Showing posts with label filsafat bola. Show all posts
Showing posts with label filsafat bola. Show all posts

Thursday, July 4, 2013

Kembalinya Kultur Samba

Kemenangan Brasil atas Spanyol di Stadion kebanggaan Maracana bisa dilihat kebangkitan sepak bola Brasil. Betapa tidak, sejak piala dunia Korea-Jepang 2002, Brasil berada dalam bayang-bayang kemunduran. Gagal di piala dunia 2006 dan 2010, copa America dan tergusurnya peringkat pertama di tangga koefisiensi FIFA sebagai bukti.

Tapi di gelaran ‘pemanasan’ mempertemukan dalam final impian di piala konfederasi Spanyol-Brasil yang sama-sama mengusung sepak bola indah memperlihatkan permainan Brasil sesungguhnya. Spanyol yang datang sebagai juara dunia 2010, juara eropa 2012 dan peringkat satu FIFA harus mengaku kalah dari Brasil. Kekalahan tiga gol tanpa balas plus kegagalan Ramos mengeksekusi penalti menjadi pelengkap penderitaan mereka. Brasil terlihat sangat superior.

Kegagalan Spanyol adalah antitesa dari sepak bola menyerang ala tiki taka. Bertemu dengan lawan sepadan dengan gaya menyerang Spanyol tak mampu mengimbangi gaya samba. Brasil seperti menari dengan bola. Diktum lama dalam sepak bola, pertahanan terbaik adalah menyerang (serang menyerang memang diperagakan Spanyol dan Brasil) Brasil mengadopsi itu dengan bukti tiga gol. Brasil seakan mengajari pada kita bahwa dalam sepak bola (modern) ditekankan bermain indah tanpa melupakan kemenangan.

Dan pada Neymar, Hulk, dan Fred sepakbola indah itu diperagakan. Bergerak di kanan dan juga kadang ke kiri Neymar memperlihatkan permainan cantik ala Joga Bonito. Di tengah ada Paulinho, Gustavo dan Oscar pengatur ritme permainan. Di belakang didukung di kanan Alex, di kiri Marcelo dan di sokong oleh dua bek tangguh David Luiz dan Thiago Silva. memainkan bola dari kaki ke kaki, bawah, tengah ke depan. Mereka seperti menari samba dalam karnaval. Menari tanpa beban.

Memang, permainan Brasil sepanjang laga (hampir) tanpa cela. Taktik, kontrol dan improvisasi memainkan bola sebagai tanda bahwa gaya samba tidak pernah hilang dalam diri permainan Brasil. Seperti Samba, Brasil menari dan larut dalam permainan. Permainan Samba seperti karnaval Rio yang terkenal itu.

Samba, karnaval dan bola telah menjadi kehidupan orang-orang Brasil. Ditengah demostrasi, himpitan ekonomi, pemukiman kumuh sepak bola tak henti menggelinding hingga dibuat mereka terlena. Orang Brasil gila akan bola bahkan dalam tingkat yang lebih ekstrim sudah menjadi agama. Sindhunata dalam catatan sepak bolanya mengatakan Brasil mengetengahkan kebaruan bagi dunia bola. Bola adalah “bawah sadar”. Bola adalah tarian. Bola adalah karnaval. Bola adalah Samba! Dan pencinta Brasil akan sepakat dengan Romo Sindhu itu.

Butuh satu dekade untuk Brasil mengangkat trophy kembali. Dan hak mereka untuk juara (konfederasi). Tidak berlebihan jika kemenengan di tanah sendiri itu sebagai penanda bahwa tropi gelaran piala dunia 2014 akan kembali berpindah dari Spanyol ke tanah Samba tempat sepak bola indah ditemukan. Semoga.

Thursday, July 5, 2012

Bola Air Mata

EURO 2012 memang telah berlalu tapi masih meninggalkan sedih bagi saya. betapa tidak, menjadi saksi kekalahan sebuah tim yang dicintai terasa menyesakkan dada. seperti diputus cinta. dan saya mengalami itu.

walau efeknya tidak sehebat diputus cinta: tidak nafsu makan, tidak gairah hidup ,susah tidur atau larut dalam seduh sedan yang tak terpermanai namun kekalahan itu selalu saja terbayang.

Italia dengan segudang prestasi dan sejarah di pentas dunia maupun Eropa tak mampu mengimbangi permainan tiki-taka Spanyol, tim yang hanya sekali merengkuh piala dunia 2010 dan dua piala Eropa, 2008 dan 2012. Bandingkan dengan Italia yang meraih titel empat piala dunia satu piala Eropa. Spanyol hanya sedikit memiliki sejarah. tapi malam itu Italia tak mampu meladeni permainan cantik Spanyol yang bermain seperti banteng dalam permainan matador.

memulai dengan banyak masalah intern, Italia berangkat ke Polandia-Ukrania dengan harapan biasa-biasa saja: lolos ke fase grup. selebihnya cukup Belanda, Jerman, Perancis dan Spanyol yang berada di final yang waktu itu memang menjadi tim yang diunggulkan. tapi siapa nyana, permainan cantik diperagakan dengan menginggalkan pakem lama cattenacio. di babak penyisihan mampu mengimbangi permainan Spanyol yang waktu itu tergabung dalam Grup C. menghadapi Inggris lagi-lagi Italia memperlihatkan sebuah tim yang menyerang dan penguasaan bola, Inggris pun harus pulang kampung. di Semifinal pun sama ,Jerman yang lebih diunggulkan harus mengakui kecerdikan Italia. Sejarah selalu berpihak pada Italia ketika bertemu Jerman. dan lagi-lagi pendukung Jerman harus menangis melihat kekalahan tim kebanggaanya. memori kelam 2006 pun terjadi lagi.

Di final menghadapi Spanyol yang memang diunggulkan untuk double winner Eropa, itu Italia tak mampu meredam serangan dari kaki-kaki pemain Spanyol yang memang dari dua klub yang memainkan sepak bola indah Barcelona dan Madrid. akhirnya empat gol tanpa balas bersarang di gawang Buffon. oh la la...

saya belum bisa menerima kekalahan itu apalagi dengan skor yang telak. serasa tak mungkin. di final sebagaimana pertandingan-pertandingan bola yang saya ikuti hanya selisih satu, dua atau adu pinalti. namun final yang terjadi itu serasa sulit saya terima mengingat sejarah juga Italia lebih banyak menang dari Spanyol tapi di malam itu tak ada tanda-tanda sedikitpun Italia bisa membalas gol. tim kebanggan saya itu seperti diajari main bola. tak ada passing, aliran bola yang seperti pertandingan sebelumnya.

akhirnya, tak riang lagi setelah itu bahkan membaca pun tak mau lagi. efeknya memang kuat. membuat saya lemah letih lesu untuk melakukan kegiatan. efeknya memang hebat.

saya memang larut karena saya bukan tifosi yang asal mendukung, asal-asalan dan apalah namanya. dari dulu memang Italia yang monoton dengan pola memarkir bus (orang bilang) tapi saya tidak) lihat sekarang yang menunjukkan permainan impresif di piala Eropa. sejak tahun 1990 di masa Roberto Baggio hingga Pirlo sekarang ini saya selalu mendukung Italia. maka pas rasanya jika saya berduka atas kekalahan tim kebanggaan saya itu.

Italia bagi saya seperti enigma yang membuat saya larut. Entah, nuansa Italia apapun itu saya suka. saya suka dengan sesuatu yang berbau Italia, sejarah, vespa, ekspresi orang-orangnya dan pemikir-pemikir hebatnya.

saya yang suka sejarah membayangkan tim itu seperti sepasukan Romawi yang ekspansif yang berani maju di medan perang dengan semboyan veni vidi vici, kami datang, kami lihat kami menang. film-film romawi dan cerita para kaisarnya pun begitu selalu tak habis-habis dinggit.

butuh waktu lama masa berkabungnya atas kekalahan bagi yang telah lama mengagumi Italia tapi saya yakin bahwa ada saatnya menang ada saatnya kalah karena itulah sepakbola penuh dengan drama yang mengobok-obok emosi. kekalahan itu akhirnya membuat Prandelli bertahan yang sebelum final mengumumkan untuk mengundurkan diri. Dia yakin Italia punya potensi besar untuk menang di kejuaraan berikutnya. mungkin Prandelli dibenaknya adalah bagemana Italia bangkit dimasa-masa keterpurukan seperti yang kisah romawi yang begitu panjang.

saya ingin mengutipkan Coldplay: viva la vida

"...i hear Jerussalem bells a ringing roman cavalry are singing,
be my mirror my sword and shield...


dan Italia akan menggelorakan itu...


Forza Azzuri!!!

Saturday, December 10, 2011

Klasik

--tak hanya sekedar tiki taka juga joga bonito, tapi tentang intrik yang kadang penuh fiksi dalam duel el-clasico

Karena bola orang menangis, karena bola orang tertawa dan karena bola juga persahabatan tak lagi cair.

syahdan, Dia menyukai AC Milan saya tim sekota, Inter Milan. Saya pengagum joga bonito Madrid, dan dia penyuka tiki taka Barcelona.

Tak ada yang bisa menyatukan, mungkin jika ada, karena kita sama-sama penggemar bola, selebihnya tidak. selalu berhadap-hadapan, vis a vis.

Bola membuat saya menyukanya, juga karena bola dia menyukai saya. Dan akhirnya bola juga yang membuat perpisahan sebagai sahabat dan juga sebagai orang yang saling mengagumi.

Saya menyukainya karena dia penyuka bola, mungkin lebih dari itu juga.

Ketika pertandingan el-clasico Barcelona vs Real Madrid atau della madonina Milan vs Inter tak pernah lupa saling mengembosi. Psy war tak pernah berhenti menjelang hingga berakhirnya pertandingan.

Lalu bagemana dengan el-clasico? Ini pertemuan yang akan bermakna sakral bagi setiap Madridistas dan juga penikmat Barcelona, pertemuan berjilid ke-216 ini menjadi pembuktian, tensi, intrik dan sajian sepak bola indah sudah tentu menarik jutaan mata termasuk dia:

“Klasik: sepakbola tak pernah berhenti sekadar hanya menjadi sebuah “permainan”, tapi selalu berpotensi terangkat menjadi sebuah “kisah” – yang melahirkan banyak tafsir, banyak kemarahan, kekecewaan, rasa senang, terkadang bahkan rasa jijik untuk sepotongan scene fiktif yang dilebih-lebihkan”

Saya menyukai potongan cerita bola dari bloger [pejalanjauh] ini.

Sayangnya dia bukan Madridsistas, walau saya menyukai analisisnya yang melebihi komentator bola di tivi-tivi. Ceritanya juga mengingatkan tentang kemarahan seseorang (yang pernah saling mengagumi) kala laga Madrid vs Barca.

Melihat pertandingan klasik seperti ini saya selalu teringat kisah filsuf yang bermain bola yang dihadirkan secara satir Monthy Phiton:

"Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir".

Saya tak ingin pertandingan ini berakhir imbang. dan 2-1 sudah cukup untuk 'membalas dendam' Madrid.

“Barca, untuk saya, telah kembali menginjak bumi. Dan sepakbola, jelas, bukan untuk para santo”

pejalanjauh dan dia (yang telah menjadi sahabat) tidak tahu bahwa yang ia bela hanyalah tim Katalunia, tim yang baru saja menginjak bumi (karena tiki taka Xavi, Iniesta, dan Messi), mereka mungkin lupa yang Barca lawan adalah los galaticos, tim galaksi, sekumpulan pelukis bola dari dunia yang lain (Ronaldo, Higuain, Benzema dan *Malaikat* Angel Di Maria), tim yang ditakdirkan turun dari langit untuk bermain bola.

dan untuk saya, Madrid adalah pesona...

-----------------------------

catatan:

  • Saya menunggu kekalahan Barca subuh nanti...
  • Biarlah dia membenci saya dalam sepak bola saja

Saturday, September 24, 2011

Jika saja filsuf bisa main bola

Hegel gagal memimpin para filsuf Jerman lainnya menundukkan pasukan pemikir Yunani yang dikomando Socrates. Gawang Jerman yang dijaga Leibniz bobol oleh tandukan Socrates yang mendapat umpan silang Archimedes di menit ke-89. Masuknya Karl Marx menggantikan Wittgenstein tak mampu mengembangkan permainan tim yang dilatih Marthin Luther itu. Gol tidak sah, Socrates dalam posisi off-side,” teriak Marx. Pertandingan yang dipimpin Confucius dengan hakim garis Santo Agustinus dan Santo Thomas Aquinas itu keburu berakhir.
Diatas bukan cerita nyata, petandingan sepak bola antar filsuf itu hanya terjadi dalam dunia fiksi. Cerita tersebut ditulis dalam bentuk komedi satir karya Monthy Phiton tahun 1970 (dikutip ruang baca Tempo/22/06/2006). Jika pertandingan ini nyata, tentunya akan menjadi pertandingan yang sangat menarik dan ditunggu-tunggu.

Satu hal yang menurut penulis petik dari cerita satir itu : sepakbola sangat dekat dengan manusia. Olah raga ini adalah bagian sejarah yang melibatkan manusia. Sejak sepak bola dikenal, dan telah mengalami metamorphosis baik dari segi aturan maupun format pertandingan (tidak lupa juga aksi anarkis supporter), namun pencinta sepak bola tidak berkurang malah bertambah sampai hari ini. Tidak ada angka pasti berapa jumlah penggemar sepak bola di jagad raya ini. Namun setiap pertandingan baik antar kampung maupun even berskala professional sepak bola selalu kebanjiran penonton.

Tidak mudah melacak asal muasal sepak bola, beberapa sumber menjelaskan bahwa sepak bola setua umur manusia, olah raga terpopuler ini hadir dalam bentuk baragam yang ditemukan hampir seluruh ruang di planet ini. Adapun anggapan lain, sepak bola berasal dari China (sepak bola tradisional), dan sepak bola modern tumbuh kembang di tanah Inggris.

***
Dalam wacana filosofis, beberapa ahli Filsafat mengatakan bahwa manusia adalah homo ludens (makhluk yang bermain). Kemampuan bermain adalah kekhasan manusia. Dalam bermain, manusia menunjukkan eksistensinya. Ia menghadirkan totalitas diri yang nyata dalam kegembiraan, sukacita, kesedihan. Manusia yang bermain adalah manusia yang bisa meraih kemenangan, menerima penghormatan dan sorak-sorai, tetapi sekaligus pada sisi yang lain manusia yang bermain juga adalah manusia yang tidak dapat menghindarkan diri dari kekalahan, keterbatasan, kekurangan, caci maki dan hujatan. Dalam konfrontasi dua sisi kehidupan inilah manusia mengada. Dikotomi ini selalu hadir dalam sepak bola.

Sepak bola tidak hanya olah raga yang dimainkan 22 orang mengejar satu bola di lapangan. Tetapi lebih dari itu, sepak bola adalah roh, semangat dan ‘agama’ baru. Tidak salah jika salah seorang pengamat menganggap bahwa sepak bola memiliki makna yang luas. Sepak bola menjadi pengikis batas sosial, spirit, supremasi dan juga pembawa pesan damai.

Tak dapat dipungkiri Kaka, Messi, Robben, Ronaldo, Nesta dan Rooney adalah manusia-manusia yang bermain. Sosok mereka adalah ‘roh’ permainan dalam tim masing-masing. Mereka melengkapi pertandingan ala Jogabonito (permainan cantik ala brasil), total football, kick and rush dan gaya Cattenaccio Italia. Mereka menjadi aktor lapangan hijau dalam mencetak bola. Seperti kata filsuf Albert Camus, Gol adalah tujuan akhir.

Dalam sepak bola, semua bisa menjadi rumit sekaligus menegangkan. Semua tidak bisa ditebak di atas kertas. Probalitas selalu ada. Drama selalu tersaji di 90 menit. Permainan ini menyajikan tentang dunia yang mungkin dan tak mungkin, maka disinilah letaknya filosofi sepak bola.


emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.