Showing posts with label Manusia Hujan. Show all posts
Showing posts with label Manusia Hujan. Show all posts

Tuesday, November 1, 2011

Hujan kali ini

Hujan tetap sama. Perasaan, tempat dan suasana saja yang berbeda.
Rintik-rintik di kaca jendela merambat perlahan-lahan. Hujan menghujam di awal Nopember. Saya merindukan suasana hujan ini. Berbaju tebal atau berselimut di temani segelas teh plus lagu-lagu easy listening.

Banyak alasan mengapa orang suka dan mencitai saat hujan (walau ada juga yang berkeluh saat hujan). Saya misalnya, ketika hujan saya memperhatikan manusia-manusia saat hujan; ada sepasang kekasih larut dalam romantisme, ada yang bermain hujan, ada juga yang termenung tak banyak bicara.

Pengalaman bersama hujan atau saat-saat hujan mengantarkan orang dalam perjalanan dan pengembaraan batin menghadirkan imaji-imaji. Seperti penyair Sapardi Djoko Damono yang menghadirkan metafora hujan dalam syair yang begitu puitik Hujan Bulan Juni atau James Scoot dengan romantisnya bernyanyi Standing In The Rain.

so never mind the darkness we still can find a way
Nothin' lasts forever even cold November rain...

- Guns n Roses, November Rain
Ada alasan orang menyukai hujan, walau bukan keharusan menjawab alasan apa dan mengapa menyukai hujan?. Bagi saya, alasan saya menyukai hujan bukan hanya karena ia benda cair namun lebih dari itu, tidak pula sekedar titik-titik air menggumpal di awan hingga mencapai titik jenuh. Hujan tidak hanya sebagai proses kimiawi atau kondensasi tapi hujan sifatnya yang lentur. kelenturan dalam menerima perbedaan, daun, akar, tanah bahkan manusia. hujan (baca air) menerima perbedaan jenis.

Hujan kali ini menahan langkah...teruslah mengenang

Thursday, December 23, 2010

Manusia Hujan


Gemericik hujan di ujung sore mencumbu dedaunan sore itu. semakin lama semakin deras menghujam bumi. Tak juga daun, preman, pengemis, perempuan kecil dan Lelaki itu tak luput darinya : Basah. Semua mencari tempat berlindung. Shelter busway, angkringan, pos-pos satpam, halte agaknya tepat mencari suaka.

“Tuhan dengan cintanya menurunkan hujan pada daun dan mahluknya yang berdosa”. Guman hati membuat mengingat sesuatu yang transenden.

Lelaki itu ingin menikmati hujan seperti manusia-manusia hujan di ujung jalan itu. Bernyanyi di bawah hujan. Merasakan tiap bulirnya menyentuh tubuhnya. (walau tak mudah memaksakan niatnya hanya romantisme semu masa kecil dulu).

Dalam hitungan menit orang-orang bergegas ke halte. Tak ada ruang lagi untuk bergerak. Sesak dengan manusia. Juga lelaki itu. Terhimpit dari manusia-manusia asing.

Hari ini Lelaki itu bertemu manusia yang mengalami rasa duka, ada yang membatin dalam doa, juga ada yang diam tepekur dan tatapan kosong. Lonely on the crowed . seorang yang asing dikeramaian. Sibuk dengan cara masing-masing. Lelaki itu telah merasakan terasing dalam keramaian sore itu.

Sore itu memang dingin. Dinginnya seperti merasuk kedalam pori-pori.

**

Semua nampak tak bersuara, seperti seorang yang kesepian dalam keramaian. dipojok halte, pengemis sibuk dengan kaleng derma, menghitung receh yang tak lebih dari lima ribuan. Lelaki itu menebak sebelum pengemis itu usai membilang. Bagian depan, bocah perempuan mengadah tangannya ke langit, ia mungkin berdoa atau berharap hujan untuk reda, rindu pulang.

“Ma, kita gak telat kan sampe ke rumah nenek ? “

“Nayla ingin bantu menghias pohon natal Ma”

Ibunya menarik dan mendekapnya. Dengan bahasa tanda, ibunya hanya mengangguk (tanda berkata, ya!).

Bukan engkau saja yang rindu pulang adik kecil, kami pun rindu untuk pulang, rindu hangat selimut dan segelas teh panas untuk diseruput.

Hujan memberi pesan rindu pada tanah atas langit. Hujanlah sebagai penghubung kerinduan itu. Antara langit dan bumi yang berjarak ribuan kilometer. Hujanlah penyampai pesan itu. Biarkan hujan mencumbu tanah. Sejam saja Itu sudah cukup.

Tak terasa hujan perlahan melambat, alirnya berubah menjadi rintik-rintik kecil. Lelaki itu mendongak keatap halte. Tetesan melambat, slow motion. Agak lama untuk sampai ke tanah. Semua bergeras pulang, pengemis, dan perempuan kecil tak terasa hilang dalam pandangan. Hujan pun reda. Usai sudah seremoni sore itu. Manusia-manusia sunyi tak nampak lagi dari pandangan.

Dimana Lelaki itu, (apa yang akan lelaki itu lakukan setelah hujan reda ?).

(masih di halte itu, masih mematung dan menikmati alirnya...)

“hujan memang membawaku pada nostalgia”.

Lelaki itu mecoba memecah kebekuan (walau sebenarnya sulit). Lelaki itu tak sepatah katapun berucap. Masih saja sama. Dalam tanda tanya. Menikmati nostalgia.

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.