Showing posts with label harapan. Show all posts
Showing posts with label harapan. Show all posts

Tuesday, December 31, 2013

Tahun Baru

Tahun baru dimana? Pertanyaan ini seringkali muncul setiap tahun baru tiba. Ada yang menghabiskan waktu tahun barunya di pantai, ada yang di gunung, di tempat bernyanyi, di jalan, di hotel, di gang-gang, samapi di rumah jabatan.

Tahun baru sudah seperti ritual yang hanya disamai oleh hari hari besar keagamaan. Semua tumpah ruah, bernyanyi, menari hingga akhirnya mabuk. Orang rela menghabiskan uang untuk merayakan pergantian dari bulan desember ke januari ini.

Entah apa semua ini bagi saya hanyalah satu: kenikmatan. Itu saja. Kenikmatan untuk satu malam penuh. Hingar bingar luapan manusia, deru kendaraan dan letusan kembang api silih berganti. Ini hanya bermuara pada kenikmatan. Satu malam saja. Di tahun yang baru (masehi).

Saya pernah merasakan suasana seperti ini (tiap tahun malah) ketika masih lajang. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain tapi bukan tempat 'hiburan'. Di gunung, di pantai.

Tak hanya kenikmatan. Orang melihat tahun baru sebagai pertarungan nasib (nasib baik dan buruk) itu yang mereka sebut resolusi. Tentang tahun yang lewat yang buruk berganti menjadi kebaikan atau tahun yang lewat dengan kesuksesan ditambahkan lagi kesuksesan berikutnya di tahun yang baru. Resolusi ibarat memancing dengan harapan mendapat ikan besar.

Tapi ada orang yang memaknai tahun baru dengan seduh sedan.  Umur bertambah, dan segenap kecemasan akan ramalan dan shio.

Setangkup cerita tahun baru berisi kenikmatan, harapan, nasib baik dan nasib buruk juga pada ramalan-ramalan.

***

Ada yang bertanya tahun baru dimana? Dengan mantap saya menjawab di rumah menemani istri dan anak saya.

- kisah 2014 di antara deru mesin kendaraan, suara terompet dan letusan kembang api.

Saturday, May 14, 2011

Kemana Ibu Budi ?

" ini ibu budi, ini bapak budi...ayah pergi ke kantor, ibu pergi ke pasar."
Setiap melihat anak sekolah dasar dengan seragam putih merah. Setiap itu juga saya dibawa dalam arus waktu yang lalu dengan buku teks dan ibu guru saya. Caranya mengeja, membaca - ibu guru selalu mendiktekan distingsi peran ibu dan ayah dalam keluarga harmonis Budi. Yang di ceritakan dalam keluara Budi adalah peran seorang perempuan (ibu) yang dikonstruksi dalam ruang domestik, dapur, sumur dan kasur. Sedang ruang laki-laki (ayah) di publik-membaca koran, atau ke kantor.

Itu adalah waktu yang silam, waktu yang lalu, dimana wacana itu lahir saat sekolah dasar dulu. Sekarang wacana itu tak pernah ada lagi, ingin sebenarnya bertanya pada anak berseragam putih merah itu, sekedar bertanya apakah Budi masi mewacana di papan tulis atau di buku teks ?. Tentang Ibu Budi yang ke pasar itu ?. Tapi entah mengapa, setiap mencoba bertanya setiap itu pula pertanyaan itu tertahan. Mungkin jika bertanya, tak ada lagi Ibu budi itu. Perempuan itu. Terhapus dalam ingatan. Karena kita slalu mudah untuk melupa.

Tentang waktu dan Ibu atau perempuan itu, teringat kata Sukarno dengan Sarinah-nya. Dengarlah dia berkata

"...sesudah saya berpindah kediaman dari Jakarta ke Yogyakarta, maka di Yogya itu tiap-tiap dua pekan sekali mengadakan “kursus wanita”...dalam kursus-kursus itu ada pokoknya,-akan mengerti apa sebab saya anggap soal wanita itu soal yang amat penting. Soal wanita adalah soal masyarakat.”
Jika perempuan atau wanita dan atau yang selalu disebut-sebut the second sex menurut Simone de Beauvoir. Perempuan dilupakan dalam panggung gemerlap kaum laki-laki.

Dari kisah ini perempuan dilahirkan sebagai entitas yang hidup melalui tulisan tangan Sukarno, Sarinah ditahun 1947-an itu. Saya kagum betapa Sukarno yang sibuk mengurus bangsa namun tak luput menghargai perempuan dan menuliskan perjuangan perempuan dalam sebuah buku.

Betapa perjuangan perempuan tak bisa dimatikan begitu saja dengan kata “ibu pergi ke pasar” tiap hari seperti itu. Soal-soal perempuan hampir selalu dilupakan dalam ingatan, peran, kesabaran dan pengorbanan.

Saya harus belajar menghargai perempuan, ibu, wanita dan the second sex itu. Karena perempuan adalah sebutir mutiara kata Sukarno...


kemana Ibu Budi ????

Jogja, 130511

Tuesday, March 22, 2011

Apa yang perempuan harapkan ?


Benarkah ? perempuan dapat bahagia dengan hanya mengharapkan 3 dari sekian banyak pilihan bagi mereka. Sikatnya, perempuan sebagai mahluk rasional memiliki kriteria dalam menjalani kehidupan.

Terlalu sederhana memahami perempuan. Tapi tidak pula sesederhana mengetahui keinginan mereka. Hasrat perempuan menjadi sebuah kontruksi (boleh dikata) baku dalam termilogi sederhana ini. Ada point penting tentang apa yang diinginkan perempuan. Pengetahuan dini saya dapatkan ketika menyempatkan hadir pada kuliah (sit in) dalam kelas Gender. Bisa diketahui kelas gender adalah kelas yang didominasi perempuan-95 persen di kelas itu. Karena kelas sit in (kasarnya peserta gelap) yang saya lakukan hanya mendengar dan mencatat, selebihnya tidak.

Melihat disekeliling saya dominasi perempuan dalam ruang seperti lecture teater, disisi kiri dan kanan saya perempuan ayu nan ramah. Tambah bergairah ikut kelas Gender. Kelas gender adalah kelas untuk semua, saya heran mengapa peserta laki-laki tidak ikut kuliah itu. Padahal gender bukan dikotomikan perempuan secara gen, tapi lebih pada kontruksi sosial budaya. Terlebih akses pendidikan gender. Laki-laki pun bisa belajar. Namun itu bukan persoalan penting bagi saya, karena itu bergantung pada sikap diri atas pilihan-pilihan.

Saya menghitung dalam kelas itu, peseta laki-laki hanya 3, bisa dihitung jari. Peserta laki-laki lainnya hanya duduk manis tak banyak bicara, mungkin inilah yang disebut laki-laki disarang penyamun. Laki-laki diantara puluhan perempuan. Maka suara laki-laki tak berarti dikelas itu.

Tak selang lama, sambil menganalisis konstruksi gender, dari media hingga teks, dosen itu tiba-tiba menghentikan klik pada slide yang bertuliskan. Love, Money, Happy Marriage. Kata-kata kunci itu menurutnya kebutuhan perempuan. Sambil mengutip dari jurnal, dosen itu menguatkan bahwa di cintai, memiliki uang dan perkawinan bahagia paling diinginkan perempuan. Pikiran saya langsung tertuju pada film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts saat itu.

Seakan-akan bahwa LOVE (mencintai dan dicintai) adalah kebutuhan perempuan. Money (uang) sebagai basis materi sangat penting untuk eksistensi perempuan. Kebutuhan yang (hampir) tak terbatas menjadi alasan mengapa perempuan membutuhkan banyak uang. Jadi ingat teman saya berkata “no money no honey” ada uang abang sayang, ada uang abang kutendang”. Tentunya itu hanya candaan tanpa menyudutkan kaumnya.

Happy Marriage, pernikahan yang bahagia adalah bagian yang didambakan perempuan, walau realitas kadang tidak sejalan. Kasus perceraian dan banya kasus KDRT memberi kesan bahwa perempuan tak memiliki berada dalam bayang-bayang keretakan keluarga. Saya pernah membaca BASIS Vol.52 tahun 2003 yang menganalisis Keluarga : Bahtera yang sudah karam ?. tidak mudah memang menjawab tentang bagaimana menjaga perkawinan hingga kakek nenek, tapi perempuan, siapapun itu tak ingin perkawinan karam.

Saya ingin menambahkan bahwa ketika term LOVE, MONEY, HAPPY MARRIAGE, ada satu yang penting yaitu TRAVELLING IN THE WORLD. Perempuan pasti tak ingin melewatkan perjalanan ke Eropa, Benua Pengharapan Amerika, dan Eksotika Timur Tengah…
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.