Showing posts with label Sukarno. Show all posts
Showing posts with label Sukarno. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Sarinah


RAMBUTNYA terurai panjang, kulitnya gelap tapi manis, giginya ginsu, hidugnya bangir dan bicaranya pelan. Saya pernah sebangku di kelas. Jika dia juara satu saya yang juara dua atau jika saya juara dua dia tetap juara satu dan saat dia juara satu saya malah tak dapat rangking. begitu seterunya. dia lagi dia lagi. Dia adalah Sarinah, sahabat kecil saya di kampung. Perempuan desa tapi kecantikannya sebagai perempuan selalu memesona.

Itu dulu, dulu sekali malah. Terkenang masih SD waktu itu. Saya dan Sarinah berpisah saat akan berajak kelas tiga SD. Saya bermigrasi ke Kendari Sulawesi Tenggara--tidak hanya pindah tempat tapi pindah sekolah. Akhirnya Sarinah, teman sebangku saya berpisah. Saya tak sempat mengucapkan salam perpisahan sebagai teman sebangku juga teman sekampung. Mungkin karena preferensi saya kurang. Tidak seperti di filem-filem atau sinetron dimana anak kecil sudah mampu mengungkap perasaan sedihnya berpisah. Saya tak punya itu. akhirnya berpisah tanpa say good bye. sampai sekarangpun tak pernah bertemu teman sebangku itu. Cerita kecil yang tak tergantikan.

Akhirnya, kami pisah. Kabar terlalu sulit datangnya kini.

[Saya tahu, setiap tempat ada ribuan bahkan jutaan kenangan dan saya tak sendiri merasakan itu].

Saya tak ingin beranjak dalam romansa sekolah, apalagi tentang Sarinah, takut jadinya galau. tapi tak ngeh rasanya tidak menyebut Sarinah yang satu lagi, sosok yang selalu dibanggakan oleh Putra Sang Fajar: Sukarno.

Sukarno sadar, tanpa perjuangan Sarinah (baca:perempuan-perempuan) ia tak ada apa-apanya. Sarinah adalah sumber ilham baginya. Dalam perjuangan nasional sosok Sarinah tak bisa dilupakan begitu saja. seperti kata Vladimir Lenin “jikalau tidak dengan perempuan kemenangan mungkin tak mungkin kita capai”. Perjuangan apapun itu perempuan selalu ada dibaliknya. Mungkin tak asing ditelinga ketika seorang selalu berkata dibalik keberhasilan laki-laki ada sosok perempuan dibelakangnya.

Dan Sarinah hanyalah satu 'narasi kecil' Bung Karno yang ditulisnya ketika di Yogyakarta. buku Sarinah lahir atas ketulusan seorang perempuan mengasuh dengan sabar seorang proklamator bangsa itu. Dalam pengantarnya, Sukarno menulis:
"Apa sebab saya namakan kitab ini “Sarinah”? Saya namakan kitab ini “Sarinah” sebagai tanda terimakasih saya ketika masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia “mbok” saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya banyak mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Dia sendiripun “orang kecil”. Tetapi budinya selalu besar!"
Kita sudah bisa tebak, Sarinah adalah nama kampung[an] bukan nama gaul. Berbeda dengan nama nama-nama kota, sebut saja, Nayla, Nasya, Annisa dan sebagainya. Ia perempuan biasa dan latar belakang yang kampungan tentu hanya berkutat pada sawah, dapur dan mungkin jadi pembantu-pembantu. Namun ada kisah heroik yang ditampilkan disini. Seperti kisah Sarinah-nya Sukarno. Mungkin heroik itu bisa didefenisikan sederhana adalah memberi. Sarinah adalah contoh sederhana perempuan Indonesia (dulu). Sabar, sederhana, polos, dan apa adanya. Perempuan seperti dia adalah segala ilham.

Kisah Dia memang berjarak

Saya hanya ingin menautkan cerita kenangan Sarinah milik saya dengan Sarinah milik Sukarno. ada banyak perbedaan saya pikir atau bisa disebut tak sebanding, seharusnya apple to apple. apapun itu, jika ada persamaan adalah karena sama-sama perempuan dari kampung. Dan tentu gambaran kebersahajaan Sarinah-Sukarno ingin saya replikasi untuk Sarinah teman kecil saya, diamanapun dia berada.

Inilah kisah yang bertaut, beda masa, satu nama: Sarinah. Kisah Sarinah ternyata mengajar saya lebih banyak daripada buku-buku yang selama ini saya baca.

-----------
foto: Asri & Meyga, mereka kini beranjak dewasa

Tuesday, January 24, 2012

Pesona Bung Karno

BUNG KARNO. demikian ia akrab disapa. ia menjelma menjadi sumber ilham. dari remaja hingga menjadi orang nomer satu di Indonesia tak sepi dari cinta. Ibunya Ida Ayu Nyoman Rai tak habis memberinya kasih sayang, berlanjut kemudian kakeknya, kemudian berpindah lagi ke HOS Cokroamanito, kemudian dari wanita ke wanita. begitu seterusnya. ia tak kesepian cinta.

Bung Karno dan cinta. Seorang Sukarnois menceritakan ketika Sukarno, bapak bangsa itu memasuki sekolah HBS, punya kompeni di Surabaya. Bayangkan, baru masuk di sekolah elit kompeni itu, ia telah memikat hati noni Belanda, Mien Heissels. Bule londo itu kesemsem dengan 'putra sang fajar'. Selanjutnya bertaut hati dengan tiga gadis londo yang cantik sekaligus. [sebagai catatan, berpacaran dengan gadis kompeni tidaklah sembarang waktu itu tapi tak ada yang sukar bagi Sukarno].

Sementara di waktu yang lain di kamarnya yang kecil dan sempit milik guru, bapak kos dan juga mertuanya HOS Cokroaminoto cinta sang proklamator ini tak juga habis berkisah.

Rehat sejenak ketika dibuang di Ende dan klmaks perjuangan kemerdekaan, Sukarno tak juga henti melepas panah cintanya. dari Utari ke Inggit, dari Inggit ke Fatmawati. dari Fatma ke Hartini. Dari Hartini ke Ratna Sari Dewi. Dari Ratna ke Hatiyatie. dari Hariyatie ke Yurike. sudah? belum. Sukarno masih saja memanahkan cintany ke Heldy. apakah Heldy muara cintanya? "hanya Bung Karno dan Tuhan yang tahu" jawab Sukarnois itu dalam catatanya di blog.

Bung Karno adalah persona, ia tanda damba. Ketampanan, kegagahan, kecerdasan dan keberaniannya menjadi dambaan setiap insan. Saya tahu semua itu tidak turun dari langit (kecuali ketampanan-nya mungkin) tapi melalui proses panjang. habitus-nya dibentuk ketika tinggal di rumah Cokro. kita ketahui bahwa Cokro banyak mengambil inspirasi dari kisah pewayangan. saya membayangkankan Sukarno pun memadu sosok Harjuna-Bima sekaligus dalam dirinya. Arjuna satu dari lima cerita pandawa (yang mashur itu) memiliki banyak istri dan ketampanan tiada banding. sekali panah langsung meghujan jantung. sedangkan Bima adalah ksatria gagah perkasa dalam pandawa.

Kembali ke-cinta bung Karno, yang tidak bisa lepas dari cerita wanita selama hidupnya. saya pun membaca Sarinah, buah karya Sukarno yang menyoal perempuan. saya langsung mengambil kesimpulan bahwa Sukarno tak lepas dari perempuan yang banyak membantu perjuangannya dalam kemerdekaan. Fatmawaty hanyalah satu contoh perempuan yang berada semasa perjuangan Sukarno.

"soal perempuan adalah soal masyarakat dan negara" ucap Bung Karno dalam catatannya di Sarinah.

hmmm...berbicara pesona Bung Karno (apalagi tentang cinta) ternyata tak ada habis-habisnya. agaknya saya mengutip Sukarnois itu lagi bahwa Bung Karno adalah manusia yang bergelimang cinta; cinta rakyat, cinta wanita.
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.