Showing posts with label Bromo. Show all posts
Showing posts with label Bromo. Show all posts

Tuesday, January 3, 2012

Bromo di pagi hari

--Mengenang perjalanan yang luar biasa dipenghujung tahun 2011

Konon tuhan mennciptakan pulau Jawa saat tersenyum, untuk itu semua yang terhampar di pulau ini hanya keindahan, salah satunya apa yang ada di taman Nasional Bromo Tengger Jawa Timur.

Saya berada dihamparan hutan pinus, membayangkan tersesat di sebuah tempat seperti dalam cerita film Alice in Wonderland, begitu misterius dan penuh suasana mistik. Pohon pinus tinggi menjulang yang hampir menjacapai 30 meter atau pohon tua berusia ratusan tahun mencapai 50 meter tingginya, juga edelweis, jenis paku-pakuan dan lumut khas dataran tinggi hidup menyepi diselimuti kabut yang sesekali terdengar suara hewan-hewan hutan. suasana seperti ini mirip apa yang diceritakan Alain Weisman dalam The World Without Us, bagian pertama “aroma firdaus yang tertinggal”. Hening, menyejukkan bercampur aroma mistis.

Aroma flora bercampur embun pagi dan hujan rintik-rintik membangkitkan ingatan kita pada hutan-hutan tropis atau padang hijau kalimantan atau tempat-tempat lain yang dihadirkan National Geographic Channel. Menempuhnya bukanlah perkara mudah, ketinggiannya mencapai 2329 meter diatas permukaan laut dan medan yang hanya cocok disebut offroad. Jeep, motocross atau atv paling cocok menempuh medan ini. Disinilah tantangannya. Tidak mengherankan jika banyak wisatawan berkunjung tidak hanya menyaksikan ritual masyarakat Tengger namun Bromo memang menawarkan banyak cerita.

Di atas Bromo, tersaji pemandangan—Pura, lautan pasir, kawah aktif dan beberapa gugusan gunung. salah satunya gunung tertinggi di pulau jawa, Semeru.

Di kejauhan pandang, mata saya tertuju pada puncak Mahameru, puncak tertinggi para dewa, Semeru. [Sambil berdoa untuk berkunjung minimal di Ranu Pane, kaki Semeru suatu saat nanti]

***
Disini memang penuh ketakjuban, seperti menemukan dunia yang hilang beribu-beribu tahun yang lalu dimana bumi hanya menyisakan homo sapiens dan hamparan hijau dan pohon berusia ratusan tahun dan berukuran besar.

Hutan eksotik itu memancing mata untuk tetap tinggal menghirup semua aroma flora yanng dihembuskan dibalik keheningan embun pagi. keakraban tiba-tiba dirasakan di taman nasional ini. Betapa lengkap kehidupan di bumi. [Tuhan memang benar-benar tersenyum ketika menciptakan pulau Jawa].

Di taman nasional ini kehidupan serasa menyatu; masyarakat sekitar memanfaatkan kesuburan tanah Bromo untuk bercocok tanam, dan masyarakat menghidupkannnya dengan menjaga kelestarian hutan. Bagi masyarakat sekitar, disini kenangan betul-betul dipertahankan, pohon berusia ratusan tahun, lautan pasir yang berbisik, keheningan embun yang setiap hari seperti itu.

Saya melewati hamparan pinus, jalan terjal, dan kebun-kebun teras sering penduduk sekitar. Untuk memudahkan berkunjung di Bromo, pengujung disarankan naik kendaraan Jeep, motocross atau kendaraan offroad. Ada beberapa cara untuk sampai kesana, pengunjung bisa melalui Probolinggo daerah Tongas (lebih dekat lewat puncak Bromo) dan bisa melalui Pasuruan melalui desa Tosari (lewat disini ditempuh 14 km untuk sampai ke puncak menggunakan jeep atau motor).

Syahdan, angan-angan untuk kembali ke Bromo memang selalu menarik-narik. Dan semoga gugusan pinus, lautan pasir, keheningan embun, dan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun selalu terjaga untuk dinikmati lagi.

di kaki Bromo,010112

Friday, December 30, 2011

Berjalan Jauh

--berjalanlah, kemana kaki menuntunmu

Sahabatku, kami (saya dan teman kost) akan berjalan jauh ke sebuah tempat. Tentu saya akan merindukan kebersamaan di jejaring sosial dan para 'tukang' cerita di blog. Namun keinginan untuk berkunjung pada sebuah tempat di Malang Jawa Timur tak terbendung lagi. Apapun caranya, dan ternyata kesampaian. Tahukah tuan dan puan tempat itu? sebuah tempat yang terkenal dengan "pasir berbisik" nya. anda sudah bisa tebak. Ya, Gunung Bromo. Gunung suci yang namanya diambil dari Dewa utama Hindu itu: BRAHMA.

saya ingin mengajak kalian berjalan juga kesana atau jika tak bisa, berharap dalam perjalanan ini saya bertemu kalian dipertigaan, perempatan, persimpangan jalan atau di warung makan, baik yang saya kenal di facebook, kompasiana, blog dan jejaring lainnya. Tak susah mengenal kami. jika para sahabat melihat serombongan pejalan jauh membawa tas ransel, memakai celana puntung, celana karbol, sweater atau jaket mungkin itulah kami. sapalah kami dan kami akan senang sekali bertemu dan berkenal muka.

semoga disana ada sahabat yang sudi mengajak duduk di sawung atau beranda rumahnya sambil menyeruput teh dan menikmati singkong/pisang rebus diselingi cerita susul-menuyusul.

untuk saya, perjalanan ini adalah rangkaian fragmen jalan-jalan yang berisi petualangan dan ziarah. saya tahu, perjalanan ini memang terasa sulit namun bertemu dan bersama kalian bisa menjadi obat pelipur lara.

***
Saya ingat disebuah majalah basis mengutip Gabriel Marcel menyebut Homo Viator, manusia diperjalanan. kami seperti yang digambarkan itu, berjalan menuju gunung para Dewa. keep going, terus berjalan sampai menemukan padang pasir "berbisik" dan bertemu masyarakat Tengger.

sebagian orang selalu menghubungkan yang berjalan itu sebagai bagian dari ziarah, the Pilgrim. kata itu diambil dari bahasa latin peregrinus yang berarti kris-kras, silang menyilang melintas ladang dan daerah (basis,2007).

[toh, semua jalan pasti menuju Bromo].

walau kita bersilang jalan nanti, kita akan ketemu di padang "pasir berbisik" itu. kami menunggu disana, dan kesempatan kita bisa bertemu dengan orang-orang Tengger bertukar cerita.

tak hanya di Bromo, orang merayakan pergantian tahun masehi di tempat lain; mendaki puncak garuda di Merapi, juga mahameru di Semeru, ada yang melilih mal, ada yang mengurung diri di kamar, di pantai dan tempat-tempat lainnya.

Dan kami memilih Bromo, kami memilihnya karena penuh dengan daya pikat.

sampai disini untuk sementara sahabat, cerita ini akan berlanjut...saya juga menunggu cerita-cerita akhir kalender kalian.

Sayonara...

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.