Showing posts with label india. Show all posts
Showing posts with label india. Show all posts

Saturday, April 28, 2012

Tagore dalam kidung Gitanjali

DI TIMUR JAUH, India pernah hidup seorang penyair besar bernama Tagore, demikian ia sering disapa penyair dan filsuf itu. Nama lengkapnya sebenarnya Rabinranath Tagore, lahir di Calcuta 7 Mei 1861. Semasa hidup ia sempat mengunjungi Inggris, tuan negara koloni (juga kolonilisme) dan kembali kemudian setelah lelah mengembara menuju negeri asalnya tumbuh, India.

Sampai disini saja tentang sosok Tagore sebagai seorang penyair besar. Saya hanya ingin mengutipkan sebuah karya Magnum Opus-nya yang diberi judul “Gitanjali”. Karya ini terbit pertama kali tahun 1912 dan sangat terkenal dan setahun kemudian mendapatkan Nobel sastra tahun 1913.

Membahas Gitanjali juga membahas Tagore, begitupun sebaliknya, Tagore adalah Gitanjali. Secara harfiah Gitanjali dapat diartikan “git” yang berarti lagu dan “anjoli” berarti menawarkan, secara terjemahan bebas bisa diartikan sebagai “sebuah lagu persembahan”. Karya Tagore ini sebenarnya berisi prosa liris yang berisi tentang kehidupan, cinta, serta alam semesta. Ada rangkaian antara kehidupan dan prosa yang dibangun dalam tiap lirik Gitanjali. Terdapat beragam kehidupan terlukis diantara nyayian burung, awan, matahari, hingga rumput liar.

[Saya kemudian ingat Jalaluddin Rumi].

India sebagai proses tumbuhnya peradaban sangat menguntungkan Tagore dalam menulis puisi dan prosa. Kearifan Brahmanisme, keheningan Yoga dan mitos para Dewa-Dewi Hindu menguntungkan Tagore untuk masuk menyelami enigma puisinya. Heinrich Zimmer dalam Sejarah Filsafat India bilang aspek filsafat India itu saling melengkapi dari sebuah kebenaran tentang berbagai latar kesadaran. Selanjutnya lanjut Zimmer lagi, Filsafat Timur (India) dibarengi dengan ketaziman, ia berkata “...dengan cara ini filsafat timur dibarengi dan diikuti dengan mempraktekkan sebuah pandangan hidup-pengasingan monastik, asketisme, meditasi, berdoa, amalan yoga, dan sembahyang dalam waktu yang lama setiap harinya...”.

Searah jalan, Gitanjali juga adalah persembahan (“semba" “hyang"). Bagi saya Gitanjali adalah sebuah doa, kidung dan segala yang masuk dalam kategori sebuah persembahan itu. Untuk itu Gitanjali tidak hanya sekedar puisi cinta atau prosa liris namun juga doa.

Saya tidak bisa berlama-lama untuk menampilkan Gitanjali, kidung Tagore itu. biarkan yang membaca yang menilai; ini doa atau puisi atau apa? Saya hanya kutip prolog dan epilog kumpulan puisi dan prosa penyair besar India itu.

***
Engkau menciptakan aku tanpa akhir, itulah kesenanganmu. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi. Bejana yang lemah ini kau kosongkan lagi dan lagi, dan kau isi selamanya dengan kehidupan yang segar.

Seruling buluh yang kecil ini kau bawa melintasi perbukitan dan ngarai, dan bernapas melaluinya kau hembuskan melodi yang selalu baru.

Pada sentuhan abadi tanganmu hati kecilku kehilangan batasnya dalam keriangan dan melahirkan ungkapan yang tak terkatakan.

Pemberianmu yang tak terbatas datang padaku hanya dalam tanganku yang sangat kecil ini. Masa-masa berlalu, masih kau tuangkan, dan disana masih ada ruang untuk diisi

***
Dengan satu salam padamu, Tuhanku, biarkan semua perasaanku menyebar dan menyentuh dunia ini di kakimu.

Seperti awan-hujan bulan juli yang tergantung rendah dengan beban rintik yang tak tercurahkan. Biarkan semua pikiranku membungkuk rendah pada pintumu dengan satu salam padamu.

Biarkan semua lagu-laguku yang mengumpulkan bersama bermacam nada mereka ke dalam satu arus dan mengalir ke lautan keheningan dengan satu salam untukmu.

Seperti sekawanan bangau yang rindu rumah yang terbang siang dan malam pulang kembali ke sarang-sarang pegunungan mereka. Biarkan seluruh hidupku melakukan perjalanannya ke rumah abadinya dengan satu salam untukmu.

----
setelah membaca Gitanjali (lagu persembahan - Prosa Cinta dan Kehidupan

Friday, December 16, 2011

Jai guru deva...

INDIA dengan segala isinya yang dikandung—mitologi, mistisme, peradaban, yoga, asketisme, sejarah, budaya, filsafat, film, hingga musik—tak pernah habis-habisnya diselami. tempat lahirnya jagad dewa ini adalah bagian alam yang menampung milyaran manusia.

syahdan, saya tertahan dengan petikan lagu The Beatles “Jai guru deva om” di lagu Across the Universe. Terus terang saya tak banyak menyimak lirik lagu band legendaris asal Liverpool ini. Yang sering saya dengar dan hapal (benar-benar hapaf liriknya) hanyalah Hey Jude, Yesterday, Yellow Submarine dan Imagine yang dinyanyikan salah satu personil Beatles, John Lennon. Selebihnya saya tak tahu.

Namun petikan sansekerta di dalam lagu-Jai Guru Dewa Om-yang mengandung puji-pujian itu membuat saya mendengar dengan takzim, akhirnya saya membuka buku Heinrich Zimmer “Sejarah Filsafat India”.

Bagaimana dengan Jai Guru Deva? Saya membolak balik buku Zimmer yang tebalnya mencapai 614 halaman itu, tak satupun ada kata Jai Guru Deva (mengingat indra saya yang terbatas). Merasa tak puas, saya browsing internet dan mengetik keyword "Jai Guru Deva Om", hasilnya selalu merujuk ke lagu the Beatles itu, membuka wikipedia pun tetap sama.

Namun dari sini, di lagu itu akhirnya menemukan sedikit pencerahan bahwa Jai Guru Deva Om yang ditambatkan ke dalam lirik across the universe itu memiliki kisah spritual bagi personil Beatles. liriknya dekat dengan nuansa spritual yang diciptakan John Lennon dipagi buta ketika sedang melakukan perjalanan spritual ke India, sepotong liriknya seperti ini

"words are flowing out like endless rain into a paper cup ..."

[saya pun mengutip wikipedia "Across the Universe" is a song by the English group The Beatles. It was written by John Lennon, and credited to Lennon–McCartney. The song first appeared on the various artists charity compilation album No One's Gonna Change Our World in December 1969,...”]

liriknya seperti rapalan mantra dan tentu menambah kesan 'dalam' di lagu itu. Lagu ini mengingatkan kearifan-kearifan dalam buku Zimmer, yang mengingatkan manusia (india) sebagai pejalan yang mencapai moksa, pembebasan spritual, dan penebusan dosa.

Di India, The Beatles seperti melayang-layang di udara, (seolah-olah) mencapai nirvana dengan proses meditatif. Lagu ini saya anggap bagian dari proses mencapai atman (penemuan diri).

"jai guru deva om ... nothing's gonna change my world"

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.