Showing posts with label Beasiswa BUDI LN. Show all posts
Showing posts with label Beasiswa BUDI LN. Show all posts

Saturday, December 24, 2016

Memulai dari 5.0

Berjuang untuk sekolah ke luar negeri bukan perkara mudah buat saya. Pasalnya nilai IELTS belum mencukupi seperti yang dipersyaratkan kampus; minimal 6.5 dan setiap band minimal 6.0. Segala daya telah saya lakukan, ke Pare selama 3 bulan, kursus privat selama sebulan namun hasil yang saya dapatkan belum memenuhi harapan. Yang belum saya lakukan hanyalah menghalalkan segala cara seperti membeli nilai abal-abal. 

Saya telah mendapatkan nilai akhir, hasilnya, belum seperti yang saya inginkan. Tes akhir masih 5.0 overall. Saya memaklumi, untuk test taker seperti saya yang memulai bahasa Inggris dari nol sangat bisa dipahami jika angka dibawah 6.5. Ada beberapa orang sampai belasan kali mengambil real test hingga akhirnya mendapat nilai yang diingikan, minimal 6.0. Saya mencoba untuk tetap berusaha hingga meraih nilai standar kampus. Bukan apa-apa, saya sudah mendapat beasiswa LPDP-Dikti dan surat penerimaan kampus, CoE (Certificate of Enrollment) tinggal mengurus visa untuk berangkat Februari 2017. Jika faktor IELTS yang menggagalkan keberangkatan saya, maka penyesalan yang tak kunjung usai akan saya rasakan. dan itu menyakitkan.  

Jadi apa selanjutnya? tes lagi, belajar lagi, gagal lagi, tes lagi. Saya masih punya enam bulan masa deadline jika harus menunda keberangkatan. di kontrak tercantum bahwa karyasiswa bisa menunda hingga satu tahun. 

Apa hikmahnya? hikmahnya dari angka 5.0, saya sudah mengetahui kelemahan dan beberapa poin lagi ang harus saya dapatkan untuk mendapat minimal 6.5. Saya sudah mencoba menghubungi kampus untuk diberikan kursus singkat namun jawabannya musti membayar 5000 dollar Australia, jika dirupiahkan mencapai 50 juta. Angka fantastis hanya untuk IELTS 6.5. 

Buat pencari beasiswa, jika memang niatnya untuk sekolah keluar negeri alangkah baiknya mempersiapkan diri. dan saya menganjurkan untuk mengambil IELTS karena rata-rata kampus di EROPA dan Australia dan sebagian Amerika (setahu saya) mempersyaratkan IELTS. Setahun cukup rasional untuk pembelajar yang baru memulai IELTS. Belajar dari pengalaman saya, setidaknya butuh minimal enam bulan fokus (tidak boleh nyambi) untuk mendapat skor maksimal.

Saya akan melihat sejauh mana memulai dari 5.0 bisa merubah nasib; ke Australia atau? Ah, berusaha dulu minimal 3 kali percobaan baru memikirkan hal-hal terburuk.

Sesuatu musti diraih dengan kerja (keras)...seperti nasehat guru bahasa Inggris saya, Mam Pamela Davis; if you need something you should work hard because you can learn about it for your life and family. Untuk meraih sesuatu memang harus diperjuangkan. dan saya mencobanya,

Monday, September 12, 2016

Tak Ada Jalan Pintas Belajar IELTS


Mendapat beasiswa--BUDI LN--tidak lantas hati saya tenang. Ada hal yang masih mengganjal dalam mewujudkan sekolah keluar negeri. Selain berkas yang belum kelar, satu hal lain yang masih terus menghantui saya: IELTS.

Untuk mengejar nilai Band 6.5 saya harus merelakan atau bisa dikatakan mengorbankan segala 'kenyamanan' di Kendari; pekerjaan kampus, bermain bersama keluarga dan tentu mencari uang tambahan seperti membantu isti menjaga kedai di rumah dan meneliti. Semua demi IELTS.

Sebulan di Pare saya mengambil beberapa kursus, sebelumnya mengambil grammar di Kresna, kemudian kelas IELTS di English Studio dan kelas tambahan grammar lagi bersama Mr. Mike di Royal English Course. 

Setelah menjalani hari-hari. Scoring saya lakukan untuk mengukur sejauh mana nilai IELTS saya. dan hasilnya? band saya masih 5 overall. Masih jauh dari Perth. Kampus UWA tujuan saya meminta 6.5 dan setiap Band tidak boleh kurang dari 6.0. Tentu mustahil bagi saya yang hanya mengambil kursus tiga bulan di Pare.

Setipa hari scoring listening


  1. Minggu 1: 4
  2. Minggu 2: 4,5
  3. Minggu 3: 5
  4. Minggu 4: 6 


Nilai masih naik turun. skor ini belum masuk di reading, writing dan speaking. 

Setidaknya setiap bagian membutuhkan 25-30 benar untuk masuk dalam tahap aman mencapai Band 6.5.

Di kampus UWA menyediakan kelas IELTS untuk dua bulan. namun penawarannya diluar kewajaran bagi saya; 5,500 Australian Dollar. Kalo di rupiahkan mencapai Rp 50,000,000 (kurs 10000). Ini namanya buang-buang uang.

IELTS membutuhkan standar tinggi. artinya perhatian kita harus 100 persen bahkan lebih. jadi kita benar-benar harus belajar terus menerus sedikitnya tiga bulan untuk bisa mendapat nilai 6.5 namun jika anda punya dasar grammar yang kuat. Bagaimana kalo tidak ada dasar sama sekali? sedikitnya 6-12 bulan alias setahun untuk bisa mencapai skor 6.5. 

Perth masih jauh atau bahkan tidak akan pernah bisa dijangkau karena IELTS yang masih jadi beban berat. Saya menyesal tidak belajar dari jauh-jauh hari atau pada saat aktif kuliah. jadi anda yang ingin mencari beasiswa dan masih muda sisakan waktu untuk belajar bahasa inggris (baca:IELTS)

***

Di Pare tempat kursus yang dianggap punya kredibilitas baik menyelenggarakan IELTS menurut pengalaman saya dan beberapa informasi dari teman-teman yaitu Global English, TEST, dan English Studio. Kata yang terakhir ini saya mengambil kelas band 5 dan 6 harga dikisaran tiga juga per dua bulan. 

Belajar IELTS di Pare bisa dikatakan terjangkau. Namun jangan terlalu banyak berharap karena tinggi rendahnya hasil/skor tergantung kemampuan seseorang. IELTS dibutuhkan keseriusan untuk belajar apalagi yang memiliki waktu yang singkat, dibutuhkan kerelaan menghabiskan waktu untuk menghapal vocab, tenses, membaca dan menulis bahasa inggris. Jika prasyarat terpenuhi IELTS bukan menjadi barang yang menakutkan. 

Dan saya mencoba untuk itu...

Friday, August 12, 2016

Persiapan Lokakarya Pra Keberangkatan BUDI

Setelah pengumuman seleksi wawancara, bagi penerima BUDI LN akan diundang persiapan atau adaptasi sekolah keluar negeri. Ristekdikti menyebutnya dengan Lokakarya Pra Keberangkatan. Di tahap ini penerima beasiswa diberi pembekalan kiat cerdas kuliah di luar negeri dan intinya selesai tepat waktu.

Banyak hal yang diulas namun saya hanya menyarikan yang saya anggap urjen bagi penerima terutama yang baru keluar negeri seperti saya (hehehe). waktu itu kami dibagi kelompok sesuai dengan negara tujuan keberangkatan. 

Kelompok UK, Kelompok Belanda, Kelompok Jepang dan Kelompok Australia dan sekitarnya. Saya bergabung dalam kelompok Australia yang dimentori Professor John Hasulan dari IPB. Dalam materinya sang professor memberikan pengalaman kuliah dengan selamat sampai meraih gelar PhD. 

1. Persiapan adaptasi dari budaya, iklim dan metode belajar.

Penting bagi mahasiswa yang diluar negeri untuk beradaptasi budaya, iklim dan sistem perkuliahan. Di Australia, menurut Prof. Jhon budaya Barat sebagai mana umumnya dan akan sangat berbeda jaug dari Indonesia. Iklim, Australia memiliki empat musim walau salju tidak akan turun namun cuaca kadang dibawah lima derajat. Gagal melihat salju gumam saya dalam hati. Sistem perkuliahan, bagi yang mengambil PhD, sistem pendidikan Australia mengharuskan setiap pelajar memiliki sikap mandiri. Tentu akan sangat berbeda dengan di Indonesia dimana setiap kelas biasanya diisi beberapa mahasiswa yang saling berinteraksi. di luar negeri kita harus urus diri sendiri. itulah ketakutan saya sebenarnya. Tapi keep moving on. semua pasti bisa...

2. Menjaga komunikasi dengan Supervisor

Ini yang paling penting, banyak kasus kegagalan mahasiswa menyelesaikan study karena terbentur komuniasi dengan supervisor. jadi sangat jelas mengapa pada saat pendaftaran dan wawancara kita diharuskan memiliki calon supervisor. Fungsi supervisor adalah membimbing mahasiswa untuk selesai pada waktunya. Oleh sebab itu jauh-jauh hari sebelumnya kita diharuskan membangun komunikasi dengan supervisor. Nasehat mentor kelompok kami "kalau mau aman ikuti saja kemauan professor yang penting bukan yang sifatnya prinsipil" 

3. Membangun jejaring

Tugas mahasiswa di luar negeri adalah membangun jejaring. hal itu yang menjadi penekanan dalam lokakarya. Banyak hal yang bisa dilakukan  dalam membangun jejaring yaitu riset kolaboratif, publikasi jurnal. Outputnya menjadi nilai tambah dalam pembangunan ilmu dan tekhnologi di Indonesia. Beasiswa BUDI tidak gratis, harus ada output sebagai tolok ukur ya salah satunya publikasi itu.

4. Publikasi, Publikasi, Publikasi

Harus diakui publikasi ilmuan Indonesia masih kalah dari negara tetangga Malaysia. Data dari lama Scimagojr (SJR) menunjukkan Amerika menduduki ranking teratas dalam produktivitas publikasi. sedangkan Indonesia? dimana kita?. lihat sendiri saja ya. ini lamannya http://www.scimagojr.com/countryrank.php

sumber: scimagojr
sumber: scimagojr
Saya teringat penggalan lagu ciptaan Dirjen Sumber Daya Dikti Profoessor Ali Gufron. Beliau bernyanyi :
"mari-mari bekerja keras, jangan lupa dipublikasi..."
Tertawa lepas lah kami saking kocak nya sang dirjen.
Target sang Dirjen setiap penerima budi harus menelorkan setiap tahun 1 jurnal internasional bereputasi. Jadi kalau empat tahun, berarti harus 4 jurnal pemirsa. Bisa-bisa modar :D. Namanya target, kalau tercapai Alhamdulillah kalau tidak?, ya wassalam saja. Mohon maaf Pak Dirjen kalo kami tidak sampai target segitu. Satu saja sudah hebat apalagi empat. sekali lagi namanya target.     

5. Pulang ke Indonesia

Pastilah kami pulang pak. Betul? iya betul Pak karena saya dibiayai pajak rakyat melalui LPDP jangan lupa sebutkan juga RISTEKDIKTI ehehehe. setiap menulis disertasi dibagian pengantar jangan lupa menyebutkan Kemristekdikti-LPDP. Baiklah pak, kalau cuma menaruh nama itu gampang pak. Yang susah kalau tidak pulang-pulang ke Indonesia saking enaknya dapat riset di negara studi. Bisa-bisa dicabut kewarganegaraan kita. 

Kiranya banyak yang bisa disampaikan terkait lokakarya prakeberangkatan beasiswa BUDI LN namun saya sederhanakan saja biar tambah penasaran hehehe. yang lainnya hanya bersifat teknis dan yang memegang kendali dalam hal ini orang LPDP jadi sahabat yang mendapat beasiswa BUDI LN pelajari panduan LPDP terkait SIMONEV dan panduan lainnya. 

Selamat berjuang teman-teman yang mau mengambil beasiswa BUDI. Semoga ber-BUDI dan lulus

Sumber: SDID Ristekdikti

Mentor kami Professor John Hasulan (Foto: SDID Ristekdikti)

Kiri-kanan: Direktur Utama LPDP, Dirjen SDID, Seniman mas Butet Kartaredjasa (foto: SDID Ristekdikti)

sumber: SDID Ristekdikti
  
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.