The origin or history of "nastar" turned out to be quite unique. "Nastar" is taken from a foreign language "nastaart" which means (pineapple cake). In English known as pineapple tarts, or pineapple nastar roll. The Sundanese (people in Bandung-Indonesia) call it "Jeung malignant tarigu" which means pineapple and wheat. In Indonesia Nastar considered as favorite treat during Lebaran (Eid celebration) and Christmas. Nastar cookies has long been an item in which must be presented at the Chinese New Year (Lunar / Chinese New Year). The main reason is because the Hokkien language, means "ong lai" (which means golden pear), also has the meaning of "prosperity to come here", fortune, and luck. In addition, gold color and a sweet and soft pineapple filling symbolized abundant. Moreover, the more filling you have so the more abundant affluent you will get.
Wednesday, June 28, 2017
Lebaran; Kenangan, Kisah dan Kue Nastar
Lebaran; Kenangan, Kisah dan Kue Nastar
Saturday, June 24, 2017
Proposal kepada Allah
“Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadhan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya & bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dgn Ramadhan mendatang dalam keadaan penuh harapan & kesejahteraan.”
Saturday, July 21, 2012
Ramadan masa kecil
Itulah kenangan yang muncul di saat ramadan yang telah saya lalui selama dua puluh tahunan ini. bayangan masa kecil bersama teman-teman sebaya melarutkan angan saya jauh di kampung. jauh sekali. Masa kecil saya sangat menyenangkan walau saya terlahir dalam keluarga yang tidak berkecukupan tapi masa kanak-kanak saya tidak kalah dengan kebahagiaan anak kecil sekarang ini dengan 'manjaan' beragam permainan modern dan instan: playstation, x-box nintendo, PSP dan gagdet lainnya. Waktu kecil saya hanya bermain di sawah atau lapangan dengan beragam permainan. Main asin, meriam bambu dan permainan unik lainnya.
Yang paling saya ingat saat selesai tarawih, semalam suntuk terjaga hanya bermain bersama teman-teman sambil menuggu sahur. Segala bentuk alat perkusi dari bambu, rebana sampai botol air mineral pun tak ketinggalan. Semuanya riuh sambil menembus kabut yang dinginnya sampe ke tulang.
tapi kini permainan itu jarang lagi terlihat di tempat saya. anak-anak sekarang lebih suka bermain Kembang api atau Mercon atau menghabiskan waktunya di mal dan tempat-tempat makan cepat saji. saya cukup beruntung merasakan permainan tradisional itu. kini anak-anak sekarang dimanjakan dengan permainan yang serba cepat saji/instan sedangkan saya dulu harus bersusah-susah dulu dan itu dari proses kerja sama dengan teman-teman kecil saya. kerja tim sangat terasa.
dunia memang terus berlari seperti yang pernah diungkapkan Gidden tentang The Run Way World. dunia terus berlari seperti kereta jugernaut yang melesat kencang yang siap melibas apa saja. dunia modern sampai posmodern ini meninggalkan ke sudut jauh kearifan-kearifan yang disebut permainan tradisional. dan yang bisa saya dilakukan sekarang adalah terkenang-kenang. Saya yang tak menemukan lagi permainan meriam bambu, main asin/petak umpet, dan permainan tradisional lainnya saat ramadan hanya bisa beromantisme puasa di kampung.
tapi mau bagemana lagi, dunia memang berubah dan semua pasti berubah. seperti ungkapan latin tempus mutantur, et mutamur in illid, waktu berubah dan kita ikut berubah di dalamnya. seturut diri saya yang terus berubah menjadi tua maka yang ada hanya bisa mengenang masa kecil berlarian di lapangan dan bermain meriam bambu. dan sekarang hanya mampu mengenang.
Ramadan kali ini, Jogja 21072012
Friday, July 20, 2012
Ramadan yang tak ideal
Puasa dilakukan oleh orang yang bertaqwa karena umat sebelumnya telah melakukannya sebagai bagian mendekatkan diri pada Allah. sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah, 2: 183 Allah berfirman “wahai-orang-orang beriman! Puasa telah ditetapkan kepada kalian—seperti yang telah ditetapkan kepada mereka sebelum kalian, agar kalian beraqwa.
Puasa kali ini kembali memasuki 1 Ramadan di tengah versi yang tidak ideal; Muhammadiyah melaksanakan puasa di Jumat dan Nahdatul Ulama dan pemerintah melaksanakan Sabtu. Penetapan 1 Ramadan ini telah beberapa kali mengalami perbedaan dan cukup menyita perhatian kaum muslimin di Indonesia.
Beragam komentar di microblogging semacam Facebook, twitter dan lain-lain menandakan bahwa 1 Ramadan selalu bisa membuat bingung. beragam komentar itu telah memperlihatkan secara nyata keresahan-keresahan dari sebagian mereka dipercayakan 'mewakili' ummat. setahu saya, penyatuan 1 Ramadan adalah selalu mengundang perdebatan di Indonesia dan sangat alot. rapat isbat memperlihatkan itu.
Penyatuan puasa bersama memang tidak mudah. Terbukti dengan tidak hadirnya salah satu ormas besar Islam di Indonesia, Muhammadiyah di sidang isbat yang dilaksanakan di kantor kementrian agama. Walau dalam ungkapan para Ulama bahwa perbedaan adalah rahmat namun selalu saja perbedaan itu meresahkan. Padahal Rasulullah dengan mudahnya menentukan kapan mulai berpuasa kapan tidak. idealnya, kemajuan tekhnologi memudahkan itu namun toh perbedaan tidak bisa disatukan. Muhammadiyah menggunakan sistem hisab yaitu perhitungan dengan matematika astronomi, sedang Nahdatul Ulama berpijak pada Rukyat dengan menggunakan Bulan di 2 derajat sebagai tanda masuknya Ramadan.
Terlepas dari perbedaan ini, puasa bagi saya mengingatkan kita kembali tentang pentingnya mendekatkan diri pada hal yang transenden: TUHAN.
Jumat atau Sabtu tiada beda. Selamat ber-ramadan 1433 H. Maaf Lahir Batin.
Wednesday, August 31, 2011
Lebaran kali ini
Agaknya keluhan ibu-ibu itu beralasan, sehari sebelum hari idul fitri, beragam jenis makanan sudah musti dipersiapkan. Dari pagi hingga malam ibu-ibu menyiapkan makanan khas berselera di hari idul fitri. Mulai dari ketupat, buras, kari ayam hingga makanan penutup sudah dipersiapkan matang.“sudah masak buras (sejenis panganan dari beras di bungkus daun pisang, dimasak seperti lontong) tapi ternyata lusa (rabu) lebarannya, akhirnya di makan saja untuk sahur.”
Saturday, August 27, 2011
Pulang
Syahdan, sore begitu hangat. Kota kecil itu terlihat masih adem ayem, perubahan kecil nampak di beberapa sisi. Tapi dari segi keindahan dan kebersahajaan untuk sebuah kota kecil masih jauh dari harapan. Tapi kedatangan saya merayakan kerinduan dengan pulang menemui keluarga dengan rasa bahagia. Tidak pada tempatnya berkeluh kesah.
Namun, ada sejumput cerita ketika pulang kampung. Setiba di bandara, cerita pertama yang tersuguh tentang pembunuhan sadis yang menelan 3 nyawa, keluarga China pemilik salah satu toko elektronik di kendari. Ibarat berita di tv, berita pembunuhan itu menjadi topik headline. Semakin menambah miris tentang cerita kota kecil ini. Cerita lanjutan ketika sampai di rumah, topik juga masih seputar China, kemudian beralih tentang kabar kedatangan saya, kuliah dan kehidupan di Jogja, hingga seputar perjodohan. Interogasi tanpa jeda. Sambung menyambung (walau dipaksakan nyambung).
Tapi itulah cerita, ketika seseorang yang jauh dan lama kembali harus bersiap slalu dirindukan. Ya, saya anggap, saya dirindukan denga keluarga. Tapi jujur, pulang adalah hal yang saya hindari, mengapa? Karena saya belum siap dengan semua jawaban. Apalagi jawaban tentang pertanyaan mengapa sekolah terus?, trus nikahnya kapan? Dijodohkan juga gak mau, trus maumu sama sapa? Saya tidak mau memberi jawaban selugas itu. menohok dan langsung ke inti.
Pulang, untuk sebagian yang lain, apalagi suasana lebaran adalah moment yang dinanti-nanti. Pulang tempatnya melepas rindu, tempatnya mencurahkan segala pengalaman dan kenangan hidup di rantau. Tidak berlebihan orang menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga menunggu pulang (baca mudik). Pulang saat lebaran terasa beda dengan pulang yang lain. Dan saya menjadi salah satu contoh nyata itu. Aku pulang, rindukan aku....
Wednesday, August 10, 2011
Layang-layang dan Ramadhan
Tapi ada pemandangan yang lain di Magelang, di sawah yang masih hijau itu. lanskap yang diwarnai anak kecil bermain layang-layang dengan ukuran besar membuat saya takjub. Saya pun sempat terbawa masa-masa kecil menyaksikan anak kecil itu yang seakan gontai mengikuti liukan batang padi yang tersapu angin, terbawa arus yang menerbangkan layanganya—ukuran layangan lebih besar dari tubuh anak kecil itu—suasana seperti ini jarang saya temukan lagi di Makassar atau Kendari. Bermain layang-layang itu memang dinikmati di sawah, seperti di Bali.
Saya menemukan masa kecil disalah satu tempat yang adem, Magelang. Petak-petak sawah ditumbuhi tanaman tembakau, jagung dan padi itu melengkapi panorama alam yang begitu subur. Anak-anak kecil berlarian di tengan sawah. Setiap momen terekam dalam ingatan saya (sayang tidak sempat mengabadikan dalam foto). Anak kecil itu menghabiskan waktu sembari menunggu berbuka dengan bermain layang-layang.
Kenikmatan melihat anak kecil bermain di tengah sawah yang hijau itu memberi nuansa berbeda. Entah kapan menemukan kenyataan seperti itu lagi ketika sawah dialihfungsikan menjadi gedung-gedung perumahan atau pertokoan. Tentu akan sulit bermain dengan leluasa (Anak kecil itu tidak berfikir sejauh itu) seperti sore itu. anak kecil itu hanya tahu bermain dan bermain. Mengejar layang-layang yang putus atau Menerbangkannya setinggi mungkin ke udara. Berlari dan mengejar layang-layang.
Ternyata, Ada keajaiban di setiap tempat, di tengah sawah yang hijau itu, sambil bermain layang-layang. Seperti tak mengharap waktu berganti. Ah waktu, kau membawa lagi kenangan !!!
Saturday, August 6, 2011
Ramadhan di Kampus
Sore itu terlihat ramai. Orang-orang menyemut. Dari mesjid kampus hingga menuju fakultas filsafat UGM berjejer makanan aneka warna dan rasa. Menjelang ifthor (berbuka), setiap ramadhan selalu seperti itu.
Selama puasa, lebih-lebih berbuka, banyak orang menyempatkan meramaikan sekitar ruas jalan kampus ini. Aneka makanan yang dijual mahasiswa atau masyarakat umum membanjiri bahu jalan. Kadang berdesak-desakan dan mengantri untuk mengisi perut yang kosong setelah menahan lapar dan dahaga selama beberapa jam.
Menikmati menu buka puasa seperti ini membuat perasaan damai. Paling tidak, meramaikan hati mahasiswa yang merantau. yang tidak berkumpul sanak saudara.
“dengan acara ramadhan on campus, seperti berpuasa dirumah sendiri” tentu, suasana akrab dirasakan pengunjung itu adalah perasaan bersama. Larut dalam ramai yang sejenak melupakan kampung halaman. Ruang seperti ini banyak tersedia bagi orang-orang yang tidak ber-ramadhan bersama keluarga. Tempat itu menjadi hiburan sekaligus, merasa 'di rumah sendiri'. Ramai berkumpul.
Mengingat pengunjung di tempat itu adalah mahasiswa, tentunya mencari takjil (menu buka) sesuai dengan kondisi keuangan pula. Ada alasan lain pasti orang berkunjung di tempat itu, ada yang menikmati berbuka bersama pasangan. Larut dalam romantisme di bulan ramadhan.
***
Berpuasa bersama seperti ramadhan on campus itu menjadi ruang bernostalgia-ramadhan bersama-walau dalam waktu sesaat. Setelah berbuka, mungkin mereka merasa sepi lagi dan berusaha mengenang masa-masa ber-puasa bersama keluarga mereka. Seperti inilah berpuasa. Ada saat bersama, berkumpul dengan orang-orang tercinta. Ada juga saatnya untuk berpisah jauh, atau tidak lagi berpuasa bersama selama-lamanya.
-saat ramadhan 2011 di kampus ugm. saat-saat mengingat tempat yang jauh, dimana seharusnya berkumpul bersama, berpuasa dan berbuka bersama.
Yogya, 060811
Monday, August 1, 2011
Muslim dengan Mesjid
Ramadhan tahun ini membawa berkah, terutama saya yang masih diberi kesempatan berjumpa ramadhan, bulan penuh mulia. Ada yang selalu saya perhatikan ketika ke mesjid kampus itu : jamaah. Saya kadang terheran-heran dengan jamaah yang begitu massif itu, dan kebanyakan anak muda yang cantik dan gagah-gagah. Perasaan yang selama ini, anak muda hanya larut dalam dunia semata, dunia hura-hura, tapi wajah-wajah hedonis tak nampak malam itu. paling tidak bila dikatakan itu sementara (saat ramadhan) tapi ini suatu renungan penting bagi saya.
Yang nampak dalam konteks keagamaan kontemporer bahwa, nilai-nilai religiositas masih nampak dimana arus hedonisme juga tinggi. tapi disini saya melihat panorama religus yang lain. Apa yang ditakutkan Kuntowijoyo dalam karyanya—muslim tanpa mesjid—tak nampak di mesjid kampus itu, baik ramadhan ataupun tidak (terlebih ramadhan, jamaahnya kadang tidak mampu ditampung mesjid kampus).
Mesjid kampus ini memang unik. Berbeda dengan mesjid kampus saat saya kuliah S1 dulu. Disana hanya nampak perempuan-perempuan yang berjilbab besar dan pria muda memakai hisbal. Jarang saya mendapatkan perempuan dengan celana ketat masuk dalam mesjid kampus itu. tapi mesjid dikampus UGM ini, ada yang lain. Mungkin saja nyaman, asri, atau entahlah. tapi itulah yang ada. Perempuan cantik, yang berjilbab besar, jilbab ketat, dan tidak berjilbab selalu menampakkan wajah-wajah berseri memasuki mesjid kampus ini.
Jamaah pun lebih banyak menjelang ramadhan hari kedua itu, Tak berlangsung lama, ketika adzan berkumandang. Perempuan cantik, menyemut di selasar mesjid kampus. Tak lama kemudian pria-pria dengan tergesa-gesa merapatkan saf, masbukh saya pikir.
Memang, pengalaman religius berbeda-beda tiap orang. Beragam yang bisa dinampakkan dalam bingkai ‘religi’. Pengalaman religius tidak semata-mata pada pengaalaman keagamaan tapi bercampur pada sesuatu yang diluar diri ‘agama’. Liyan. Sesuatu yang lain. Pengalaman religius ini pun bagi saya yang awam ini berbeda ditiap tempat, di Jazirah Arab, Indonesia, Eropa dan lain-lain tidak sama walau dalam satu bingkai keagamaan semisal ‘islam’. Nampak nyata berbeda Geertz melihat perbedaan Islam di Indonesia dengan Islam Maroko. Disini, geografi menentukan pengalaman religius.
Ritus keagamaan dicampurkan dengan budaya. Saya pun ingat Sindhunata, bahwa pengalaman religius bisa bercampur apa saja. Bersifat profan. Bahkan dihubungkan dengan keuntungan ekonomis. Alangkah ironinya pengalaman religius ini.
Saya tidak mau larut dalam defenisi religiositas seperti ini. Sayapun melakukan yang menurut saya baik. Bersyukur jika sesuai yang dituntunkan Quran dan Sunah. Tapi jika tidak, Allah maha pengasih dan penyayang. Tidak ada dosa bagi yang lupa atau tidak tahu.
Pengalaman di mesjid kampus ini memang menggetarkan dan menarik skaligus menghipnotis untuk tinggal berlama-lama. Ada orang yang menghabiskan waktu, jam demi jam dalam mesjid. Seperti yang nampak dalam mesjid Gede Yogyakarta, atau mesjid Sunan Ampel Surabaya. Orang dengan takzim menyendiri. Mencoba berdiam sambil merasa dekat dengan Allah. Saya juga merasakan jika dalam mesjid, dimanapun itu. saya merasakan damai. Seperti dalam ruang penyejuk padahal tanpa pendingin ruangan. Saya merasakan damai dalam mesjid. Menyenangkan hati.
Ustad Muhamammad Arifin pernah berpesan agar muslimin senantiasa menganggap setiap tempat itu mesjid. Yang mendamaikan dan menyejukkan. Mesjid memang adalah rumah tuhan, rumah yang selalu menawarkan kesejukan dan kedamian. Mesjid menjadi tempat bertafakkur, bermunajat dan melepas lelah dari pengaruh duniawi. Mesjid menawarkan rasa damai itu. paling tidak terlihat di mesjid kampus UGM itu. dalam ruang seperti ini, dalam ramadhan ini. Mesjid menjadi rumah besar.
gambar : Egypt, A View Of The Biggest Mosque In Cairo chhachhar.blogspot.com

