Showing posts with label Non Akhmad. Show all posts
Showing posts with label Non Akhmad. Show all posts

Saturday, May 23, 2015

Pusat Dunia

Untuk Zahra,

Dunia berubah dan kau pun ikut di dalamnya. perubahan dari hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun selalu ada perubahan di dirimu. itu bagus. dan kami senang melihatmu berkembang.

Anak kecil seperti dirimu adalah dunia. Ignas Kleden menyebutnya anak kecil sebagai pusat dunia sehingga sesuatu harus sesuai dengan keinginannya. demikian dirimu tak ada yang bisa menolak keinginanmu. dari Boneka di sebuah toko hingga mainan seluncuran di samping rumah semua untuk dirimu. rengekanmu, tangisanmu bahkan ibamu adalah keharusan yang tak bisa kami tolak.

Sikap self centered mu itu membuat kami tahu apa artinya menjadi orang tua. Ikhlas dan nurut apa yang kau inginkan adalah kewajiban yang harus ditunaikan. dari sini melepas ego butuh latihan. kau melatih kami untuk tabah. tabah mengikuti dirimu.

Teruslah tumbuh dan menjadi terang

Sore Di Kedai Za 21 Mei 2015

Sunday, December 7, 2014

Di Bandara Ku Rindu Rumah

tiba di bandara namun rindu masih saja ada pada Ibu dan Za yang senyumnya seperti pagi. menyejukkan.

sore ini memang teduh. alang alang baru saja tumbuh setelah di terpa hujan. orang sibuk dengan segala aktifitasnya. di kejauhan aspal landasan masih sunyi tak ada kabar pesawatnya akan datang. saya menepi seraya mengamati pesawat yang katanya akan segera tiba.

melihat pemandangan sekitar di balik kaca bandara itu sesuatu yang selalu saya lakukan. ada romantisme dan juga dramatis bercampur aduk, berkelindan. apalagi menyaksikan alam dan lalu lintas manusia yang tak tahu akan dan mau kemana tujuannya. mungkin saya orang sosiologi jadi bawaannya selalu mengamati realitas. selalu sibuk mengurusi berbagai hal.

***

Pesawat pun tiba, ruang informasi mengabarkan kepada penumpang untuk segera naik pesawat. saya duduk di bagian ekor dan perlahan hp dimatikan. sang burung besi pun membawa saya mengangkasa.

di sambut hujan sore pesawat mendarat dengan lembut. suasana Kota Makassar membuat seperti di rumah saja. hangat.

di kota yang menyimpan banyak kenangan saat kuliah dulu saya merindukan ibu dan za...rindu sekali.

-----

071214 saat makassar sedang hujan.

Thursday, May 2, 2013

Bahtera 30.09.13

Tidak terasa bahtera yang saya tumpangi bersama mantan pacar yang sudah menjadi istri saya sekarang Andi Rugayyah Akhmad sudah memasuki hari ke 30. Itu berarti memasuki usia sebulan. Masih muda memang tapi jika menghitung hari ke hari dalam Bulan itu akan terasa lama.

Syahdan, kini saya mulai menjadi seorang ayah dengan penghasilan yang belum bisa dikatakan mapan walau menyandang gelar Master dan mengajar di kampus kecil (itupun swasta). Kondisi ini membuat saya harus bekerja keras. Bahtera musti terus mengarungi samudera luas.

Dan dia juga telah mulai menjadi seorang Ibu yang tentu harus bisa mengerti apa dan sebagaimana adanya saya. Dia bekerja dalam bidang yang sama sekali berbeda dengan dunia saya: wiraswasta. Dengan jenis pekerjaan, waktu, dan tempat yang bekerja yang berbeda, ia harus harus mengerti tentang saya.

Secara sosiologis, dalam mengarungi bahtera keluarga, individu(ego) musti dilebur, berani terbuka dan saling membuka ruang dialogis. Jika tidak, keluarga hanya menjadi cerita usang. Dan akhirnya karam. Saya dan dia banyak belajar dari itu. Tidak mudah memang, tapi selalu kami coba.

Banyak yang bilang membina keluarga tidaklah mudah. Dan itu yang akan kami hadapi kedepannya kelak dan kami sudah siap dengan segala kondisi itu. Memilih berkeluarga tentu sudah tahu resiko. Seperti Karlina Supelli bilang, perkawinan adalah kemampuan menata diri dalam kehidupan—sekalipun menikah dan tidak menikah. Jadi menikah ataupun tidak adalah soal menata diri. Dan bagi kami resiko itu ada antara menikah dan tidak menikah. Dan akhirnya kami memilih resiko itu dengan menikah.

Menikah ibarat kontrak social. Harapan lahir, tumbuh, mekar dan layu tergantung bagaimana kontrak itu ditaati.

Ketika seorang dewasa memutuskan menikah, kata Karlina Supelli lagi, ia adalah sebuah ragam kaya dimensi yang terbentuk  dan ia hidupi sejak masa kanak-kanaknya. Ia adalah orientasi moral dan spiritual, ia adalah komitmen yang membentuk cakrawala megenai apa yang bermakna baginya. Dan diakhir, Karlina mengakhiri pesannya, menikah adalah fungsi, status, dan posisi. Dengan ini, menikah tidak saja sebagai pemenuhan kebutuhan fisik tapi juga psikis.

Menikah adalah mimpi mimpi yang selalu dirawat orang dari kecil hingga dewasa-punya anak, rumah, jadi tua: kakek-nenek, dan akhirnya mati. Kemudia cerita dirangkai lagi dari generasi mendatang. Begitu seterusnya. Dan saya (dan dia) yang menjadi bagian yang merawat mimpi itu.
 
Diakhir dengan mengutip (lagi-lagi) kata Karlina, menikah adalah soal sekolah hati. Menikah adalah sukma yang melebur dalam sejarah kehidupan tiap-tiap orang.

Berlayarlah sampai jauh Bahtera(ku)…

**
Hujan rintikrinti saat catatan ini diposting

----
kisah klasik di 29.Maret.2013




Wednesday, February 13, 2013

Menikah

    UNTUK ISTRI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Membuka tabir rahasia,

    Suami yang menikahi kamu,
    Tidaklah semulia Muhammad,
    Tidaklah setakwa Ibrahim,
    Pun tidak setabah Ayub,
    Atau pun segagah Musa,
    apalagi setampan Yusuf

    Justeru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
    Yang punya cita-cita,
    Membangun keturunan yang soleh .......
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama,

    Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
    suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
    Suami bagaikan balita yang nakal, Kamu adalah penuntun
    kenakalannya,
    Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur
    singasananya,
    Seketika Suami menjadi bisa, Kamu lah penawar obatnya,
    Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah
    memperingatkannya..

    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajarkan kita perlunya iman dan takwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan redho,
    Karena memiliki suami yang tak segagah mana,Justru kamu akan tersentak dari alpa
    Kamu bukanlah Khadijah,
    yang begitu sempurna di dalam menjaga
    Pun bukanlah Hajar,
    yang begitu setia dalam sengsara
    Cuma wanita akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi solehah.....
    Amin.

    UNTUK SUAMI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)

    Pernikahan atau perkawinan,
    Menyingkap tabir rahasia.

    Isteri yang kamu nikahi,
    Tidaklah semulia Khadijah,
    Tidaklah setaqwa Aisyah,
    Pun tidak setabah Fatimah.

    Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama.

    Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
    Isteri lading tanaman, Kamu pemagarnya,
    Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
    Isteri adalah murid, Kamu mursyidnya,
    Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya,
    Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
    Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar
    bisanya,
    Seandainya Isteri tulang yang bengkok, berhatilah
    meluruskannya,

    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan ridha,
    Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
    Justeru kamu akan tersentak dari alpa,

    PunKamu bukanlah Rasulullah pun bukanlah Saidina Ali Karamaullahhuwajah,
    Cuma suami akhir zaman,
    Yang berusaha menjadi soleh.....
    Amin...

Saya mengutipnya di laman facebook kumpulan humor Gusdur .  humor ala Gusdur yang selalu renyah. Saya terhenti dibagian nasehat tentang menikah.

Beberapa hari yang lalu tepatnya Minggu malam tepat tanggal 10 Februari 2013 saya telah melamar seorang gadis peranakan Arab-Bugis bernama Andi Rugayyah Akhmad, saya dan beberapa orang di rumahnya lebih sering memanggil akrab dia Ti Non.

Syahdan, menjalani atau menghadapi ritus pernikahan bagi saya adalah sebuah enigma. Seperti misteri walaupun saya harus menghadapinya, que sera sera, qun faya qun, yang terjadi terjadilah.

Walaupun saya akan menghadapinya tapi saya ingin bercerita tentang sebuah pernikahan. Dari realita yang saya temui banyak kisah yang membuat saya merenung tentang pernikahan mulai dari perbedaan dan juga kasus yang menyertainya (perceraian, kekerasan dan lain-lain).

Analogi sebuah bahtera. Perkawinan pun harus siap diterpa gelombang kecil maupun besar. Beberapa teman yang telah menikah selalu berkata bahwa pernikahan selalu tidak mudah. Terlalu banyak perbedaan menyebabkan berujung pertengkaran. Bagi saya perbedaan adalah niscaya. Bukankah orang yang menikah lahir tidak sama? atau karena perbedaan membuat kita mencari persamaanya bukan? Jawaban ini memang kurang memuaskan bagi teman saya.

Saya hanya ingin mengatakan jika bertemu lagi pada teman itu bahwa menikah adalah sebuah proyek masa depan. Sebagai bahtera, pernikahan butuh nahkoda yang siap menerjang gelombang samudra. Ketika lengah, maka ia pasti karam.

Dari nasehat ala Gus Dur inilah saya ingin merenungkan kembali dalam mengambil keputusan mengarungi bahtera: Pernikahan.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.