.

Seakan perempuan itu merasakan sepi dimalamnya. Sepi mengiris hatinya. Mengingatkan anaknya terbaring sakit dan tak mampu akan biaya. Negara pun alpa ketika dibutuhkan. Ia menyadari negara tak ada ketika ia membutuhkan. Maka ia menggunakan akal sehat dan tenaganya untuk bisa memberi harapan pada putrinya : kesembuhan.

***

Sesampai di kost, tak menunggu lama untuk membuka google dan membuka seperti apa penyakit lupus itu. sederhana, dengan keyword "lupus", akhirnya muncul 894.000 entry. Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya.

Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh (http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz1PkHxg0wE).

Cerita ini adalah sebuah pengalaman hidup tentang arti perjuangan ibu yang menginginkan anaknya sehat dan bermain riang dihalaman rumah. Dengan segala cara, menjajakan coklat hasil buatan tangan ditengah malam buta dan dingin yang menusuk-nusuk tulang.

Pada akhirnya, coklat berisi almon dan mete itu akan melanglang ditengah malam yang menggigit meminta belas kasihan dari derita yang dihadapi. Terbaring, tak berdaya. Ironisnya, dengan itu ia membimbing dirinya di malam buta hanya sekedar untuk kesembuhan anaknya. Inilah mungkin yang disebut naluri, naluri perempuan sekaligu ibu.

Yogya, 250611



Saturday, May 14, 2011

Kemana Ibu Budi ?

" ini ibu budi, ini bapak budi...ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar."
Setiap melihat anak sekolah dasar dengan seragam putih merah. Setiap itu juga saya dibawa dalam arus waktu yang lalu dengan buku teks dan ibu guru saya. Caranya mengeja, membaca - ibu guru selalu mendiktekan distingsi peran ibu dan ayah dalam keluarga harmonis Budi. Yang di ceritakan dalam keluara Budi adalah peran seorang perempuan (ibu) yang dikonstruksi dalam ruang domestik, dapur, sumur dan kasur. Sedang ruang laki-laki (ayah) di publik-membaca koran, atau ke kantor.

Itu adalah waktu yang silam, waktu yang lalu, dimana wacana itu lahir saat sekolah dasar dulu. Sekarang wacana itu tak pernah ada lagi, ingin sebenarnya bertanya pada anak berseragam putih merah itu, sekedar bertanya apakah Budi masi mewacana di papan tulis atau di buku teks ?. Tentang Ibu Budi yang ke pasar itu ?. Tapi entah mengapa, setiap mencoba bertanya setiap itu pula pertanyaan itu tertahan. Mungkin jika bertanya, tak ada lagi Ibu budi itu. Perempuan itu. Terhapus dalam ingatan. Karena kita slalu mudah untuk melupa.

Tentang waktu dan Ibu atau perempuan itu, teringat kata Sukarno dengan Sarinah-nya. Dengarlah dia berkata

"...sesudah saya berpindah kediaman dari Jakarta ke Yogyakarta, maka di Yogya itu tiap-tiap dua pekan sekali mengadakan “kursus wanita”...dalam kursus-kursus itu ada pokoknya,-akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat.”
Jika perempuan atau wanita dan atau yang selalu disebut-sebut the second sex menurut Simone de Beauvoir. Perempuan dilupakan dalam panggung gemerlap kaum laki-laki.

Dari kisah ini perempuan dilahirkan sebagai entitas yang hidup melalui tulisan tangan Sukarno, Sarinah ditahun 1947-an itu. Saya kagum betapa Sukarno yang sibuk mengurus bangsa namun tak luput menghargai perempuan dan menuliskan perjuangan perempuan dalam sebuah buku.

Betapa perjuangan perempuan tak bisa dimatikan begitu saja dengan kata “ibu pergi ke pasar” tiap hari seperti itu. Soal-soal perempuan hampir selalu dilupakan dalam ingatan, peran, kesabaran dan pengorbanan.

Saya harus belajar menghargai perempuan, ibu, wanita dan the second sex itu. Karena perempuan adalah sebutir mutiara kata Sukarno...


kemana Ibu Budi ????

Jogja, 130511

Tuesday, March 22, 2011

Apa yang perempuan harapkan ?


Benarkah ? perempuan dapat bahagia dengan hanya mengharapkan 3 dari sekian banyak pilihan bagi mereka. Sikatnya, perempuan sebagai mahluk rasional memiliki kriteria dalam menjalani kehidupan.

Terlalu sederhana memahami perempuan. Tapi tidak pula sesederhana mengetahui keinginan mereka. Hasrat perempuan menjadi sebuah kontruksi (boleh dikata) baku dalam termilogi sederhana ini. Ada point penting tentang apa yang diinginkan perempuan. Pengetahuan dini saya dapatkan ketika menyempatkan hadir pada kuliah (sit in) dalam kelas Gender. Bisa diketahui kelas gender adalah kelas yang didominasi perempuan-95 persen di kelas itu. Karena kelas sit in (kasarnya peserta gelap) yang saya lakukan hanya mendengar dan mencatat, selebihnya tidak.

Melihat disekeliling saya dominasi perempuan dalam ruang seperti lecture teater, disisi kiri dan kanan saya perempuan ayu nan ramah. Tambah bergairah ikut kelas Gender. Kelas gender adalah kelas untuk semua, saya heran mengapa peserta laki-laki tidak ikut kuliah itu. Padahal gender bukan dikotomikan perempuan secara gen, tapi lebih pada kontruksi sosial budaya. Terlebih akses pendidikan gender. Laki-laki pun bisa belajar. Namun itu bukan persoalan penting bagi saya, karena itu bergantung pada sikap diri atas pilihan-pilihan.

Saya menghitung dalam kelas itu, peseta laki-laki hanya 3, bisa dihitung jari. Peserta laki-laki lainnya hanya duduk manis tak banyak bicara, mungkin inilah yang disebut laki-laki disarang penyamun. Laki-laki diantara puluhan perempuan. Maka suara laki-laki tak berarti dikelas itu.

Tak selang lama, sambil menganalisis konstruksi gender, dari media hingga teks, dosen itu tiba-tiba menghentikan klik pada slide yang bertuliskan. Love, Money, Happy Marriage. Kata-kata kunci itu menurutnya kebutuhan perempuan. Sambil mengutip dari jurnal, dosen itu menguatkan bahwa di cintai, memiliki uang dan perkawinan bahagia paling diinginkan perempuan. Pikiran saya langsung tertuju pada film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts saat itu.

Seakan-akan bahwa LOVE (mencintai dan dicintai) adalah kebutuhan perempuan. Money (uang) sebagai basis materi sangat penting untuk eksistensi perempuan. Kebutuhan yang (hampir) tak terbatas menjadi alasan mengapa perempuan membutuhkan banyak uang. Jadi ingat teman saya berkata “no money no honey” ada uang abang sayang, ada uang abang kutendang”. Tentunya itu hanya candaan tanpa menyudutkan kaumnya.

Happy Marriage, pernikahan yang bahagia adalah bagian yang didambakan perempuan, walau realitas kadang tidak sejalan. Kasus perceraian dan banya kasus KDRT memberi kesan bahwa perempuan tak memiliki berada dalam bayang-bayang keretakan keluarga. Saya pernah membaca BASIS Vol.52 tahun 2003 yang menganalisis Keluarga : Bahtera yang sudah karam ?. tidak mudah memang menjawab tentang bagaimana menjaga perkawinan hingga kakek nenek, tapi perempuan, siapapun itu tak ingin perkawinan karam.

Saya ingin menambahkan bahwa ketika term LOVE, MONEY, HAPPY MARRIAGE, ada satu yang penting yaitu TRAVELLING IN THE WORLD. Perempuan pasti tak ingin melewatkan perjalanan ke Eropa, Benua Pengharapan Amerika, dan Eksotika Timur Tengah…

Wednesday, October 20, 2010

Perempuan [punya] kuasa

Wanita jawa tidak perlu menjadi-

maskulin untuk mendapatkan kekuasaan,

tetapi justru ia harus memanfaatkan kefeminitasnya


Buku : Kuasa Wanita Jawa, Cristina S. Handayani & Ardian Novianto


Menarik membaca buku titipan sahabat di Makassar. saya hanya mengutip sekenanya saja tentang bagaimana perempuan bersikap, dan berfikir tentang dirinya yang selalu dalam bayang-bayang maskulin.

satu hal yang menarik dari perempuan, bukan hanya perempuan Jawa tapi perempuan di Indonesia sebagian besar berada dalam lingkaran konstruksi sosial : patuh, di dapur, lemah, lembut dan sebagainya.

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.