Showing posts with label Penelitian. Show all posts
Showing posts with label Penelitian. Show all posts

Friday, November 27, 2020

Ilmu dari Begawan

Banyak hal yang saya dapatkan dari kuliah daring seorang Antropolog Irwan Abdullah. Prof Irwan atau Mas Irwan, kerap Ia disapa oleh peserta 'pengajiannya'. Sekadar memanggil akrab kepada professor yang rela berbagi ilmu menulis ilmiah itu. Seorang begawan seharusnya memang begitu. Mata air ilmu musti mengalir sampai jauh dan Professor Irwan telah melakukannya di IA Scholar. IA Scholar Prof Irwan

Saya tinggalkan cerita tentang Prof Irwan, saya ingin meringkas tentang sebuah pesannya bagaimana teori itu lahir. Saya menyederkannya dalam sebuah bagan alir setelah mengikuti beberapa kuliah berseri  IA Scholars. Bagi Puan dan Tuan yang hendak menulis jurnal ilmiah, Profesor Irwan Abdullah memberi pesan tentang pentingnya memahami epistemologi ilmu dan metodologi. Penjelasan tentang epistemologi dan kawan-kawannya akan dilengkapi di lain hari. Saya hanya meringkas saja tentang pemahaman bagaimana teori dan konsep itu lahir.

Diolah dari kuliah daring IA Scholar



Tuesday, April 3, 2018

Merawat Tradisi Memanah Ikan di Pulau Buton

Busur lengkap dengan anak panah (Dokumentasi Pribadi)
Dari mana ikan segar bisa dicicip tanpa dipancing? Jawabnya bisa didapat dari sebuah desa di Buton. Salah satunya Desa Barangka Kecamatan Kapontori Buton Sulawesi Tenggara.

*

Anak muda yang masih paruh baya di desa itu baru saja menata ikan karang segar di atas bale-bale bambu. Sebut saja, Kakap merah, Baronang, Ikan Putih dan berbagai jenis yang masih asing di telinga saya. 

Saya mengamit seekor Kakap yang dibakar dengan api sedang. Masing-masing orang mendapatkan satu porsi besar ikan segar yang baru saja diambil dari laut yang tidak jauh dari rumah penduduk. Ikan-ikan itu tidak dengan cara dipancing atau di potas (meracun ikan) namun dengan cara dipanah. Saya tidak sendiri malam itu, sekelompok anak muda kreatif di desa yang asal muasal mete itu menemani kami tim peneliti dari UMK. 

Setelah kegiatan wawancara dengan masyarakat setempat selesai. kami disuguhi makanan segar ala masyarakat pantai. Ikan karang hasil panah.

Ikan panahan itu berjenis kualitas nomor satu. Segar dan sehat. Orang di desa tersebut menyebut baru “mati satu kali” untuk menggantikan istilah ikan segar yang baru saja ditangkap. Betul sekali, ikan itu masih menggelepar di ujung anak panah ketika diangkat. 

Tradisi memanah ikan di desa Buton masih dihidupkan hingga kini. cara ini masih bertahan dari berbagai ancaman pemburu ikan yang menangkap dengan cara tidak ramah lingkungan: membom atau meracun. Tradisi memanah ikan itu masih hidup di desa-desa salah satunya Desa Barangka.

Di Barangka, sebuah desa di Pulau Buton cara menangkap secara tradisional itu dilestarikan dari generasi ke generasi. Dari  anak-anak hingga orang tua, memanah ikan menjadi kesenangan bagi masyarakat setempat. 

Memanah Malam Hari

Ternyata, memanah ikan tidak semudah yang saya pikir, butuh keahlian khusus untuk bias menaklukkan ikan yang gesit. Tapi penduduk setempat tahu cara menaklukkan ikan. Bermodal panah dan busur, kaca mata renang dan senter kedap air, mereka berburu ikan.

Berburu ikan dilakukan di malam hari dengan alasan, ikan lebih banyak berdiam di tempat gelap. Karena itu, berburu ikan dilakukan saat malam hari. Selepas magrib, penduduk setempat bersiap melaut dengan membawa 'senjata' panah. 

Tidak butuh waktu lama, penduduk yang kebanyakan nelayan tradisional itu mengumpulkan ikan di atas perahu kecil. Tanpa menunggu lama, penduduk bergegas pulang untuk mengolah ikan segar itu.

Mengolahnya cukup sederhana, di bakar diatas api sedang, sambalnya dari tomat segar, Lombok, garam dan perasan jeruk nipis. Orang Buton menyebutnya dengan sambal Colo-colo. Sederhana tapi sehat. 

Ikan Bakar plus Colo-colo (Dokumentasi pribadi)
Melihat ikan bakar segar dan sambal colo-colo, perut saya merespon dengan bunyi “kriuk-kriuk” pertanda keroncongan. Sebuah sinyal untuk cepat diisi. Takut maag saya kambuh, tanpa babibu saya mencomot ikan hasil panah tersebut. Hmmm, nyaman, terasa daging ikan yang seperti manis dan legit bercampur asam asin di mulut. Pecah. Selang beberapa menit, ikan berisi daging segar itu tinggal tulang. 

Di akhir makan malam itu, bunyi kecipak air laut membentur-bentur pasak rumah panggung penduduk menjadi pelengkap saya selama perjalanan melakukan penelitian ekonomi kreatif di pedesaan Buton. 

Perjalanan ini indah…

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.