Showing posts with label Puisi dan sisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi dan sisi. Show all posts

Thursday, July 5, 2018

Banjir di Kota Kecil

Hujan tumpah sore itu
di kota kecil yang damai
diantara genangan
Anak-anak riang bernyanyi
di atas rakit batang pisangnya

dari arah Masjid
bah datang tak henti-henti
pohon, rumah, gorong-gorong tak kuasa menahan beban
rebah dengan tenang

Air bah mengalir jauh ke hulu,
ke laut bersama tumpukan sampah, air mata
dan harapan warga.

------
Banjir di Bulan Juni 2018. Banjir terparah setelah tahun 2013. Merendam hampir seluruh kota Kendari. Sebagai warga kota, saya berharap semoga pemerintah kota memikirkan cara preventif yang terukur dalam melihat persoalan banjir di perkotaan yang hampir setiap musim hujan selalu meresahkan warga.

Wednesday, July 4, 2012

Dia di lini masa

kepada Non,

Aku belum lupa mengingat usiamu,
tiga puluh hanya angka pada kalender
yang tiap tahun, jam kau menghitungnya

dan

kau rayakan kini
saat daun-daun gugur di ranting pohon
dan kau tahu itu bahwa
tua adalah berkah

lalu apa yang kau takutkan manisku?

sini kemari
sebelum semuanya terlambat
ijinkan kudekap kau
sekedar berbisik: waktumu adalah kumpulan kisah-kisah

-----
Jogja, saat bulan bersinar terang di malam Juli 2012

Wednesday, May 2, 2012

Pada sebuah foto

ADA selembar foto hitam putih yang
kusisip diselasela lembar diarimu

empat kata manis dari Rendra di pojok kanan bawah
bertera: "daya hidup adalah kau"
ia berbicara tentang kau yang hadir
dari segenap masa silamku

foto kecil yang hitam putih itu,
mencoba menghadirkan kenangan
yang beku
sebab cepat atau lambat ia usang atau
sobek atau malah hilang entah kemana
dan kita tak pernah tahu kabarnya.

disini, di tempatku menjauh
hanya sanggup menerka-nerka
apakah foto yang kusisipkan itu
mengingatkanmu tentang aku?

entah, ingatan hanyalah angin yang lewat.

--------
Yogyakarta, 02052012

Saturday, April 28, 2012

Tagore dalam kidung Gitanjali

DI TIMUR JAUH, India pernah hidup seorang penyair besar bernama Tagore, demikian ia sering disapa penyair dan filsuf itu. Nama lengkapnya sebenarnya Rabinranath Tagore, lahir di Calcuta 7 Mei 1861. Semasa hidup ia sempat mengunjungi Inggris, tuan negara koloni (juga kolonilisme) dan kembali kemudian setelah lelah mengembara menuju negeri asalnya tumbuh, India.

Sampai disini saja tentang sosok Tagore sebagai seorang penyair besar. Saya hanya ingin mengutipkan sebuah karya Magnum Opus-nya yang diberi judul “Gitanjali”. Karya ini terbit pertama kali tahun 1912 dan sangat terkenal dan setahun kemudian mendapatkan Nobel sastra tahun 1913.

Membahas Gitanjali juga membahas Tagore, begitupun sebaliknya, Tagore adalah Gitanjali. Secara harfiah Gitanjali dapat diartikan “git” yang berarti lagu dan “anjoli” berarti menawarkan, secara terjemahan bebas bisa diartikan sebagai “sebuah lagu persembahan”. Karya Tagore ini sebenarnya berisi prosa liris yang berisi tentang kehidupan, cinta, serta alam semesta. Ada rangkaian antara kehidupan dan prosa yang dibangun dalam tiap lirik Gitanjali. Terdapat beragam kehidupan terlukis diantara nyayian burung, awan, matahari, hingga rumput liar.

[Saya kemudian ingat Jalaluddin Rumi].

India sebagai proses tumbuhnya peradaban sangat menguntungkan Tagore dalam menulis puisi dan prosa. Kearifan Brahmanisme, keheningan Yoga dan mitos para Dewa-Dewi Hindu menguntungkan Tagore untuk masuk menyelami enigma puisinya. Heinrich Zimmer dalam Sejarah Filsafat India bilang aspek filsafat India itu saling melengkapi dari sebuah kebenaran tentang berbagai latar kesadaran. Selanjutnya lanjut Zimmer lagi, Filsafat Timur (India) dibarengi dengan ketaziman, ia berkata “...dengan cara ini filsafat timur dibarengi dan diikuti dengan mempraktekkan sebuah pandangan hidup-pengasingan monastik, asketisme, meditasi, berdoa, amalan yoga, dan sembahyang dalam waktu yang lama setiap harinya...”.

Searah jalan, Gitanjali juga adalah persembahan (“semba" “hyang"). Bagi saya Gitanjali adalah sebuah doa, kidung dan segala yang masuk dalam kategori sebuah persembahan itu. Untuk itu Gitanjali tidak hanya sekedar puisi cinta atau prosa liris namun juga doa.

Saya tidak bisa berlama-lama untuk menampilkan Gitanjali, kidung Tagore itu. biarkan yang membaca yang menilai; ini doa atau puisi atau apa? Saya hanya kutip prolog dan epilog kumpulan puisi dan prosa penyair besar India itu.

***
Engkau menciptakan aku tanpa akhir, itulah kesenanganmu. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi, dan kau isi selamanya dengan kehidupan yang segar.

Seruling buluh yang kecil ini kau bawa melintasi perbukitan dan ngarai, dan bernapas melaluinya kau hembuskan melodi yang selalu baru.

Pada sentuhan abadi tanganmu hati kecilku kehilangan batasnya dalam keriangan dan melahirkan ungkapan yang tak terkatakan.

Pemberianmu yang tak terbatas datang padaku hanya dalam tanganku yang sangat kecil ini. Masa-masa berlalu, masih kau tuangkan, dan disana masih ada ruang untuk diisi

***
Dengan satu salam padamu, Tuhanku, biarkan semua perasaanku menyebar dan menyentuh dunia ini di kakimu.

Seperti awan-hujan bulan juli yang tergantung rendah dengan beban rintik yang tak tercurahkan. Biarkan semua pikiranku membungkuk rendah pada pintumu dengan satu salam padamu.

Biarkan semua lagu-laguku yang mengumpulkan bersama bermacam nada mereka ke dalam satu arus dan mengalir ke lautan keheningan dengan satu salam untukmu.

Seperti sekawanan bangau yang rindu rumah yang terbang siang dan malam pulang kembali ke sarang-sarang pegunungan mereka. Biarkan seluruh hidupku melakukan perjalanannya ke rumah abadinya dengan satu salam untukmu.

----
setelah membaca Gitanjali (lagu persembahan - Prosa Cinta dan Kehidupan

Monday, February 20, 2012

Dalam Mesjid

tak ada keselamatan di luar Mesjid, begitu katamu.
kau pun berkhotbah di atas menara
yang terdengar diseluruh penjuru
terasa menusuk
dan aku terlena.

jika ini adalah benar, Mesjid di hatimu.
tenangkalah, damaikanlah
biarkan ku larut
karena tak ada tempat lagi sedamai disini

Jogja, 2012

Sunday, February 12, 2012

Akhir dari sebuah tanya


akhirnya kutemukan sebuah tanya
dengan kata-kata berantai
dan aku berjanji.

dan dipersimpangan jalan
ada jawaban dari sepotong kayu
yang mulai merapuh
ia berbisik pada kalbu
"tetaplah merunduk pada tanah"
diulanginya sekali lagi

dan ku eratkan dalam hati

Jogja, 2012

------
foto: Ana & Asri (ponakan)

Thursday, February 9, 2012

Estuaria


karena laut, sungai lupa jalan pulang*
tapi bukankah dia selayaknya disana?

air

melarung rindu ke muara,
mengalir
dalam sunyi sedan yang tak dikatakan

dan ia menanti bintang timur menuntunnya
juga sekawanan camar yang bertolak
pulang

sampai akhirnya terpaku membisu
karena diteduhi satu bulan penuh
sampai semua jadi hening

dan aku menanti disini
di batas garis lengkung bibirmu

Jogja 2012
--------
Foto: ArtJogja 2011
*penggalan sajak Saut Situmorang
**Estuaria tempat bertemunya air laut dengan air sungai

Monday, February 6, 2012

Hujan rintikrintik


---------
Sumber: Akun Facebook *Kris Budiman

Friday, February 3, 2012

Sagan GK V 882

Rumah ini penuh dengan kamar
dan matahari yang selalu menepi di jendela kaca. ketika pagi
dering penjaja roti setia didepan pintu
"sudah banyak penikmat remah-remah pagi,
aku salah satunya"

ruang tengah 3x3 selalu ramai
dengan nuansa yang saling berpagut
bersama tawa riang memenuhi ruang tamu

dan tiba-tiba segalanya sepi

sekeliling menjadi sunyi. atas, bawah, kiri, kanan
depan, belakang, dan
ruang tengah: kosong,
malam akhirnya membuat semuanya tak bernyawa

dan esok, satu demi satu pergi
yang satu usai menunaikan tugas,
dan satu yang lain entah, berada diluar jangkauan: kabar,
terlalu sulit datangnya

dan kita pun menyisakan kenangan.

Jogja 2012

----------
foto: koleksi pribadi #Artjogja 2011

Friday, January 27, 2012

Di ujung cerita

de fabula narratur,
karena engkaulah cerita ini dituturkan

--Horatius,

di kursi malasnya
ia mencoba menyambung cerita

dari kisah yang lewat
tentang kesatria pedang yang baru turun dari balik hutan
dan putri bersepatu kaca.

sambil dianyun-ayunkan kursinya
ia melenguh, menghirup udara dingin
masuk melewati hidung, hingga paru-paru
penuh, tak bersisa.

sejurus kemudian, ia meraih buku usang,
disampaikannya sebuah hikayat yang lebih cocok disebut dongeng.
dan tiba-tiba sunyi, hanya
suara kecipak air dipermainkan hujan

dan akhirnya terlelap.

2012

Sunday, January 22, 2012

Kunang-kunang dalam kotak kaca

'aku akan berdiam disini sampai tua', sahut photuris*

Jangan bimbang. nanti kupetik kembang setaman
atau anyelir.
namun, jika kau tak menyukainya
kupersembahkan cahayaku dalam kotak kaca
hingga kau menjawab "iya"
sampai aku meluruh.

Kau tahu?
aku tak lagi percaya takdir
sebab ia selalu menyimpan sunyi
tapi
aku percaya kau.

Malam pasti mendengar,
lirih sunyi suaramu
yang diterbangkan angin
menyusup dari kotak kaca itu

Jangan takut. telah kusiapkan
tujuh ksatria yang kembali dari balik hutan
dengan pedangnya yang rela mati untukmu,
merelakan tubuhnya terbakar sampai habis.

Kau tahu, rindu itu seperti cerita nina-bobok?

Jadi terlelaplah,
raih selimutmu
lafazkan doa, sebelum kau padamkan lampu
dan semuanya menjadi gelap.

Aku tak lupa
kau bisa pendarkan cahaya.

Yogkakarta, minggu 220112
--------------
ilham pagi itu:
*salah satu jenis kunang-kunang, cahaya mereka berperan dalam perburuan dan perkawinan.

**agaknya pada diniharilah gelap adalah sebuah ajektif bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kelebihan: gelap adalah sesuatu yang bersama kita sebelum cahaya; ia juga sesuatu yang akan bersama kita sesudah cahaya." Goenawan Mohamad - In the Wee Small Hours [http://puisigm.blogspot.com/]

Wednesday, January 18, 2012

Sore itu di toko bunga


Sore itu, hujan belum benar reda. Berkunjung ke Florist dekat Kota Baru sekedar bertanya karangan bunga atas permintaan seorang (yang pernah menjadi atasan) dan dosen saya di kampus, Prof. Dr. Dwi Aries Tina, NK, MA.

Melihat rangkaian bunga segar yang (mungkin) baru saja dipetik yang masih basah itu saya teringat kamu. saya pun lupa perintah atasanku, saya terpaku melihat bunga seindah itu. sore itu memang berbunga-bunga.

***
kusebut kau Bunga
seperti kolopaknya menunggu
hujan sore yang basah
dengan riang dicumbui rinai yang gelisah
Hujan gerimis itu pasti reda, tapi memujamu tak akan ada habis-habisnya
ada waktunya kau
berlindung pada pendar
cahaya matahari.
tempat hangatnya segala yang rindu
:rinduku juga rindumu
malam meredakan hujan sore di toko bunga itu.
demi sejumput cahaya
pada kunang-kunang di tanganmu
kuingin pundakmu ku tempiaskan lara
tempatku melarung sakit,
sakit menahan rindu

*di florist Kota Baru Yogyakarta, 2011

-------------
terimakasih buat Nuryadi Kadir, yang mengabadikan rangkaian mawar itu dalam iPhone-nya. Jika saja kau perempuan sore itu, maka sajak ini lebih cocok untuk dirimu.

Saturday, January 14, 2012

Kicau puisi *Joko Pinurbo

6. Tuhan, aku twit Kau setiap malam, tapi Kau bilang doaku masih terlampau panjang.

5. Dompetku sedang twit, Tuhan sayang sehingga aku lupa sembahyang.

4. Rindu disobek sedikit-sedikit, lama-lama menjadi twit.

3. Sudah jam tiga pagi lebih sedikit. Layar komputernya sudah berembun. Matanya mulai rabun. Tapi hatinya masih saja twit.

2. Hanya dengan satu twit kau mendarat di mataku. Hanya dengan tiga twit kau sekarat di bibirku.

1. Ia kehilangan kata cinta, rindu, dan basu yang ia simpan di bawah bantal. Tengah malam ia mengigau menjerit-jerit: Twit! Twit!

Tuesday, January 10, 2012

Kepada Non


di kotamu
pernah kurasa hangatnya kata,
walau waktu meluruh kini
menghilangkan suasana senja.
hanya sungai kering
kerontang kehilangan basah dan
tak lagi sejuk,
seperti ranum wajahmu
yang hilang ke bukit tandus*

tempat dikubur segala yang mati*.

saat malam
bulan datang menyapa sunyi. tak ada
suaramu selembut dahulu
membenamkan kecup yang pernah singgah di ubun ubun.
romansakah aku? atau hanya
ini kerinduan ku saja?

--------------
*Saut Situmorang
**Foto : Jogja Art 2011

Thursday, December 29, 2011

Dia Tertawa

Untukmu Nayla

Dia tertawa, sekian lama hidup dalam genangan air mataku
dan ketakzimanku menerima segala coba

Dia tertawa, diatas ketololanku terjebak dalam kubangan rasa
dan hatimu tak menerima aku sepenuh raga,
sia-sia.

Dia tertawa,
tertawa diatas dukaku, menusuk hatiku

kau adalah mata, aku air matamu*

---------
*kepada puisi, Joko Pinurbo

Wednesday, December 28, 2011

Sujud Cinta Rabi'ah al-'Adawiyah

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
hingga tak ada sesuatu pun menggangguku
dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelip-kerlip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malam pun berlalu
dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kauterima
Hingga aku berhak merengguk bahagia
ataukah itu Kautolak, hingga aku dihimpit duka
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalu kulakukan
selama Kauberi aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kauusir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

Monday, December 26, 2011

Memuja

Sudah kukata
aku memuja tapi tak berniat memilikimu

Biarlah kau kularung
dilautan kisahku yang tak bertepi
berlayar dalam sunyi,
menyepi

diantara semak belukar
kau,
pendarkan cahaya kunang-kunang

kau kubekukan dalam kenanganku

Tuesday, July 26, 2011

Masih setia

Ricik air, gemuruh ombak, desau angin
Dan Nyanyian burung-burung
Aku mengingatmu tatkala sore
Di beranda itu dengan senyum tipismu
Tak henti membayang diriku hanyut dalam jiwamu

Bandul memantul-mantul waktu
Detak jantungku tak lagi lambat
Mengalirikan darahku darahmu
Kucoba regut bayangmu hari ini
Sambil membayang dirimu larut dalam nyanyianku

Akan kucoba diwaktu yang lain
Saat matahari masih setia
Saat bumi tetap tabah
Dan bulan yang selalu pucat

Yogyakarta, 260711

Tuesday, June 21, 2011

Tiga ranting



tiga ranting
perlahan,
melepas dedaunan dengan rela : tak kuasa lagi menahannya disana

Ranting dan sebait puisi hujan bulan juni

: untuk non

Ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. ya, Ranting itu, dengan kesabarannya mencintaimu. Walaupun kau tak menyadari. Ia mencintaimu diam-diam. Tak pernah berfikir untuk berkata

Ranting itu yang dalam suka dan tawamu menemani. tak bosan menjagamu. Walau kau tak menyadarinya. Setia apa adanya. Tak pernah berniat berpaling

Ia jua yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Dibiarkan perasannya tertahan tak terungkap. Walau kau menyadarinya. ia rela menahan waktu. Menunggu senja beringsut perlahan-lahan. Menjemputnya

Ranting itulah yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Tak ada yang lain. Memujamu tak henti-hentinya. Ia masih disitu diranting itu

Ranting (dan) kita

ini tentang kita
Saat mengenang masamasa silam di jalan itu.
Bertukar tawa, air mata, dan kesiasiaan

Masih tentang kita
Saat menuliskan sebait cerita di kertas berwarna dan menggangtungnya dirantingranting pohon itu. tak habis-habis kata untuk di eja. Tak lekang pula waktu menunggu hinggai kertas-kertas itu memudar dan lapuk. Diurai waktu

Dan ini akhir dari kita
Ketika harapan sebatas utopia, tak berwujud seperti cerita dalam kertas itu : menghilang dan tenggelam

cerita kita ada diranting itu.
Yogya, 210611


Saturday, April 16, 2011

ta ta ta (bicara bayi)

ta ta ta ta

da da da da

suara adalah misteri

"aku tak butuh dimengerti manusia dewasa"

mungkin, ia hanya butuh di beri waktu
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.