Showing posts with label damai. Show all posts
Showing posts with label damai. Show all posts

Sunday, October 23, 2011

Sunyi


ARCHIMEDES memulai revolusi dalam sejarah sains dengan cara yang menakjubkan— menghitung volume massa benda—Ilham itu datang dari kesunyian di bak mandi. Eureka, saya menemukannya, saya menemukannya. kata itu keluar di tempat sunyi (di bak mandi) tempatnya lahir sebuah teori fisika yang membuatnya dikenang.

Tak beda jauh, Newton dengan kesunyiannya menyusuri taman dengan pohon-pohon disekelilingya. Di taman itu jatuh sebuah apel tepat disampingnya. Saat itupun ilham datang yang kemudian memunculkan hukum gravitasi. Segaris pengalaman dengan Newton, filsuf lain Nietzsche, sang filsuf yang suka merenung, mengisi waktu-waktu sunyi di taman, di alam terbuka. Dia menyukai hal-hal yang berbau alam, danau, kota, hutan, burung, orang gila, dan bahkan wanita. Di tempat seperti itu, saat-saat sendiri dia mampu menuliskan buah pikirannya dalam sebentuk buku.

Banyak peristiwa yang berhubungan dengan saat-saat sunyi, nabiullah Muhammad SAW, Isa AS, Ibrahim AS, atau nabi-nabi utusan Tuhan selalu mengalami saat-saat sunyi dalam pengalaman religiusitas.

Betapapun berbeda konteks, namun cerita mereka adalah agony (perasaan lelah dan sunyi) yang mendorong melakukan meditasi/kontemplasi tanpa mengenal lagi keterbatasan fisik dan psikis.

Sunyi kadang sebuah pilihan menyendiri. Mencoba mereflesikan kehidupan tatkala tak menemu jawab dari kesulitan kehidupan. Sunyi juga adalah waktu mencari jawab atas segala sesuatu. Nampaknya kesunyian dari cerita mereka membuat saya banyak merenung dan mencoba “sunyi” walau itu susah. Dan mungkin tidak akan bisa. Saya harus menyusur kampung/desa seperti masa-masa kecil dulu—sunyi ditengah hamparan sawah dan nyanyian hewan malam.

Sunyi saya ibaratkan kata-kata yang tak didengar. Barangkali jika ada hubungan dengan kata Goenawan Mohamad dengan kesunyian. Maka saya mengutipkan kata-katanya

...yang terbesit dari kata-kata itu justru adalah sebuah isbat kepada hidup, dengan segala rindu yang tak sampai, rumah yang tak pernah tegak, petaka yang tak putus, di daslam kancah kelezatan dan angan-angan. Amor fati : kita menerima nasib dengan segala rasa cinta. Tanpa miris bahkan dengan gairah.
Inilah agony, perasaan lelah dan sunyi memaknai hidup. tapi saya cukup tahu arti sunyi dari pembuat kisah diatas. Saya pun tak ragu mengutip mistikus Gede Prama-Dalam kesunyian ada kedamaian-dan (mungkin) saat yang tepat datangnya ilham.

-Matahari sore saat itu berwarna jingga, saya ragu menyebutnya aurora.tapi warnanya romantis.Sunyi di kaki merapi di kos sempit. Jogja 231011

Tuesday, March 1, 2011

Jendela


Bagi rumah, jendela adalah ruang kehidupan. Ditempat inilah udara segar memenuhi beranda. Celah kecil ini terbuat dari kayu, tempat melihat semesta atau melihat bunga-bungan mekar di taman. Ruang kecil ini adalah jalan lain bertamasya dibalik kesunyian. Cukup membuka daun jendela atau tirai, membalikkan kaca, angin berdesing menyeruak dan berhamburan mengisi kekosongan kamar. Mengobati yang kekekeringan jiwa dan pikiran. Ketika sepi didalam ruang, jendela adalah tempat membuka dunia itu. Memandang lintas lengkung warnawarni pelangi dibalik bingkai kayu. Memandang selepas samudra. Lepas memandang cakrawala.

Dulu, ketika belum memakai jeruji, jendela menjadi cara untuk berinteraksi, sekat-sekat besi tempat para manusia dulu saling menyapa di balik jendela di rumah panggung. Berkomunikasi tanpa batas, tanpa penghalang besi dan keangkuhan. Walau kini jendela-jendela itu tampak angkuh, selalu tertutup dan tak menampakkan lagi wajah yang selalu tersenyum simpul pemiliknya di balik tirai putih. Saya selalu ingat, ketika di kampung. Rumah panggung dengan beberapa jendela tanpa jeruji selalu menantikan angin menyapu dengan lembutnya ketika sore beringsut malam. disitulah saya memandang hidup orang-orang kampung, tepat di celah kayu itu.

Kita akan bersandar pada suatu nanti pada bingkai kayu itu. Atau menoleh pandang diantara jala-jala besi pembawa kesejukan. Angin bertiup memberi nuansa damai sampai kedasar terdalam hati manusia. penuh ketakziman.

Jogja 010311
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.