Showing posts with label dunia. Show all posts
Showing posts with label dunia. Show all posts

Thursday, January 26, 2012

Hedon


Barangkali kata ini menjadi usang dalam diskursus keseharian kita. betapa tidak kata hedon telah dikenal lama, sejak diperkenalkan filsuf epikurus, hedon tak menarik lagi menjadi pokok pembicaraan. ia menjadi barang mati. tapi, ternyata saya salah.

Tiba-tiba saja kata itu muncul lagi ketika para pejabat sibuk mempersolek diri. tapi tidak hanya pejabat yang bergaya hidup seperti itu. semua manusia memang tak bisa luput dari sifat itu. saya pun tak luput.

Dunia memang terus berlari seperti kesenangan yang tak pernah habis-habisnya. dan betul J. Cristiadi, bagi pelaku kesenangan, hanya langitlah sebagai pembatasnya. tapi benarkah masyarakat indonesia mengenal sifat itu yang katanya dikenal masyarakat sederhana? saya pikir tidak, dulu sebagian besar elit penikmat kesenangan yang bergelimang harta menghabiskan harta di tempat judi, dan pelacuran. berfoya-foya demi kesenangan.

Sapardi Djoko Damono di sebuah essai-nya tentang budaya massa Indonesia, membayangkan kehidupan masyarakat dewasa ini bakal menghadapi masalah yang begitu kompleks yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. jika boleh menambahkannya, bangsa ini telah memunculkan 'masyarakat baru' yang tidak lain munculnya masyarakat konsumer.

Pola hidup mewah apa dimiliki semua elit/pejabat? tidak juga. ketika Moh. Hatta menjabat sebagai wakil presiden di awal kemerdekaan--yang bisa melakukan apa saja sebawai pejabat untuk berlaku hidup mewah, tapi ia tidak melakukan itu--kesederhaan masih ditampakkannya, Hatta pun hidup sederhana dan juga keluarganya, bahkan sepatu Bally yang diidamkannya pun tak mampu dibeli sampai akhir hayatnya. saya pikir untuk bisa seperti itu orang harus berprilaku asketik, perilaku seperti kata Buya Syafi'i Ma'arif hidup dengan sederhana yang ekstrim. ajaran yang hidup dalam setiap agama.

[Jika saya ditanya sanggup untuk asketik? jawab saya lugas: saya tak sanggup...dunia terlalu sayang untuk disia-siakan].

Motif manusia memang tak mudah dipahami. Mengikuti Epikurus bahwa hidup hanya sekali maka nikmatilah. konsep ini memang merasuk kehidupan manusia jauh-jauh sebelumnya. ratusan tahun umurnya. ketika manusia hanya berpikir bahwa kehidupan hanya ada dunia, di luar sana tidak ada lagi, jadi nikmati sepuas-puasnya selagi hidup.

Mungkin itulah mengapa ajaran agama menghendaki manusia hidup secara sederhana. sekalipun seorang bergelimang harta. tapi pesona dunia yang melampui realitas (hiperialitas) me-ninabobok-kan terkadang. dunia memang melenakan. seperti ungkapan Baudrillard--fantasmagoria. dunia penuh dengan fantasi-fantasi. jika seperti itu, kesenangan tak lagi bisa dihindari.

ah dunia, kau melenakan saja...

--------
*ada yang beranggapan, bergaya hidup mewah dekat dengan korupsi, entahlah...
**ilustrasi: koleksi pribadi, ArtJogja 2011

Saturday, April 23, 2011

Katak dan dunia baru


Tidak sama dengan katak yang barus menyelam beberapa jengkal kolam kemudian mengatakan kolamnya sangat dalam. padahal masih ada samudra yang lebih dalam. Keterbatasan indra dalam menyerap dan menerima pengetahuan baru menjadi alasan si katak itu pongah. Ia tidak tahu bahwa ada dunia besar yang tak pernah ia liat sebelumnya. Keterpenjaraan dari lingkungan sekitarnya lupa akan dunia yang sama sekali baru baginya. Ia terjebak dalam labirin pengetahuan. Dangkal tak punya makna.

Dunia itu tak datar dan selebar daun kelor, tapi jika katak itu menyusurinya, tak terbilang misteri yang ia dapat. Matanya tak terbuka lebar, sehingga ia masih terpenjara, “katak dalam tempurung”.

Katak itu harus membuka dunia. Cara pandangnya musti luas untuk bisa membuat kesadarannya menjadi nyata. Tak terjebak dalam kesadaran palsu. Tak semua katak yang berfikir selalu dalam tempurung. Ada juga katak yang mencari dunia baru, yang sama sekali baru buatnya. Ia tak mau merasa mapan, merasa di zona nyaman yang akhirnya menina-bobokkannya.

Saya harus belajar dari peristiwa ini...

emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.