Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Friday, June 14, 2013

(buku) Habis Gelap Terbitlah Terang (di sudut rumah)

Siang itu saya menemukan buku dari pejuang perempuan R.A. Kartini. Buku itu tampak lusuh dan mulai lapuk dimakan rayap dan tempias hujan. Orang rumah tidak memperhatikan, boleh jadi tidak memperdulikan bahwa buku itu adalah buku sejarah atau mungkin juga mereka tak suka sejarah atau dunia literasi, jadinya buku tersebut dibiarkan tergeletak begitu saja. Dan menunggu menyatu dengan tanah.

Saya dengan kecepatan seperti aksi Kensin Himura dalam lakon Samurai X sigap mengamankan magnum opus dari salah satu pejuang emansipasi itu. Saya mengeringkan buku itu, membuka dengan hati-hati lembar demi lembar sampai kering.

Setelah itu saya kembali ke bagian pembuka. Di sampul depan tertulis R.A Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang” saya menyingkatnya “HGTT” yang dialihbahasakan oleh Armijn Pane. Buku itu terbit tahun 1985 oleh Balai Pustaka (BP) dua tahun setelah kelahiran saya. Buku ditangan saya itu sudah dicetak yang kesebelas kalinya. Sangat laris dan sekarang saya tidak menemukan terbitan terbaru lagi.

Buku yang masih menggunakan diksi lama itu merangkum catatan/surat Kartini yang kata-katanya menurut Goenawan Mohamad merupakan catatan harapan dan kepedihan perempuan Indonesa yang melawan dan terjepit.

Kartini merasakan bagaimana dunianya yang didominasi oleh tradisi patriarki membuatnya terus mencari arti tentang “kesetaraan”. Kartini bolehlah menjadi perempuan yang cerdas dimasanya. Bukan karena dia kelas ningrat tetapi kemampuan wawasannya mempertanyakan realitas yang dirasakannya di waktu itu.
 
**
Kartini mulai menulis ketika berumur 21 tahun dengan didikan dari keluarga-keluarganya yang pandai menulis. Dalam bab pendahuluan di buku itu diceritakan kebiasaan menulis keluarga Kartini: Di tahun 1902 tercatat di seluruh pulau Jawa dan Madura hanya empat orang Bupati yang pandai menulis dan bercakap dalam bahasa Belanda. Bupati Serang P.A.A Achmad Djajadiningrat, Bupati Ngawi R.M. Adipati Ario Sosrodiningrat, Bupati Demak Pangeran Hario Hadiningrat (paman Kartini) dan Bupati Jepara R.M. Adipati Ario Sosrodiningrat yang tak lain adalah bapak Kartini.

Antusiasme khayalan seperti kata Soren Kinkegaar membuat Kartini menuliskan dalam bentuk tulisan dari sebuah cita-cita dan ‘khayalan’ seperti kekagumannya tentang ‘dunia baru’ yang dibawa para kolonial: fotografi dan kereta api.

Rudolf Mrazek sejarawan yang menulis Engineer of Happy Land: Perkembangan teknologi dan nasionalisme di sebuah koloni menuliskan korespondensi Kartini pada anggota dan pakar sosialis Eropa menulis “Rasanya seolah-olah ada kabel telepon tak terlihat antara sini dengan Lali Djiwa dan kembali lagi.”

Kartini merasa riang dengan penemuan-penemuan abad 17 yang memudahkannya mengirimkan surat-surat kepada sahabatnya di Belanda. Dari kontak antara Barat (Belanda) dan Jawa Kartini menguraikan pikiran dan pendapatnya tentang kehidupan masyarakat Jawa dan bagaimana khayalannya tentang perubahan itu bisa diketahui dunia di luar dirinya.

Adalah masa dalam pingitan Kartini melatih sifat kritisnya untuk melihat perubahan seperti khayalan yang selalu diceritakan pada sahabatnya di Belanda. Dalam surat-suratnya yang ditulis di Jepara bertarik 25 Mei tahun 1899 kepada Nona Zeehanelaar, Kartini menulis “Empat tahun, yang tak terkira lamanya, saya berkhalwat di antara empat tembok tebal, tiada pernah sedikit juapun melihat dunia luar. Betapa saya dapat menahan kehidupan yang demikian, tiadalah saya tahu—hanya yang saya ketahui, masa itu amat sengsaranya”. (HGTT, hal.39)

Kartini tidak hanya terkungkung dalam tembok rumahnya yang bergaya bangsawan Jawa namun terkungkung oleh tradisi yang membatasi perempuan (ningrat) untuk melihat ‘dunia luar’ tapi surat-surat yang ditulisnya itu menembus ruang dan waktu.

**
Syahdan, buku yang lusuh dan sudah termakan rayap itu memuat semua tulisan/surat-surat Kartini. Saya anggap kumpulan ‘curhat sejarah’ dari seorang perempuan ningrat  yang saya harus rawat (saya ingin menuliskan di blog ini tulisan surat-surat Kartini yang ada di buku itu suatu nanti).

Walau Kartini tidak merasakan angin perubahan sampai kematiannya tanggal 13 September 1904 namun semangat yang digelorakannya menembus zaman. Seperti yang ditulis Armijn Pane dalam buku itu, ramalan perubahan diimajikan terjadi setelah 30 tahun sesudah meninggal. Ramalan itu Kartini tuliskan:”…semangat zaman pembantu dan pembela saya, dimana-mana memperdengarkan gemuruh langkahnya; gedung tua kukuh dan dahsyat, tergoyang pada sendirinya ketika semangat zaman itu menghampiri—pintu yang dipalang dan dijaga kuat-kuat itu, lalu terbukalah, setengahnya seolah-olah dengan sendirinya, yang lain dengan amat susahnya, tetapi terbuka, semua mesti terbuka dan tamu yang tidak disukai itu pun masuklah! (surat kepada nona Zeehandelaar, 25 Mei 1890).

Dan antuasiasme khayalan Kartini pun menembus tembok dan zamannya.

Saturday, May 26, 2012

Lontara Rindu

Tak banyak yang dapat mengangkat cerita lokal terlebih daerah yang terpencil di Sulawasi Selatan begitu hidup dalam tarikan tulisan sebuah novel. Tapi Gegge Mappangewa, novelis Sulawesi Selatan yang saya kenal sejak membaca majalah anak muda (dulu Aneka, Annida)—sekarang tak lagi—itu berhasil mengangkat eksotika alam Sulawesi Selatan khususnya Sidenreng Rappang, tempat para Bissu, Tolotang--tempat penulis novel ini berasal. Konon sang penulis harus menghabiskan berbulan-bulan riset (lived in) tentang kepercayaan lokal itu untuk memberi 'roh' pada cerita yang diangkat (ini sumber dari sang istri penulis).

Dan baru kali ini saya merasakan yang dalam tentang alam raya Sidrap khususnya Cendrana melalu sebuah novel inspiratif: Lontara Rindu. Saya tentu berutang budi pada sang istri penulis novel ini, Nuvida Raf, saya lebih suka memanggilnya Teh Upik, mentor dan senior terbaik di jurusan. Saya yang ingin membeli novel ini malah dibawakan langsung oleh sang istri penulis dan tentu saja hanya nitip baca. Selebihnya saya harus membeli di toko buku.

Dan, saya terkesima. Bisa dibilang takjub melihat narasi novel ini dan tentu saja alam Sidrap yang menghampar luas tanah untuk padi dan ritual magis Tolotang yang hidup sampai hari ini. tak lupa juga saya takjub pada tokoh yang disebutkan. Lontara Rindu mengisahkan anak manusia Bugis : Vino dan Vito yang terpisah jauh karena perceraian keluarganya. Perbedaan kepercayaan antara Islam dan Tolotang yang tak bisa disatukan (walau dalam realitasnya tidak nampak) menjadi alasa keretakan keluarga. hamparan sawah, sekolah dan pengajian ternyata tak mampu menyatukan dua saudara ini. Vito harus memilih tinggal bersama ibunya sedangkan Vino dibawah Ayanhnya. Mereka pun dipsahkan tempat dan selat: Sulawesi dan Kalimantan. yang tersisa kemudian adalah rindu. Dua manusia Bugis yang harus menerima takdir berpisah. bertemu untuk berpisah.



Tapi dibalik keindahan Sidrap, Lontara, dan cerita hikayat Tolotang tersimpan tanda tanya(besar) di novel ini yang luput saat saya bertemu dengan penulisnya, adalah mengapa tokoh-tokoh di dalam novel itu memilih nama Vino dan Vito yang tentu saja kita kenal akrab dengan nama orang-orang kota atau kebarat-baratan? Menagapa tidak diberi nama khas Bugis yang tak kalah cantik "Tenri" misalnya. Tapi lokal biasa bercampur dalam modern yang bercampur baur pada sebuah zaman. Mungkin nama-nama (kampungan) itu tidak lagi cocok diangkat. Ini tentu berbeda di dalam novel 5 Menara yang masih mempertahankan kelokalan tokohnya: Baso, Dulmajid, Alif, Atang dan lain-lain misalnya. atau tokoh Marno dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan yang tak menghilangkan identitas ke-jawa-annya walau hidup di Amerika? Entah.

Namun Rasa hambar nama penokohan itu seakan ditutupi dengan alur cerita yang mengalir daengan tumpah ruah air mata pertemuan Vino dan Vito dan penyelasalan kedua orang tuanya yang memilih untuk sendiri. Kisah kenidahan Cendrana sebuah kampung di Sidrap dan pertemuan-perpisahan Vino-Vito akhirnya melengkapi ceirta novel yang menjuarai lomba menulis Republika 2012 ini.

Saya mengucap trimakasih buat Teh Upik yang meminjamkan novel suaminya untuk saya baca. Walau saya membacanya lompat-lompat (sebuah kebiasaan buruk dalam membaca). Sebuah kredit untuk novel rasa lokal ini atas pencapaian yang luar biasa besar. Mengangkat daerah yang tidak dikenal luas di pentas nasional. Saya yakin setting kelokalan yang cenderung esoterik malah lebih banyak meyimpan daya kejut, seperti dalam novel Lontara Rindu ini.

------
Trimakasih Kak Gegge Mappangewa dan Kak Upik...

Saturday, January 7, 2012

Semesta warna

--saat warna dan musik mengalunkan harmoni

Buku tentang penyembuhan? banyak sekali, tentang astrologi? dari dulu hingga sekarang sudah banyak hingga tak terhitung lagi jumlahnya. Tentang terapi apalagi? banyak di internet, sejak penjualan alat terapi beredar di tv atau MLM penjualan alat terapi pun semakin marak. Meskipun itu, tentu kita butuh membaca media penyembuhan yang lain--tentang warna atau musik misalnya.

Sebuah tulisan minimalis dengan judul "terapi musik dan Warna" yang diterjemahkan dari judul asli Healing with music and color dari penulisnya yang membenamkan diri menjadi terapis Mary Bassano memberi informasi berharga bahwa warna dan musik bisa menyembuhkan manusia dari energi-energi negatif.

Buku ini tidak berbeda jauh dengan "Rahasia Air" yang dikarang Mazaro Emoto, atau penyembuhan melalui yoga dan semacamnya. jika ada yang berbeda hanyalah cara penyajian, penulis merentangkan asal usul warna dan nada sampai cara penyembuhan sedetail mungkin. dibagian awal, asal mula nada dan warna dihadirkan, bagaimana bisa penciptaan alam semesta berhubungan dengan suara dan warna? penulisnya yang terapis itu menjelaskan bahwa alam dan kita itu sama, satu. Penciptaan jagad raya melalu dentuman bunyi (nada) kemudian mencipta warna semua saling berkelindan. berabad-abad lamanya suara dan warna akhinya menghiasi planet kita hingga sekarang. warna planet kita hijau, Mars yang kemerahan, Venus berwarna putih. atau kita mungkin masih ingat bagemana musik dicipta di film August Rush?. Ilham kadang datang dengan memanfaatkan harmoni alam. cerita composer besar Mozart, Bethoven hingga Kitaro memanfaatkan alam semesta sebagai medium.

Bagemana dengan warna? di buku ini menyaji tujuh warna sinergetik yang memberi manfaat, coba kita simak (saya hanya mengambil dua warna):

Merah
Nada: C
Cakra: Akar (pangkal tulang belakang)
karakteristik;kekuatan fisik, kepemimpinan, kemandirian,
Penanggulangan: Anemia, sirkulasi yang buruk, kekuarangan energi

saya sebutkan warna lagi yang lain;

Ungu
Nada: B
kelenjar: pineal
tubuh ragawi dan tubuh halus: Bersifat Ketuhanan
Karakteristik: dedikasi, mengabaikan diri sendiri demi membantu orang lain, peduli hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan
Penanggulanga: rasa tidak berguna, kekurangan motivasi, sejumlah penyakit mental dan rasa takut (hal.17)

Segala sesuatunya di alam ini merespon cahaya dan nada juga suara termasuk tumbuhan dan hewan.

Bagian terakhir di buku ini kita diajak mengenal astrologi warna. saya mengutipkan sesuai warna kesukaan saya: PUTIH. Bassano memberi pandangan penyuka putih cenderung menandakan sikap cermat, kritis, dan bersunggu-sungguh. dalam kebudayaan Mesir kuno putih melambangkan kemurnian, sifat feminin dan Bulan, berlawanan dengan merah yang maskulin. (hal 172).

kekurangan buku ini kita rasa seperti membaca buku-buku kesehatan atau astrologi. seperti halnya membaca resep kita selalu patuh pada aturan. namun sisi kesederhanaan buku ini nampak pada penulisnya tidak jlimet menarasikan nada dan warna dalam metode penyembuhan.

dibalik sisi kelebihan dan kekurangan buku ini, akhirnya sampai pada kesimpulan awal bahwa semesta musik dan warna bisa memberi kesembuhan bagi kehidupan kita.

Thursday, November 24, 2011

Warisan Dari Dunia Yang Hilang

INDONESIA ibarat benua yang hilang (the lost continent) dalam percaturan budaya dunia. untuk itulah pewaris mencoba menggali kembali sejarah kebudayaan Indonesia dalam buku :

"Ahli Waris Budaya Dunia : Menjadi Indonesia 1950-1965"

Di rentang waktu itu, sebagian orang hanya mengetahui tahun 65 yang identik dengan gerakan 30 september yang kemudian dikenal dengan G-30-S PKI. kisah yang berdarah-darah itu merenggut jutaan nyawa dengan waktu beberapa bulan saja.

Buku yang masih 'fresh from di oven' di akhir tahun 2011 ini memutar kembali drama dalam babakan yang silam di rentang waktu yang singkat (1950-1965). Lantas, warisan apa yang penting dari drama yang disebut sebagai 'tragedi' itu? jawabnya mungkin sejarah. Sejarah yang ditulis kembali. Hilmar Farid menyebutnya teleologi dalam sejarah.

buku ini menghimpun hasil kajian indonesianis dan sarjana Indonesia tentang riwayat kebudayaan di tahun 1950-1965 an itu.

di tahun itu, dalam buku yang tebalnya mencapai 606 halaman memanfaatkan lanskap Indonesia sebagai cerita. tak hanya tragedi 65, juga perang dingin, hubungan intenasional, aspirasi kolonial hingga terciptanya kehidupan budaya dan intelektual semarak hadir dalam sejarah tahun-tahun itu.

Sebagai catatan, peristiwa tahun 65 menjadi gelora kebudayaan (Lekra-Manikebu) setidaknya menjadi pemaparan pembedah yang menghadirkan penulis sekallgus editor Jennifer Lindsay dan beberapa kontributor dalam diskusi yang disebut bedah buku.

Pembedah yang masih menempuh pendidikan di National University of Singapore (NUS) Hilmar Farid menyebut peristiwa itu sebagai "Benua yang hilang, Indonesia 1950-65". ada kecenderungan utama menurutnya,
"mereduksi seluruh narasi sejarah kepada pertentangan Lekra dengan musuh-musuhnya,terutama Manikebu. padahal tidak ada pertentangan yang berarti, ada pengaburan sejarah di masa orde baru yang menganggap tahun-tahun 65 adalah masa yang 'kacau balau".
Buku ini memang tidak hanya mengangkat cerita PKI sebagai narasi utama, namun banyak kenyataan sejarah yang hadir dihadirkan. buku ini lebih dekat dengan wacana poskolonial atau cultural studies (saya lebih suka menyebutnya buku sejarah), walau kita tahu, Indonesia menjadi narasi kecil dalam wacana postkolonial, beda India atau Afrika. Dunia yang terlupakan dari panggung sejarah.

bahasa buku ini terbagi dalam dua versi, Inggris dan Indonesia. Tentu saja terjemahan dalam bahasa asing itu sebagai upaya menujukkan sejarah kebudayaan Indonesia di tahun 65 kepada dunia.

Tak bisa dinafikan buku ini ada karena sumbangan banyak pemikir Indonesianis maupun bukan; Hong Liu mengurai bayangan RRC dalam bentukan wacana intelektual di Indonesia. Hairus Salim tentang pakistan dan Mesir. Sementara Budiawan membahas pemikiran politik kiri di dunia melayu. Choirotum Choisaan tentang konfrensi islam Asia-Afrika, Tony Day dan Hong Liu dalam esainya perang dingin.

Jenny Lindsay, dalam pengatarnya mengatakan, tujuan buku ini adalah membuka jalan untuk memikirkan penelitian baru dengan pertanyaan yang lebih bermutu. menjadi pertanyaan sekarang mampukah buku ini menjadi pembuka warisan budaya Indonesia dalam konteks sekarang ke mata dunia, siapa yang mewarisi dan apakah hanya ini menjadi warisan satu-satunya?. tak mudah menjawabnya karena bangsa Indonesia sebagian kecil wawasan sejarahnya masih kurang memadai.

Hilmar Hafid mencoba berkata bahwa orang menabuh gendang dan kita ikut menari, sekali-sekali kita (orang Indonesia) jadi penabuhnya. menabuh gendang sejarah ke dunia yang lain. gelora ke-Indonesia-an memang telah ditabuh dalam buku ini.

  • Buku : Ahli Waris, Budaya Dunia, Menjadi Indonesia 1950-1965
  • Penyunting : Jennifer Lindsay - Maya H.T. Liem
  • Penerbit : KITLV Jakarta - Pustaka Larasan 2011


emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.