Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Friday, September 30, 2011

Nasi (didalam) Bambu

Menikmati perjalan disetiap daerah memang mengasyikkan. Apa yang penting dalam setiap perjalanan? Jawabannya bisa jadi suvenir dan kuliner. Ya, orang tidak mungkin melewatkan salah kesempatan seperti ini. Membeli suvenir dan mencicipi makanan khas suatu tempat.

Seperti dalam perjalanan ke Jeneponto. Untuk suvenir memang tidak banyak (sulit mendapatkan suvenir) namun kuliner tidak sulit untuk dijumpai. Salah satu kuliner yang sayang jika dilewatkan ditempat ini adalah salah satunya nasi bambu. Orang disana menyebutnya Lammang. Sama halnya di toraja yang disebut dengan Pappiong.




Lammang ini terbuat dari beras ketan putih, merah atau ketan hitam yang dicampur santan dan dibakar dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang. Proses pembakarannya membutuhkan waktu 1 jam. Panganan ini sangat gurih dan paling enak jika dihidangkan dalam keadaan panas dipadu dengan dengan telur asin. Hmmm yummi...

Harga setiap nasi bambu seharga enam ribuan dan telur asin seharga tiga ribuan sudah bisa membuat perut kenyang. Makna dari setiap perjalanan makin terasa dengan kuliner kampung ini.

Jeneponto menuju Makassar. 290911

Thursday, May 5, 2011

Kuliner dan Identitas

Francis Fukuyama pernah berkata dalam bukunya The Great Distruption, De gustibus non est dispuntandem-tidak ada perhitungan untuk selera. begitu juga dengan makanan. Beragam jenis menggoda selera. tak habis-habis panganan untuk di rasa. begitu banyak pilihan.

saya tentu tak melupakan kuliner asal saya lahir, Makassar, kulinernya tak kalah enak menggoyang lidah. juga makanan tempat tinggal saya di Kendari tak habis untuk di eja dengan kata-kata selain "maknyussss"...

kuliner tak harus mahal, yang penting soal rasa. sedikit berbeda dengan fukuyama yang mencontohkan makanan China, Meksiko, Itali, Amerika dan makanan oriental lainnya. soal selera tak mengenal kata mahal dan ini yang hadir di kuliner nusantara, seperti di jogja tak mengenal kata mahal (murah) dan menggoda selera.

soal selera atau pun rasa tak bisa direduksi untuk selera banyak orang begitu saja. karena rasa tergantung lidah inidividu. ada juga yang tak bisa merasakan manis, ada yang tak suka pedas, dan asin-tak mungkin di reduksi begitu saja...

Kuliner adalah identitas, tak bisa direduksi yang lain. kuliner adalah media beromantisme asal kita dan mengenang masa-masa asal. betapa banyak orang modern merindukan jajanan kampung, ibaratnya mencari identitas, asal usul diri lewat kuliner. saya merasakan itu, ketika di Jogja, saya tak jemu-jemu mencari coto, pisang ijo, pallu basa, dan kuliner lainnya. makanan itu membuat saya bernostalgia dengan asal usul saya.

makanan adalah identitas kita....


emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.