Showing posts with label punawakan. Show all posts
Showing posts with label punawakan. Show all posts

Tuesday, May 22, 2012

Punakawan*

OLEH: HENDARU TRI HANGGORO

SUARA gamelan berhenti. Bagong masuk ke panggung menemui Petruk. “Truk, Gareng kini punya penyakit aneh. Suka menggigit pantat orang,” kata Bagong. Petruk percaya. Setelah itu, Bagong bertemu dengan Gareng. “Petruk kini berekor,” ujar Bagong mencoba membohongi. Seperti Petruk, Gareng percaya. Keduanya kemudian bertemu. Petruk waspada. Dia menutupi pantatnya dengan tangan. Penasaran, Gareng berusaha melihat pantat petruk.

Keduanya berkejaran, hampir berkelahi. Beruntung, Semar datang menengahi. Mereka akhirnya tahu bahwa Bagonglah dalang keonaran ini. Semar berkata, “Membuat isu atau sas-sus itu tidak baik. Cuma bikin celaka orang dan kisruh.” Adegan-adegan ini terdapat dalam acara Ria Jenaka di TVRI pada 1980-an.­ Sebuah acara yang menjadi corong penguasa untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan melalui tokoh panakawan atau biasa disebut juga punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang lekat dengan lawakan dan keanehan bentuk tubuh. Tak seperti awal kemunculannya.

Kemunculan panakawan dalam tradisi seni pertunjukan di Indonesia dapat dilacak pada relief-relief candi dan naskah-naskah kuno Nusantara. Beberapa relief di Candi Prambanan dari abad ke-9, menggambarkan panakawan. Gambar-gambar dalam relief Prambanan mengisahkan tokoh-tokoh utama yang didampingi oleh seorang pengiring. “Para pengiring itu berpenampilan tampan dan cantik,” tulis Edy Sedyawati, guru besar arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dalam “Panakawan di Masa Majapahit”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara tahun 2009.

Para pengiring itu menemani tokoh utama dengan pakaian yang berbeda. Bentuk tubuh mereka normal seperti tokoh utama. Mereka menemani tokoh utama hingga ke hutan. Menurut Edy, inilah arti dasar panakawan, kawan yang diharapkan siap membantu tokoh utama, baik jahat maupun baik, dimanapun. Kawan yang mampu memberikan nasihat kepada tokoh utama. Tetapi istilah panakawan kala itu belum dikenal.

Panakawan berasal dari dua kata, pana dan kawan. “Pana berarti mumpuni, sedangkan kawan dapat berarti seseorang yang cukup dikenal,” tulis Trias Yusuf, staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Diponegoro dalam “Panakawan Dalam Tradisi Kesenian Pesisir Jawa”, makalah pada Seminar Naskah Nusantara. Menurutnya, istilah ini baru muncul pada masa Yasadipura abad ke-18 di Surakarta. Istilah yang sepadan dengan panakawan tersua dalam Kakawin Gathotkacasraya yang ditulis pada masa Raja Warsajaya dari Kediri (1104-1135).

Kakawin tersebut memuat istilah Jurudyah Punta Prasanta untuk menerangkan pengiring tokoh utama, Abhimanyu. Penyebutan itu merujuk pada satu orang. Kata “Juru” menunjukkan pekerjaan sang pengiring, mengurus atau mengasuh. Kata “Dyah” dapat berarti orang muda keturunan raja-raja. Sementara kata “Punta” merupakan nama depan sang pengiring, dan “Prasanta” nama panggilannya. Tokoh-tokoh dalam kakawin tersebut bersifat historis-mitologis. Artinya, mereka ada walaupun kisah mereka berbalut dengan simbol-simbol dan mitos.

Profesor Soetjipto Wirjosoeparto, mantan dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan bentuk tubuh pengiring dalam Gathotkacasraya digambarkan layaknya manusia. “Dalam deskripsinya tidak disebutkan bahwa tampilannya serba aneh dan kocak,” tulis Soetjipto sebagaimana dikutip Edy Sedyawati. Gambaran Ini masih sesuai dengan relief Prambanan. Tugas mereka pun masih jauh dari melawak.

Ketika kemasyhuran Kerajaan Kediri meredup, Kerajaan Majapahit perlahan bersinar. Candi-candi Majapahit segera berdiri di wilayah bekas Kerajaan Kediri. Candi-candi itu memiliki relief yang menggambarkan para pengiring yang agak berbeda dengan masa sebelumnya. Edy Sedyawati menambahkan bahwa beberapa candi yang dibangun pada abad ke-14 seperti Tegawangi, Kedaton, dan Surawarna mulai menampilkan relief adegan pengiring berbadan gemuk.

Dalam relief Candi Tegawangi misalnya, terdapat gambar dua pengiring berbadan gemuk. Pengiring itu masuk dalam relief cerita Sudamala, yaitu cerita ruwatan yang melibatkan Sadewa, salah satu tokoh Pandawa. Kedua pengiring sedang berpacaran dalam posisi yang menggelikan. Seorang pengiring keluarga Pandawa, Semar, mulai dikenal melalui cerita Sudamala dalam relief candi Sukuh tahun 1439 dan Kakawin Sudamala.

Berbadan serba bulat, berbibir maju, dan bermata besar, Semar tak melulu memberikan nasihat, melainkan juga humor untuk tuannya. Dengan demikian, Sedyawati berkesimpulan bahwa tokoh panakawan yang berbentuk tidak lazim, namun bersifat lucu mulai muncul kala Majapahit.

Memasuki masa kesultanan Islam, para wali mengenalkan para pengiring dengan bentuk dan fungsi yang berbeda itu ke dalam wayang. Menurut Ronit Ricci, peneliti pada Universitas Michigan, dalam “Conversion to Islam on Java”, Jurnal KITLV, Vol. 195 No. 1 (2009), “Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sering dianggap perekacipta pengiring tersebut dalam pertunjukan wayang.” Kedua sunan di tanah Jawa ini membalut kisah Ramayana, Mahabarata, dan Sudamala dengan ajaran Islam. Padahal, kisah Ramayana dan Mahabarata versi India sama sekali tidak menyertakan pengiring untuk tokoh utamanya. Apalagi sampai yang berbentuk aneh.

Selain Semar, pada masa itu muncul pula nama-nama pengiring lain seperti Petruk, Gareng, dan Bagong. Mereka tidak hanya sekadar penasihat tokoh-tokoh utama, tapi juga berlakon sebagai pelawak-cum-kritikus. Sebab, lawakan mereka hanyalah alat penyampai kritik sang pujangga atau dalang. Gambaran tokoh ini semakin banyak ditemukan dalam karya-karya sastra masa Yasadipura seperti Wedatama. Mereka kemudian dikenal dengan nama panakawan.

Memasuki abad ke-20, panakawan populer dalam pertunjukan wayang, ketoprak, dan seni pertunjukan lainnya. Penonton selalu menunggu kehadiran mereka. Tak heran, penguasa Orde Baru menggunakannya sebagai corong propaganda dalam acara Ria Jenaka

----
*tulisan ini saya kutip langsung dari http://historia.co.id/artikel/1/1014/Majalah-Historia/Kawan_Penasihat_dan_Pelawak.
**baca juga punawakan saya disini

Saturday, December 3, 2011

Punakawan dan cerita wayang


WAYANG selalu mengarah pada epos Mahabrata dan Ramayana. yang yadir kemudian adalah kisah heroik PANDAWA atau cerita cinta RAMA-SHINTA.

namun ada pengecualian yang hadir; PUNAKAWAN-teryata menjadi sumber ilham. tokoh dalam lakon wayang ini hampir luput dari narasi besar dan terkadang peran dari Semar, Gareng, Petruk dan Bagong-bahwa ia tak sekedar melengkapi cerita jagat wayang namun menjadi pelipur lara dengan tawa dan sentilan.

saya tidak tahu pasti kapan menyukai wayang, yang saya tahu sejak SD telah disuguhi tontonan seperti itu baik dalam bentuk wayang orang maupun wayang kulit, (satu hal lagi permainan wayang bermerek gunung kelud). sejak itu saya tertinggal jauh dan tak lagi mengingatnya dan semua cerita yang melekat. Bukan tak mungkin, lakon dan bahasa yang jawasentris membuat itu berjarak.

itu dulu, saya baru mengetahui epos ini ketika menyaksikan secara live wayang di alun-alun. sosok dan cerita akhirnya saya tangkap walau tak mendalam. saya memang lebih suka membaca wayang yang selalu menampilkan ksatria pandawa lima, setting perang BharataYudha. atau cerita cinta Rama-Shinta. tak pernah berfikir menyukai Punakawan.

pertujukan wayang live di Jogja menjelang dinihari di alun-alun itu akhirnya memberi saya sebuah pelajaran berharga tentang wayang, terlebih sosok Punawakan. Punakawan tidak saja melengkapi namun ia harus ada. jika saja punawakan tak ada, cerita yang tersaji hanya ada kisah heroik dari Pandawa dalam perang Barathayuda. punawakan yang tukang cerita itu sangat berasa dengan sentilan dan petuah-petuah bijaknya.

saya mendapat jawaban dimalam itu dan tak lupa menambahkannya dalam buku-buku.wayang adalah bagian kehidupan Jawa, pemahaman bodoh saya bahwa kisah wayang lebih dekat dengan kehidupan orang Jogja atau orang Solo. wayang adalah sumber ilham bagi kehidupan orang Jogja, Frans Magnis Suseno bahkan menulis "wayang dan Keseharian kita" juga "Etika Jawa" yang mengambil saripati kearifan wayang. tak ayal Ben Anderson, indonesianis menulis "Kuasa kata" juga banyak mendapat ilham dari cerita pewayangan.

ini bukan omongkosong belaka, ketika pikiran tertuju epos mahabrata dan ramayana,maka itu adalah epos besar Hindu yang dihadirkan dalam wayang yang bertahan lama dari lapuknya waktu. wayang pun mengalami keselarasan dalam kehidupan alam jawa.

dimana Punawakan?. ia ada dan menjadi penghibur lara bagi yang duka. ia Sang Penghibur dengan sentilan dan candaan yang membuat tawa selalu renyah. bahkan membuat dada sesak menahan tawa.
Ya, dalam tawa sesungguhnya tersimpan pelbagai rahasia hidup manusia. ketika manusia tertawa, itulah saat dimana "surga sedang menyentuh hatinya". kita perlu tertawa supaya kita bisa menjadi bijaksana. -Sindhunata
ia tak bisa hilang dalam lakon, parasnya lucu. saya hampir menyamakannya dengan badut, dengan tampilan wajah pucat pasih, bergincu yang merahnya melewati bibir. Dari tampilan saja sudah membuat orang tertawa.

siapa nyana jika mereka adalah sumber ilham? saya tidak tahu, namun yang mengenal epos dan punawakan bisa memberi jawaban. saya biasanya mencari jawab dalam tulisan Sindhunata. saya menyukainya sepenuh hati. tulisan Sindhu ini memang slalu dekat dengan dunia wayang, atau lakon wong cilik atau Goenawan Mohamad juga cerita-cerita lepas orang Jogja di angkringan.

punawakan mengajak orang tertawa: tertawa dalam duka, tertawa atas ketololan hidup juga tertawa dalam keterbatasan.

walau kita tahu punawakan adalah narasi kecil, ia akar rumput. bagi orang kecil tertawa adalah kehidupan sehari-hari sebagai obat panjang umur. orang kecil yang saya tau adalah tempatnya menampung tawa. ia ditertawai karena pakaian, tampang dan hidupnya. tapi disitulah hebatnya yang ditertawai.

entah mengapa ada peran itu dalam wayang, padahal yang saya tahu wayang adalah kisah-kisah heroik, Rama atau Pandawa yang begitu dikagumi. Ternyata saya salah, wayang tidak saja menawarkan sosok ksatria dalam diri Pandawa : Khrisna, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa atau percintaan Rama dan Shinta. wayang juga memberi tempat terhormat untuk sosok yang selalu memberi tawa ini: punawakan.

Dengan inipun saya tak bisa mengelak membaca wayang purwa dan babad tanah jawi, dan tak juga bisa berpaling dari epos i lagaligo.

saya akan membaca epos itu sebagai bahan cerita untuk generasiku kelak: ya, sekedar 'tamasya' pengetahuan.


emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.